Kata sakinah diambil dari akar kata yang terdiri atas huruf sin, kaf, dan nun yang mengandung makna ketenangan, atau anonim dari guncang dan gerak. Berbagai bentuk kata yang terdiri atas ketiga huruf tersebut semuanya bermuara pada makna di atas. Rumah dinamai maskan karena ia merupakan tempat untuk meraih ketenangan setelah sebelumnya sang penghuni bergerak (beraktivitas di luar).11 Sedangkan menurut Quraish
11 Said Husin al-Munawwar. Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani. (Jakarta: Pena Madani. 2003), hlm 62.
Shihab, sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak.12
Sedangkan kata Sakinah berasal dari kata sakani yang berarti tenang atau bergejolak. terdiri dari huruf sin, kaf, dan nun, mengandung makna ketenangan.13 Adapun mengenai akar kata sakinah menurut Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa sakinah berasal dari asal kata sakana, yang berarti tenang, tentram. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata sakinah diartikan sebagai kedamaian, ketentraman, kebahagiaan.14
Penggunaan kata sakinah dalam pembahasan keluarga pada dasarnya diambil dari Al-Quran surat al-Rum ayat 21 ”litaskunu ilaiha”
yang artinya bahwa Allah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.15
Kata sakinah yang digunakan dalam mensifati kata ”keluarga”
merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat. Rumah tangga
12 Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. (Bandung: Mizan. 2000), hlm. 192
13 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hlm. 174
14 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 980.
15 Said Husin al-Munawwar. Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani. (Jakarta: Pena Madani, 2003), hlm 62
seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarganya.
Ia merupakan tempat kembali kemana pun mereka pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam masyarakat. Dalam istilah sosiologi ini disebut dengan unit terkecil dari suatu masyarakat.16
Keluarga biasanya terdiri dari bapak, ibu, dengan anak-anaknya;
atau orang seisi rumah yang menjadi tanggungannya. Keluarga batih biasanya disebut keluarga inti, yakni keluarga yang terdiri atas suami, isteri, dan anak.17 Penggunaan istilah family bagi keluarga di Barat menimbulkan masalah karena terjadi overlaping antara pengertian perkariban (kinship) dengan kekeluargaan (family). Untuk itu menganjurkan pemilihan definisi keluarga dilihat secara operasional, yakni, “suatu struktur yang bersifat khusus dimana satu sama lain dalam keluarga itu mempunyai ikatan apakah lewat hubungan darah atau pernikahan”. Perikatan itulah yang membawa dampak adanya rasa “saling berharap” dan secara individual saling mempunyai ikatan batin.18
Hakekatnya adalah keluarga yang dibangun berdasarkan agama melalui proses perkawinan yang anggotanya memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mewujudkan ketentraman melalui pergaulan yang baik sehingga menjadi sandaran dan tempat berlindung bagi anggotanya
16 Miftah Faridl. Merajut Benang Kaluarga Sakinah, dalam jurnal Al-Insan No. 3 vol. 2, 2006 (Jakarta: Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan). hlm. 75.
17 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007), hlm. 379
18 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoala Umat, cet. 19 (Bandung: Mizan Pustaka, 2007), hlm. 296
dan tumpuan kekuatan masyarakat untuk memperoleh kedamaian hidup.19 Sebagian lain mengatakan bahwa keluarga ideal adalah keluarga yang dapat menggabungkan sakinah, mawaddah, dan rahmah serta mampu merepresentasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang tidak hanya terbatas pada unit anggota keluarga, tetapi juga berguna bagi masyarakat luas.
Berdasarkan dua aspek tersebut di atas, maka Istilah “keluarga sakinah” merupakan dua kata yang saling melengkapi, kata sakinah sebagai kata sifat, yaitu untuk menyifati atau menerangkan kata keluarga.
