• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan Abdullah Gul sebagai Muslim yang Nasionalis

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMENANGAN ABDULLAH GUL DALAM PEMILU 2007

C. Figur Abdullah Gul yang Kharismatik

1. Kemampuan Abdullah Gul sebagai Muslim yang Nasionalis

Abdullah Gul lahir di Kayseri, 29 Oktober 1950. Ayah Abdullah Gul bernama Ahmet Hamdi, seorang imam berdarah Turki dan Arab. Ibunya bernama Adviye yang berasal dari keluarga Islam konservatif. Apabila ditinjau dari garis keturunan Abdullah Gul, maka dapat diketahui bahwa Gul seorang yang berasal dari Arab, nenek dan kakek Abdullah Gul berhijrah dari Siirt ke Develi sekitar tahun 1915. Gul dipanggil juga dengan nama Cumhur, oleh keluarganya. Berbagai media juga mengekspos bahwa isterinya Abdullah Gul memakai jilbab yang merupakan pakaian Islam dan jelas dilarang di Turki.61

60

Ber-Islam ala Turki, (diakses pada hari Sabtu, 7 Juni 2008 pukul 17.00 WIB); melalui http://saidiman.wordpress.com/2007/.

61 Abdullah Gul, (diakses pada hari kamis, 11 September 2008 pukul 16:00 WIB); melalui http://209.85.175.104/search?q=cache:07Rc3xJ4UK4J:indonesian.irib.ir/index2.php%3Foption%3 Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id%3D98+kudeta+yang+dilakukan+militer+turki&hl=en&ct =clnk&cd=6

73

Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turki sebelum pemilihan yang terjadi di Turki tahun 2007, telah mencalonkan Menteri Luar Negeri Turki, Abdullah Gul untuk menjabat sebagai Presiden Turki. Tindakan Parti Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Recep Tayyip Erdogan tersebut sempat menimbulkan kembali tentangan dari kelompok sekular dan tentera Turki yang begitu tunduk dengan ide nasionalis Mustafa Kamal Ataturk. Kelompok sekular tidak berkeinginan Abdullah Gul menjadi Presiden Turki karena Gul dilihat sebagai seorang yang Islamik, pendirian yang bertentangan dengan sekular dan kondisi tersebut dianggap akan memundurkan Turki.

Abdullah Gul menjalani kuliah di Universiti Istanbul, Turki dan mengambil jurusan ekonomi. Abdullah Gul kemudian belajar di London dan Exeter. Setelah lulus, Gul kemudian bekerja di Adapazan, sebagai pengajar dalam bidang ekonomi di Universiti Sakarya. Pada tahun 1983 hingga 1991, Abdullah Gul bekerja di Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank). Kemudian pada tahun 1991, Gul menjadi Menteri Luar Negeri Turki yang melakukan kegiatan mengurus hubungan antara Turki dengan bangsa lain. Semasa di universitas, Abdullah Gul terlibat dalam gerakan Islamiah-nasionalis yang dikenal dengan nama 'Milli Turk'.62

Berdasarkan garis keturunan atau silsilah dari Abdullah Gul dapat diketahui bahwa Gul berasal dari keluarga yang memiliki background muslim. Abdullah Gul memiliki darah Arab sdan juga dididik oleh kedua orang tuanya

62 Ibid.

74

yang aktif dalam kegiatan umat Islam, utamanya ayah Gul yang menjadi imam masjid di Turki. Hal yang wajar apabila Abdullah Gul menjadi seorang muslim yang taat dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Aktivitas Abdullah Gul menunjukkan bahwa Gul secara tegas menetapkan dirinya sebagai muslim yang berperan aktif dalam kegiatan umat Islam, dilihat dari keterlibatan Gul saat kuliah dalam Milli Turk dan tempatnya dahulu bekerja yaitu Islamic Development Bank. Abdullah Gul nampaknya tidak segan menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim meskipun umat Islam mendapat banyak tantangan dari kelompok sekuler di Turki. Keberanian Abdullah Gul dalam menunjukkan identitas muslimnya antara lain adalah memiliki seorang istri yang kesehariannya mengenakan jilbab dimana jilbab merupakan pakaian yang dilarang di Turki.

Walaupun Abdullah Gul seorang yang beragama Islam namun Gul bersikap nasionalis. Hal itu terlihat dalam kampanye yang dilakukan Gul sering mengajak masyarakat untuk tidak saling membeda-bedakan agama. Berikut salah satu pernyataan Abdullah Gul pada saat kampanye:

“Saya merasa setiap orang bebas memilih dan beribadah sesuai dengan agamanya. Jadi, meskipun saya adalah seorang muslim maka secara tegas saya menyatakan saya tidak akan menekan keberadaan agama lain. Tujuan masyarakat Turki adalah memajukan Turki, untuk itu marilah bersatu untuk mewujudkannya.”63

63 Turki Tahan Dua Mantan Jenderal Karena Terlibat Usaha Kudeta, (diakses pada hari rabu, 4 Juni 2008 pukul 13:10 WIB); melalui http://www.antara.co.id/arc/2008/7/6/turki-tahan-dua-mantan-jenderal-karena-terlibat-usaha-kudeta/.

75

Pernyataan tersebut tentu saja membuat perasaan nyaman pada diri masyarakat Turki apabila Abdullah Gul terpilih menjadi presiden. Figur Gul semakin dikenal saat Gul menyatakan pentingnya penghormatan hak asasi manusia di Turki. "Demokrasi, di mana sistem hak asasi manusia, kebebasan, dan sekularisme yang ada di dalamnya merupakan salah satu prinsip mendasar republik kita, merupakan model yang menopang kebebasan bagi berbagai gaya hidup yang berbeda-beda sebagaimana hal ini merupakan sebuah aturan harmoni sosial," kata Gul. Gul juga berjanji akan mengupayakan kesetaraan jender dan penegakan hukum. Gul mengatakan, "perubahan dan keberagaman" bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Adanya figure Gul yang mendukung penerapan hak asasi manusia utamanya agama serta kesetaraan gender menarik banyak kalangan di Turki untuk memilihnya.64

Gul dikenal oleh banyak kalangan sebagai seorang muslim yang taat, dan merupakan presiden pertama Turki dengan latar belakang Islam. Namun Gul berjanji akan menegakkan tradisi sekuler Turki yang kuat, yang memisahkan pemerintah dengan agama. Adanya background Islam dalam diri Gul tidak membuat Gul mengedepankan kepentingan agamanya sehingga kekhawatiran beberapa pihak yang menuduh Gul berorientasi pada Islam tidak terbukti.

Sikap Abdullah Gul yang nasionalis lainnya juga ditunjukkan dari bagaiman Gul menghormati agama lain dengan tidak pernah menghinanya dan sering menyatakan perasaan suka citanya mendapatkan kritikan dari beberapa orang yang tidak menyukai Abdullah Gul dengan memiliki background agama

64 Ibid.

76

lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa Abdullah Gul adalah seorang muslim yang taat dan mempunyai sikap nasionalisme yang tinggi tanpa membeda-bedakan agama. Kondisi itu menjadikan figur Abdullah Gul sebagai figur yang memiliki nilai positif dalam pandangan masyarakat Turki.

2. Kemampuan Abdullah Gul Bersikap Positif terhadap Kelompok yang

Dokumen terkait