• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan pakan yang digunakan adalah jagung sebagai sumber pati dan onggok sebagai sumber serat. Bahan pakan dipersiapkan dengan menimbang bahan pakan masing-masing sebanyak 100 g. Bahan pakan sumber pati atau sumber serat dicampur dengan urea pada taraf 3%, 4,5% dan 6% BK.

21 Gambar 6. Sampel Bahan Pakan Sumber Pati

Sumber: Dokumentasi Penelitian (2012)

Isolat bakteri rumen segar diremajakan seperti pada kajian pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan fermentasi bahan yang diuji. Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukkan ke dalam tabung fermentor dan ditambahkan 40 ml McDougall, 5 ml cairan rumen steril dan 5 ml isolat bakteri rumen kerbau, dan dialiri gas CO2 selama 30 detik. Setelah 2 jam dan beberapa jam inkubasi selanjutnya tabung diangkat dan diukur pH, kemudian ditetesi HgCl2. Sampel hasil inkubasi disentrifuse dan diambil supernatannya untuk analisis NH3. Analisis NH3 dilakukan dengan metode difusi cawan Conway (Conway, 1958).

Rancangan dan Analisis Data

Pada kajian pertama digunakan empat sampel leguminosa sebagai individu percobaan yang difermentasi dengan dua sumber inokulum berbeda. Perlakuan berupa dua jenis sumber inokulum yaitu cairan rumen segar dan isolat bakteri rumen pencerna serat. Analisis data menggunakan uji-t berpasangan (Steel dan Torrie, 1997). Peubah yang diukur adalah pH fermentasi, fermentabilitas in vitro (konsentrasi NH3 dan VFA), dan kecernaan bahan kering dan bahan organik (KCBK dan KCBO).

Pada kajian kedua digunakan sampel pakan berupa jagung dan onggok dengan taraf pemberian urea 3%, 4,5%, dan 6% yang difermentasi dengan isolat bakteri pencerna serat dan dilakukan pengukuran peubah pada jam ke 2, 4, 6 dan 8. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Peubah yang diukur pada kajian kedua adalah konsentrasi NH3 dan pH.

22 HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi nutrien masing-masing hijauan sumber protein dan sumber pati yang digunakan dalam penelitian dicantumkan di dalam Tabel 1. Hijauan sumber protein yang digunakan pada penelitian ini merupakan hijauan leguminosa karena memiliki kandungan protein kasar yang tinggi (20-28%) (Salawu et al., 1999). Leguminosa merupakan hijauan pakan yang produksinya berkesinambungan dan memiliki nilai lebih dalam kandungan protein, mineral dan vitamin (Witariadi, 2009). Hasil analisis proksimat menunjukkan leguminosa Leucaena leucocephala,

Calliandra calothyrsus, Indigofera sp. dan Gliricidia sepium mengandung protein

yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 21,16%-28,36%. Kandungan protein yang tinggi dalam suatu bahan pakan ternak dapat didegradasi oleh mikroba rumen. Pemberian pakan yang tinggi kandungan protein seharusnya dilakukan proteksi sehingga lolos dari degradasi rumen. Hijauan leguminosa selain mengandung protein kasar yang cukup tinggi juga memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, namun lebih rendah dibanding rumput. Kandungan serat kasar leguminosa yang digunakan dalam penelitian berkisar antara 20,52%-29,81%. Serat kasar ini akan difermentasi didalam rumen menjadi VFA yang berfungsi sebagai sumber energi bagi ruminansia dan sebagai kerangka karbon untuk pertumbuhan mikroba di dalam rumen.

Tabel 1. Komposisi Nutrien Berbagai Jenis Bahan Pakan (100% BK)

Sampel BK Abu Protein kasar Serat kasar Lemak kasar BETN % Hijauan sumber protein :

Leucaena leucocephala 27,05 8,43 26,63 29,81 3,64 31,49 Calliandra calothyrsus 28,42 5,94 21,16 29,78 1,65 41,46 Indigofera sp. 25,56 11,79 28,36 20,52 4,15 35,16 Gliricidia sepium 18,26 12,89 24,91 24,81 2,53 34,84 Sumber pati : Jagung 85,70 2,15 1,18 2,36 1,45 92,87 Onggok 84,46 4,94 0,69 1,49 1,14 91,73

23 Selain memiliki kandungan protein kasar dan serat kasar tinggi, hijauan leguminosa juga memiliki kandungan abu yang tinggi (5,94%-12,89%). Abu merupakan senyawa anorganik atau mineral, hal ini menunjukkan bahwa leguminosa mengandung mineral yang tinggi. Kandungan mineral yang tinggi dapat dipengaruhi oleh tingginya kandungan lignin pada tanaman tersebut, karena mineral seperti kalsium dapat berikatan dengan lignin. Gliricidia sepium memiliki kandungan mineral yang tinggi yaituu 12,89% berbeda dengan hasil laporan FAO (2004) yang menyatakan kandungan abu Gliricidia sepium adalah 9,81%.

