• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA

B. Hasil Utama Penelitian

D.4. Kelurahan Sunggal

 Lama Berdiri : ± 2 tahun  Jumlah Guru : 4 orang  Jumlah Anak : ± 73 anak

84

 Iuran Siswa : Rp.10.000,- s/d Rp.15.000,-/bulan

Kegiatan PAUD yang diselenggarakan di kelurahan Sunggal dilaksanakan di ruang serba guna kantor lurah Sunggal. Kegiatan dimulai dengan nyanyi bersama dan kemudian baca doa bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan belajar angka, huruf dan ejaan kecil untuk kelas kecil dan belajar membaca serta mengeja untuk kelas besar. PAUD di kelurahan Sunggal membagi kelas menjadi 2 yaitu untuk kelas yang lebih kecil dan kelas yang lebih besar. Pelajaran dilanjutkan dengan mengerjakan tugas berupa menulis dan kadang menggambar.vwaktu istirahat dimanfaatkan anak-anak untuk bermain karena di sini tersedia mainan- mainan kayu dan berbagai macam mainan lainnya. Setelah selesai pelajaran ditutup dengan nyanyi bersama dan pulang.

Materi yang diberikan kepada anak-anak juga hanya mengenal angka, huruf dan warna dan juga belajar membaca melalui mengeja. PAUD di kelurahan Sunggal juga tidak mendasarkan pada kurikulum atau bahan ajar tertentu, melainkan hanya inisiatif dari guru bersangkutan. Fasilitas yang dimiliki juga sudah cukup memadai karena sudah memiliki meja untuk anak-anak dan ruang belajar yang cukup luas. Peralatan mainan yang dimiliki juga cukup banyak terutama mainan potongan kayu, angka, huruf dan lain sebagainya. Dari keempat lokasi penelitian, kelurahan Sunggal merupakan satu-satunya PAUD yang telah mendapatkan bantuan berupa mainan-mainan tersebut dan merupakan PAUD yang paling lama berdiri dibandingkan ketiga PAUD lainnya.

Berdasarkan observasi yang dilakukan, anak-anak di kelurahan Sunggal juga memiliki keterampilan sosial yang cukup baik. Anak-anak ini duduk dengan tenang dan teratur karena mereka sudah mempunyai meja masing-masing. Selama pelajaran, juga mereka dapat duduk dengan tenang.

Model belajarnya juga sudah hampir sama seperti sekolah formal, dan anak-anak tersebut tidak ditunggui oleh orangtua mereka disampingnya, hanya sebagian yang masih kecil yang ditunggui. Sebagian besar orangtua menunggu di luar ruangan dan banyak yang hanya mengantar dan menjemput anaknya saja ketika datang dan pulang.

Berdasarkan observasi, penerimaan sosial dan penyesuaian sosial anak- anak tersebut cukup baik, karena terlihat mereka dapat berbicara dengan baik dengan sesama anak yang lain. Adanya waktu yang disediakan bagi mereka untuk bermain juga memberikan kesempatan untuk bermain bersama secara berkelompok walaupun masih lebih sedikit bila dibandingkan dengan kelurahan Sekip dan Titi Kuning.

Secara keseluruhan, sosialisasi anak usia dini di kelurahan Sunggal merupakan yang paling baik sesuai dengan hasil observasi dan nilai mean yang dimiliki.

BAB V

KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

Bab ini terdiri dari kesimpulan permasalahan-permasalahan dalam penelitian, diskusi dan saran-saran sehubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Pada bagian pertama akan dijabarkan kesimpulan dari penelitian ini, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai hasil penelitian yang diperoleh. Pada bagian akhir akan dikemukakan saran-saran penelitian untuk masa yang akan datang yang berhubungan dengan penelitian ini.

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa data yang diperoleh dari data penelitian, dapat diketahui bahwa gambaran umum sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan condong kepada sosialisasi sedang dan tinggi dan tidak ditemukan yang bersosialisasi rendah.

Berdasarkan keseluruhan rata-rata sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan dapat disimpulkan bahwa sosialisasi anak usia dini di kota Medan yang mengikuti PAUD nonformal berimbang antara sosialisasi sedang dan tinggi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dari 130 orang subjek yang merupakan anak usia dini, sebanyak 66 orang memiliki sosialisasi sedang, dan sebanyak 64 orang memiliki sosialisasi yang tergolong tinggi.

rata-rata hipotetik pada masing-masing aspek. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan aspek sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan adalah sebagai berikut:

1. Ditinjau dari aspek penerimaan sosial diketahui bahwa anak usia dini yang berada dalam kategorisasi memiliki sosialisasi kategori sedang sebanyak 68 orang, dan kategori sosialisasi tinggi sebanyak 62 orang. Aspek penerimaan sosial tidak terdapat anak usia dini yang memiliki kategorisasi rendah.

