• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kelompok Perawatan Diri

Pada tahun 1999 di Ngawi Jawa Timur, sebuah paguyuban didirikan dengan tujuan untuk rehabilitiasi sosial dan ekonomi, adapun perawatan diri merupakan bagian dalam kegiatan paguyuban tersebut. Paguyuban tersebut terdiri dari para petani yang pernah menderita kusta. Konsep KPD mulai dikembangkan oleh tim P2 Kusta di Jawa Barat pada tahun 2000. Mereka telah mempelajari tentang KPD dari pengalaman KPD di Ethiopia. Beberapa KPD akhirnya dibentuk dan ternyata kecacatan para anggota pun dapat berkurang dan perawatan diri menjadi kebiasaan rutin yang mereka lakukan. Selanjutnya pada tahun 2003, di Provinsi Sulawesi Selatan yakni Kabupaten Jeneponto dibentuk dua KPD dan kelompok lain di Provinsi Sulawesi Utara. Pada awalnya kelompok-kelompok ini dibimbing oleh tim P2 Kusta Provinsi dan Wasor (fasilitator) Kabupaten. Hingga akhirnya pada tahun 2008, telah dibentuk 140 KPD di seluruh Indonesia, dimana 100 diantaranya masih aktif dan yang lainnya tidak aktif lagi dikarenakan berbagai alasan (Dirjen PPM dan PL, 2006: 4).

2.2.2 Konsep KPD

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (2006: 6) menyebutkan bahwa KPD merupakan suatu kelompok swadaya yang terdiri dari sekelompok orang yang terkena kusta, yang berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mereka yang diakibatkan oleh penyakit kusta. Tujuan dibentuknya KPD adalah mencegah bertambahnya atau mengurangi kecacatan pada para anggota. Tujuan-tujuan khusus KPD adalah sebagai berikut : a. Memungkinkan para anggota menemukan bersama pemecahan masalah serta

persoalan-persoalan yang mereka hadapi (fisik, psikis, sosial atau ekonomi) yang diakibatkan oleh penyakit kusta.

b. Menganjurkan kepada peserta untuk menggunakan bahan-bahan yang dapat diperoleh di lokasi setempat dalam melakukan perawatan diri.

c. Memantau para anggota secara efektif dan efisien.

d. Melakukan rujukan secara dini bagi mereka yang membutuhkan perawatan khusus (misalnya pembedahan rekonstruksi, rehabilitasi).

Tujuan tambahan KPD adalah sebagai berikut :

a. Memulihkan kepercayaan atau harga diri anggotanya agar mereka dapat melibatkan diri dalam masyarakat secara aktif.

b. Mengurangi leprophobia di antara anggota, keluarga dan petugas kesehatan yang terlibat.

Prinsip utama KPD adalah agar para anggotanya berpartisipasi dalam semua aspek secara aktif. Para anggota KPD sendirilah yang seharusnya berupaya dalam hal mencegah dan mengurangi kecacatan, bukan fasilitator. Mereka diharapkan mampu merawat diri sendiri di rumah setiap hari dengan menggunakan bahan-bahan yang diperoleh di sekitar tempat mereka, sementara pertemuan KPD diadakan untuk mengontrol proses penyembuhan serta untuk saling bertukar pengalaman. Adanya KPD tersebut, memberikan berbagai manfaat yakni :

a. Perawatan diri merupakan cara yang sangat efektif untuk mencegah dan mengurangi kecacatan, karena dapat dilaksanakan sendiri setiap hari di rumah.

b. Meningkatkan rasa percaya diri dan keswadayaan (mantan) penderita cacat kusta, sebagai efek adanya tanggung jawab untuk merawat dirinya, dan berkurangnya kecacatan yang diderita.

c. Meningkatkan pemahaman para anggotanya mengenai perawatan diri karena adanya waktu khusus yang disediakan untuk memberikan penjelasan, melakukan diskusi dan mempraktekkan bersama apa yang dijelaskan.

d. Berbagi kesulitan yang ada, memecahkan masalah bersama secara langsung, persoalan-persoalan yang ada dibicarakan bersama, dan saling bertukar pengalaman.

e. Membantu dan memberikan dukungan bagi teman, memberikan kebahagiaan dan kepercayaan diri karena tahu bahwa ia tidak sendiri.

f. Pengaruh sesama anggota di dalam kelompok (peer as a role model – teman sebagai contoh yang baik) bisa menjadi pendorong bagi setiap angota untuk melakukan perawatan diri secara serius di rumah.

g. Beban petugas kesehatan (seperti petugas puskesmas) dalam upaya penyembuhan luka dapat dikurangi ditinjau dari segi beban kerja, dana dan waktu.

2.2.3 Pembagian Tugas dan Struktur dalam KPD a. Fasilitator

Selama ini Petugas Kusta di Puskesmas merangkap menjadi fasilitator KPD.

