Kemampuan Mengaplikasikan dan Mengkomunikasikan

Dalam dokumen Literasi Informasi Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara (Halaman 33-81)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Deskriptif

4.2.8 Kemampuan Mengaplikasikan dan Mengkomunikasikan

Indikator ketujuh pada model The 8 Ws adalah kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi. Kemampuan mahasiswa untuk kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi diukur dengan pertanyaan kuesioner nomor 19, 20, dan 21.

Hasil pengumpulan data untuk mengukur kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi dapat dilihat pada table 4.19, 4.20, 4.21.

berikut:

Tabel 4.19 Kemampuan Menentukan Kegiatan Mengkomunikasikan Informasi Pertanyaan Nomor 19 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 20 24 Salah 64 66 Jumlah 84 100

Pertanyaan 19. Sebuah pertemuan ilmiah kecil yang dilakukan oleh para ahli dalam bidang tertentu yang bertujuan untuk membahas suatu masalah terkait dengan keahlian mereka, sekaligus mencari solusi bagi permasalahan tersebut. Kegiatan tersebut merupakan jenis pertemuan ilmiah: (a) Rapat, (b) Diskusi panel, (c) Simposium, (d) Lokakarya(academic workshop). Jawaban yang benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban d, yaitu “Lokakarya(academic workshop)”.

Tabel 4.19. menunjukkan bahwa jawaban dari mahasiswa sebagai responden berdasarkan pertanyaan nomor 19 (sembilan belas) adalah sebagian kecil (24%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (66%) mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 20 responden (24%) memiliki kemampuan menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi, sedangkan 66 % mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.19. menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi sangat rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 64 responden (66 %) tidak bisa menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi, sehingga mahasiswa akan kesulitan

dalam mengkomunikasikan informasi.

Tabel 4.20 Kemampuan Menentukan Konsep Penggunaan Informasi

Pertanyaan Nomor 20 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 32 38 Salah 52 62 Jumlah 84 100

Pertanyaan 20. Manakah dari berikut ini TIDAK sesuai dengan konsep penggunaan informasi sehubungan dengan hukum hak cipta? (a) Peninjauan musik di sebuah surat kabar termasuk kutipan dari sebuah lagu popular, (b) Mahasiswa mendownload informasi keuangan perusahaan dari sebuah situs web pemerintah untuk digunakan untuk kepentingan pribadi, (c) Seorang guru mendistribusikan artikel jurnal untuk digunakan sebagai alat pendidikan, (d) Seorang profesor menyimpan buku di perpustakaan universitas, yang tercetak dan tidak tersedia di web untuk digunakan siswa. Jawaban yang benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban b, yaitu “Mahasiswa mendownload informasi keuangan perusahaan dari sebuah situs web pemerintah untuk digunakan untuk kepentingan pribadi”.

Tabel 4.20. menunjukkan bahwa jawaban dari mahasiswa sebagai responden berdasarkan pertanyaan nomor 20 (dua puluh) adalah hampir setengah (38%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (62%) mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 32 responden (38%) memiliki kemampuan menentukan konsep penggunaan informasi, sedangkan 62 % mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.20. di atas menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menentukan konsep penggunaan informasi sangat rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 52 responden (62 %) tidak bisa menentukan konsep penggunaan informasi, sehingga mahasiswa akan kesulitan dalam mengkomunikasikan informasi.

Tabel 4.21 Kemampuan Mengkomunikasikan Informasi

Pertanyaan Nomor 21 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 38 45 Salah 46 55 Jumlah 84 100

Pertanyaan 21. Bacalah kutipan berikut dan pilih satu jawaban yang BUKAN contoh dari plagiarisme. "Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap." – Najwa Shihab. (a) Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap, (b) Menurut Najwa Shihab, Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap, (c) Wajah peradilan begitu gelap dengan transaksi suap, (d) Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap (Shihab). Jawaban yang benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban b, yaitu “Menurut Najwa Shihab, Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap”.

Tabel 4.21. menunjukkan bahwa jawaban dari mahasiswa sebagai responden berdasarkan pertanyaan nomor 21 (dua puluh satu) adalah hampir setengah (45%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (55%)

mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 38 responden (45%) memiliki kemampuan mengkomunikasikan informasi dengan benar, sedangkan 55 % mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.21. menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk mengkomunikasikan informasi dengan benar masih rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 46 responden (55 %) tidak bisa mengkomunikasikan informasi dengan benar. Data ini sinkron dengan data yang menunjukkan bahwa mayoritas responden (62%) tidak memiliki kemampuan menentukan konsep penggunaan informasi.

