• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

5.3 Analisis Evaluasi Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

5.3.3 Keluaran ( output )

Tabel 5.37

Distribusi Responden Berdasarkan Peningkatan Pendapatan Warga Setelah Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

No. Peningkatan Pendapatan Frekuensi %

1. 2. Meningkat Tidak meningkat 28 22 56 44 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.37 dapat dilihat bahwa 56% warga mengaku mengalami peningkatan pendapatan setelah diadakannya program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Peningkatan pendapatan ini diaharapkan bisa meningkatkan taraf ekonomi warga komunitas adat terpencil secara keseluruhan. Sisanya yang tidak mengalami perningkatan pendapatan menyatakan beberapa alasan seperti yang peneliti rangkum dalam wawancara dengan responden berikut ini :

Responden (i) : “Ya gini lah dek, gimana mau meningkat pendapatan, lahan kurang

luas dan bantuan bibit yang diberikan pemerintah juga kurang memadai. Lagipula untuk menunggu masa panen cokelat dan karet rata-rata diperlukan waktu 4 tahun. Jadi sebelum panen, nggak ada penghasilan dari kebun.”

Responden (ii) : “Nggak ada peningkatan pendapatan disini dek. Gimanalah mata

pencaharian hanya bertani, nggak bisa kita punya kerjaan sampingan selain itu. Jadi bukannya naik pendapatan, malah berkurang.”

Tabel 5.38

Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan Rata-rata Setelah Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

No. Penghasilan (per bulan) Frekuensi %

1. 2. < 500.000 500.000 – 1.000.000 23 27 46 54 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.38 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pendapatan pada sebahagian besar warga setelah diadakannya program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Jika dilihat data sebelum diadakannya program pemberdayaan komunitas adat terpencil, hanya ada 12 kepala keluarga yang memiliki penghasilan rata-rata 500.000 – 1.000.000 rupiah per bulannya. Setelah pelaksanaan program, jumlah kepala keluarga yang berpenghasilan rata-rata 500.000 – 1.000.000 rupiah per bulan bertambah menjadi 27 kepala keluarga.

Tabel 5.39

Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Peningkatan Pendapatan Dengan Kebutuhan Warga

No. Kategori Frekuensi %

1. 2. 3. Sesuai Biasa saja Tidak sesuai 23 8 19 46 16 38 Total 50 100

Berdasarkan tabel 5.39 dapat diketahui bahwa hampir setengah dari jumlah warga binaan komunitas adat terpencil berpendapat bahwa kenaikan pendapatan ini telah sesuai dengan kebutuhan mereka. Beberapa yang mengatakan biasa saja dan tidak sesuai adalah karena tidak merasakan kenaikan pendapatan dan ada juga yang mengalami kenaikan pendapatan namun jumlahnya tidak signifikan dan tidak sesuai dengan kebutuhan hidup saat ini.

Tabel 5.40

Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Pembangunan Permukiman Dengan Kebutuhan Warga

No. Kategori Frekuensi %

1. 2. Sesuai Tidak sesuai 47 3 94 6 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.40 dapat diketahui bahwa pembangunan permukiman oleh pemerintah dalam program pemberdayaan komunitas adat terpencil di dusun Hutakalang desa Sionom Hudon Selatan sudah sesuai dengan kebutuhan warga. Rumah sederhana dengan dua kamar ini dirasa sudah baik untuk menampung satu kepala keluarga. Selanjutnya dari pembangunan permukiman ini, warga mengharapkan percepatan pemasukan jaringan listrik ke lokasi permukiman. Ketiadaan listrik menjadi salah satu kendala menetapnya warga di permukiman komunitas adat terpencil.

Tabel 5.41

Distribusi Responden Berdasarkan Perlu Tidaknya Perbaikan Permukiman

No. Perbaikan permukiman Frekuensi %

1. 2.

Perlu Diperbaiki Tidak Perlu Diperbaiki

25 25

50 50

Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.41 dapat diketahui bahwa setengah dari jumlah warga komunitas adat terpencil mengharapkan adanya beberapa perbaikan di permukiman mereka meskipun dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan. Perbaikan-perbaikan yang diharapkan warga bisa dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 5.42

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Perbaikan Permukiman

No. Jenis Perbaikan Frekuensi %

1. 2. 3.

Listrik/ penerangan Dapur tambahan

Kamar mandi tiap rumah

13 3 9 52 12 36 Total 25 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.42 diketahui bahwa ada beberapa perbaikan-perbaikan yang diharapkan warga binaan komunitas adat terpencil di lokasi permukiman mereka. Perbaikan yang dominan diharapkan adalah pengadaan listrik/ penerangan. Warga mengakui bahwa ketiadaan listrik di lokasi permukiman komuitas adat terpencil menjadi salah satu alasan mengapa warga memilih tidak tinggal menetap di

membuat warga membutuhkan pembangunan dapur tambahan. Selain itu, ada juga warga yang mengharapkan pengadaan kamar mandi di setiap rumah.