2. Ditinjau dari aspek penyesuaian sosial diketahui bahwa anak usia dini berada dalam kategorisasi memiliki sosialisasi sedang sebanyak 37 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 93 orang. Aspek penyesuaian sosial tidak terdapat anak usia dini yang memiliki kategorisasi rendah.

3. Ditinjau dari aspek keterampilan sosial diketahui bahwa anak usia dini berada dalam kategorisasi memiliki sosialisasi rendah sebanyak 1 orange, kagorisasi sedang sebanyak 74 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 55 orang.

Penelitian ini juga menghasilkan beberapa hasil penelitian tambahan. Berdasarkan hasil tambahan penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Gambaran sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan berdasarkan jenis kelamin, diperoleh bahwa subjek yang berjenis kelamin laki-laki memiliki rata-rata empirik yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek yang berjenis kelamin perempuan.

88

b. Berdasarkan usia, diperoleh bahwa rata-rata empirik yang tertinggi berada pada kelompok usia 6 tahun diikuti kelompok usia 4 tahun, dan rata-rata empirik terendah adalah kelompok berusia 3 tahun.

c. Berdasarkan urutan kelahiran, kelompok subjek yang merupakan anak sulung memiliki rata-rata empirik yang lebih tinggi dibandingkan kelompok subjek lainnya. Rata-rata empirik tertinggi selanjutnya adalah kelompok subjek yang merupakan anak tunggal setelah itu anak bungsu dan yang terakhir anak tengah.

d. Berdasarkan jumlah saudara, kelompok subjek yang memiliki jumlah saudara yang banyak mempunyai rata-rata empirik yang tertinggi, diikuti oleh subjek yang tidak memiliki saudara, kemudian yang memiliki saudara dalam kategori sedang, dan rata-rata empirik terendah dimiliki oleh kelompok subjek yang memiliki saudara yang sedikit.

e. Berdasarkan lokasi PAUD, kelompok subjek yang mengikuti programPAUD di kelurahan Sunggal memiliki rata-rata empirik tertinggi, ikuti kelurahan Sei Kambing B, kemudian kelurahan Titi Kuning dan terakhir kelompok subjek di kelurahan Sekip dengan rata-rata empirik terendah.

f. Berdasarkan lamanya mengikuti program PAUD, kelompok subjek yang sudah mengikuti PAUD dalam kategori lama (>10 bulan) memiliki nilai rata- rata empirik yang paling tinggi. Disusul kemudian oleh kelompok subjek yang sudah mengikuti PAUD dalam kategori waktu sedang dan yang terakhir yang berada dalam kategori waktu sebentar.

g. Berdasarkan status pekerjaan ibu, apakah ibunya bekerja atau tidak, kelompok subjek yang memiliki ibu yang tidak bekerja memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan subjek yang memiliki ibu yang bekerja.

B. Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran umum sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan. Dengan demikian dapat diketahui bagaimana gambaran umum sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan ditinjau dari penerimaan sosial, penyesuaian sosial dan keterampilan sosial.

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa secara umum gambaran sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan berimbang antara tinggi dan sedang. Hal ini dapat dilihat dari 64 orang (49,2 %) subjek penelitian yang masuk dalam kategori tinggi, 66 orang (50,8 %) subjek yang masuk dalam kategori sedang, dan tidak ada yang masuk dalam kategori rendah.

Subjek dengan kemampuan sosialisasi yang sedang berarti subjek memiliki sosialisasi yang tergolong tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, dalam artian cukup memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan berkelompok dengan anak-anak lain. Orang yang memiliki kemampuan sosialisasi yang sedang berarti memiliki kemampuan sosialisasi yang biasa saja, artinya memiliki kemampuan sosialisasi yang sangat di pengaruhi oleh lingkungan. Kemampuan

90

mendukung maka mereka dapat bersosialisasi dengan baik dan menyesuaikan diri dengan baik. Anak yang memiliki kemampuan sosialisasi yang tinggi berarti memiliki kemampuan sosialisasi yang sangat baik, mampu untuk memulai interaksi dengan orang lain dan mampu mempertahankan hubungan tersebut baik dalam lingkungan anak-anak baru dimana mereka dapat memecah suasana.