Kandungan serat kasar dan protein yang tinggi pada leguminosa menyebabkan leguminosa ini dapat dijadikan sebagai pakan untuk ternak ruminansia, namun penggunaannya masih dibatasi karena beberapa leguminosa memiliki anti nutrisi yang dapat mengganggu proses fermentasi dalam rumen. Penggunaan leguminosa sebagai pakan tunggal tidak efektif karena degradasi protein yang tinggi tidak diimbangi dengan pemberian sumber energi.

Kecernaan dan Fermentabilitas in vitro Nilai pH Media Fermentasi Cairan Rumen dan Isolat Bakteri

Nilai pH leguminosa yang difermentasi dengan cairan rumen segar dan isolat ditunjukkan dalam Tabel 2. Nilai pH filtrat cairan rumen segar hasil fermentasi 4 jam berbeda dengan pH isolat bakteri pencerna serat (P<0,05). Rataan pH leguminosa yang difermentasi dengan cairan rumen segar adalah 6,84 sedangkan rataan pH leguminosa yang difermentasi dengan isolat bakteri adalah 6,73. Nilai pH pada fermentasi 4 jam dan 48 jam masih berkisar normal (6,3-7) (Orskov, 1998). Pada ternak, nilai pH rumen sangat dipengaruhi oleh kandungan serat pakan yang diberikan dan jumlah pengeluaran saliva (Rychlik dan Russel, 2001). Saliva yang dikeluarkan akan memelihara nilai pH agar tetap sesuai dengan nilai pH untuk fermentasi pakan oleh mikroba rumen. Pada percobaan in vitro larutan buffer yang digunakan adalah larutan saliva buatan atau McDougall. Larutan ini dapat mempertahankan pH selama fermentasi di dalam tabung fermentor.

Nilai pH rumen sangat mempengaruhi aktivitas fermentasi mikroba rumen. Nilai pH dapat menunjukkan keadaan dan fungsi normal dari rumen. Hal ini mengindikasikan bahwa fermentasi leguminosa dengan cairan rumen segar dan isolat

24 tidak mengganggu aktivitas fermentasi di dalam rumen. Namun perbedaan nilai pH media fermentasi diperkirakan akibat adanya perbedaan aktivitas mikroba. Aktivitas mikroba dari cairan rumen segar diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan isolat bakteri rumen. Aktivitas yang lebih tinggi dapat menghasilkan VFA atau asam laktat yang lebih tinggi sehingga media menjadi lebih asam (Santoso et al., 2011). Tabel 2. Nilai pH Filtrat pada Fermentasi 4 jam dan 48 jam

Leguminosa

pH (fermentasi 4 jam) pH (fermentasi 48 jam)

Rumen Isolat Rumen Isolat

Leucaena leucocephala 6,79 6,76 6,73 6,87

Calliandra calothyrsus 6,91 6,73 6,16 6,69

Indigofera sp. 6,77 6,63 6,69 6,82

Gliricidia sepium 6,91 6,8 6,66 6,49

Rataan 6,84±0,07a 6,73±0,07b 6,67±0,05 6,72±0,17

Keterangan : Huruf kecil berbeda pada baris sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Menurunnya pH dipengaruhi oleh degradasi pakan dengan kandungan pati yang tinggi sehingga komponen tersebut dengan cepat difermentasi oleh bakteri di dalam rumen. Nilai pH yang mendekati nilai 6 hasil fermentasinya mengarah pada propionat yang tinggi sedangkan pH yang mendekati nilai 7 hasil fermentasinya mengarah pada asetat yang tinggi (Owen dan Zinn, 1988).