Tabel 5.43

Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuian Pengadaan Administrasi Kependudukan Dengan Kebutuhan Warga

No. Kategori Frekuensi %

1. 2. Sesuai Tidak sesuai 35 15 70 30 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.43 dapat diketahui bahwa 70% warga menyatakan pengadaan administrasi kependudukan sudah sesuai dengan kebutuhan warga. Warga yang berpendapat tidak sesuai adalah warga yang ingin mengurus surat-surat penting namun tidak mengetahui prosedur pengurusan dan menakutkan tingginya biaya yang dikenakan pada pengurusan administrasi kependudukan yang dimaksud.

Tabel 5.44

Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Pembangunan Pendidikan Dengan Kebutuhan Warga

No. Kategori Frekuensi %

1. 2. Sesuai Tidak sesuai 34 16 68 32 Total 50 100

Berdasarkan tabel 5.44 dapat dilihat bahwa kebanyakan warga menganggap kegiatan bidang pendidikan (pembangunan PAUD) sudah sesuai dengan kebutuhan warga. Warga yang menjawab tidak sesuai beralasan bahwa permukiman komunitas adat terpencil yang letaknya di ujung desa membuat jarak antara permukiman dan Sekolah Dasar menjadi semakin jauh.

Tabel 5.45

Distribusi Responden Berdasarkan Perlu Tidaknya Perbaikan Bidang Pendidikan

No. Kategori Frekuensi %

1. 2.

Perlu Diperbaiki Tidak Perlu Diperbaiki

12 38

24 76

Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.45 dapat diketahui bahwa dalam kenyataannya, pelaksanaan program bidang pendidikan masih ada yang perlu diperbaiki. Sebanyak 24% warga menganggap perlu ada beberapa perbaikan bidang pendidikan yang harus dilakukan oleh pemerintah. Adapun perbaikan-perbaikan yang diharapkan warga terhadap bidang pendidikan dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 5.46

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Perbaikan Bidang Pendidikan

No. Jenis Perbaikan Frekuensi %

1. 2. 3.

4.

Pengadaan beasiswa

Bantuan buku-buku sekolah Bantuan peralatan sekolah (sepatu, tas, seragam sekolah) Bantuan tenaga pengajar

4 2 3 3 50 17 33 Total 12 100

Sumber : Data Primer, 2013

Bangunan sekolah dapat dikatakan sudah layak dan maksimal. Sudah ada dia PAUD dan dua Sekolah Dasar. Yang menjadi kendala adalah dimana bangunan sekolah tersebut tidak didukung oleh sarana dan prasaran belajar yang memadai seperti buku-buku pelajaran yang sesuai dengan standar kurukulum nasional serta tenaga pengajar yang tersertifikasi. Selain bantuan buku-buku sekolah dan tenaga pengajar, warga juga sangat mengharapkan adanya pemberian beasiswa bagi anak- anak mereka dari pemerintah. Beasiswa dinilai masyarakat akan sangat membantu meringankan biaya pendidikan anak-anak serta mampu meningkatkan motivasi belajar anak.

5.3.4 Pengaruh (impact)

Untuk aspek pengaruh (impact) selengkapnya dapat dilihat dalam tabel-tabel

berikut ini :

Tabel 5.47

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Perpindahan Warga Baru Setelah Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

No. Perpindahan warga baru Frekuensi %

1. 2. Ada Tidak tahu 44 6 88 12 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.47 dapat dilihat bahwasannya ada perpindahan warga baru dari tempat lain ke lokasi permukiman komunitas adat terpencil setelah diadakannya program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Hasil wawancara peneliti terhadap warga yang mengaku pindahan, mengatakan bahwa rata-rata mereka pindah ke lokasi permukiman komunitas adat terpencil di tahun 2010-2011. Ada responden yang mengaku pindahan dari Raja Maligas (Kabupaten Simalungun), Pulau Samosir, Tanjung Balai, Pematangsiantar, Tarutung dan Kabupaten Karo. Responden yang merupakan warga pindahan mengaku memutuskan pindah ke lokasi permukiman komunitas adat terpencil dikarenakan adanya bantuan permukiman dari pemerintah serta bantuan-bantuan fisik lainnya seperti bibit tanaman.

Tabel 5.48 Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Peran Warga Dalam Pemeliharaan Infrastruktur Desa

No. Peran Warga Frekuensi %

1. 2. Ada Tidak ada 26 24 52 48 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.48 dapat diketahui bahwa lebih dari setengah warga mengaku turut memelihara infrastruktur yang telah dibangun pemerintah dalam program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Peranan ini antara lain : memperbaiki saluran air yang rusak, menjaga kebersihan MCK Umum serta ikut memperbaiki rumah yang mengalami kerusakan maupun renovasi.

