• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Kerja

2.1.2 Keluhan muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal atau disebut juga sistem otot dan rangka yang terdiri dari

otot skelet dan tulang–tulang rangka tempat otot skelet melekat. Beberapa fungsi sistem muskuloskeletal adalah mempertahankan postur dan menimbulkan gerakan tubuh.

Dalam melakukan fungsinya sistem ini harus disokong oleh sistem yang lain seperti

sistem syaraf dan sistem kardiorespirasi.

Keluhan pada sistem muskuloskeletal bisa merupakan keluhan yang sangat ringan

sampai dirasakan sangat sakit. Keluhan ini bisa terjadi akibat sikap kerja yang tidak

17

ergonomis sering dihubungkan dengan timbulnya keluhan atau cedera muskuloskeletal

(musculoskeletal injuries). Keluhan ini ditandai dengan rasa tidak nyaman, kaku sampai

rasa nyeri hebat pada daerah otot maupun sendi. Keluhan ini bisa diukur dengan

penilaian subjektif menggunakan peta tubuh yang dikenal dengan Nordic Body Map.

Secara objektif, salah satu parameter yang dapat dipakai untuk mengukur keluhan

pada sistem muskuloskeletal adalah dengan electromyography (EMG) adalah merupakan ilmu yang mempelajari fungsi otot melalui sinyal listrik yang dihasilkan

oleh otot (Konrad, 2005). Sinyal listrik otot dibentuk karena adanya variasi fisiologi

pada membran serabut otot. Arus listrik yang dihasilkan dapat direkam berupa sinyal

yang disebut elektromiogram. Arus listrik sudah mulai dihasilkan oleh serat otot

sebelum otot berkontraksi.

Pencatatan dengan EMG dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pencatatan

dengan memakai jarum (fine wire) yang ditusukkan ke perut otot yang diteliti dan dengan elektroda permukaan yang ditempelkan pada kulit di permukaan otot yang

diteliti (Konrad, 2005; Day, 2006; Cram, 2011). Elektromiografi yang menggunakan

elektroda permukaan sebagai penangkap sinyal listrik otot disebut surface

electromyography (SEMG).

Pada SEMG pencatatan aktivitas listrik otot dilakukan dengan menempelkan

elektroda permukaan pada kulit di permukaan otot. Data pada SEMG yang ditampilkan

dalam bentuk raw signal, digital, grafik garis, maupun grafik batang mengalami beberapa proses seperti Gambar 2.1. Sumber sinyal elektomiografi adalah motor unit

action potential (MUAP). Aksi potensial motor unit diaktivasi selama kontraksi otot.

Surface electromyography (SEMG) mengukur aktivitas listrik otot atau voltage

listrik otot yang disebut work average voltage. Sinyal listrik otot yang belum difiltrasi disebut raw EMG signal seperti Gambar 2.2.

18

Gambar 2.1 Proses yang dialami signal SEMG Sumber: Cram, 2011

Gambar 2.2 Rekaman Raw EMG untuk 3 kontraksi m. biceps brachii

Sumber: Konrad, 2005

Perekaman sinyal listrik otot dengan EMG dapat juga dipengaruhi oleh beberapa

faktor. Salah satunya adalah karakteristik jaringan yang berbeda-beda antar individu.

Karakteristik jaringan meliputi jenis jaringan, ketebalan jaringan, perubahan fisiologis,

dan suhu sangat bervariasi antar individu. Jaringan adiposa dapat mengurangi

amplitudo sinyal EMG yang menyebabkan perbedaan sifat jaringan dalam menghantar

listrik. Perekaman juga dipengaruhi oleh adanya cross talk yang bersumber pada otot yang letaknya berdekatan dengan otot yang diukur aktivitas listriknya. Cross talk

19

dipengaruhi elektrokardiogram (EKG), terutama saat pengukuran otot-otot bahu.

Pemilihan elektroda, amplifier, perubahan jarak elektroda dengan sumber sinyal serta

noise juga dapat mempengaruhi kualitas rekaman EMG.

Seperti pengukuran kurva lainnya, EMG juga dianalisis berdasarkan parameter

amplitude standar, seperti rerata, nilai puncak, nilai minimum, area, dan slope. Penghitungan nilai puncak dilakukan dengan menghitung nilai rerata untuk sepuluh

nilai puncak. Nilai rerata amplitudo mempunyai arti penting dalam analisis SEMG.

