BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kajian Pustaka
2. Keluarga
a. Pengertian
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan
“Keluarga”: Ibu Bapak dengan anak-anaknya, satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat. Keluarga merupakam sebuah institusi terkecil di dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman damai dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih saying diantara anggotanya. Suatu ikatan hidup yang didasarkan karena terjadinya
32Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adhillatuhu, (Jakarta: Gema Insani, 2011), 97.
perkawinan, juga bisa disebabkan karena persusuan atau muncul perilaku pengasuhan34.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur masyarakat yang dibangun di atas perkawinan/pernikahan terdiri dari ayah/suami, ibu/istri, dan anak. Pernikahan, sebagai salah satu proses pembentukan suatu keluarga, merupakam perjanjian sacral (mistaqan ghalidha) Antara suami dan istri. Perjanjian sacral ini, merupakan prinsip universal yang terdapat dalam semua tradisi keagamaan. Dengan ini pula pernikahan dapat menuju terbentuknya rumah tangga yang sakinah.
b. Fungsi Keluarga
Secara sosiologis, ada tujuh macam fungsi keluarga, yaitu35: 1) Fungsi Biologis
Perkawinan dilakukan Antara lain bertujuan agar memperoleh keturunan, dapat memelihara keharmonisan serta martabat manusia sebagai makhluk yang berakal dan beradab fungsi biologis ini membedakan Antara perkawinan manusia dengan binatang, sebab fungsi inti diatur dalam suatu norma perkawinan yang diakui bersama.
2) Fungsi Edukatif
Keluraga merupakan tempat pendidikan bagi semua anggotanya dimana orang tua memiliki peran yang sukup
34Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, 33-34.
penting untuk membawa anak menusu kedewasaan jasmani dan ruhani dalam dimensi kognisi, afektif maupun skill, dengan tujuan untuuk mengembanhkan aspek mental spiritual, moral, intelektual, dan professional.
Fungsi edukatif ini merupakan bentuk penjagaan hak dasar manusia dalam memelihara dan mengembangkan potensi akalnya. Pendidikan keluarga sekarang ini pada umumnya telah mengikuti pola keluarga demokratis dimana tidak dapat dipilah-pilah siapa belajar kepada siapa36.
3) Fungsi Religius
Keluraga merupakan tempat penanaman nilai moral agama melalui pemahaman, penyadaaran dan praktik dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipya iklim kegiatan didalamya. Dalam QS Lukman: 13 mengisahkan peran orang tua dalam keluarga menanamkan aqidah kepada anak sebagaimana yang dilakukan Luqman al Hakim terhadap anaknya.
ِهِنْبٱِل ُنَٰمْقُل َلاَق ْذِإَو
ۦ
ُهُظِعَي َوُهَو
ۥ
ْشُت َلا ََّنَُيبَٰي
ِهَّللٱِب ْكِرْ
ۖ
ٌمْلُظَل َكْرْ شلٱ َّنِإ
ٌمَِّظَع
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran; hai ananda, janganlah kamu mempersekutukan Allah sesunggguhnya membersekutukan
Allah adalah benar-benar kedhaliman yang besar” (Qs. Luqmaan: 13)37.
Dengan demikian keluarga merupakan awal mula seseorang yang mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhanny. Penanaman aqidah yang benar, pembiasaan ibadah dengan disiplin, dan pembentukan kepribadian sebagai seseorang yang beriman sangat penting dalam mewarnai terwujudnya masyarakat religious38.
4) Fungsi Protektif
Keluarga menjadi tempat yang aman dari gangguan internal maupun eksternal keluarga dan untuk menangkal segala pengaruh negative yang masuk di dalamnya. Gangguan internal dapat terjadi dalam kaitannya dengan keragaman kepribadian anggota keluarga, perbedaan pendapat dan kepentingannya, dapat menjadi pemicu lahirnya konflik bahkan juga kekerasan-kekerasan dalam keluarga biasanya tidak mudah dikenali karena berada di wilayah privat, dan terdapat hambatan psikis dan social maupun norma budaya dan agama untuk diungkapkan secara public. Adapun gangguang eksternal keluarga biasanya lebih mudah dikenali oleh masyarakat karena berada pada wilayah publik39.
Keluarga menjadi perlindungan utama yang dimiliki setiap individu yang mengalami gangguan internal maupun eksternal, pendapat penulis bahwa keluargalah tempat kembali dan tempat meminta perlindungan dari gangguan-gangguan yang ada. Tak hanya gangguan saja yang bisa dilindungi oleh keluarga, bahkan pengaruh negatif yang datang dari internal maupun eksternal juga dapat dilindungi oleh keluarga.