4.2.9 Kemampuan Menilai dan Mengevaluasi Hasil

Indikator kedelapan pada model The 8 Ws adalah kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil. Kemampuan mahasiswa untuk kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil diukur dengan pertanyaan kuesioner nomor 22, 23, dan 24.

Hasil pengumpulan data untuk mengukur kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil dapat dilihat pada table 4.22, 4.23, 4.24. berikut:

Tabel 4.22 Kemampuan Menilai Karakteristik Informasi

Pertanyaan Nomor 22 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 39 46 Salah 45 54 Jumlah 84 100

Pertanyaan 22. Karakteristik dari informasi yang baik adalah, kecuali: (a) Informasi yang akurat, (b) Informasi yang selalu baru (tidak usang), (c) Memilki jumlah kata yang banyak, (d) Memiliki manfaat kepada pengguna. Jawaban yang

benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban c, yaitu “Memilki jumlah kata yang banyak”.

Tabel 4.22. menunjukkan bahwa jawaban dari mahasiswa sebagai responden berdasarkan pertanyaan nomor 22 (dua puluh dua) adalah hampir setengah (46%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (54%) mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 39 responden (46%) memiliki kemampuan menilai karakteristik informasi yang baik, sedangkan 54 % mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.22. menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menilai karakteristik informasi dengan benar masih rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 45 responden (54 %) tidak bisa menilai karakteristik informasi dengan benar.

Tabel 4.23 Kemampuan Menilai Hasil Informasi

Pertanyaan Nomor 23 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 26 31 Salah 58 69 Jumlah 84 100

Pertanyaan 23. Nilai dari informasi ditentukan oleh: (a) Sistem navigasi yang mudah dipahami pengguna, (b) Manfaat dan biaya untuk mendapatkan informasi tersebut, (c) Terdapat iklan, (d) Tampilan menarik. Jawaban yang benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban b, yaitu “Manfaat dan biaya untuk mendapatkan informasi tersebut”.

responden berdasarkan pertanyaan nomor 23 (dua puluh tiga) adalah hampir setengah (31%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (69%) mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 26 responden (31%) memiliki kemampuan menilai hasil informasi dengan benar, sedangkan 69% mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.23. menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menilai hasil informasi dengan benar masih rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 58 responden (69 %) tidak bisa menilai hasil informasi dengan benar. Data ini sinkron dengan data yang menunjukkan bahwa mayoritas responden (54%) tidak memiliki kemampuan menilai karakteristik informasi.

Tabel 4.24 Kemampuan Menilai Sumber Informasi

Pertanyaan Nomor 24 Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) Benar 24 29 Salah 60 71 Jumlah 84 100

Pertanyaan 24. Bagaimana cara mengetahui sebuah majalah populer? (a) Terdiri dari beberapa bagian, iklan, (b) Artikel yang mendalam dan memiliki daftar pustaka. (c) Artikel yang ditulis untuk masyarakat umum, (d) Issue biasanya diterbitkan setiap tiga bulan (4 kali setahun). Jawaban yang benar diantara pilihan jawaban tersebut adalah pilihan jawaban b, yaitu “Artikel yang mendalam dan memiliki daftar pustaka”.

Tabel 4.24. menunjukkan bahwa jawaban dari mahasiswa sebagai responden berdasarkan pertanyaan nomor 24 (dua puluh empat) adalah hampir

setengah (29%) mahasiswa menjawab dengan benar dan sebagian besar (71%) mahasiswa salah dalam menjawab. Artinya, terdapat sebanyak 24 responden (29%) memiliki kemampuan menilai sumber informasi dengan benar, sedangkan 71 % mahasiswa tidak memilkinya

Tabel 4.24. menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk menilai sumber informasi dengan benar masih rendah. Data menunjukan bahwa sebanyak 60 responden (71 %) tidak bisa menilai sumber informasi dengan benar. Data ini sinkron dengan data yang menunjukkan bahwa mayoritas responden (69%) tidak memiliki kemampuan menilai karakteristik informasi.

