BAB III METODE PENELITIAN
3.7. Pengolahan Dan Analisa Data
4.2.2. Kelompok Umur Balita Pada Saat Pengumpulan
Umur balita di Kecamatan Berastagi dikelompokkan menjadi : 12-24 bulan dan > 24 bulan. Berdasarkan hasil wawancara dan KMS balita, diketahui bahwa jumlah terbesar adalah 64 balita (64%) berada pada kelompok umur > 24 bulan. Sedangkan jumlah terkecil adalah 36 balita (36%) berada pada kelompok 12-24 bulan. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Balita Pada Saat Pengumpulan Data Dasar Berdasarkan Umur di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Umur Jumlah (N) Presentase (%)
1 12-24 36 36
2 >24 64 64
Jumlah 100 100
Karakteristik keluarga balita yang dinyatakan dalam penelitian ini meliputi pendidikan ibu, tingkat pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga dan status pekerjaan ibu.
4.3.1. Pendidikan Ibu
Berdasarkan hasil penelitian jumlah pendidikan ibu dengan tingkat pendidikan menengah lebih banyak yaitu sebesar 69%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu di Kecamatan Berastagi sudah cukup baik. Dari hasil penelitian yang dilakukan, distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan Ibu dapat dilihat pada Tabel 4.9. berikut ini:
Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Tingkat Pendidikan Jumlah (N) Presentase (%)
1 Rendah 11 11
2 Menengah 69 69
3 Tinggi 20 20
Jumlah 100 100
4.3.2. Status Pekerjaan Ibu
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan status pekerjaan Ibu bekerja lebih banyak yaitu sebesar 77 orang (77%). Hal ini bisa berakibat kurangnya pola asuh Ibu terhadap anak-anaknya dikarenakan aktifitas pekerjaan ibu di luar rumah.
Hasil penelitian yang dilakukan, distribusi frekuensi responden berdasarkan status pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut ini :
Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
4.3.3. Tingkat Pendapatan Keluarga
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang memiliki pendapatan per bulan lebih besar dari UMP (>Rp.1.505.000) lebih banyak yaitu sebanyak 58 orang (58%) . Hal ini menunjukkan bahwa sebagian tingkat pendapatan keluarga di Kecamatan Berastagi sudah cukup, namun diharapkan jumlah pendapat keluarga yang lebih besar dari UMP mencapai 70-80% agar penduduk di Kecamatan Berastagi lebih makmur dan mengurangi angka kemiskinan.
Hasil penelitian yang dilakukan, distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendapatan keluarga dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut ini :
Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No UMP (Upah Minimum Propinsi) Jumlah (N) Presentase (%)
1 >UMP 58 58
2 < UMP 42 42
Jumlah 100 100
4.3.4. Jumlah Anggota Keluarga
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang memiliki jumlah anggota keluarga > 5 lebih banyak dari jumlah anggota keluarga <5. Jumlah anggota keluarga >5 mencapai angka 65% dari jumlah responden 100 orang.
Hasil penelitian yang dilakukan, distribusi responden berdasarkan jumlah anggota keluarga di Kecamatan Berastagi dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut ini:
Tabel 4.12. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Jumlah Anggota Keluarga Jumlah (N) Presentase (%)
1 >5 65 65
2 <5 35 35
Jumlah 100 100
4.4. Data Pola Asuh
Pola asuh yang akan dinyatakan dalam penelitian ini meliputi praktek pemberian makanan, praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lingkungan serta perawatan anak dan keluarga dalam keadaan sakit.
4.4.1. Praktek Pemberian Makanan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pola asuh berdasarkan praktek pemberian makanan termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 64%, sedangkan termasuk dalam kategori buruk yaitu sebesar 36%. Aspek pengukuran yang digunakan untuk menentukan kategori praktek pemberian makanan adalah menyiapkan sendiri kebutuhan makan anak yaitu sebesar 100%, menu makan anak terdiri dari 4 sehat 5 sempurna yaitu sebesar 80%, menganjurkan untuk menghabiskan makanan yaitu sebesar 70%, memberi makanan tahu/tempe 2 kali seminggu yaitu sebesar 60%, memberikan buah selama seminggu terakhir yaitu sebesar 50%, mendampingi anak pada saat makan yaitu sebesar 50 %, makanan yang diberikan pada anak bervariasi yaitu sebesar 60%, mengutamakan makanan anak dari pada anggota kelurga lainnya yaitu sebesar 80%, mendorong anak untuk bicara pada saat makan yaitu sebesar 60%, dan jika anak makan tidak berdekatan dengan anggota keluarga yang sedang merokok yaitu sebesar 70%.