Tabel 5.49

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Kemudahan Pengurusan Administrasi Kependudukan Setelah Program Pemberdayaan

No. Kemudahan Pengurusan Adm.Kependudukan Frekuensi % 1.

2. 3.

Ada

Biasa saja (tidak berpendapat) Tidak ada 8 32 10 16 64 20 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.49 dapat diketahui bahwa sebahagian besar masyarakat tidak merasakan adanya kemudahan pengurusan administrasi kependudukan setelah pelaksanaan program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Hal ini dikarenakan

tidak adanya informasi yang akurat dan jelas tentang penjelasan prosedur dan biaya pengurusan administrasi kependudukan dan surat-surat penting lainnya.

Tabel 5.50

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknnya Kemudahan Akses Pendidikan Dasar Setelah Program Pemberdayaan

No. Kemudahan Akses Pendidikan Dasar Frekuensi % 1.

2. 3.

Ada

Biasa saja (tidak berpendapat) Tidak ada 20 13 17 40 26 34 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.50 dapat diketahui bahwa hanya 40% masyarakat yang merasakan adanya kemudahan mengakses pendidikan dasar setelah diadakannya program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Kemudahan yang dimaksud warga disebabkan oleh keberadaan PAUD yang dibangun pemerintah di lokasi permukiman komunitas adat terpencil. Warga yang menjawab tidak ada kemudahan mengeluhkan jarak Sekolah Dasar ke lokasi permukiman komunitas adat terpencil yang semakin jauh sedangkan PAUD hanya diperuntukkan bagi anak-anak usia 5 – 6 tahun saja.

Tabel 5.51

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Kemudahan Akses Sarana Kesehatan Setelah Program Pemberdayaan

No. Kemudahan Akses Sarana Kesehatan Frekuensi % 1.

2. 3.

Ada

Biasa saja (tidak berpendapat) Tidak ada 24 16 10 48 32 20 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.51 dapat diketahui bahwa hampir setengah warga merasakan adanya kemudahan mengakses sarana kesehatan dikarenakan adanya seorang bidan desa yang bersedia dipanggil ke lokasi permukiman komunitas adat terpencil. Keberadaan bidan desa ini sangat membantu warga yang sakit dan tidak mempunyai sarana transportasi untuk berobat ke pusat desa (Poskesdes).

Tabel 5.52

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Kemudahan Pemenuhan Kebutuhan Hidup Setelah Program Pemberdayaan

No. Kemudahan Pemenuhan Kebutuhan Hidup Frekuensi % 1.

2. 3.

Ada

Biasa saja (tidak berpendapat) Tidak ada 31 11 18 62 22 36 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

bantuan yang diberikan pemerintah dalam program pemberdayaan komunitas adat terpencil di Hutakalang, desa Sionom Hudon Selatan. Bantuan-bantuan yang dimaksud adalah bantuan sembako dari pemerintah dan bantuan tanaman pangan. Selain itu lokasi permukiman yang berada dalam satu lokasi memudahkan akses komunikasi warga sehingga penyampaian informasi-informasi penting seputar pemenuhan kebutuhan bisa dengan cepat diterima seluruh warga.

Tabel 5.53

Distribusi Responden Berdasarkan Ada Tidaknya Kemudahan Akses Wilayah Lain Setelah Program Pemberdayaan

No. Kategori Frekuensi %

1. 2. 3.

Ada

Biasa saja (tidak berpendapat) Tidak ada 30 18 2 60 36 4 Total 50 100

Sumber : Data Primer, 2013

Berdasarkan tabel 5.53 dapat diketahui adanya kemudahan mengakses wilayah lain yang dirasakan oleh warga setelah pelaksanaan program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Kemudahan mobilisasi ke tempat lain ini dikarenakan saat pelaksanaan program, akses ke lokasi permukiman berupa jalan aspal juga telah dibangun pemerintah lewat bantuan PNPM-Mandiri Pedesaan sehingga akses keluar masuk lokasi permukiman komunitas adat terpencil juga mudah dilakukan.

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, peneliti akan memberikan kesimpulan mengenai Evaluasi Pelaksanaan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Desa Sionom Hudon Selatan, sebagai berikut :

1. Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil yang merupakan KAT

ketegori III telah dilaksanakan di desa Sionom Hudon Selatan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan oleh Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara. Pelaksanaan program dilakukan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan hingga pemutusan hubugan dengan klien. Tahapan persiapan dan pelaksanaan program sudah dilakukan dengan baik, namun rencana tindak lanjut program belum maksimal sehingga banyak warga yang akhirnya tidak lagi fokus pada tujuan proses dan tujuan akhir program.

2. Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil telah mampu

membawa warga binaan pada peningkatan kondisi kesejahteraan sosial yang lebih baik dibandingkan saat belum diadakannya program. Hal yang dikhawatirkan terjadi adalah kondisi dimana kebanyakan masyarakat berharap bantuan dari pemerintah tanpa adanya motivasi dari diri sendiri untuk mandiri dan mampu menindaklanjuti apa yang pemerintah telah berikan.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan, peneliti mencoba memberikan masukan atau beberapa saran yang ditunjukkan kepada semua pihak yang mempunyai kepentingan. Adapun saran dari peneliti antara lain :

1. Sebelum diadakannya pembangunan fisik (perumahan, kesehatan,

pertanian, dll) sebaiknya pemerintah terlebih dahulu mengadakan pembangunan pola pikir warga binaan. Sebagai jawaban atas beberapa sikap pesimis warga akan keberhasilan program ini, peneliti menyarankan adanya suatu penanaman pola pikir yang optimis dan positif pada seluruh warga binaan komunitas adat terpencil sehingga dapat menyokong keberlanjutan program. Pembangunan pola pikir juga bertujuan agar warga binaan fokus pada tujuan proses dan tujuan akhir program dan juga mengerti benar apa yang dimaksud dengan ‘berdaya’ hingga bila suatu saat nanti bantuan dari pemerintah berhenti, warga tetap bisa menjamin keberlangsungan hidupnya.

2. Partisipasi aktif dari seluruh warga dalam mengikuti seluruh kegiatan

yang menjadi lingkup program pemberdayaan komunitas adat terpencil akan membantu pemerintah menyukseskan program ini. Program pemberdayaan tidak akan berhasil tanpa bantuan partisipasi aktif warga, karena pemberdayaan mewajibkan warga bukan sebagai objek saja melainkan juga sebagai subjek (pelaku).

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi Rukminto. (2003). Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan

Intervensi Komunitas (Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis).

Depok. Lembaga Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Adi, Isbandi Rukminto. (2005). Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial :

Pengantar pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan. Jakarta. UI-Press.

Bosko, Rafael Edy. (2006). Hak-hak masyarakat Adat Dalam Konteks Pengelolaan

Sumber Daya Alam. Jakarta. ELSAM.

Departemen Sosial R.I. (2003). Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor

06/PEGHUK/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil. Jakarta.

Departemen Sosial R.I. (2003). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 111

Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. Jakarta.

Dunn, William. (1999). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta. Gadjah

Mada University Press.

Ife, Jim; Tesoriero, Frank. (2008). Community Development – Alternatif

Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Kementerian Sosial R.I. (2010). Panduan Perlindungan dan Advokasi Komunitas

Adat Terpencil.Jakarta.

Kementerian Sosial R.I. (2012). Direktorat Pemberdayaan KAT. Jakarta.

Konvensi ILO mengenai Masyarakat Hukum Adat, 1989 (No.169): Sebuah Panduan. (2003). Jenewa.

Organisasi Perburuhan Internasional. (2003). KONVENSI ILO No.169 Tahun 1989

Mengenai Masyarakat Hukum Adat. Jakarta.

Parsons, Wayne. (2001). Public Policy – Pengantar Teori dan Praktik Analisis

Kebijakan. Jakarta. Kencana.

Redaksi Sinar Grafika. (2006). RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional) 2004-2009 – Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009. Jakarta. Sinar Grafika Offset.

Setiana, Lucie, Ir., M.P. (2005). Teknik Penyuluhan & Pemberdayaan Masyarakat.

Siagian, Matias. (2011). Metode Penelitian Sosial – Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Kesehatan. Medan. Grasindo Monoratama.

Siagian, Matias; Suriadi, Agus. (2012). CSR Perspektif Pekerjaan Sosial. Medan.

Grasindo Monoratama.

Silalahi, Ulber. (2009). Metode Penelitian Sosial. Bandung. Grafika.

Studi Magister Administrasi Publik Program Pascasarjana Universitas Medan Area.

(2005). Publica : Public Policy Journal. Medan.

Suharto, Edi, Ph.D. (2008). Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik. Bandung.

Alfabeta.

Suharto, Edi, Ph.D. (2009). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat.

Bandung. Refika Aditma.

Sumber Lain :

bambang-rustanto.blogspot.com, diakses pada tanggal 22 Januari 2013 pukul 12.13 WIB.

www.analisadaily.com, diakses pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 14.32 WIB.

www.jurnas.com, diakses pada tanggal 2 Januari 2013 pukul 12.20 WIB.

www.kemsos.go.id, diakses pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 15.50 WIB.

www.oase.kompas.com, diakses pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 15.04 WIB.

Dokumen terkait