4.3Rangkuman Analisis Data

Tingkat literasi informasi mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Dimana pada sumbu x menandakan indikator literasi informasi mahasiswa menggunakan model The 8 Ws yang terdiri dari 24 butir pertanyaan dan sumbu y menandakan persentase tingkat literasi informasi Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara sebagai responden. Hasil yang diperoleh seperti terlihat pada gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Grafik Persentase Kemampuan Responden berdasarkan Indikator Literasi Informasi

Grafik diatas memperlihatkan bahwa kemampuan mahasiswa menyelediki dan mengidentifikasi topik sebesar 53%, kemampuan mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebesar 50%, kemampuan strategi pencarian informasi sebesar 40%, kemampuan menggunakan dan mengevaluasi informasi sebesar 39%, kemampuan menyatukan dan mengolah informasi sebesar 51%, kemampuan menciptakan informasi/pengetahuan sebesar 45%, kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi sebesar 36%, kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil informasi sebesar 33%.

Persentase tingkat literasi informasi berdasarkan sub indikator dapat dilihat pada tabel 4.25 berikut.

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 1 2 3 4 5 6 7 8 Ax is T itl e INDIKATOR PERTANYAAN P E R S E N T A S E P

Tabel 4.25. Persentase Tingkat Literasi Informasi berdasarkan Sub Indikator Kemampuan

Indikator Sub Indikator Persenta

se (%)

Kemampuan menyelidiki dan

mengidentifikasi topik

Kemampuan menentukan strategi identifikasi topik

36

Kemampuan menentukan topik informasi 69 Kemampuan penentuan tindakan pada

pencarian informasi

55

Kemampuan

mengidentifikasi dan merumuskan masalah

Kemampuan karakteristik sumber informasi

45

Kemampuan menentukan sumber informasi ilmiah

77

Kemampuan menentukan sumber informasi

27

Kemampuan strategi pencarian informasi

Kemampuan menentukan jumlah penelusran terbanyak

37

Kemampuan menentukan sumber pencarian informasi

56

Kemampuan merumuskan kata kunci 28 Kemampuan

menggunakan dan mengevaluasi informasi

Kemampuan evaluasi subjek dokumen 44 Kemampuan evaluasi informasi 32 Kemampuan menilai sumber informasi 42 Kemampuan

menyatukan dan mengolah informasi

Kemampuan meninjau sumber informasi 56 Kemampuan mengolah informasi 46 Kemampuan mengolah sumber informasi 50 Kemampuan

menciptakan

pengetahuan/informasi

Kemampuan memilih

pengetahuan/informasi yang baik

61

Kemampuan menghasilkan tulisan/karya ilmiah

54

Kemampuan menentukan kegunaan sumber informasi

Indikator Sub Indikator Persenta se (%) Kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi

Kemampuan menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi

24

Kemampuan menentukan konsep penggunaan informasi 38 Kemampuan mengkomunikasikan informasi 45 Kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil

Kemampuan menilai karakteristik informasi

46

Kemampuan menilai hasil informasi 31 Kemampuan menilai sumber informasi 29

Tabel di atas memperlihatkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam menentukan strategi identifikasi topik informasi sebesar 36%, namun dalam menentukan topik informasi mengalami peningkatan sebesar 69% dan mengalami penurunan kembali pada tahap penentuan hal yang akan dilakukan pada saat mencari informasi menjadi 55%.

Kemampuan mahasiswa menentukan karakteristik sumber informasi sebesar 45% yang berarti rendah namun terjadi peningkatan pada kemampuan menentukan sumber informasi ilmiah sebesar 77% dan kembali mengalami penurunan pada menentukan sumber informasi sebesar 27%.

Persentase kemampuan mahasiswa dalam menentukan jumlah penelusuran sebesar 37%, kemampuan menentukan sumber pencarian informasi sebesar 56% dan kemampuan merumuskan kata kunci pada pencarian informasi cukup rendah sebesar 28%.

Kemampuan mahasiswa mengevaluasi subjek dokumen sebesar 44%, namun mengalami penurunan pada kemampuan evaluasi informasi sebesar 32%

dan kemampuan menilai sumber informasi sebesar 42%. Kemampuan meninjau sumber informasi sebesar 56% namun terjadi penurunan pada kemampuan mengolah informasi sebesar 46% dan kemampuan mengolah sumber informasi sebesar 50%.