Berdasarkan hasil penelitian perhitungan jawaban responden dengan menggunakan kuesioner untuk kategori praktek pemberian makanan dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut ini :
Tabel 4.13. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Praktek Pemberian Makanan di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Praktek Pemberian Makanan Jumlah (N) Presentase (%)
1 Baik 64 64
2 Buruk 36 36
Jumlah 100 100
4.4.2. Praktek Kebersihan/Higiene dan Sanitasi Lingkungan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lingkungan termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 64%, sedangkan termasuk dalam kategori buruk sebesar 36 %. Aspek pengukuran yang digunakan untuk menentukan praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lingkungan adalah mengganti pakaian anak setiap hari yaitu sebesar 70%, mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan yaitu sebesar 70%, mengajarkan anak ketika BAB di jamban yaitu sebesar 80%, membersihkan gigi anak setiap hari yaitu sebesar 60%, membersihkan kuku anak secara teratur yaitu sebesar 50%, jendela atau pintu dibuka pada saat salah satu anggota keluarga merokok di dalam rumah yaitu sebesar 70%, dan pada saat merokok anggota keluarga tidak berdekatan dengan anak yaitu sebesar 75%.
Berdasarkan hasil penelitian perhitungan jawaban responden dengan menggunakan kuesioner untuk kategori praktek kebersihan/higiene dan sanitasi lingkungan dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut ini :
Tabel 4.14. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Praktek Kebersihan/Higieni dan Sanitasi Lingkungan di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Praktek Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
Jumlah (N) Presentase (%)
1 Baik 64 64
2 Buruk 36 36
Jumlah 100 100
4.4.3. Perawatan Anak dan Keluarga Dalam Keadaan Sakit
Hasil penelitian diketahui bahwa perawatan keluarga dalam keadaan sakit termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 67%, sedangkan termasuk dalam kategori buruk yaitu sebesar 33%. Aspek pengukuran yang digunakan untuk mentukan perawatan anak dan keluarga dalam keadaan sakit adalah anak telah mendapatkan imunisasi lengkap yaitu sebesar 100%, pada saat anak sakit tidak dibiarkan berdekatan dengan salah satu anggota keluarga yang sedang merokok yaitu sebesar 60%, mendampingi anak selama sakit yaitu sebesar 80 %, membawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat jika anak sakit yaitu sebesar 70%, ibu merawat anak pada saat saki yaitu sebesar 100% dan ibu memberikan suplemen selama anak sakit yaitu sebesar 50%.
Berdasarkan hasil penelitian perhitungan jawaban responden dengan menggunakan kuesioner untuk kategori perawatan anak dan keluarga dalam keadan sakit dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut ini :
Tabel 4.15. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Perawatan Anak dan Keluarga Dalam Keadaan Sakit di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Perawatan Keluarga Dalam Keadaan Sakit
Jumlah (N) Presentase (%)
4.5. Status Gizi Balita
Pengukuran status gizi balita dalam penelitian ini yaitu balita berusia 1-4 tahun, diukur dengan indeks antopometri (BB/TB) berdasarkan baku WHO 2005 dalam simpangan baku (standart deviation score = Z – score), status gizi dapat dibagi enam kategori : sangat gemuk jika skor simpangan baku > 3,0 SD, gemuk jika skor simpangan baku 2,0 < Z < 3,0 SD, risiko gemuk jika skor simpangan baku 1,0 < Z < 2,0 SD, normal jika skor simpangan baku -2,0 < Z < 1,0 SD, kurus jika skor simpangan baku -3,0 < Z < -2,0 SD, sangat kurus jika nilai Z skor < -3,0 SD, dengan cara penibangan Berat Badan (BB) dengan menggunakan timbangan dacin dan Tinggi Badan (TB) dengan menggunakan microtoise.
