• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2.2. Kelimpahan Perifiton Berdasarkan Jenis Lamun

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa di Pulau Parang ditemukan perifiton yang terbagi dalam beberapa kelas yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae, Cyanophyceae dan Zooplankton. Jumlah genus perifiton yang ditemukan pada setiap stasiun memiliki kelimpahan yang berbeda - beda dikarenakan pergerakan arus yang berbeda dan kandungan kadar nitrat fosfat yang berfungsi sebagai nutrient untuk proses fotosintesis. Diantara jenis yang dijumpai di seluruh stasiun terlihat jelas bahwa jenis yang dominan terdapat pada kelas Bacillariophyceae. Bramburger et al., (2017),

mengatakan bahwa Bacillariophyceae memiliki kemampuan hidup pada perubahan kondisi lingkungan yang tidak stabil. Kelimpahan Bacillariophyceae di Pulau Parang juga dipengaruhi oleh musim kemarau karena Bacillariophyceae akan meningkat relatif tinggi pada saat musim kemarau dengan sebaran yang cukup luas dari ekosistem lautan.

Kelas Bacillariophyceae memiliki kemampuan beradaptasi terhadap arus yang kuat hingga lambat karena memiliki alat penempel pada substrat berupa tangkai bergelatin (Andriansya.et.al, 2014). Pada saat penelitian berlangsung lokasi penelitian tidak memiliki arus yang kuat yaitu berkisar 0,009 – 0,023 m/det.

Menurut Suwartimah et al. (2011), kelas Bacillariophyceae memegang peranan penting suatu perairan sehingga lebih mendominasi dalam segi jumlah dan jenisnya. Bacillariophyceae menjadi produsen primer dalam jaring makanan baik di ekosistem air tawar maupun di air laut. Bacillariophyceae atau lebih dikenal dengan diatom merupakan perifiton jenis mikroalga yang paling banyak dijumpai bersel satu walaupun beberapa diantaranya ada yang berbentuk koloni. Frustule Bacillariophyceae berupa silika yang sukar dihancurkan, sehingga perifiton kelas Bacillariophyceae dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mengetahui tingkat pecemaran suatu perairan. Bacillariophyceae memiliki alat menempel pada substrat yang kuat karena diatom melalui raphe mengeluarkan mucopolysaccharide yang dapat menempel pada substrat (Widianingsih et al., 2009). Kemampuan melekat pada permukaan substrat yang lebih baik dibandingkan perifiton jenis lainnya menyebabkan keberadaan Bacillariophyceae lebih mendominasi suatu ekosistem.

Menurut Tait (1981), Bacillariophyceae dapat bertahan dari sapuan arus dan

bahwa Bacillariophyceae dapat bertahan dari kekurangan sinar matahari dan grazing. Kemampuan bertahan terhadap grazing dikarenakan diatom mampu mengeluarkan sekret yang berupa EPS (Extracelluler Polymeric Substance) dari karbohidrat yang menutupi dinding individunya. Bacillariphyceae yang mengeluarkan sekret mampu menempel satu dengan yang lainnya sehingga dapat membentuk koloni. Pada jenis yang lain membentuk batang – batang dari gelatin atau bantalan yang dipergunakan untuk menempel pada substrat.

Perifiton yang paling sedikit ditemukan di Pulau Parang adalah dari kelas Dinophyceae. Jenis Dinophyceae yang ditemukan hanya terdiri dari 2 genus yaitu Alexandrium dan Cochlodinium. Dinophyceae atau Dinoflagellata memiliki 2 flagel transversal dan transversal. Vibrasi oleh flagella longitudinal menggerakkan air ke belakang sedangkan flagella transverse akan menggerakan rotasi dan maju ke depan. Alexandrium merupakan organisme yang bersifat toksin karena menghasilkan PST dan dapat berasosiasi dengan lingkungan nitrogen yang tinggi ( Widianingsih et al., 2009). Kelas ini berbeda dengan Bacillariophyceae yang memiliki struktur sel yang baik seperti rantai sehingga akan membantu dalam penyerapan bahan organik dan fotosintesis maka dari itu kelas Dinophyceae mempunyai kelimpahan paling rendah.