Pada fermentasi setelah 48 jam atau akhir fermentasi pH di dalam rumen menurun pada fermentasi menggunakan bakteri cairan rumen segar, sedangkan pH media yang menggunakan isolat bakteri rumen tidak mengalami perubahan (Tabel 2). Hal ini menggambarkan bahwa fermentasi oleh bakteri cairan rumen segar diperkirakan tetap berlangsung lebih aktif sehingga menghasilkan VFA dan asam lainnya yang lebih tinggi.

Nilai pH yang tetap pada perlakuan isolat bakteri rumen diperkirakan terkait dengan kandungan NH3 atau amonia yang tinggi di dalam media fermentasi. Walaupun VFA tetap diproduksi dan semakin tinggi dalam media, tidak menyebabkan perubahan nilai pH. NH3 memiliki pH basa oleh karena itu dapat meningkatkan pH atau paling tidak mampu mempertahankan pH media fermentasi. Buffer yang berupa saliva telah mampu mempertahan pH media walaupun terjadi

25 peningkatan kadar VFA atau NH3 sehingga nilai pH dapat berada dalam kisaran normal.

Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Hijauan Leguminosa

Hasil pengukuran kecernaan bahan kering dan bahan organik (KCBK dan KCBO) in vitro dengan substrat berupa hijauan leguminosa dengan sumber inokulum berbeda, cairan rumen segar dan isolat bakteri pencerna serat, ditunjukkan di dalam Tabel 3. Nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik oleh bakteri rumen segar dengan isolat tidak menunjukkan perbedaan. Rataan koefisien cerna bahan kering (KCBK) leguminosa dengan cairan rumen segar dan isolat berturut-turut sebesar 53,72% dan 50,25%. Rataan koefisien cerna bahan organik (KCBO) leguminosa dengan cairan rumen segar dan isolat berturut turut sebesar 50,48% dan 45,84%.

Kecernaan leguminosa yang difermentasi dengan cairan rumen segar dan isolat bakteri rumen memiliki nilai yang rendah. Sutardi (1980) menyatakan bahwa nilai kecernaan bahan pakan yang kurang dari 60% dinyatakan memiliki nilai kecernaan yang rendah. Nilai KCBK dan KCBO Indigofera sp. paling tinggi dibanding dengan leguminosa lain. Kecernaan Indigofera sp. dapat dikatakan tinggi, karena lebih tinggi dari 60%. Tingginya nilai kecernaan ini dapat dapat dipengaruhi karena kandungan protein kasar dan serat kasar tinggi dan mudah difermentasi. Berbeda dengan Calliandra calothyrsus yang memiliki nilai KCBK dan KCBO paling rendah. Nilai kecernaan yang rendah ini dapat dipengaruhi karena kandungan anti nutrisi pada Calliandra calothyrsus berupa tanin yang dapat mengganggu aktivitas fermentasi dalam rumen.

Nilai KCBK dan KCBO isolat cenderung lebih rendah dibandingkan dengan cairan rumen segar. Hal ini diduga karena di dalam cairan rumen konsorsium mikroba yang lebih banyak dibanding isolat bakteri pencerna serat yang diisolasi dari rumen kerbau. Mikroba yang terdapat dalam cairan rumen segar terdiri dari protozoa, bakteri dan fungi yang memfermentasi pakan. Selain itu di dalam cairan rumen terkandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba. Church (1979), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan

selulosa. Berbeda dengan isolat bakteri yang hanya terdiri dari enam konsorsium

26 mikroba di dalam cairan rumen segar. Isolat bakteri yang digunakan merupakan isolat bakteri pencerna serat sehingga kemungkinan yang didegradasi adalah jenis karbohidrat struktural di dalam dan komponen pakan yang lain tidak mampu didegradasi oleh isolat bakteri ini. Perbedaan kecernaan bahan kering dan bahan organik oleh bakteri cairan rumen segar dan isolat bakteri rumen kerbau tidak sangat kecil. Hal ini menggambarkan bahwa isolat bakteri rumen mempunyai kemampuan yang sama dalam mencerna komponen pakan hijauan leguminosa.