Rerata nilai SEMG menggambarkan inervasi otot pada suatu gerakan. Hal ini sering

digunakan untuk membandingkan aktivitas listrik satu otot dengan otot lainnya pada

suatu gerakan.

SEMG mengukur aktivitas listrik pada otot dalam bentuk amplitude dan frekuensi.

Perubahan aktivitas listrik pada otot tergantung pada rekruitmen dan firing rate motor unit. Kuantifikasi sinyal listrik otot sering dilakukan untuk membandingkannya antar otot, individu, dan aktivitas. Sinyal listrik otot sering berubah-ubah karena perubahan

penempatan elektroda, perubahan geometri antara perut otot dan lokasi elektroda,

perubahan jaringan sekitar otot, cross talk, noise, dan perubahan suhu (Konrad, 2005; Day, 2006).

Amplitudo juga berbeda-beda untuk orang yang berbeda. Oleh karena itu, penting

untuk menormalisasi skala microvolt ke nilai referensi seperti Maximal Voluntary

Isometric Contraction (MVIC) dalam satuan persen. Maximal Voluntary Isometric

Contraction dilakukan dengan melawan tahanan statik. MVIC seharusnya dilakukan

pada kondisi tidak ada cedera jaringan dan pengukuran MVIC dilakukan pada setiap

otot yang akan dianalisis.

NIOSH (2007) melaporkan bahwa keluhan sistem muskuloskeletal merupakan

20 (1) Tempat kerja yang tidak memadai.

(2) Aktivitas yang bersifat repetitif.

(3) Desain alat dan peralatan yang tidak sesuai dengan si pemakai.

(4) Organisasi kerja yang tidak efisien.

(5) Jadwal istirahat yang tidak teratur.

(6) Sikap kerja yang tidak alamiah.

Bazroy dkk. (2003) melaporkan bahwa 40,6% pekerja di pabrik botol kaca India

yang bekerja secara repetitive mengalami cedera atau keluhan otot pada tangan dan pergelangan tangan. Bhattacherjee dkk. (2003) melaporkan bahwa keluhan

muskuloskeletal menempati urutan pertama di antara penyakit akibat kerja lainnya yang

dipengaruhi oleh karakteristik individu (umur lebih dari 30 tahun), di mana pekerja

yang mengalami gangguan tersebut sebanyak 44,9%. Nala (2002) menyatakan bahwa

sikap kerja yang tidak alamiah menimbulkan konstruksi otot secara statis (isometrik)

pada sejumlah besar sistem otot tubuh manusia dan konstruksi otot statis dapat

mengakibatkan: (a) tenaga atau energi yang diperlukan lebih tinggi dalam usaha yang

sama; (b) denyut nadi meningkat lebih tinggi; (c) cepat merasa lelah; dan (d) setelah

bekerja, otot memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama (Nala, 2002). Evelyn

(1996) melaporkan bahwa 63% pekerja mengeluh sakit pada leher, bahu, punggung dan

pinggang yang diakibatkan oleh kerja statis.

Gerakan tubuh diatur sedemikian rupa sehingga mengambil keuntungan

maksimum dari prinsip-prinsip fisiologi. Pada otot yang menggerakkan lebih dari satu

persendian, menyebabkan gerakan pada satu sendi dapat mengkompensasi gerakan

pada sendi lainnya sedemikian rupa sehingga terjadi relatif sedikit pemendekan otot

saat konstraksi. Jenis konstraksi yang hampir merupakan konstraksi isometri ini

21

Keluhan muskuloskeletal dapat terjadi pada hampir semua jenis pekerjaan baik

dalam kategori ringan, sedang, berat maupun amat berat. Beberapa istilah yang sering

digunakan untuk mengelompokkan keluhan ini adalah: (1) cumulative trauma disorders

(CTDs); (2) repetitive strain injuries (RSIs); (3) repeated motion disorders; dan (4)

averuse syndromes (Susila, 2002).

Repetitive strain injuries (RSIs) merupakan keluhan yang sering dijumpai pada

pekerja penggilingan padi. Keluhan ini terjadi akibat penggunaan bagian tubuh secara

statis. Faktor risiko terjadinya RSIs adalah postur awkward maupun statis, repetitive

(gerakan berulang), penggunaan kekuatan otot berlebih, serta adanya getaran (WSIB,

2010).