Keluarga sakinah digunakan dengan pengertian keluarga yang tenang, tentram, bahagia, dan sejahtera lahir dan batin. Terwujudnya suatu keluarga sakinah, yakni keluarga bahagia dan sejahtera atas jalinan cinta dan kasih sayang antara suami istri yang dikehendaki oleh agama Islam adalah bersumber pada firman Allah SWT dalam Alquran surat Ar-Ruum Ayat 21.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
19 M. Quraish Shihab, Perempuan: dari Cinta sampai Seks dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah dari Bias Lama sampai Bias Baru, cet. 8 (Jakarta: Lentera Hati, 2013), hlm. 154
Pada ayat di atas tersurat kalimat litaskunu ilaiha yang menggambarkan suatu keadaan rumah tangga yang para anggotanya memperoleh ketenangan dan ketentraman serta kebahagiaan lahir batin, mengantarkan kemungkinan berkembangnya cinta dan kasih sayang dalam keluarga itu sendiri. Dalam kalimat itu terkandung pula arti tersirat, bahwa tujuan dari kehidupan rumah tangga untuk mencapai ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan kebahagian hidup lahir dan batin di atas jalinan kasih sayang antara suami dan istri.20
Kesempurnaan eksistensi makhluk hanya tercapai dengan bergabungnya masing-masing pasangan dengan pasangannya. Allah telah menciptakan dalam diri setiap makhluk dorongan untuk menyatu dengan pasangannya apalagi masing-masing ingin mempertahankan eksistensi jenisnya. Dari sini Allah menciptakan pada diri mereka naluri seksual.
Karena itu setiap jenis tersebut merasa perlu menemukan lawan jenisnya.21 Allah menjadikan pasangan suami istri masing-masing merasakan ketenangan di samping pasangannya serta cenderung kepadanya.
Kesediaan seorang suami untuk membela istri sejak saat terjadinya hubungan dengannya, sungguh merupakan suatu keajaiban.22 Kesediaan seorang wanita untuk hidup bersama seorang lelaki, meninggalkan kedua orang tua dan keluarga yang telah membesarkannya dan mengganti semua itu dengan penuh kerelaan untuk hidup bersama seorang lelaki yang
20 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, kesan dan Keserasian Al Quran, (Ciputat:
Lentera Hati, 2000), Vol 11, hlm. 476
21 Shihab, Tafsir Al-Misbah vol. 11, hlm. 35
22 Hamka, Tafsir Al-Azhar juzu‟ XX, hlm. 174
menjadi suaminya serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam, semua itu adalah hal-hal yang tidak mudah akan dapat terlaksana tanpa adanya kuasa Allah mengatur hati suami istri. Demikianlah yang diciptakan Allah dalam hati suami istri yang hidup harmonis, kapan dan di mana pun manusia berada.23
Al-Qur'an menyebut dua kata lain dalam konteks kehidupan rumah tangga, yaitu mawaddah dan rahmat. Kata mawaddah, mengandung arti kelapangan dan kekosongan. Ia adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Kalau menginginkan kebaikan dan mengutamakannya untuk orang lain berarti orang itu telah mencintainya.
Tetapi, jika seseorang menghendaki untuknya kebaikan serta tidak menghendaki untuknya selain itu apa pun yang terjadi mawaddah telah menghiasi hati seseorang.24
Ayat sebelum ini berbicara tentang kejadian manusia hingga mencapai tahap basyariyat yang mengantarnya berkembangbiak sehingga menjadikan mereka bersama anak cucunya berkeliaran di bumi ini. Kini ayat 21 akan menguraikan pengembangbiakan manusia serta bukti kekuasaan dan rahmat Allah SWT.
Allah menciptakan dari nafsin wahidah pasangannya, bahwa pasangan suami istri hendaknya menyatu sehingga menjadi nafs/diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan pikirannya, dalam cita dan
23 Shihab, Tafsir Al-Misbah vol. 11, hlm. 36
24 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, kesan dan Keserasian Al Quran, (Ciputat:
Lentera Hati, 2000), Vol 11, hlm. 476
harapannya, dalam gerak dan langkahnya, bahkan dalam menarik dan menghembuskan nafasnya. Itu sebabnya perkawinan dinamai zawaj yang berarti keberpasangan di samping dinamai nikah yang berarti penyatuan ruhani dan jasmani.