Tabel 3. Kecernaan Bahan Kering (KCBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KCBO)

in vitro

Leguminosa %KCBK %KCBO

Rumen Isolat Rumen Isolat

Leucaena leucocephala 54,28±9,50 53,13±0,34 50,58±9,97 49,23±0,06

Calliandra calothyrsus 37,24±21,92 33,87±0,48 35,12±20,57 30,36±0,67

Indigofera sp. 67,18±10,41 67,47±0,19 65,05±9,60 63,55±0,21

Gliricidia sepium 56,19±2,48 46,54±3,16 51,16±2,09 40,23±3,41

Rataan 53,72±15,14 50,25±13,00 50,48±14,72 45,84±13,12

Kecernaan komponen pakan leguminosa dapat dipengaruhi oleh kadar tanin (Van Soest, 1982), serat kasar dan lignin (Selly, 1994). Kandungan serat kasar yang tinggi akan menghambat gerak laju digesta di dalam alat pencernaan. Kandungan serat kasar tersebut menyebabkan daya cerna karbohidrat maupun nutrien lainnya turun (Parakkasi, 1999). Leguminosa yang digunakan dalam penelitian ini mengandung protein tinggi yang berkisar antara 21,16%-28,36%. Setiap sumber protein memiliki kelarutan dan ketahanan yang berbeda. Pada leguminosa protein terikat dengan tanin, sehingga mikroba sulit mendegradasi protein tersebut. Tanin menurunkan beberapa aktivitas enzim rumen seperti urease, carboxymethyl

cellulose, protease, glutamine dehydrogenase dan alanine transferase (Makkar et al.,

1988). Pada pengukuran kecernaan bahan kering dan bahan organik in vitro dalam penelitian ini, VFA yang dihasilkan lebih banyak berasal dari fermentasi komponen karbohidrat. VFA yang dihasikan diperkirakan digunakan sebagai sumber rantai karbon oleh bakteri dan sebagai sumber energi bagi ruminansia.

Isolat bakteri rumen mampu mencerna komponen hijauan leguminosa seefektif bakteri asal cairan rumen segar. Hungate (1996) menyatakan bahwa

27 aktivitas fermentasi mikroba rumen sangat ditentukan oleh komposisi jenis mikroba yang mempunyai peranan spesifik dalam mendegradasi pakan. Hal ini berarti bahwa jenis isolat bakteri yang digunakan dalam fermentasi diperkirakan memiliki peranan yang berbeda dalam mendegradasi komponen pakan namun sama kemampuannya dalam merespon anti nutrisi seperti tanin. Hal ini menunjukkan bahwa isolat bakteri rumen kerbau dapat digunakan sebagai pengganti cairan rumen segar pada pengukuran kecernaan in vitro meskipun memiliki nilai koefisien cerna yang sedikit lebih rendah dengan penyimpangan nilai 6,46% dan 9,19%, untuk koefisien cerna bahan kering dan organik. Data tersebut menunjukkan bahwa isolat bakteri rumen dapt digunakan untuk mengkaji koefisien cerna bahan pakan namun perlu dilakukan koreksi terhadap nilai koefisien cerna yang diperoleh.

Konsentrasi NH3 dan VFA Isolat Bakteri Pencerna Serat Asal Rumen Kerbau dengan Substrat Leguminosa

Konsentrasi NH3 dan VFA dalam media fermentasi in vitro hijauan leguminosa yang difermentasi dengan cairan rumen dan isolat bakteri pencerna serat ditunjukkan dalam Tabel 4. Konsentrasi NH3 merupakan indikator kunci yang menunjukkan degradasi dan sintesis protein mikroba. Molekul NH3 digunakan oleh mikroba rumen sebagai sumber nitrogen untuk proses sintesis selnya. Konsentrasi NH3 normal yang dapat mendukung pertumbuhan mikroba rumen berkisar antar 6-21 mM (McDonald et al., 2002).

Tabel 4. Konsentrasi NH3 dan VFA in vitro

Leguminosa

N-NH3(mM) VFA (mM)

Rumen Isolat Rumen Isolat

Leucaena leucocephala 6,63±0,47 11,6±0,27 167±21,18 177±13,04

Calliandra calothyrsus 4,56±1,62 9,92±0,48 199±9,21 152±51,38

Indigofera sp. 9,84±0,12 13,29±0,02 190±93,41 174±16,71

Gliricidia sepium 8,82±0,31 12,38±0,23 216±37,72 201±156,19

Rataan 7,46±2,27b 11,79±1,34a 193±81,31 175±73,45

Keterangan : Huruf kecil berbeda pada baris sama menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01)

Rataan konsentrasi NH3 hijauan leguminosa yang difermentasi dengan cairan rumen segar adalah 7,46 mM, lebih rendah (P<0,01) dibandingkan leguminosa yang difermentasi dengan isolat bakteri rumen pencerna serat yaitu 11,79 mM. Hal ini