Namun fasilitator ini tidak harus Petugas Kusta, bisa berasal dari sukarelawan yang memiliki ketulusan, perhatian dan komitmen untuk menjadi fasilitator KPD.

Sebagai fasilitator, ia menghadiri setiap pertemuan selama ia dibutuhkan oleh kelompok tersebut. Untuk menjadi fasilitator yang efektif dalam arti mampu memberdayakan atau memperkuat anggota kelompok, harus memiliki pengetahuan mengenai sifat alami kelompok dan perilaku-perilaku dalam kelompok. Secara singkat, berikut merupakan tugas fasilitator KPD yakni :

1) Menyeleksi anggota-anggota kelompok.

2) Mempersiapkan pertemuan.

3) Memperkenalkan tujuan KPD kepada para anggota.

4) Memimpin diskusi dengan para anggota tentang beberapa masalah organisasi, seperti tempat pertemuan, ketua kelompok ataupun masalah lainnya.

5) Mengajar/memperlihatkan/menjelaskan cara melakukan POD/perawatan diri.

6) Memberikan motivasi, memulai dan mengarahkan diskusi, menciptakan suasana di mana semua anggota dapat melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.

7) Membimbing ketua kelompok dalam memenuhi tugasnya.

8) Memantau dan mengevaluasi kemajuan kelompok.

b. Ketua Kelompok

Ketua kelompok dipilih dari salah satu anggota kelompok dan bertugas memimpin KPD. Pemilihan ketua kelompok biasanya difasilitasi oleh fasilitator setelah setiap orang dalam kelompok tersebut saling mengenal sehingga mereka lebih nyaman memilih orang yang dianggap pantas memimpin kelompok.

Tugas ketua kelompok yakni :

1) Mampu berkomunikasi dengan baik dan peduli terhadap anggota-anggota lain.

2) Sebagai motivator yang memberi dukungan semangat, mempertahankan semangat kelompok, mendukung anggota dalam perawatan diri dan memuji keberhasilan yang ada, mendorong anggota untuk melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan kelompok.

3) Pencatatan kehadiran dan hasil pemeriksaan.

c. Anggota

Tugas para anggota yakni saling membantu memotivasi anggota yang lain untuk memenuhi dan mencapai tujuan bersama kelompok. Secara umum pembagian tugas dan tanggung jawab tergantung pada kesepakatan kelompok mengenai struktur kelompok tersebut (Dirjen PPM dan PL, 2006: 12-14).

2.2.4 Kegiatan KPD

Kegiatan KPD terdiri dari berbagai macam, kegiatan pemeriksaan, perawatan diri pokok, khusus bahkan juga terdapat beberapa kegiatan tambahan.

Pertemuan KPD biasanya diadakan selama 2 jam. Fasilitator mengajarkan dasar-dasar perawatan diri pada saat pertemuan pertama. Seringkali pada awalnya kehadiran para anggota tidak teratur. Dalam menghadapi masalah tersebut penting bagi fasilitator untuk menjelaskan dan membicarakan secara berulang kali tentang manfaat meluangkan waktu dua jam setiap sebulan sekali untuk kesehatannya sendiri. Selain itu, fasilitator juga perlu mengetahui alasan kenapa tidak hadir dan mencoba mencari solusi. Fasilitator juga dapat mencoba memberikan rasa memiliki kelompok kepada para anggota dengan cara melibatkan mereka semua dalam kegiatan kelompok.

Pada pertemuan KPD juga dilakukan kegiatan pemeriksaan, dimana hal ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyembuhan kecacatan sehingga dapat dimonitor. Pemeriksaan yang dimaksud yakni adanya kontrol terhadap keadaan kulit, kaki dan tangan terhadap kemungkinan luka serta kondisi mata dari kemungkinan infeksi. Hal ini merupakan pemeriksaan standar. Selain itu, jika kelompok difasilitasi oleh petugas kusta maka pemeriksaan yang lebih mendetil dapat dilakukan Volumentary Muscle Test/Sensory Test (VMT/ST) dan palpasi saraf, akan tetapi bukan merupakan pemeriksaan standar. Semua anggota harus terlibat dalam pemeriksaan masing-masing. Keterampilan fasilitator dalam mengarahkan para anggota untuk mengerti perawatan diri merupakan bagian yang paling penting yang mencakup keterampilan dalam hal melihat persoalan, mencari penyebab persoalan dan mencari solusi untuk mengatasi persoalan.