Berdasarkan hasil pengukuran status gizi balita tertinggi terdapat pada kategori normal yaitu sebesar 73%, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar status gizi balita dalam keadaan baik. Hasil penelitian dengan kategori yang telah ditentukan dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut ini :
Tabel 4.16. Distribusi Frekuensi Status Gizi berdasarkan Pengukuran Antopometri di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Status Gizi Jumlah (N) Presentase (%)
1 Gemuk 1 1 2 Resiko Gemuk 3 3 3 Normal 73 73 4 Kurus 17 17 5 Sangat Kurus 6 6 Jumlah 100 100 4.6. Pengetahuan Responden
Pengetahuan yang akan dinyatakan dalam penelitian ini meliputi pengetahuan gizi dan pengetahuan merokok responden.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada umumnya responden berada pada pengetahuan gizi dalam kategori baik yaitu sebanyak 71%. Aspek pengukuran yang digunakan untuk menentukan kategori pengetahuan gizi yaitu ibu telah mengetahui manfaat gizi yang baik untuk anak yaitu sebesar 82%, mengetahui keunggulan ASI yaitu sebesar 70%, mengetahui manfaat pemberian vitamin A yaitu sebesar 65%, mengetahui manfaat garam beriodium yaitu sebesar 82% dan mengetahui tanda-tanda anak yang sehat yaitu sebesar 75%.
Hasil penelitian perhitungan jawaban responden dengan menggunakan kuesioner untuk kategori pengetahuan gizi dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut ini:
Tabel 4.17. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan Gizi Responden di Kecamatan Berastagi Tahun 2014
No Pengetahuan Gizi Jumlah (N) Presentase (%)
1 Baik 71 71
2 Sedang 29 29
Jumlah 100 100
4.6.2. Pengetahuan Merokok
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada umumnya responden berada pada pengetahuan merokok dalam kategori baik yaitu sebanyak 69%. Aspek pengukuran yang digunakan untuk menentukan kategori pengetahuan merokok yaitu mengetahui tentang istilah perokok pasif yaitu sebesar 80%, mengetahui bahaya menjadi perokok pasif yaitu sebesar 60%, mengetahui jika salah satu anggota keluarga merokok di dalam rumah dapat memperbesar resiko anggota keluarga menderita sakit yaitu sebesar 60%, mengetahui bahwa sebatang
mengetahui bahwa pengeluaran rokok cukup besar dari pengeluaran non pangan yaitu sebesar 60%.
Hasil penelitian perhitungan jawaban responden dengan menggunakan kuesioner untuk kategori pengetahuan gizi dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini:
Tabel 4.18. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan Merokok Responden di Kecamatan Berastagi Tahun 2014 No Pengetahuan Merokok Jumlah (N) Presentase (%)
1 Baik 69 69
2 Sedang 31 31
BAB V PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Keluarga Balita
Pendidikan ibu akan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan ibu dalam pengasuhan anak yang selanjutnya mempengaruhi keadaan gizi anaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendidikan ibu berada pada tingkat menengah yaitu tamat SMP dan tamat SMA sebesar 69%.
Selain pendidikan, pekerjaan ibu juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak. Dari hasil penelitian diperoleh 23% ibu yang tidak bekerja (ibu rumah tangga), sementara ibu lainnya bekerja sebagai PNS, wiraswasta, pedagang, petani dan buruh tani, sehingga ibu yang mempunyai pekerjaan akan berkurang waktunya bersama keluarga dan waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan sendiri makanan bagi anaknya berkurang dan akan mempengaruhi status gizi anak tersebut.
Hubungan pendapatan dan gizi dalam keluarga didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari peningkatan pendapatan untuk perbaikan kesehatan dan gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan keluarga per bulan lebih besar dari UMP (>Rp.1.505.000) yaitu sebanyak 58%.