28 menunjukkan bahwa isolat bakteri pencerna serat mampu mendegradasi protein leguminose lebih cepat dari mikroba dalam cairan rumen segar. Sebagian besar bakteri selulolitik mempunyai aktivitas exopeptidase (Arora, 1995). Bakteri penghasil selulolitik yang dapat diidentifikasi di dalam rumen adalah Bacteroides

amylophilus, Butirivibrio sp., Selenomonas ruminantium, Lachnospiro multipharus,

dan Peptostreptococcus elsdenii. Hasil pengukuran konsentrasi NH3 menunjukkan bahwa isolat bakteri yang digunakan dalam penelitian ini memiliki aktivitas exopeptidase sehingga proses pemecahan protein hijauan leguminosa berlangsung dengan cepat. Peptida akan diubah menjadi asam amino dan dengan cepat dideaminasi oleh bakteri di dalam rumen menghasilkan NH3.

Konsentrasi NH3 yang berlebihan menyebabkan akumulasi NH3 di dalam rumen. Penggunaan tanaman leguminosa sebagai pakan tunggal atau bahan pakan lain yang mengandung protein tinggi, menyebabkan penggunaan nitrogen pakannya tidak efisien. Protein bahan pakan leguminosa akan dihidrolisis menjadi asam amino dan dengan cepat akan dideaminasi menjadi amonia namun penggunaannya oleh mikroba tidak efisien karena tidak diimbangi dengan penambahan energi dalam bentuk VFA. Peningkatan karbohidrat yang mudah difermentasi dapat mengurangi produksi NH3 karena terjadi kenaikan penggunaan amonia untuk pertumbuhan protein mikroba (Ranjhan, 1977). Adanya karbohidrat yang mudah difermentasi memungkinkan bakteri mendapatkan energi yang lebih baik untuk membentuk protein tubuhnya (Sowardi, 1974).

Vollatile fatty acid (VFA) merupakan hasil utama fermentasi karbohidrat di

dalam rumen. VFA total terdiri dari asetat, propionat, butirat, dan valerat yang menunjukkan jumlah komponen karbohidrat yang mengalami fermentasi. Konsentrasi VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen yaitu 80-160 mM (Sutardi, 1980). Hasil pengukuran produksi VFA menunjukkan tidak ada perbedaan antara produksi VFA dalam fermentasi media leguminosa oleh bakteri asal rumen segar dengan isolat bakteri pencerna serat (P>0,05). Konsentrasi VFA media fermentasi leguminosa dengan cairan rumen segar dan isolat bakteri pencerna serat sangat tinggi. Tinggi rendahnya konsentrasi VFA dapat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar pakan, dan unsur karbon yang terdapat dalam protein (Salawu

29 berkisar antara 21,16%-28,36%. Protein akan dipecah menjadi asam amino di dalam rumen dan dengan cepat akan dideaminasi menjadi unsur N dan kerangka karbon. Kerangka karbon yang dihasilkan akan membentuk VFA. Dengan demikian semakin tinggi kandungan protein dalam tanaman dapat meningkatkan produksi VFA total dalam rumen.

Kadungan serat kasar leguminosa yang digunakan dalam penelitian berkisar antara 20,52%-29,81%. Serat kasar yang mudah terfermentasi dan terkandung dalam hijauan merupakan bahan yang akan difermentasi menjadi VFA. Oleh karena itu semakin tinggi kandungan serat kasar tersebut, maka produksi VFA dalam rumen akan semakin tinggi pula.

Variasi yang tinggi terdapat pada konsentrasi VFA leguminosa yang difermentasi dengan bakteri cairan rumen segar, sedangkan konsentrasi VFA leguminosa yang difermentasi dengan isolat lebih rendah. Variasi tinggi dapat dipengaruhi karena jenis leguminosa memiliki kandungan serat kasar bervariasi. Penggunaan bakteri rumen sebagai inokulum pada percobaan in vitro dapat meningkatkan keragaman, berbeda dengan penggunaan isolat bakteri pencerna serat yang lebih rendah variasinya.