Peneliti menemukan bahwa kemampuan sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan memiliki kemampuan sosialisasi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari 130 subjek penelitian, tidak ada yang memiliki kemampuan sosialisasi yang rendah, hanya kategori tinggi dan sedang saja yang ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran PAUD nonformal di kota Medan sangat bermanfaat bagi anak-anak, khususnya mereka yang merupakan keluarga prasejahtera yang tidak sangkup mengecap pendidikan PAUD formal.

Hal ini didukung oleh hasil wawancara peneliti kepada guru-guru yang mengajar bahwa pada awalnya biasanya anak-anak yang datang pendiam dan belum tahu apa-apa. Kehadiran mereka pada kegiatan PAUD membuat mereka semakin percaya diri dan memiliki banyak teman. Bahkan ada yang dulunya tidak pernah menyapa orang lain, setelah enam bulan menjadi sangat aktif dan cerewet.

Penelitian ini juga memperoleh gambaran bahwa subjek yang berjenis kelamin laki-laki memiliki rata-rata empirik sosialisasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan subjek yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hurlock (1998) yang mengatakan bahwa anak laki-laki akan lebih aktif dalam melakukan pendekatan dengan anak-anak lainnya dibandingkan

kemampuan sosialisasi semakin tinggi karena kemapuan sosialisasi diperoleh melalui interaksi dengan orang lain.

Strough, Berg, dan Megan (2001) juga menemukan bahwa masalah sosial lebih banyak ditemui pada laki-laki daripada perempuan. Sesuai dengan yang diungkapkan Hrolock (1998), keaktifan anak laki-laki menyebabkan mereka menjadi lebih ramah tetapi juga lebih bermusuhan dengan anak lain, sehingga apabila diarahkan dengan benar, anak akan menjadi anak yang ramah.

Berdasarkan segi usia, diperoleh gambaran bahwa subjek yang berusia 6 tahun memiliki rata-rata empirik sosialisasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan subjek penelitian dengan tingkat usia lainnya. Hal ini juga sejalan dengan apa yang diungkapkan Suyanto (2005), dan Yusuf (2005) yang mengatakan bahwa semakin anak bertambah usia, mereka akan melepaskan sifat egosentris mereka dan mulai berinterksi dengan anak-anak lain terutama mulai pada usia 4 tahun.

Ditinjau dari segi urutan kelahiran, diperoleh gambaran bahwa subjek yang merupakan anak sulung memiliki rata-rata tertinggi diikuti anak tunggal kemudian bungsu dan tengah. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan Hurlock (1998) bahwa anak tunggal biasanya lebih mendapat perhatian sehingga mereka juga mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain. Perhatian yang tidak didapatkan akan membuat mereka jengkel.

Perbedaan ini mungkin saja dapat disebabkan oleh faktor bahwa anak tersebut telah mengikuti program PAUD sehingga mereka mendapatkan teman

92

sosialisasi dan dapat mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka. Khususnya untuk anak-anak yang telah lama mengikuti program PAUD tersebut.

Berdasarkan jumlah saudara yang dimiliki subjek, diperoleh gambaran bahwa subjek yang memiliki jumlah saudara yang banyak mempunyai rata-rata empirik yang lebih tinggi dibandingkan dengan kategori subjek lainnya, dan subjek dengan jumlah saudara sedikit mempunyai rata-rata empirik yang terendah. Hal ini mendukung pernyataan Hurlock (1998) bahwa ukuran keluarga yang lebih besar memungkinkan anak-anak untuk mendapatkan pengalaman interaksi dan sosialisasi awal dari keluarga.

Berdasarkan lokasi PAUD, kelompok subjek yang mengikuti programPAUD di kelurahan Sunggal memiliki rata-rata empirik tertinggi, ikuti kelurahan Sei Kambing B, kemudian kelurahan Titi Kuning dan terakhir kelompok subjek di kelurahan Sekip dengan rata-rata empirik terendah. Lokasi tempat pelaksanaan PAUD dapat menyebabkan perdedaan, hal ini dimungkinkan karena kelurahan Sunggal merupakan kelompok PAUD yang lebih dulu berdiri bila dibandingkan dengan kelurahan lainnya.