Program lainnya yang dilakukan pada pertemuan KPD yakni program perawatan diri pokok dan khusus. Kegiatan yang dilakukan pada program perawatan pokok yakni perendaman kaki/tangan selama +20 menit dalam air garam atau sabun, menggosok kulit tebal dan kemudian mengoles kulit yang masih basah dengan minyak. Program perawatan ini sangat efektif untuk semua penderita kusta dengan tingkat cacat 1 atau 2 pada kaki/tangan. Program perawatan diri pokok tidak hanya dilakukan pada saat pertemuan saja, Melainkan

juga harus dilakukan oleh setiap anggota setiap hari di rumah. Program perawatan diri pokok dilakukan juga pada saat pertemuan KPD dengan tujuan memberikan kesempatan untuk memantau pelaksanaan dan dapat meningkatkan kebersamaan dalam kelompok. Beberapa anggota diberikan latihan untuk tangan, kaki atau mata pada program perawatan diri khusus. Latihan tersebut tidak sama untuk semua orang, melainkan tergantung jenis kecacatan. Misalnya seorang dengan kaki lunglai yang lumpuh perlu melakukan latihan yang berbeda dengan seorang dengan kaki lunglai yang lemah. Latihan-latihan tersebut diajarkan selama pemeriksaan, merendam atau setelah menyelesaikan program perawatan diri pokok.

Terdapat beberapa kegiatan tambahan yang dilakukan oleh KPD disamping kedua program perawatan diri. Kegiatan tambahan yang dilakukan yakni seperti adanya pendidikan tambahan. Fasilitator dapat memberikan atau mengorganisasikan pelajaran ekstra kepada para anggota KPD, misalnya mengenai makanan bergizi ataupun topik kesehatan lainnya. Kegiatan tambahan lainnya yakni rehabilitasi sosial-ekonomi. Kondisi luka yang sudah sembuh terkadang kembali mengeras dikarenakan pekerjaan berat yang dilakukan oleh penderita kusta ataupun OYPMK tersebut misalnya bertani. Salah satu jalan keluar mengatasi masalah tersebut yakni dengan melakukan pekerjaan yang lebih ringan. Para anggota KPD yang memiliki kesadaran lebih tinggi mengenai perlindungan dan perawatan serta kepercayaan diri yang lebih tinggi, ingin memperbaiki kondisi sosial-ekonominya, sehingga KPD pun memberikan kesempatan yang lebih baik untuk berbagai kegiatan di bidang rehabilitasi sosial-ekonomi.

Kegiatan yang dilakukan untuk upaya rehabilitasi sosial-ekonomi bermacam-macam, misalnya saja arisan, kas simpan pinjam, kambing/ayam bergilir, dan banyak kegiatan lainnya yang dapat dilakukan tergantung persetujuan dan kesepakatan para anggota KPD bersama. Kegiatan rehabilitasi sosial-ekonomi tersebut sangatlah bermanfaat bagi para anggota KPD. Depkes RI (dalam Pribadi, 2013:10-11) menyebutkan bahwa rehabilitasi pada bidang sosial-ekonomi

ditujukan untuk mengubah stigma negatif masyarakat tentang kusta dan dalam hal perbaikan ekonomi serta kualitas hidup penderita kusta.

Program KPD efektif untuk mencegah kecacatan kusta serta dapat mengurangi stigma masyarakat tentang klien kusta (Dinkes Jatim dalam Pribadi, 2013: 9). Pelatihan perawatan diri dalam KPD baik yang diperoleh dari tenaga kesehatan maupun dari anggota lain dalam KPD sangatlah penting untuk para penderita kusta dalam hal keterampilan merawat diri. Hasil penelitian Pratiwi dkk (dalam Pribadi, 2013: 10) menyebutkan bahwa dengan pemberian pelatihan perawatan diri selama satu bulan pada penderita kusta, diperoleh 24,3% dari responden mengalami peningkatan pengetahuan dan perawatan diri, sehingga dengan penelitian rutin selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang dilakukan dalam kegiatan di KPD, para penderita kusta akan mampu melakukan perawatan diri secara mandiri.

Menurut Indriani (2014: 86), kondisi penderita kusta sebelum adanya perhimpunan mantan kusta yakni yang tergabung dalam KPD, mereka harus mencari obat sendiri, berusaha mendapatkan pelayanan kesehatan sendiri dan mereka cenderung bersifat tertutup. Namun, setelah adanya perhimpunan mantan kusta yang mengorganisasi kepentingan mereka, maka akses pelayanan kesehatan, mendapatkan obat, dan modal usaha ekonomi mikro menjadi lebih mudah. Arief (2008: 11) juga menyebutkan bahwa hasil dari studi yang dilakukan pada KPD di Indonesia menunjukkan bahwa manfaat yang diterima oleh anggota KPD diantaranya yakni tercegahnya dari kecacatan, berkurangnya tingkat keparahan kecacatan, berkurangnya keterbatasan aktivitas sehari-hari, meningkatnya pengetahuan tentang kusta dan cara merawat diri, memberikan akses pelayanan yang lebih baik, tersedianya alat bantu dan pelindung, meningkatnya kesadaran anggota keluarga dan masyarakat, berkurangnya stigma, serta meningkatnya harga diri seseorang dan dukungan finansial dari pemerintahan daerah.

Dokumen terkait