BAB III STRUKTUR SOSIAL
KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL Standar Kompetensi:
5. Kelompok sosial berdasarkan Sistem Hubungan
a. Kelompok Formal, yakni kelompok yang memiliki system hubungan yang sengaja diciptakan sehingga unsure-unsur dalam suatu organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan
b. Kelompok Informal yakni kelompok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim
Arus globalisasi dan migrasi yang begitu besar di Indonesia menyebabkan beragamnya masyarakat Indonesia tidak hanya dari sisi suku bangsa namun juga agama, ideology, kelas sosial ekonomi dan kebudayaan. Pulau Jawa saat ini tidak hanya dihuni oleh masyarakat Jawa—orang yang lahir dan merupakan keturunan dari budaya Jawa—namun terdapat beragam komunitas dan individu
yang berasal dari beragam suku bangsa. Mereka hidup dalam satu komunitas yang sama sehingga muncullah apa yang disebut dengan masyarakat yang multikultural. Kelompok sosial juga terdapat dalam masyarakat multikultural.
Naluri manusia adalah ingin hidup dengan dengan orang lain,oleh karena itu secara otomatis akan lahir masyarakat yang berarti kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu, yang bersifat kontinue atau terikat oleh identitas bersama. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki perbedaan karakteristik dan kebudayaan yang beragam. Atau dengan definisi lain masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki berbagai kultur dan terbentuknya masyarakat tersebut karena adanya proses sosial dan perubahan-perubahan sosial. Masyarakat multikultural secara sederhana adalah masyarakat yang memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda. Masyarakat jenis ini kadang disebut sebagai masyarakat majemuk atau plural society.
Istilah plural society, pertama kali digunakan oleh JS Furnival untuk menyebut masyarakat masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih tertib sosial, komunitas atau kelompok-kelompok yang secara kultural, ekonomi dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, atau dengan kata lain merupakan suatu masyarakat di mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggotanya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan.
Istilah plural atau majemuk sebenarnya berbeda dengan pengertian heterogen. Majemuk atau plural itu merupakan lawan dari kata singular atau tunggal. Sehingga, masyarakat plural itu bukan masyarakat yang tunggal. Masyarakat tunggal merupakan masyarakat yang mendukung satu sistem kebudayaan yang sama, sedangkan pada masyarakat plural, di dalamnya terdapat lebih dari satu kelompok baik etnik maupun sosial yang menganut sistem kebudayaan (subkultur) berbeda satu dengan yang lain. Sebuah masyarakat kota, mungkin tepat disebut sebagai masyarakat heterogen, sepanjang meskipun mereka berasal dari latar belakang SARA (sukubangsa, agama, ras, atau pun aliran/golongan-golongan) yang berbeda, tetapi mereka tidak mengelompok berdasarkan SARA tersebut. Heterogen lawan dari kondisi yang disebut homogen. Disebut homogen kalau anggota masyarakat berasal dari SARA yang secara relatif sama. Disebut heterogen kalau berasal dari SARA yang saling berbeda, namun –sekali lagi– mereka tidak mengelompok (tersegmentasi) berdasarkan SARA tersebut.
Indonesia adalah salah satu contoh yang tepat untuk mendefinisikan masyarakat multikultural. Kota Yogyakarta misalnya, kota yang dijuluki kota pendidikan itu sarat akan berbagai lembaga pendidikan tinggi yang banyak dijadikan pilihan bagi masyarakat Indonesia untuk melanjutkan pendidikan jenjang universitas. Ragam individu yang ada dalam kota Yogyakarta merupakan bukti nyata bagaimana multikulturnya masyarakat Indonesia. Sebuah rumah kos mungkin akan dihuni oleh berbagai individu yang sedang menempuh kuliah yang berasal dari beragam suku bangsa, daerah asal, ras, agama dan juga ideology serta gaya hidup yang berbeda karena kelas sosial yang berbeda. Kemunculan masyarakat demikian merupakan ekses dari adanya berbagai perubahan sosial yang ada dalam masyarakat.
Konsep masyarakat multikultural sebenarnya relatif baru. Sekitar 1970-an, gerakan multikultural muncul pertama kali di Kanada. Kemudian diikuti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan lainnya. Kanada pada waktu itu didera konflik yang disebabkan masalah hubungan antarwarga negara. Masalah itu meliputi hubungan antarsuku bangsa, agama, ras, dan aliran politik yang terjebak pada dominasi. Konflik itu diselesaikan dengan digagasnya konsep masyarakat multikultural yang esensinya adalah kesetaraan, menghargai hak budaya komunitas dan demokrasi. Gagasan itu relatif efektif dan segera menyebar ke Australia, Eropa dan menjadi produk global.