Jumlah anggota keluarga dan gizi juga mempunyai hubungan yang sangat nyata pada hubungan masing-masing keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak sebesar 65%. Jumlah anggota keluarga yang banyak memperburuk keadaan dan menimbulkan masalah kesehatan lain yang berhubungan dengan ketidak cukupan
Selain itu aktivitas merokok anggota keluarga yang sering dilakukan di dalam rumah juga dapat mengakibatkan anggota keluarga lainnya menjadi perokok pasif dan tidak jarang juga pengeluaran biaya rokok tanpa disadari lebih besar dari pengeluaran non pangan. Hal ini dapat mempengaruhi pola asuh dan status gizi anak pada keluarga perokok, dimana pola asuh ibu pada keluarga perokok harus lebih diperhatikan yang selanjutnya akan mempengaruhi status gizi anak.
5.2. Pola Asuh Anak
Menurut Engle (1997), pola asuh adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial dari anak yang sedang tumbuh. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa 77% status ibu adalah pekerja. Meskipun status ibu adalah pekerja, namun pola asuh pada praktek pemberian makanan termasuk dalam kategori baik. Hal ini di tunjukkan pada Tabel 4.13 presentase kategori baik adalah sebesar 64% dengan aspek pengukuran distribusi frekuensi responden berdasarkan praktek pemberian makanan, dapat diilihat pada Lampiran 7.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Damanik (2011) di Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat menunjukkan bahwa pola asuh berdasarkan perhatian/dukungan ibu terhadap anak dalam pemberian makanan sebagian besar berada pada kategori baik 94%, sedangkan pada kategori tidak baik 6%. Hal ini menunjukka bahwa ketersediaan waktu ibu memberi dukungan pada anak dalam hal praktek pemberian makanan sudah cukup baik.
Sebagian besar ibu pada keluarga perokok memiliki praktek pemberian makanan yang baik dalam hal menyiapkan sendiri kebutuhan makan anak yaitu sebesar 100%, menu makan anak terdiri dari 4 sehat 5 sempurna yaitu sebesar 80%, menganjurkan untuk menghabiskan makanan yaitu sebesar 70%, memberi makanan tahu/tempe 2 kali seminggu yaitu sebesar 60%, memberikan buah selama seminggu terakhir yaitu sebesar 50%, mendampingi anak pada saat makan yaitu sebesar 50 %, makanan yang diberikan pada anak bervariasi yaitu sebesar 60%, mengutamakan makanan anak dari pada anggota kelurga lainnya yaitu sebesar 80%, mendorong anak untuk bicara pada saat makan yaitu sebesar 60%, dan jika anak makan tidak berdekatan dengan anggota keluarga yang sedang merokok yaitu sebesar 70%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu tidak hanya memperhatikan pola makan anak tetapi juga menjaga kebersihan dengan baik.
Hasil penelitian pada Tabel 4.14 diketahui bahwa pola asuh ibu pada keluarga perokok berdasarkan praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lingkungan yang termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 64%. Ini artinya sebagian besar ibu sudah memperhatikan kesehatan dan kebersihan makanan anak serta lingkungan dengan baik. Pola asuh yang baik dalam hal praktek kebersihan/higiene dan sanitasi lingkungan terdiri dari beberapa aspek, dapat dilihat pada Lampiran 8.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Panjaitan (2012) di Kecamatan Pollung menunjukkan bahwa praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lingkungan sebagian besar dalam kategori baik dengan presentase 55,2%. Pada prakteknya sebagian besar ibu menjaga
Sebagian besar ibu pada keluarga perokok memiliki praktek kebersihan/higieni dan sanitasi lngkungan yang baik dalam hal mengganti pakaian anak setiap hari yaitu sebesar 70%, mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan yaitu sebesar 70%, mengajarkan anak ketika BAB di jamban yaitu sebesar 80%, membersihkan gigi anak setiap hari yaitu sebesar 60%, membersihkan kuku anak secara teratur yaitu sebesar 50%, jendela atau pintu dibuka pada saat salah satu anggota keluarga merokok di dalam rumah yaitu sebesar 70%, dan pada saat merokok anggota keluarga tidak berdekatan dengan anak yaitu sebesar 75%.
Hal ini dapat dilihat juga dari hasil pengamatan di lapangan dimana ditemukan sebagian lingkungan tempat tinggal umumnya dalam keadaan bersih, bangunan rumah mempunyai lantai, ventilasi, jamban, membuang sampah pada bak sampah yang disediakan pemerintah, dan lingkungan dalam rumah memiliki penampungan air masak dan menutup tempat penampungan.