Ayat 21 ini di akhiri dengan „yatafakkarin‟. Di sini obyeknya dengan jelas dapat dilihat dan dirasakan, tetapi untuk memahami tanda itu, diperlukan pemikiran dan perenungan. Betapa tidak, ia terlihat sehari-hari sehingga boleh jadi kita yang tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah berkat anugerah Allah. Dialah yang menanamkan mawaddah dan cinta kasih, sehingga seseorang, setelah perkawinan dapat menyatu dengan pasangannya, badan dan hatinya. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.25
Mawaddah adalah jalan menuju terabaikannya pengutamaan kepentingan dan kenikmatan pribadi untuk siapa yang tertuju kepadanya mawaddah itu. Siapa yang memilikinya, dia tidak pernah akan memutuskan hubungan, apa pun yang terjadi. Jika demikian, kata ini mengandung makna cinta. Makna kata ini mirip dengan makna kata rahmat. Hanya saja, rahmat tertuju kepada yang dirahmati, sedangkan yang dirahmati itu dalam keadaan butuh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rahmat tertuju kepada yang lemah, sedangkan mawaddah tidak demikian. Mawaddah dapat tertuju juga kepada yang kuat. Sehubungan dengan ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:
25 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2003), hlm. 33-37
(
“Mengatakan kepada kami Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Mawla Syaqif berkata: Mengatakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz bin Abi Ruzamah berkata: Mengatakan kepada kami Al-Fadlu bin Musa dari Abdullah bin Sa’id bin Abi Hindun dari Ismail bin Muhammad bin Sa’id bin Abi Waqos dari ayahnya dari kakeknya berkata: berkata Rasulullah SAW: (empat unsur kebaikan: perempuan yang sholeh, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang kuat dan empat kebalikannya: tetangga yang jahat, perempuan yang jahat, tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang jelek”. (HR. Ibnu Hibban).26
Menurut Mardjoned maksud hadis tersebut di atas yaitu:
Hidup berdampingan dengan tetangga yang baik akan memancarkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Tempat tinggal atau rumah yang luas berarti mencukupi makna pula rumah tangga itu menciptakan suasana sejuk dan sejahtera. Sedangkan yang dimaksud kenderaan yang kuat dan kencang ialah memudahkan sarana kehidupan untuk mendapatkan tujuan yang akan dicapai.27
Hadis di atas memberikan gambaran bahwa keluarga sakinah (bahagia) dapat tercipta bila mana dalam keluarga itu terdapat tiga hal yaitu wanita shalehah (istri yang shalehah), tempat tinggal yang baik (rumah yang baik) dan kendaraan yang baik (kendaraan yang diperoleh sumbernya halal). Sebaliknya, kehancuran dalam rumah tangga dapat terjadi bila mana terdapat di dalamnya tiga hal yaitu wanita yang
26 Ibnu Hiban. Bab nikah dalam Maktabah Samila, t.tp, t.np, t.th, edisi ke II
27 Ramlan Marjoned, keluarga Sakinah Rumahku Surgaku, (Jakarta: Media Da‟wah, 1999), hlm. 223
berakhlak buruk (istri), tempat tinggal buruk dan kendaraan jelek (rezeki haram).
Secara umum sudah dapat dimengerti bahwa keluarga mempunyai suatu fungsi yang utama bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Sebab sebagaimana dinyatakan di atas bahwa manusia mengawali tumbuh dan berkembangnya dari lingkungan keluarga demikian pula kebanyakan waktunya juga dihabiskan dalam lingkungan keluarga.
Sebelum, membahas tentang fungsi keluarga, terlebih dahulu akan dikemukakan tujuan perkawinan menurut undang-undang. Sebab keluarga terbentuk dari sebuah perkawinan yang didasarkan atas undang-undang baik dalam bentuk konstitusi maupun agama (dasar agama).
Rumah tangga idaman muslim, selain memberikan ketentraman atau sakînah, juga penuh dengan rasa cinta atau mawaddah.
Perasaan cinta adalah fitrah antara laki-laki dan perempuan. Allah mengistilahkan sebagai sebuah “kecenderungan” untuk saling tertarik, dan kemudian tentram karenanya.28
Mawaddah terambil dari akar kata yang maknanya berkisar pada
“kelapangan dan kekosongan”. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Ia adalah cinta plus yang sejati.
Bukankah yang mencintai disamping akan terus berusaha mendekat-sesekali hatinya kesal juga, akankah cintanya pudar? Mawaddah tidak demikian, ia bukan sekadar cinta, mawaddah adalah “cinta plus”, karena
28 Agus Mustofa, Fikih Nikah Panduan Syar’i Menuju Rumah Tangga Islami, (Bandung:
PT Syaamil Cipta Media, 2007), hlm. 175
itu yang didalam hatinya bersemai mawaddah tidak lagi akan memutuskan hubungan, seperti yang bisa terjadi pada yang bercinta.
Ini disebabkan oleh karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, sehingga pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari pasangannya).
Begitu kurang lebih komentar pakar al-Qur‟an, Ibrahim al-Biqâi tentang mawaddah. Mawaddah adalah cinta yang tampak dampaknya pada perlakuan serupa dengan tampaknya kepatuhan akibat rasa kagum dan hormat pada seseorang.29
2. Keluarga Sakinah Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974