Postur awkward merupakan keadaan tubuh yang ditandai dengan adanya perubahan sebagian atau seluruh bagian tubuh dari postur netral. Contoh awkward

posture adalah membungkuk, menggapai sesuatu di atas bahu, menggapai benda di

belakang, dan posisi memutar, dan membengkokkan pergelangan tangan. Pada pekerja

penggilingan padi, postur seperti ini sering dijumpai akibat ketidaksesuaian

antropometri pengguna dengan stasiun kerja.

Postur membungkuk akan menyebabkan ketegangan pada otot erector spinae, tekanan pada syaraf, dan pembuluh darah. Peningkatan ketegangan otot akan

menyebabkan meningkatnya aktivitas listrik otot yang bersangkutan. Dalam keadaan ini

aktivitas listrik otot erector spinae yang diukur dengan SEMG akan meningkat.

Posisi statis merupakan posisi bagian tubuh yang netral maupun awkward yang dipertahankan dalam waktu yang cukup lama. Pada postur awkward maupun statis akan terjadi peregangan dan tekanan pada tendon, saraf, dan pembuluh darah. Pada saat

ini bagian tubuh tertentu akan digunakan secara terus menerus dan mengganggu

22

metabolisme berupa asam laktat akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan

kelelahan. Contoh posisi statis adalah berdiri lama pada saat melakukan pekerjaaan

penggilingan padi disertai dengan mengangkat dan mengangkut beras secara terus

menerus.

Gerakan repetitive atau berulang akan sangat berisiko menyebabkan cedera bila terjadi pada sendi dan kelompok otot yang sama, terjadi dalam waktu lama, sering, dan

gerakan yang dilakukan secara cepat. Pada pekerjaan semacam ini akan memberikan

tekanan dan tegangan pada kelompok otot tertentu, saraf, tendon, dan pembuluh darah

sehingga menghambat waktu pemulihan. Akibatnya adalah tertumpuknya sisa–sisa metabolisme di otot–otot sehingga timbul rasa nyeri dan kelelahan.

Postur netral merupakan keadaan badan yang ditandai dengan posisi sendi–sendi dalam keadaan istirahat sehingga akan memberikan tegangan dan tekanan seminimal

mungkin terhadap otot, tulang, tendon, dan saraf. Pada posisi netral, otot–otot akan berada dalam kondisi istirahat tanpa ada peregangan sehingga dengan panjang otot

sedemikian akan dihasilkan kontraksi maksimal yang efisien (Warren dan Morse,

2012). Pada postur/sikap netral, kita akan menggunakan energi secara efisien sehingga

jumlah energi yang digunakan sangat sedikit.

Pekerjaan menggiling padi dalam ruang kerja yang bising dan berdebu dengan

sikap tubuh pekerja membungkuk, mengangkat, dan menengadah dilakukan dengan

cara berulang. Gerakan gerakan seperti ini berakibat terjadinya keluhan otot-otot tubuh

seperti leher, bahu, tangan, pinggang, punggung, dan kaki.

Metode subjektif yang digunakan menilai keluhan otot skeletal pada pekerja

penggilingan padi adalah dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Subjek ditanya bagian-bagian anggota tubuh yang mengalami kenyerian, sakit atau

23

untuk menentukan klasifikasi subjektivitas tingkat risiko otot skeletal Sedangkan

metode objektif menggunakan surface electromyography (SEMG) pada otot erector

spinae pekerja (keluhan otot yang paling banyak dialami pekerja pada penelitian

pendahuluan).

2.1.3 Kelelahan

Kelelahan secara umum merupakan suatu keadaan yang tercermin dari gejala

perubahan psikologis berupa kelambanan aktivitas motoris dan respirasi, adanya

perasaan sakit, berat pada bola mata, pelemahan motivasi aktivitas dan fisik lainnya

yang akan mempengaruhi aktivitas fisik maupun mental (Grandjean, 2000;

Sedarmayanti, 2007). Kelelahan sesungguhnya merupakan suatu mekanisme

perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut atau dapat dikatakan

sebagai alarm tubuh yang mengisyaratkan seseorang untuk segera beristirahat.