Persentase kemampuan memilih pengetahuan/informasi yang baik sebesar 61%, kemampuan menghasilkan tulisan/karya ilmiah sebesar 54%, namun mengalami penurunan yang cukup rendah pada kemampuan menentukan kegunaan sumber informasi yakni sebesar 21%. Grafik juga memperlihatkan kemampuan menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi cukup rendah yakni sebesar 24%, kemampuan menentukan konsep penggunaan informasi sebesar 38% dan kemampuan mengkomunikasikan informasi sebesar 45%.

Kemampuan mahasiswa menilai karakteristik informasi sebesar 46%, namun mengalami penurunan pada kemampuan menilai hasil informasi yakni sebesar 31% dan kemampuan menilai sumber informasi sebesar 29%.

Berdasarkan data di atas diketahui persentase literasi informasi tertinggi yang dimilki Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera utara berada pada indikator kedua, yaitu pada kemampuan mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebesar 77%. Kemudian persentase literasi informasi terendah yang dimiliki mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara berada pada indikator keenam, yaitu pada kemampuan menentukan kegunaan sumber informasi yakni sebesar 21%.

Selanjutnya dilakukan perhitungan berdasarkan rata-rata. Tujuannya adalah untuk menyelidiki indikator mana yang lebih unggul. Penentuannya adalah berdasarkan nilai rata-rata.

Tabel 4.26 Perhitungan nilai rata-rata berdasarkan indikator Model The 8 Ws Indikator Benar 1 53% 2 50% 3 40% 4 39% 5 51% 6 45% 7 36% 8 33% Jumlah 347 % Rata-Rata =347/8 =43.37%

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, disimpulkan bahwa rata-rata literasi informasi mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara yaitu 43 %. Adapun rincian hasil penelitian sebagai berikut:

1. Kemampuan dalam menyelidiki dan mengidentifikasi informasi sebesar 53% dari total responden dan dapat dikategorikan baik. Dimana hampir setengah responden (36%) memiliki kemampuan menentukan strategi identifikasi topik, selanjutnya sebagian besar responden (69%) memiliki kemampuan menentukan topik informasi dan sebagian besar responden (55%) memiliki kemampuan penentuan tindakan pada pencarian informasi

2. Kemampuan mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebesar 50% dari total responden dan dapat dikategorikan baik . Dimana hampir setengah responden (45%) memiliki kemampuan karakteristik sumber informasi, pada umumnya responden (77%) memiliki kemampuan menentukan sumber informasi ilmiah dan hampir setengah responden (27%) memiliki kemampuan menentukan sumber informasi

3. Kemampuan strategi pencarian informasi sebesar 40% dari total responden dan dapat dikategorikan buruk. Dimana hampir setengah responden (37%) memilki kemampuan menentukan jumlah penelusran terbanyak, sebagian besar responden (56%) memiliki kemampuan menentukan sumber pencarian informasi dan hampir setengah responden (28%) memiliki kemampuan merumuskan kata kunci.

4. Kemampuan menggunakan dan mengevaluasi informasi sebesar 39% dari total responden dan dapat dikategorikan buruk. Dimana hampir setengah responden (44%) memiliki kemampuan evaluasi subjek dokumen, hampir setengah responden (32%) memiliki kemampuan evaluasi informasi dan hampir setengah responden (42%) memiliki kemampuan menilai sumber informasi.

5. Kemampuan menyatukan dan mengolah informasi sebesar 51% dari total responden dan dapat dikategorikan baik. Dimana sebagian besar responden (56%) memiliki kemampuan meninjau sumber informasi, hampir setengah responden (46%) memiliki kemampuan mengolah informasi dan setengah responden (50%) memiliki kemampuan mengolah sumber informasi.

6. Kemampuan menciptakan pengetahuan/informasi sebesar 45% dari total responden dapat dikategorikan baik. Dimana sebagian besar responden (61%) memiliki kemampuan memilih pengetahuan/informasi yang baik, sebagian besar responden (54%) memiliki kemampuan menghasilkan tulisan/karya ilmiah dan sebagian kecil responden (21%) memiliki kemampuan menentukan kegunaan sumber informasi.

7. Kemampuan mengaplikasikan dan mengkomunikasikan informasi sebesar 36% dari total responden dan dapat dikategorikan buruk. Dimana sebagian kecil responden (24%) memiliki kemampuan menentukan kegiatan mengkomunikasikan informasi, hampir setengah responden (38%) memiliki kemampuan menentukan konsep penggunaan informasi dan hampir setengah responden (45%) memiliki kemampuan mengkomunikasikan informasi.

8. Kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil sebesar 33% dari total responden dan dapat dikategorikan buruk. Dimana hampir setengah responden (46%) memiliki kemampuan menilai karakteristik informasi, hampir setengah responden (31%) memiliki kemampuan menilai hasil informasi dan hampir setengah responden memiliki kemampuan menilai sumber informasi

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, penulis mengajukan saran kepada beberapa pihak yang dianggap memiliki hubungan dengan penelitian ini, sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada mahasiswa yang menjadi objek penelitian yaitu mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum USU, memiliki keinginan besar mengeksplorasi lagi

keahliannya dalam literasi informasi demi memberikan manfaat kepada banyak pihak, menciptakan karya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan dan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.

2. Diharapkan kepada pihak institusi dalam hal ini Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum USU, memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kualitas khususnya pada bidang literasi informasi, baik dengan evaluasi metode pengajaran dan menjadi fasilitator dalam mengembangkan karya mahasiswa.

3. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tolak ukur terhadap literasi informasi yang dimiliki mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum USU yang pada akhirnya dapat menghasilkan lulusan dengan sumber daya manusia yang berkualitas, menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan bermanfaat untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Literasi Informasi

Literasi informasi merupakan sebuah konsep yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia terlebih dalam bidang akademisi khususnya mahasiswa. Seorang mahasiswa diharapkan mampu mencari, menemukan, dan menggunakan informasi sesuai dengan kebutuhan setiap individu tersebut.

Literasi informasi merupakan seperangkat kemampuan yang menuntun individu untuk "mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan." Melek informasi juga semakin penting dalam perkembangan dan perubahan teknologi yang cepat dan berkembangnya sumber informasi yang ada. Kompleksitas yang semakin meningkat membuat individu dihadapkan dengan beragam, pilihan informasi berlimpah dalam studi akademis, pekerjaan , dan dalam kehidupan pribadi. Informasi yang tersedia melalui perpustakaan, sumber daya masyarakat, media tercetak dan internet digunakan tanpa seleksi yang memunculkan pertanyaan tentang keaslian, validitas, dan reliabilitas.

Istilah literasi informasi pertama kali diperkenalkan oleh Paul Zurkowski pada tahun 1974. Zurkowski berpendapat bahwa orang yang terlatih untuk menggunakan sumber-sumber informasi dalam menyelesaikan tugas mereka disebut orang yang melek informasi (information literate). American Library Association (ALA) menyatakan bahwa: “untuk menjadi orang yang melek informasi, seseorang harus mampu mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan

dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif”. Literasi informasi dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menemukan dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

ACRL(2000) mendefenisikan literasi informasi sebagai satu set kemampuan yang dimiliki individu untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan.

University of Maryland University College (UMUC) menyatakan bahwa kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi individu yang melek informasi (information literate), meliputi:

1. Menggunakan informasi dan sumber daya perpustakaan baik didalam perpustakaan maupun melalui sarana elektronik secara efektif dan efisien.

2. Memilih sumberdaya terbaik untuk digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan informasi, tidak hanya sumber daya yang paling mudah atau familiar.

3. Menerapkan evaluasi kritis dan sintesis (rangkuman) sumber daya yang dipilih.

4. Mengutip sumber-sumber secara tepat dan akurat.

Menurut Verzosa yang dikutip oleh Apriyanti (2010), literasi informasi dapat berarti kemampuan untuk mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan. Seorang yang memiliki literasi informasi adalah orang yang tahu bagaimana belajar untuk belajar(learning how to learn) karena mereka tahu bagaimana informasi itu dikelola, cara menemukannya, dan menggunakan informasi sesuai dengan etika yang berlaku.

Dalam pertemuan Alexandria Proclamation yang diedit oleh Garner (2006:3) dinyatakan bahwa literasi merupakan dasar bagi manusia di era digital. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa literasi informasi adalah:

1. Kemampuan dasar dalam menentukan kebutuhan informasi, menempatkan, mengevaluasi, membuat dan menerapkan informasi dalam konteks budaya dan sosial.

2. Sebagai kunci pedoman seseorang dalam mengakses informasi secara efektif serta penggunaan dan pembuatan konten dalam mendukung pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pelayanan manusia dan aspek lainnya.