NH3 dan VFA merupakan tolok ukur fermentabilitas di dalam rumen. NH3 di dalam rumen digunakan sebagai sumber N bagi pertumbuhan mikroba, sedangkan VFA merupakan sumber kerangka karbon bagi mikroba. Tingginya konsentrasi NH3 jika tidak diimbangi dengan VFA tersedia akan menyebabkan inefisiensi penggunaan protein. Tingginya konsentrasi NH3 dalam media fermentasi oleh isolat bakteri rumen dapat menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi penggunaan protein oleh isolat bakteri rumen.

Pola Fermentasi Hijauan Leguminosa dengan Isolat Bakteri Pencerna Serat

Perubahan nilai pH media fermentasi hijauan leguminosa dengan isolat bakteri pencerna serat ditunjukkan dalam Tabel 5. Leguminosa Indigofera sp. memiliki pH tertinggi dengan nilai rataan pH 7,06, Calliandra calothyrsus 6,94,

Gliricidia sepium 6,91, dan Leucaena leucocephala 6,86. Secara umum fermentasi

leguminosa dengan isolat bakteri pencerna serat memiliki nilai yang berkisar antara pH 6,79-7,22. Nilai pH ini diluar kisaran yang dilaporkan Orskov (1998) yang

30 berkisar antara 6,3-7. Tingginya nilai pH dipengaruhi oleh degradasi protein yang cepat di dalam rumen sehingga banyak NH3 yang terakumulasi dan dapat meningkatkan pH. Kadungan anion dan kation dalam ransum diperkirakan bervariasi dan hal tersebut diduga merupakan salah satu penyebab terjadinya variasi pH media fermentasi. Variasi nilai pH yang tinggi terdapat pada leguminosa Indigofera sp. yang difermentasi dengan isolat. Variasi ini dipengaruhi oleh akumulasi NH3 berlebihan dan menyebabkan nilai pH meningkat dan terjadi fluktuasi pH di dalam rumen.

Tabel 5. Nilai pH Media Fermentasi Leguminosa dengan Isolat Bakteri Pencerna Serat Leguminosa Waktu Inkubasi Rataan 2 4 6 8 Leucaena leucocephala 6,92 6,79 6,87 6,83 6,86±0,05 Calliandra calothyrsus 6,95 7,05 6,84 6,93 6,94±0,08 Indigofera sp. 7,02 7,01 6,97 7,22 7,06±0,11 Gliricidia sepium 6,98 6,88 6,87 6,91 6,91±0,05

Rataan waktu inkubasi 6,97±0,04 6,93±0,17 6,89±0,06 6,97±0,17

Konsentrasi NH3 media fermentasi leguminosa dengan menggunakan isolat bakteri rumen pencerna serat asal kerbau pada waktu inkubasi berbeda ditunjukkan dalam Tabel 6. Rataan konsentrasi NH3 pada waktu inkubasi 2, 4, 6 dan 8 jam tidak mengalami perbedaan yang ekstrim. Kondisi tersebut menunjukan bahwa NH3 dalam filtrat secara terus menerus digunakan oleh isolat bakteri untuk perkembangan selnya. Variasi konsentrasi NH3 pada jam ke 8 menunjukkan bahwa konsentrasi NH3 pada jam ini dipengaruhi oleh jenis leguminosa dan kemampuan isolat bakteri dapat mendegradasi komponen protein leguminosa.

Konsentrasi NH3 Indigofera sp. dan Gliricidia sepium lebih tinggi dibandingkan konsentrasi NH3 Leucaena leucocephala dan Calliandra calothyrsus. Berarti protein Indigofera sp. dan Gliricidia sepium mudah didegradasi oleh bakteri pencerna serat dibandingkan protein Leucaena leucocephala dan Calliandra

calothyrsus. Variasi konsentrasi NH3 tertinggi ada pada leguminosa Gliricidia

sepium. Variasi ini menunjukkan bahwa konsentrasi NH3 pada leguminosa ini fluktuatif bergantung pada waktu inkubasi. Konsentrasi NH3 tertinggi terdapat pada

31 jam ke 8. Degradasi protein sangat ditentukan oleh bentuk ikatan dan melekul protein. Hal ini berarti bahwa struktur protein leguminosa bervariasi.