Berdasarkan lamanya mengikuti program PAUD, kelompok subjek yang sudah mengikuti PAUD dalam kategori lama (>10 bulan) memiliki nilai mean empirik yang paling tinggi. Disusul kemudian oleh kelompok subjek yang sudah mengikuti PAUD dalam kategori waktu sedang dan yang terakhir yang berada dalam kategori waktu sebentar. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Hurlock (1998) bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan prasekolah,

dengan anak-anak yang umurnya sebaya. Anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan penyesuaian sosial yang lebih baik dibandingkan anak- anak yang tidak mengikuti pendidikan prasekolah. Alasannya adalah mereka dipersiapkan secara lebih baik untuk melakukan partisipasi yang aktif dalam kelompok dibandingkan dengan anak-anak yang aktivitas sosialnya terbatas dengan anggota keluarga dan anak-anak dari lingkungan tetangga dekat. Semakin sering anak mendapatkan interaksi dan ransangan, maka anak dapat lebih bersosialisasi dengan baik.

Berdasarkan pekerjaan ayah, kelompok subjek yang memiliki ayah seorang pegawai swasta memiliki rata-rata empirik tertinggi dibandingkan kelompok subjek lainnya. Kelompok subjek dengan rata-rata empirik terendah dimiliki oleh subjek yang memiliki ayah yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Rata-rata kelompok subjek yang ayahnya bekerja wiraswasta berada di tengah.

Berdasarkan status pekerjaan ibu, apakah ibunya bekerja atau tidak, kelompok subjek yang memiliki ibu yang tidak bekerja memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan subjek yang memiliki ibu yang bekerja. Ibu yang tidak bekerja memiliki waktu yang lebih banyak untuk bersama dengan keluarga terutama anak-anak sehingga dapat memberikan pengasuhan yang lebih baik.

Kuantitas interaksi dan komunikasi orangtua-anak pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang ibunya bekerja akan berbeda daripada anak yang dibesarkan dalam keluarga dimana ibu tidak bekerja (Santrock, 2003). Para ahli menyimpulkan bahwa banyaknya perhatian yang diterima anak kurang penting

94

yang ia terima (Etaugh & Folger, 1998). Jika kuantitas waktu interaksi ibu yang bekerja dengan anaknya terbatas namun ia mampu untuk menjaga kualitas dari interaksi tersebut, maka tidak akan terjadi hambatan dalam perkembangan anak khususnya dalam perkembangan sosialnya.

Melihat hasil pengolahan data berdasarkan aspek-aspek sosialisasi yang terdiri dari 3 aspek, yaitu aspek penerimaan sosial, penyesuaian sosial dan aspek keterampilan sosial. Berikut ini penjelasan untuk masing-masing aspek:

a. Aspek penerimaan sosial, rata-rata sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan didapat bahwa 52,3 % (68 orang) anak usia dini memiliki sosialisasi dalam kategori sedang dan 47,7 % (62 orang) dalam kategori tinggi.

Subjek dengan sosialisasi yang tinggi dalam aspek penerimaan sosial mampu untuk diterima dengan baik dalam lingkungan sosialnya dan merupakan anak yang cukup disukai oleh sebagian besar anak yang lain. Hurlock (1998) mengkategorikan anak-anak ini sebagai anak yang ”Accepted” dan “Star”. Anak yang memiliki sosialisasi kategori sedang berarti mereka mampu untuk diterima oleh anak-anak lainnya walaupun tidak sepopuler anak-anak yang “Star”. Mereka sangat tergantung kepada lingkungan untuk dapat diterima, apabila dalam lingkungan yang hangat, maka mereka dapat diterima dengan mudah, dan mereka dapat juga gagal apabila berada dalam lingkungan yang lebih pendiam dan pasif.

diterima akan bersifat lebih kooperatif dan ramah, mereka bersifat baik terhadap teman mereka dan mau berbagi milik mereka dengan anak lain. Anak yang diterima juga lebih berorientasi pada kelompok daripada egosentris. Peningkatan perilaku sosial cenderung paling menyolok pada masa kanak- kanak awal. Hal ini disebabkan oleh pengalaman sosial yang semakin bertambah dan anak-anak mempelajari pandangan pihak lain terhadap perilaku mereka dan bagaimana pandangan tersebut mempengaruhi tingkat penerimaan dari kelompok teman sebaya (Hurlock, 1998).