3. Kemampuan dasar dalam mempelajari teknologi informasi. Kemampuan ini merupakan kemampuan yang sangat penting karena dengan memahami teknologi informasi maka akan semakin mudah seseorang memenuhi kebutuhan informasinya.

Dari beberapa pendapat diatas terdapat persamaan bahwa literasi informasi merupakan hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang individu baik dalam dunia akademisi, dunia pekerjaan maupun penelitian. Literasi informasi mencakup kemampuan seorang individu dalam mengenali kebutuhan informasi, mengidentifikasi kebutuhan informasi, mencari informasi yang dibutuhkan, menemukan informasi, mengevaluasi informasi yang telah ditemukan, mengorganisasikan informasi dan menggunakan informasi tersebut secara akurat dan efektif.

2.2 Manfaat Literasi Informasi

Literasi informasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, literasi informasi digunakan dalam dalam menyeleksi informasi sesuai kebutuhan. Dengan semakin berkembangnya berbagai informasi yang ada saat ini maka seseorang harus memiliki literasi informasi. Menurut Gunawan (2008:3) literasi informasi bermanfaat dalam persaingan era globalisasi sehingga pintar saja tidak cukup tetapi yang utama adalah kemampuan dalam belajar secara terus-menerus. Menurut Adam (2009:1) terdapat beberapa manfaat literasi informasi

yaitu:

1. Membantu mengambil keputusan.

Literasi informasi berperan dalam membantu memecahkan persoalan. Kita harus mengambil keputusan ketika memecahkan masalah, sehingga dalam mengambil keputusan tersebut seseorang harus memiliki informasi yang cukup.

2. Menjadi manusia pembelajar di era ekonomi pengetahuan.

Kemampuan literasi informasi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan seseorang menjadi manusia pembelajar. Semakin terampil dalam mencari, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi, semakin terbukalah kesempatan untuk selalu melakukan pembelajaran sehingga dapat belajar secara mandiri.

3. Menciptakan pengetahuan baru.

Suatu Negara dikatakan berhasil apabila mampu menciptakan pengetahuan baru. Seseorang yang memiliki literasi informasi akan mampu memilih informasi mana yang benar dan mana yang salah, sehingga tidak mudah saja percaya dengan informasi yang diperoleh. Literasi informasi juga bermanfaat sebagai sarana untuk memecahkan masalah dengan menggunakan informasi yang akurat, sebagai sebuah keterampilan dalam menyaring informasi, dan sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan baik itu tujuan pribadi, sosial dan pekerjaan.

Dalam bahan ajar yang disusun Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Tenaga Kependidikan (2010:15) Penerapan literasi informasi penting karena:

1. Literasi informasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup pribadi, sosial, pekerjaan dan pendidikan.

2. Literasi informasi merupakan sarana untuk memecahkan masalah dengan memanfaatkan beragam sumber-sumber informasi sebagai hak asasi manusia untuk mejadi pembelajar seumur hidup.

3. Literasi informasi sebagai keterampilan menyaring informasi dalam kehidupan masyarakat berbasis informasi.

Menurut Association of College and Research Library (ACRL) setelah menguasai keterampilan literasi informasi individu akan bisa:

1. Menentukan batas informasi yang diperlukan.

3. Mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya dengan kritis.

4. Memadukan sejumlah informasi yang terpilih menjadi dasar pengetahuan seseorang.

5. Menggunakan informasi dengan efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

6. Mengerti masalah ekonomi, hukum, dan soisal sehubungan dengan penggunaan informasi, serta mengakses dan menggunakan informasi secara etis dan legal (ACRL 2000:1).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa literasi informasi memiliki manfaat yang beragam dalam kehidupan seorang individu dan dengan literasi informasi, seorang individu akan lebih memiliki referensi yang yang dapat membantu individu tersebut dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaannya serta membantu individu dalam proses pengambilan keputusan.

2.3 Tujuan Literasi Informasi

Literasi informasi merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang terutama dalam dunia pendidikan tinggi. Saat ini seseorang dihadapkan dengan berbagai jenis informasi yang berkembang sangat pesat, tetapi belum tentu semua informasi yang ada dan diciptakan tersebut dapat dipercaya dan sesuai dengan kebutuhan para pencari informasi. Literasi informasi akan mempermudah seseorang untuk belajar secara mandiri dimana pun berada dan berinteraksi dengan berbagai informasi.

Dalam dokumen Literasi Informasi Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara (Halaman 33-81)