Soetjiningsih (1995) mengemukakan bahwa kesehatan anak harus mendapat perhatian dari para orang tua yaitu dengan segera membawa anaknya yang sakit ketempat pelayanan kesehatan yang terdekat. Masa balita sangat rentan terhadap penyakit seperti : flu, diare atau penyakit infeksi lainnya. Salah satu faktor yang mempermudah anak balita terserang penyakit adalah keadaan lingkungan.
Menurut Sulistijani (2001) menyatakan bahwa lingkungan yang sehat perlu diupayakan dan dibiasakan tetapi tidak dilakukan sekaligus, harus perlahan- lahan dan terus menerus. Lingkungan sehat terkait dengan keadaan bersih, rapi dan teratur. Oleh karena itu, anak perlu dilatih untuk mengembangkan sifat-sifat sehat seperti mandi, cuci tangan sebelum makan dan menyikat gigi.
Hasil penelitian pada Tabel 4.15 diketahui bahwa pola asuh ibu pada keluaraga perokok berdasarkan perawatan anak dan keluarga dalam keadaan sakit lebih banyak pada kategori baik yaitu sebesar 67%, sedangkan pada kategori tidak baik sebesar 33%. Pola asuh yang baik dalam hal perawatan anak dan keluarga dalam keadaan sakit terdiri dari beberapa aspek, dapat dilihat pada Lampiran 9.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Damanik (2011) di Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat, pola asuh anak menurut perawatan anak dalam keadaan sakit, berada dalam kategori baik sebesar 70%. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa kebanyakan ibu tidak teratur membawa anaknya ke posyandu tetapi immunisasi anak sebagian besar lengkap. Ini menunjukkan ibu tidak lagi/jarang membawa anak ke posyandu setelah imunisasi anak lengkap.
Sebagian besar ibu pada keluarga perokok memiliki praktek perawatan anak dan keluarga dalam keadaan sakit yang baik dalam hal anak telah mendapatkan imunisasi lengkap yaitu sebesar 100%, pada saat anak sakit tidak dibiarkan berdekatan dengan salah satu anggota keluarga yang sedang merokok yaitu sebesar 60%, mendampingi anak selama sakit yaitu sebesar 80 %, membawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat jika anak sakit yaitu sebesar 70%, ibu merawat anak pada saat saki yaitu sebesar 100% dan ibu memberikan suplemen selama anak sakit yaitu sebesar 50%. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu masih meluangkan waktu untuk memperhatikan kesehatan anak dan keluarga. Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa walaupun kebanyakan status pekerjaan ibu adalah bekerja yaitu sebesar 77%, tetapi mereka masih
tingkat pendidikan ibu berada pada kategori menengah yaitu sebesar 69%, ibu tetap dapat lebih mudah menyerap apa yang dilihat dan didengarnya. Hal ini dapat disebabkan karena ibu sering mendapat informasi kesehatan melalui penyuluhan di posyandu di mana posyandu di lingkungan ini teratur pelaksanaannya.
Faktor lain mungkin disebabkan oleh tingkat pendapatan keluarga dimana tingkat pendapatan keluarga di Kecamatan Berastagi sekitar 58% berada dalam kategori lebih besar dari UMP, sehingga ibu dapat melengkapi kebutuhan gizi anak. Jumlah anggota keluarga yang sebagian besar keluarga memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak yaitu sebesar 65%, hal ini tetap menjadikan ibu lebih mengutamakan kebutuhan anak karena sebagian besar ibu telah memahami bahwa anak sangat membutuhkan asupan gizi yang seimbang untuk tumbuh kembang anak.
Selain itu aktivitas merokok salah satu anggota keluarga yaitu ayah, sering dilakukan didalam rumah dan juga berdekatan lagsung dengan anak. Hal ini membuat ibu lebih memperhatikan pola asuh anak, karena sebagian besar ibu telah memahami bahaya perokok pasif yang akan ditimbulkan pada anak ataupun keluarga lainnya.