Tabel 6. Konsentrasi NH3 (mM) Media Fermentasi Leguminosa dengan Isolat Bakteri Pencerna Serat

Leguminosa Waktu inkubasi (jam) Rataan

2 4 6 8

Leucaena leucocephala 9,53±0,70 10,79±2,17 10,31±2,71 9,42±2,27 10,01±1,70

Calliandra calothyrsus 7,07±0,22 7,73±2,02 9,15±2,08 7,05±1,96 7,75±1,61

Indigofera sp. 11,46±0,64 12,43±1,89 11,90±2,08 11,32±3,1 11,78±1,88

Gliricidia sepium 10,70±0,68 9,66±0,41 13,27±0,20 15,48±5,3 12,28±3,16

Rataan waktu inkubasi 9,69±1,92 10,15±1,97 11,16±1,80 10,82±3,57

Kemungkinan lain perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan kadar tanin yang mengganggu kecernaan protein. Keberadaan tanin dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme di dalam rumen. Tanin mengandung polifenol yang dapat berekasi dengan dinding sel bakteri dan enzim ekstraseluler yang diekskresikan mikroba rumen (McSweeney et al., 2001). Kedua reaksi ini dapat menghambat transport nutrien ke dalam sel dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan kemampuan mikroba dalam mencerna nutrien termasuk protein. Kadar tanin Calliandra calothyrsus adalah 9,6% BK (Wina et al., 1999) yang mengakibatkan degradasi protein di dalam rumen terhambat akibat tingginya kandungan tannin pada leguminosa ini. Kandungan tanin Gliricidia sepium adalah 1,0% BK (Wina et al., 1999). Kandungan tanin yang rendah ini mengakibatkan degradasi protein di dalam rumen dapat berlangsung lebih cepat. Protein Leucaena

leucocephala dan Calliandra calothyrsus memiliki kandungan protein yang lebih

sulit untuk didegradasi. Haryanto dan Djajanegara (1993), menyatakan bahwa daun lamtoro mengandung protein yang relatif rendah tingkat pemecahannya di dalam rumen yang merupakan sumber protein yang bagus untuk ternak ruminansia. Hal ini menunjukkan bahwa leguminosa Leucaena leucocephala memiliki kandungan protein tinggi yaitu 26,63% dan kandungan proteinnya lebih banyak yang mengalami

by pass dan sedikit yang mengalami degradasi di dalam rumen. Indigofera sp.

32 Konsentrasi NH3 Media Fermentasi Sumber Pati

pada Tingkat Urea Berbeda

Hasil pengukuran pH filtrat media fermentasi sumber pati dengan penambahan urea berbeda ditunjukkan dalam Tabel 7. Substrat pakan sumber pati yang difermentasi inokulum isolat bakteri memiliki nilai rataan pH 6,78-7,11. Nilai rataan pH media fermentasi pati dan urea dapat dinyatakan tinggi. Orskov (1998) menyatakan bahwa pH cairan rumen berkisar 6,3-7. Secara umum nilai pH pada 2 jam sudah terjadi peningkatan dan terjadi penurunan pada jam ke 4 dan ke 6. Penurunan nilai pH ini dapat dipengaruhi karena adanya pemanfaatan NH3 oleh isolate bakteri pencerna serat, sedangkan pada jam 8 terjadi peningkatan nilai pH karena adanya akumulasi NH3. Pemberian level urea sampai 6% dapat meningkatkan pH media fermentasi.

Tabel 7. Hasil Pengukuran pH Media Fermentasi Pakan Sumber Pati dengan Penambahan Urea Berbeda

Pakan Waktu Inkubasi (jam) Rataan

2 4 6 8 Jagung + urea 3% 7,06 6,92 7,12 6,99 7,02±0,1 Jagung + urea 4,5% 7,09 6,89 6,95 7,03 6,99±0,09 Jagung + urea 6% 7,13 7,08 6,91 7,07 7,04±0,09 Onggok + urea 3% 7,29 6,88 6,88 7,11 7,04±0,2 Onggok + urea 4,5% 7,15 6,92 7,05 7,03 7,04±0,1 Onggok + urea 6% 7,11 6,88 6,78 7,01 6,94±0,15 Rataan 7,14±0,08 6,93±0,07 6,95±0,12 7,04±0,05

Kenaikan pH ini dipengaruhi karena urea yang di dalam rumen akan didegradasi menjadi NH3. NH3 merupakan senyawa yang bersifat basa sehingga dapat meningkatkan pH. Menurut Owen dan Zinn (1988). Variasi nilai pH terdapat pada pakan onggok dengan penambahan urea 6%. Tingginya variasi menunjukkan

Dokumen terkait