Bagi masyarakat Indonesia yang telah melewati reformasi, masyarakat multikultural bukan sekedar wacana saja. Tetapi sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan kesejahteraan masyarakat. Kita harus bersedia menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan sukubangsa, agama, budaya, bahasa, kebiasaan, ataupun kedaerahan. Multikultural memberi penegasan, segala perbedaan itu adalah sama di dalam ruang publik. Dengan kata lain, adanya komunitas yang berbeda saja tidak cukup, sebab yang terpenting komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Adanya kesetaraan dalam derajat kemanusiaan yang saling menghormati, diatur oleh hukum yang adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warganya.
Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan hanya mungkin terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata sosial, terutama pranata hukum yang merupakan mekanisme kontrol secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip demokrasi dalam kehidupan nyata. Diskriminasi
sosial, politik, budaya, pendidikan dan ekonomi yang berlaku di masa pemerintahan Orde Baru, secara bertahap maupun radikal harus dikikis oleh kemauan untuk menegakkan demokrasi demi kesejajaran dalam kesederajatan kemanusiaan sebagai Bangsa Indonesia.
Persatuan dan kesatuan bangsa yang terwujud dari sejumlah suku bangsa yang semula merupakan masyarakat yang berdiri sendiri dan mendukung kebudayaan yang beraneka ragam itu perlu diperkokoh dengan kerangka acuan yang bersifat nasional, yaitu kebudayaan nasional. Suatu kebudayaan yang mampu memberi makna bagi kehidupan berbangsa dan berkepribadian, akan dapat dibanggakan sebagai identitas nasional. Akan tetapi dalam masyarakat majemuk dengan keragaman latar belakang kebudayaan seperti yang terjadi di Indonesia tidaklah mudah untuk mengembangkan suatu kebudayaan nasional hanya dengan mengandalkan pada kemampuan dan kemapanan masyarakat semata-mata. Oleh karena itu kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan itu telah ditetapkan landasan dan arah tujuannya yang dituangkan dalam penjelasan pasal 32 UUD 45 yang berbunyi.
"Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia".
Berdasarkan penjelasan tersebut, nyatalah bahwa perkembangan kebudayaan bangsa yang hendak dimajukan itu terselenggara tanpa ketentuan arah serta tanpa memperhatikan keberagaman masyarakat dengan segala kebutuhan yang timbul dalam proses perkembangan masyarakat bangsa. Sejak kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia selalu dirongrong oleh gerakan sparatisme seperti DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, Permesta Kahar Muzakar di Sumatera, APRA, PKI, DI/TII Daud Barureh di Aceh, dan RMS di Maluku yang menyisakan luka lama. Bahkan sampai sekarang gerakan itu masih terus berlangsung di Aceh lewat GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di propinsi paling timur di Indonesia. Pemerintah Indonesia selalu berhadapan dengan gerakan separatisme, sehingga Indonesia mempunyai peluang yang sama seperti Yugoslavia dan Uni Soviet menjadi negara yang pecah akibat ketidakstabilan kondisi sosiokultural dan politik. Samuel Hutingthon pernah berkomentar pada akhir abad ke-20, bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi paling besar untuk hancur, setelah Yugoslavia dan Uni Soviet akhir abad ke-20 ini. Demikian juga Cliffrod Gertz Antropolog yang Indonesianis ini pernah mengatakan; kalau bangsa Indonesia tidak pandai-pandai memanajemen keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etnik, maka Indonesia akan pecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini terbukti dengan lepas Timor Timur menjadi negara yang berdiri sendiri.
Selanjutnya, suatu masyarakat disebut multikultural, majemuk, atau plural apabila para anggota-anggotanya berasal dari SARA yang saling berbeda, dan SARA tersebut menjadi dasar pengelompokan para anggota masyarakat, sehingga dalam masyarakat terdiri atas dua atau lebih kelompok etnis maupun sosial yang didasarkan pada SARA yang pada umumnya bersifat primordial, dan masing-masing mengembangkan subkultur tertentu. Interaksi antar-kelompok lebih rendah daripada interaksi internal kelompok. Bahkan, di dalam banyak masyarakat majemuk, struktur sosial yang ada sering bersifat konsolidatif, sehingga proses menuju integrasi sosialnya terhambat.