5.3. Status Gizi Balita
Menurut Santoso (1999), status gizi anak adalah keadaan kesehatan anak akibat interaksi antara makanan dalam tubuh dengan lingkungan sekitarnya. Nilai keadaan gizi anak sebagai refleksi kecukupan gizi, merupakan salah satu parameter yang penting untuk nilai tumbuh kembang fisik dan nilai kesehatan anak tersebut.
Hasil penelitian pada Tabel 4.16 berdasarkan pengukuran BB/TB yang disesuaikan dengan standart WHO 2005 menunjukkan bahwa balita yang memiliki status gizi gemuk sebanyak 1 orang (1%), balita yang memiliki status gizi resiko gemuk sebanyak 3 orang (3%), balita yang memiliki status gizi normal sebanyak 73 orang (73%), balita yang memiliki status gizi kurus sebanyak 17 orang (17%) dan balita yang memiliki status gizi sangat kurus sebanyak 6 orang (6%).
Penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh Perangin-angin (2006) di Kelurahan Gundaling I Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo, ditemukan 75% berstatus gizi baik, 16,66% gizi buruk, dan 4,17% berstatus gizi buruk. Hal ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan dengan semakin baiknya pola asuh anak, maka proporsi gizi baik pada anak juga akan semakin besar. Dengan kata lain, jika pola asuh di dalam keluarga semakin baik tentunya tingkat konsumsi pangan anak juga akan semakin baik dan pada akhirnya akan mempengaruhi keadaan gizi anak. Berdasarkan data pola asuh hasil menunjukkan bahwa pola asuh ibu pada keluarga perokok berada pada kategori baik, namun dalam kaitannya dengan status gizi masih di ditemukan balita dengan status gizi kurus dan sangat kurus. Jika dilihat dari pendapatan keluarga, maka rata-rata keluarga di Kecamatan Berastagi memiliki pendapatan diatas UMP (Rp. 1.505.000). Namun kaitannya dalam hal pemenuhan kebutahan makanan yang bergizi bagi anak belum sempurna, hal ini dipengaruhi oleh pengeluaran non pangan lainnya yaitu pengeluaran rokok salah satu anggota keluarga.
untuk konsumsi rokok saja. Dan sebagian besar keluarga perokok yakni sebanyak 62 keluarga (6,2%) menghabiskan uang sebesar Rp. 500.000 – 1.000.000 untuk konsumsi rokok. Pengeluaran rokok tersebut sudah hampir sama, bahkan sebagian telah melebihi pengeluaran pangan keluarga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Saliem dan Ariningsih (2008) menunjukkan bahwa pengeluaran rokok pada rumah tangga rawan pangan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga tahan pangan. Ini mengindikasikan bahwa rumah tangga rawan pangan telah mengalihkan pendapatannya yang terbatas untuk membeli rokok dibandingkan dengan kebutuhan pangan untuk ketahanan pangan keluarga. Pengeluaran rokok masyarakat yang cukup beasar sebenarnya mempunyai opportunity cost yang dapat digunakan untuk membeli kebutuhan yang lebih esensial seperti makanan bergizi untuk keluarga.
5.4. Pengetahuan Ibu Balita
Hasil penelitian pada Tabel 4.17 dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan gizi baik yaitu sebesar 71%, sedangkan ibu yang memiliki pengetahuan sedang yaitu sebesar 29% dan ibu yang memiliki pengetahuan buruk tidak ditemukan. Aspek-aspek pengukuran yang berkaitan dengan pengetahuan gizi dapat dilihat pada Lampiran 10.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Hafrida (2004) di Kecamatan Medan Kelurahan Belawan ditemukan bahwa ibu dengan pengetahuan yang baik sebanyak 65% sedangkan ibu yang memiliki pegetahuan sedang sebesar 35%. Pengetahuan yang dimiliki ibu sangat berpengaruh pada penerapan pola asuh yang akan diberikan pada anak mereka.
Sebagian besar ibu pada keluarga perokok memiliki pengetahuan gizi yang baik dalam hal ibu telah mengetahui manfaat gizi yang baik untuk anak yaitu sebesar 82%, mengetahui keunggulan ASI yaitu sebesar 70%, mengetahui manfaat pemberian vitamin A yaitu sebesar 65%, mengetahui manfaat garam beriodium yaitu sebesar 82% dan mengetahui tanda-tanda anak yang sehat yaitu