Mekanisme ini diatur oleh sistem syaraf pusat yang dapat mempercepat impuls yang

terjadi di sistem aktivitas oleh sistem syaraf simpatis dan memperlambat impuls yang

terjadi di sistem inhibisi oleh saraf parasimpatis. Menurunnya kemampuan dan

ketahanan tubuh akan mengakibatkan menurunnya efisiensi dan kapasitas kerja.

Seandainya kondisi seperti ini dibiarkan berlanjut tentunya akan mempengaruhi

produktivitas seseorang. Grandjean, (2000) dan Sedarmayanti, (2007) menyatakan

bahwa kelelahan yang berlanjut dapat menyebabkan kelelahan kronis dengan gejala

seperti: (1) terjadinya penurunan stabilitas fisik; (2) kebugaran berkurang;(3) gerakan

lamban dan cenderung diam; (4) malas bekerja atau beraktivitas; (5) adanya rasa sakit

yang semakin meningkat.

Kelelahan yang berlanjut dapat menimbulkan efek psikologis yang ditandai dengan

24

sosial); (2) kecenderungan kearah depresi (kebingungan yang tidak bermotif), dan

kelemahan umum dalam perjuangan dan malas akan pekerjaan.

Di samping itu kelelahan juga menyebabkan gangguan psikosomatik yang ditandai

dengan (Grandjean, 2000; Pheasant dan Haslegrave, 2006): sakit kepala, pusing–

pusing, mengantuk, jantung berdebar, keluarnya keringat dingin, nafsu makan

berkurang atau hilang, dan adanya gangguan pencernaan.

Menurut Nurmianto (2008), kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan

menambah tingkat kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan

peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun

(static muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan

mengakibatkan Repetition Strain Injuries (RSI), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain–lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).

Pada umumnya kelelahan yang diakibatkan oleh aktivitas kerja statis dipandang

mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan aktivitas kerja dinamis.

Pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunyai konsumsi energi yang

lebih tinggi, denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat yang lebih lama.

Dalam suasana kerja dengan otot statis kontraksi otot bersifat isometrik yaitu

sementara, tegangan otot bertambah, ukuran panjangnya praktis tidak berubah. Pada

kerja otot statis tidak terjadi perpindahan beban akibat bekerjanya suatu gaya sehingga

aliran darah agak menurun sehingga asam laktat terakumulasi dan mengakibatkan

kelelahan otot lokal. Suma’mur (2011) menyatakan bahwa kerja otot statis merupakan kerja berat (strenuous). Pada kerja otot statis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksimum otot hanya dapat bekerja selama satu menit, sedangkan pada

25

pengerahan otot statis sebesar 15–20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pekerjaan berlangsung sepanjang hari.

Pada kerja dinamis, kontraksi otot bersifat isotonik yaitu ukuran panjang otot

berubah, sementara tegangan tetap. Kontraksi otot yang menghasilkan perpindahan

gerak badan dinamis biasanya bersifat ritmik, sehingga waktu kerja dapat berlangsung

lama. Kontraksi otot yang bergantian maka aliran darah tidak cepat terganggu, sehingga

rasa sakit pada otot yang bersangkutan tidak cepat timbul.

Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa kelelahan biasanya terjadi

pada akhir jam kerja yang disebabkan oleh karena beberapa faktor, seperti monotoni,

kerja otot statis, alat dan sarana kerja yang tidak sesuai dengan antropometri

pemakainya, stasiun kerja yang tidak ergonomis, sikap paksa dan pengaturan waktu

kerja–istirahat yang tidak tepat.

Untuk melihat tingkat kelelahan pekerja dilakukan pengukuran secara subjektif

menggunakan kuesioner 30 items of rating scale yang dikeluarkan oleh Japan

Association of Industrial and Health. Kuesioner terdiri dari tiga kategori meliputi

aktivitas (item 1-10), motivasi (item 11-20), dan kondisi fisik (item 21-30). Jika

aktivitas melemah, ini merupakan kelelahan yang dirasakan sebagai ketidakmampuan

melakukan aktivitas. Apabila motivasi menurun, hal ini berhubungan dengan

menurunnya semangat pekerja dalam melakukan pekerjaan. Jika terjadi kelelahan fisik,

hal ini merupakan kelelahan yang dirasakan pada bagian-bagian tubuh pekerja.

Kelelahan yang dialami pekerja penggilingan padi dapat dilihat dari monotonnya

pekerjaan yang dilakukan seperti mengangkat, mengangkut, dan membungkuk yang

Dokumen terkait