Hasil kelimpahan perifiton untuk daun lamun jenis Enhalus acoroides dan

Cymodocea serrulata menunjukkan bahwa kelimpahan perifton jenis daun lamun Enhalus acoroides lebih tinggi. Hal ini dikarenakan umur jaringan makrofil pada daun

lamun Enhalus acoroides lebih lama bila dibandingkan dengan jenis - jenis lamun lain, selain itu luas penampang daun E. acoroides lebih besar. Enhalus acoroides juga mempunyai kemampuan untuk memproduksi tannin. Jenis perifiton jenis Cymodocea

serrulata lebih beragam karena ditemukan 25 genus sedangkan pada Enhalus acoroides hanya 23 genus. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh keanekaragaman

spesies lamun pada setiap lokasi, pergerakan arus, dan pengaruh pasang surut.

Jenis lamun juga mempengaruhi melimpahnya perifiton di lamun (Nababan et

al.,2012). Kelimpahan perifiton pada Enhalus acoroides lebih tinggi dibanding Cymodocea serrulata. Hal ini dikarenakan C. serrulata hidup di perairan dangkal yang

mempunyai panjang daun hanya 5 - 13 cm, dan lebar daun 1 - 3 cm serta mempunyai ujung sedikit bergerigi. Daun lamun yang lebih tinggi akan lebih mudah untuk mendapatkan asupan sinar matahari yang lebih banyak dibandingkan daun yang lebih pendek sehingga akan berpengaruh terhadap jumlah perifiton dan memudahkan untuk melakukan fotosintesis (Hartati et al., 2017).

Berdasarkan hasil, ditemukan beberapa zooplankton yang berada di Pulau Parang. Zooplankton yang ditemukan ada 2 jenis yaitu Calanus dan Larva bivalvia. Keberadaan zooplankton diduga sedang mencari makan karena makanan zooplankton adalah mikroalga. Diduga keberadaan zooplankton juga dipengaruhi oleh arus yang mambawa zooplankton ke lamun.

Total jenis perifiton yang ditemukan di ekosistem lamun Pulau Parang, frekuensi jenis perifiton tertinggi yang ditemukan adalah di Stasiun 3 sebanyak 23 genus dan paling rendah di Stasiun 2 sebanyak 17 genus sedangkan di Stasiun 1 sebanyak 19 genus. Hal ini dikarenakan Stasiun 3 mempunyai keanekaragaman lamun yang beragam dan daun lamun Cymodocea serrulata yang berada di Stasiun 3 tinggi kanopi daun lamunnya berkisar 5 - 15 cm atau mempunyai umur jaringan yang tua sehingga perifiton yang menempel cukup banyak. Keberadaan perifiton akan

dipengaruhi oleh kondisi atau umur makrofit yang ditempati, sehingga jumlah perifiton yang paling banyak dijumpai pada jaringan yang lebih tua kemudian jumlahnya akan menurun perlahan pada jaringan yang lebih muda sampai tanaman tersebut mati. Sedangkan kondisi perairan di Stasiun 2 masih dipengaruhi pasang surut dan mempunyai kedalaman yang dangkal yaitu 60 - 80 cm sehingga perifiton yang ditemukan sedikit.

Kelimpahan jenis perifiton yang ditemukan di Pulau Parang, tidak ditemukan perifiton yang bersifat toksik, hal ini diindikasikan bahwa pada lokasi ini masih dapat dikatakan kondisinya baik dan hal tersebut dapat dibuktikan dengan parameter kualitas perairan yang masih cenderung stabil. Perifiton sebagian besar dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan dikarenakan secara alami perifiton bersifat tetap dan menempel pada substrat sehingga memiliki kecenderungan lebih banyak menerima polutan dari area tersebut dibandingkan hidrobiota yang lain. Organisme yang terdapat pada air yang telah tercemar berbeda dengan yang terdapat pada air yang belum tercemar (Indrawati et al., 2010).

Berdasarkan uji statistik non parametrik median didapatkan x2 sebesar 0,89 (lampiran 7). Hasil ini menunjukkan bahwa kelimpahan perifiton pada daun Enhalus

acoroides tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kelimpahan perifiton

pada daun Cymodocea serrulata di Pulau Parang.

Dokumen terkait