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan mempunyai penerimaan sosial yang baik. Melalui data tambahan diperoleh bahwa, subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki, berusia 6 tahun, merupakan anak sulung, mempunyai jumlah saudara yang banyak, mengikuti PAUD di kelurahan Sunggal, yang sudah lama mengikuti program PAUD, ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta dan memiliki ibu yang tidak bekerja memiliki mean empirik tertinggi pada aspek penerimaan sosial.

b. Aspek penyesuaian sosial, rata-rata sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan didapat bahwa 71,5 % (93 orang) anak usia dini memiliki sosialisasi dalam kategori tinggi dan 28,5 % (37 orang) dalam kategori sedang. Hal ini berarti bahwa penyesuaian anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan berada dalam kategori tinggi. Subjek dengan penyesuaian sosial yang tinggi berarti, mereka mampu untuk

96

mereka dapat menyesuaikan diri dimanapun mereka berada. Mereka dapat memenuhi harapan sosial sesuai dengan usia mereka dengan mengembangkan sikap sosial yang menyenangkan.

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan mempunyai penyesuaian sosial yang sangat baik. Melalui data tambahan diperoleh bahwa, subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki, berusia 6 tahun, merupakan anak tunggal, mempunyai jumlah saudara yang banyak, mengikuti PAUD di kelurahan Sei Kambing B, yang sudah lama mengikuti program PAUD, ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta dan memiliki ibu yang tidak bekerja memiliki rata- rata empirik tertinggi pada aspek penyesuaian sosial.

c. Aspek keterampilan sosial, rata-rata sosialisasi anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan didapat bahwa 56,9 % (74 orang) anak usia dini memiliki sosialisasi dalam kategori sedang, 42,4 % (55 orang) dalam kategori tinggi, dan 0,7 % (1 orang) dalam kategori rendah. Hal ini berarti keterampilan sosial anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan memiliki keterampilan sosial dalam kategori sedang.

Anak yang memiliki keterampilan social yang sedang berarti memiliki keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sosialnya. Mereka bukan berarti memiliki keterampilan sosial yang menengah melainkan tidak dapat secara konsisten melakukan tindakan-tindakan sehari-hari, mereka sangat tergantung pada lingkungan.

Hurlock (1999) yang menyatakan bahwa dari studi-studi mengenai penyesuaian sosial telah menunjukkan bahwa hubungan antar pribadi di dalam keluarga sangat berpengaruh, yaitu hubungan diantara orangtua, antara anak dengan kakak atau adiknya, dan antara anak-anak dengan orangtua, dimana pola asuh orangtua berpengaruh kepada keterampilan sosial anak. Hal ini didukung oleh Hair, et al, (2002), yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial anak adalah keluarga. Hubungan yang baik antara orangtua dan anak akan berpengaruh pada perkembangan hubungan sosial anak.

Kuantitas interaksi dan komunikasi orangtua-anak pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang ibunya bekerja akan berbeda daripada anak yang dibesarkan dalam keluarga dimana ibu tidak bekerja (Santrock, 2003). Para ahli menyimpulkan bahwa banyaknya perhatian yang diterima anak kurang penting artinya bagi perkembangan anak jika dibandingkan dengan kualitas perhatian yang ia terima (Etaugh & Folger, 1998). Jika kuantitas waktu interaksi ibu yang bekerja dengan anaknya terbatas namun ia mampu untuk menjaga kualitas dari interaksi tersebut, maka tidak akan terjadi hambatan dalam perkembangan anak khususnya dalam perkembangan keterampilan sosialnya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara orangtua-anak akan menjaga kualitas interaksi orangtua sehingga ibu yang bekerja tetap dapat memberikan perhatian dalam proses perkembangan keterampilan sosial anak (Mu’tadin, 2002).

98

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa anak usia dini yang mengikuti PAUD nonformal di kota Medan mempunyai keterampilan sosial yang baik. Melalui data tambahan diperoleh bahwa, subjek penelitian yang berjenis kelamin perempuan, berusia 6 tahun, merupakan anak sulung, mempunyai jumlah saudara yang sedang, mengikuti PAUD di kelurahan Sunggal, yang sudah lama mengikuti program PAUD, ayahnya bekerja sebagai wiraswasta dan memiliki ibu yang tidak bekerja memiliki rata-rata empirik tertinggi pada aspek keterampilan sosial.

C. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang dikemukakan, maka peneliti mengemukakan beberapa saran mengingat penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Saran–saran ini diharapkan dapat berguna bagi perkembangan kelanjutan studi ilmiah mengenai sosialisasi anak usia dini di kota Medan khususnya pada anak usia dini yang mengikuti program PAUD nonformal.

Dokumen terkait