Masyarakat multikultural menurut van Den Berghe memiliki beberapa karakteristik, yakni: 1. Mengalami segmentasi ke dalam kelompok-kelompok dengan subkultur saling berbeda
2. Memiliki struktur yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang nonkomplemen 3. Kurang dapat mengembangkan konsensus mengenai nilai dasar
4. Relatif sering mengalami konflik
5. Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan, dan/atau 6. Ketergantungan ekonomi, dan/atau
7. Dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain Faktor-faktor Penyebab Munculnya Masyarakat Multikultural
Meskipun menurut sejarah, masyarakat Indonesia relatif berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi karena keadaan geografiknya, akhirnya masyarakat Indonesia bersifat majemuk. Kondisi geografik yang menjadi penyebab kemajemukan masyarakat, adalah:
1. Bentuk wilayah yang berupa kepulauan. Kondisi ini mengakibatkan, meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi akhirnya mereka terpisah-pisah di pulau-pulau yang saling berbeda, sehingga masing-masing terisolasi dan mengembangkan kebudayaan sendiri.
2. Jadilah masyarakat Indonesia mengalami kemajemukan ethnik atau sukubangsa.
3. Letak wilayah yang strategis, di antara dua benua dan dua samudera, kondisi ini mengakibatkan Indonesia banyak didatangi oleh orang-orang asing yang membawa pengaruh unsur kebudayaan, antara lain –yang paling menonjol– adalah agama. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal agama. Lima agama besar dunia ada di Indonesia. Lima agama besar yang dimaksud adalah (1) Hindu (pengaaruh India), (2) Budha (pengaruh bangsa-bangsa Asia), (3) Katholik (pengaruh kedatangan bangsa portugis), (4) Kristen (pengaruh kedatangan bangsa Belanda), dan (5) Islam (pengaruh masuknya pedagang-pedagang dari Timur Tengah). 4. Variasi iklim, jenis serta kesuburan tanah yang berbeda di antara beberapa tempat, misalnya
daerah Indonesia bagian Timur yang lebih kering, tumbuh menjadi sukubangsa peternak, daerah Jawa dan Sumatra yang dipengaruhi vulkanisme tumbuh menjadi daerah dengan masyarajat yang hidup dari bercocok tanam. Variasi iklim dan jenis serta kesuburan tanah ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal kultur, antara lain cara hidup.
Macam-macam masyarakat multikultural
1. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang.
Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang memiliki kekuatan kompetitif seimbang.
2. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan.
Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang kekuatan kompetitifnya tidak seimbang.salah satunya yang merupakan kelompok mayoritas memiliki kekuatan yang lebih besar daripada lainnya.
3. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan.
Yaitu masyarakat yang diantara komunitas atau kelompok etnisnya terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif diatas yang lain.
4. Masyarakat majemuk dengan fragmentasi.
Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis dan tidak ada satu kelompok pun mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan.
Sifat-sifat masyarakat multikultural
1. Terjadi segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok sub kebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain.
2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplementer.
3. Kurang mengembangkan konsensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.
4. Secara relatif sering mengalami konflik diantara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. 5. Secara relatif tumbuh integrasi sosial diatas paksaan dan saling ketergantungan di bidang
ekonomi.
6. Adanya dominasi politik oleh satu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain. Konflik Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Suatu masyarakat pada dasarnya merupakan kumpulan individu yang membentuk organisasi sosial yang bersifat kompleks. Di dalam organisasi sosial tersebut terdapat nilai-nilai, norma-norma, pranata-pranata sosial, dan peraturan-peraturan untuk bertingkah laku dalam kelompoknya. Meskipun setiap keelompok mempunyai norma, nilai, dan pranatanya sendiri, namun tidak semua anggota kelompok mengetahuinya sehingga tidak mungkin semua orang akan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada. Selalu ada penyimpangan perilaku dalam kelompok tersebut. Kenyataan ini menyebabkan ketidakselarasan dalam kelompok atau bahkan bisa mendatangkan pertentangan dalam masyarakat.