37Qs. Luqmaan (31): 13.
38Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, 43.
5) Fungsi Sosialisasi
Berkaitan dengan mempersiapkam anak menjadi anggota masyarakat yang baik, maupun memegang norma-norma kehidupan secara universal baik inter relasi dalam keluarga itu sendiri maupun dalam menyikapi masyarakat yang pluralistik lintas suku, bangsa, ras, golongan, agama, budaya, Bahasa maupun jenis kelaminnya. Fungsi sosialisasi ii diharapkan anggota keluarga dapat memposisikan diri sesuai dengan status dan struktur keluarga, misalnya dalam konteks masyarakat Indonesia selalu memperhatikan bagaimana anggota keluarga satu memanggil dan menempatkan anggota keluarga lainya agar posisi nasab tetap terjaga40.
6) Fungsi Rekreatif
Bahwa keluarga merupakan tempat yang dapat
memberikan kesejukan dan melepas lelah dari seluruh aktifitas masing-masing anggota keluarga. Fungsi rekreatif ini dapat mewujudkan susasna kelaurga yang menyenangkan , saling menghargai, menghormati, dan menghibur masing-masing anggota keluarga sehingga tercipta hubungan yang harmonis, damai, kasih sayang, dan setiap anggota keluarga merasa “Rumahku adalah surgaku”.
7) Fungsi Ekonomis
Keluarga merupakan kesatuan ekonomis dimana keluarga memeiliki aktifitas mencari nafkah, pembinaan usaha,
peremcanaan anggaran, pengelolaan dan bagaimana
memanfaatkan sumber-smber penghasilan dengan baik, mendistribusikan secara adil dan proposional, serta dapat mempertanggung jawabkan kekayaan dan harta bendanya secaraa social maupun normal.
Ditinjau dari ketujuh fungsi keluarga tersebut, maka jelaslah bahwa keluarga memiliki fungsi yang vital dalam pembentukan individu. Oleh karena itu keseluruhan fungsi tersebut harus terus menerus dipelihara. Jika salah satu dari fungsi-fugsi tersebut tidak berjalan, maka akan terjadi ketidak harmonisan dalam system keteraturan dalam keluarga41.
c. Tujuan Keluarga
Bila dilihat dari kaca mata Islam, terbentuknya keluarga bermula dari terciptanya jalinan Antara laki-laki dan perempuan melalui pernikahan yang halal, memenuhi rukun dan syarat-syarat yang sah, yang bertujuan untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan dan membina keluarga yang harmonis, sejahtera serta bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini berdasarkan firman Allah42:
41Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, 45.
42Alif Nadhifah, Menjaga Keselamatan Keluarga “Dirayah Tahliliyah Surat At-Tahrim Ayat 6”, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2012), 8.
َلَعَجَو اَهْيََّلِإ اوُنُكْسَت ل اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفنَأ ْن م مُكَل َقَلَخ ْنَأ ِهِتاَيآ ْنِمَو
مُكَنْيََّيب
ًِ َْحََرَو ًةَّدَوَّم
ۖ
َذ ِفي َّنِإ
َنوُرَّْكَفَيتَيي ٍمْوَق ل ٍَاَي َلَ َكِلٰٰ
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu bener-bener terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar-Rum:21)43.
Harmoni maksudnya dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga dan sejahtera disebabkam terpenuhinya ketenangan lahir dan batin sehingga timbullah kebahagian yakni kasih dan saying antar anggota. Selain itu pembentukan keluarga adalah untuk memenuhi naluri manusiawi Antara lain berupa keperluan biologis44.
Melihat dua tujuan pernikahan tersebut, Imam Ghazali dalam Ihya’nya mengembangkan tujuan dari pembentukan keluarga menjadi lima, yaitu45:
1) Memperoleh keturunan yang sah46.
2) Menjaga kehormatan nafsu dengan menjaga pandangan, menjaga kemaluan47. .
43Qs. Ar-Rum (22): 21.
44Nadhifah, Menjaga Keselamatan Keluarga “Dirayah Tahliliyah Surat At-Tahrim Ayat 6”, 8.
45Nadhifah, Menjaga Keselamatan Keluarga “Dirayah Tahliliyah Surat At-Tahrim Ayat 6”, 9.
46Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, (Beirut Lebanon: Daar Ibn Hazm, 2005), 459.
3) Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tentram atas dasar cinta dan kasih sayang48.
4) Memenuhi panggilan agama untuk memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan49.
5) Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak dan kewajiban, juga bersungguh-sungguh untuk memperoleh harta secara halal50.