Pada lingkup yang lebih luas seperti masyarakat Indoensia yang memiliki keragaman etnik, budaya, dan latar belakang, pertentangan di antara kelompok yang berbeda sangat mungkin terjadi baik yang skalanya kecil maupun besar. Oleh sebab itu dibutuhkan kesadaran dan kemampuan dalam mengelola perbedaan dan keragaman yang terdapat di masyarakat agar keragaman dan perbedaan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif. Salah satu caranya adalah dengan cara menjaga keharmonisan dan saling menghargai perbedaan agar tetap terdapat integrasi sosial yang harmonis.
Namun demikian, kadangkala pertentangan-pertentangan tidak bisa dihindarkan. Pertentangan yang timbul dari perbedaan-perbedaan tersebut bisa mendatangkan konflik. Pertentangan ini bisa saja disebabkan karena perbedaan tata cara, adat istiadat, suku bangsa, dan bahkan agama yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal, apabila dikelola dan ditangani dengan baik bisa mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnik, budaya, dan latar belakang sangat berpotensi untuk terlibat konflik. Oleh sebab itu, dibutuhkan kesadaran dan kemampuan untuk dapat mengelola konflik sesuatu yang positif, yaitu dengan cara mengendalikan dan menjaga integritas sosial yang harmonis.
Meskipun menurut Parsons bahwa tidak semua sistem sosial yang terintegrasi secara sempurna, selalu ada kemungkinan ketidaksesuaian dalam memberikan prioritas pada nilai-nilai yang berbeda, interpretasi yang berbeda, konflik peran, ketegangan kebutuhan antara individu serta ketidakkonsistenan harapoan individu satu sama lain.
Pengertian Konflik
Konflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan antara orang, tokoh, kelompok kekuatan karena suatu kepentingan. Ada beberapa jenis konflik:
1. Konflik batin yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya dua atau lebih gagasan atau keinginan yang bertentangan menguasai diri individu sehingga mempengaruhi tingkah laku.
2. Konflik kebudayaan yaitu persaingan dua masyarakat sosial yang mempunyai kebduayaan berbeda / hampir sama.
3. Konflik sosial yaitu bertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan.
Tetapi definisi yang sederhana itu tentu beelum memadai,karena konflik tidak saja tampak sebagai pertentangan fisik semata. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua ornag atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Sebagai proses sosial, konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu yang terlibat dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lains ebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakatpun yang tidak pernah mengalami konflik antaranggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Soerjono Soekanto meenyebut konflik sebagai pertentangan atau pertikaian, yaitu suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan.
Sementara itu, konflik sosial bisa diartikan menjadi dua hal. Pertama, perspektif atau sudut pandang yang menganggap konflik selalu ada dan mewarnai segenap aspek interaksi manusia dan struktur sosial. Kedua, konflik sosial merupakan peertikaian terbuka seperti perang, revolusi,pemogokan, dan gerakan perlawanan.
Para teoritisi konflik banyak berpedoman pada pemikiran Marx, meskipun memiliki pemikiran sendiri yang berlainan. Tokoh-tokoh teoritis konflik diantaranya, Ralf Dahrendorf dan Randall Collins. Dahrendorf berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu konflik dan konsensus, sehingga tteori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian, teori konflik dan teori konsensus. Dahrendorf juga mengakui bahwa masyarakat takkan ada tanpa konsensus dan konflik yang menjadi persyaratan ssatu sama lain. Jadi kita takkan punya konflik jika tidak ada konsensus terlebih dahulu. Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki pluralitas berbagai bidang, multietnis, dan multi budaya, bahkan akhir-akhir ini memiliki multi partai dalam sistem politiknya. Dalam kondisi “serba multi” apalagi transisi dari era terpasang era Orba ke era kebebasan dimasa reformasi, konflik antar orang/kelompok/organisasi sangat sulit dihindari.
Konflik bukan selalu mengandung makna disfungsional, tetapi justru dapat menjadi sesuatu yang fungsional, dalam arti konflik dapat menjadi wahana untuk mendorong terjadinya suatu perubahan menuju pada suatu kondisi yang lebih baik. Kita tidak boleh menciptakan konflik, tetapi tidak boleh menghindari konflik apabila muncul di muka kita.
Jenis Konflik
1. Konflik yang bersifat destruktif, seperti konflik antar suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura. Sebetulnya ini dipicu kecemburuan sosial. Dalam partai politik konflik karena adanya pendukung yang fanatisme, sehingga terjadi perilaku emosional dan irasional. Contoh : Peristiwa G 30vS / PKI tahun 1965, PKI memaksakan kehendak untuk menjadikan Indonesia Negara Komunis.
2. Konflik Fungsional, yaitu konflik yang menghasilkan perubahan atau konsensus baru yang bermuara ke perbaikan. Contoh perbedaan pendapat para cendekiawan dalam upaya mencari kebenaran.
Penyebab Konflik (pendekatan sosiologi klasik) 1. Dinamika Masyarakat
Menurut Aguste Comte dampak dari revolusi industri di Eropa mengubah model produksi tradisional menjadi model produksi modern menghasilkan produk secara masal telah berperan dalam mengubah struktur sosial masyarakat Eropa awal abad 19. Dengan datangnya para pemodal yang menguasai sistem produksi menyebabkan ketertindasan yang tidak punya modal, disini penyebab timbulnya konflik.
2. Konflik kelompok dan perjuangan kelas
Menurut Ibnu Khaldim terjadinya konflik adanya perebutan kekuasaan oleh kelompok-kelompok yang hidup di jaman itu.
3. Stratifikasi Sosial
Menurut Max Weber konflik muncul dalam setiap entitas stratifikasi sosial. Setiap stratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh setiap manusia dan kelompoknya. Weber membagi 3 (tiga) model kekuasaan:
a. Kekuasaan berbasis pada karisma yang berpusat pada kualitas pribadi.
b. Wewenang tradisional, yang diwarisi melalui adat kebiasaan dan nilai-nilai komunal. c. Wewenang berbasis pada aturan hukum resmi.
Kekuasaan merupakan generator dinamika sosial yang mana individu dan kelompok dimobilisasi, yang pada saat bersamaan kekuasaan menjadi sumber dari hubungan konflik.
a. Kesadaran kolektif dan gerakan sosial
Menurut Marx individu bergerak atas dasar nilai sosial yang ekternal, diluar dirinyya dan memaksa. Melalui kesadaran kolektif, gerakan sosial bisa memunculkan berbagai ketegangan dan konflik.
b. Sosialisasi dan konflik alamiah
Menurut Jonathan Turner dan Simmel protes konflik adalah satu karakter dimanapun dari sistem sosial. Menurut Lewis Coser yang melahirkan teori fungsi-fungsi konflik, yaitu konflik secara alamiah memabwa struktur sosial pada kondisi yang lebih mapan dan baru. Di samping itu secara umum faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya konflik, antara lain:
1. Perbedaan individu
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan 3. Perbedaan kepentingan
4. perubahan nilai yang cepat
Ursula Lehr (1980) melihat penyebab konflik dari segi psikologi sosial, dimana dapat timbul dari konflik dengan orang tua sendiri, konflik dengan anak-anak sendiri, Konflik dengan sanak keluarga, konflik dengan orang lain, konflik suami isteri, konflik di sekolah, konflik dalam pemilihan pekerjaan, konflik agama, dan konflik pribadi.
Multikultural merupakan cita-cita dalam upaya merajut kembali hubungan antarmanusia yang belakangan selalu hidup dalam suasana penuh dengan konflik. Adanya sebuah kesadaran yang muncul diperlukan kepekaan terhadap kenyataan kemajemukan, pluralitas bangsa, baik dalam etnis, agama, budaya, hingga orientasi politik. Secara sederhana, multikutural dapat dipahami sebagi suatu konsep keanekaragaman budaya dan kompleksitas kehidupan di dalamnya. Multikultural mengajak masyarakat dalam arus perubahan sosial, sistem tata nilai kehidupan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan dan perdamaian bukan konflik atau kekerasan meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya.
Ide keanekaragaman kebudayaan atau masyarakat multikultural, dapat dilihat sebagai sebuah kebijakan yang bertujuan meredam konflik dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan agama. Sebaliknya, kebijakan tersebut menonjolkan kekayaan, potensi-potensi pengembangan, dan kemajuan melalui ide keanekaragaman kebudayaan yang sejalan dan mendukung berlakunya prinsip demokrasi dalam kehidupan masyarakat. Berpijak pada kerangka pemikiran ini, maka multikultural diharapkan menjadi solusi konflik kemanusiaan selama ini. Oleh karena itu, wacana multikultural menjadi sangat penting sebagai upaya mencari bangunan masyarakat madani (civil society) yang berlandaskan pada demokrasi untuk tercapainya sebuah masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Integrasi Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Integrasi dapat diartikan sebagai suatu pembauran hingga menajdi kesatuan yangg utuh. Di samping itu ada beberapa pengertian yang terkait erat dengan integrasi sosial yaitu integrasi bangsa