• Tidak ada hasil yang ditemukan

8. Pemahaman tentang prosedur klinik.

Landasan Teori

Kurangnya komunikasi akan menimbulkan ancaman terhadap keselamatan pasien dan kualitas perawatan. Handover merupakan bentuk komunikasi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien dan memberikan informasi yang relevan antar perawat setiap pergantian shiff. Handover yang dilaksanakan dengan baik dapat meningkatkan keselamatan pasien.

31

Gambar 1. Model pelaksanaan keselamatan pasien melalui proses handover Sumber: Roymond H Simamora (2018)

Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian maka dapat digambarkan kerangka konsep sebagai berikut :

Perawat 7 Standar

Perawat

Pasien

7 Langkah

9 Solusi 6 Sasaran

Budaya Keselamatan Pasien

Upaya Keselamatan Pasien

HANDOVER

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2. Kerangka konsep penelitian

Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah :

Ada hubungan proses handover perawat dengan pelaksanaan sasaran 3. Tahap post handover

Sasaran keselamatan pasien:

1. Ketepatan identifikasi pasien

2. Peningkatan komunikasi yang efektif

3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai 4. Kepastian tepat lokasi,

tepat prosedur, tepat pasien operasi

5. Pengurangan risiko infeksi 6. Pengurangan risiko pasien

jatuh

33

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional, merupakan penelitian dimana pengukuran atau pengamatan dilakukan pada saat bersamaan pada data variabel independen dan dependen (sekali waktu).

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Lokasi penelitian ini dilakukan di ruang rawat bedah dan ruang icu RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan dengan pertimbangan pelayanan di ruang rawat bedah dan icu sangat mungkin terjadi kasus yang berkaitan dengan keselamatan pasien dan ruangan tersebut sangat rentan terjadi kecelakaan.

Waktu penelitian. Penelitian ini dimulai dari bulan Januari 2020 sampai dengan selesai.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian. Populasi adalah seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat bedah dan ruang icu yang berjumlah 37 orang.

Sampel penelitian. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan total sampling, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel (Usman, 2008).

Variabel dan Definisi Operasional

Variabel dependen dan independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pelaksanaan sasaran keselamatan pasien dan variabel independen yaitu proses handover perawat.

Definisi operasional. Defenisi operasional dalam penelitian ini adalah : 1. Sasaran keselamatan pasien adalah target yang dicapai untuk dapat

meningkatkan keselamatan pasien, diukur dari indikator ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi efektif, peningkatan keamanan obat, pengurangan resiko pasien jatuh, pengurangan infeksi dan kepastian lokasi.

a. Ketepatan identifikasi pasien adalah kemampuan perawat untuk menganalisis dan mencocokkan data pasien meliputi nama pasien, nomor rekam medis, tanggal masuk dan tanggal keluar.

b. Peningkatan komunikasi yang efektif adalah usaha perawat dalam pemberian informasi antar profesi untuk pemberian pelayanan kepada pasien dan kepada keluarga.

c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai adalah usaha perawat dalam identifikasi terhadap obat yang berbahaya dan menjelaskan nama dan jenis obat yang akan diberikan kepada pasien.

d. Pengurangan risiko pasien jatuh adalah upaya yang dilakukan perawat untuk pemberian gelang khusus pasien jatuh dan melaporkan jika ada sarana dan prasarana yang rusak.

35

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi yang bisa terjadi di rumah sakit seperti pemakaian jarum suntik sekali pakai.

f. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi adalah upaya yang dilakukan perawat untuk memastikan pemberian tanda letak operasi oleh dokter, tepat lokasi dan tepat pasien operasi .

2. Proses handover adalah prosedur yang harus dilaksanakan oleh seorang perawat dalam upaya peningkatan keselamatan pasien meliputi menyampaikan segala sesuatu yang telah dilaksanakan oleh perawat yang lama kepada perawat yang akan bertugas selanjutnya pada saat serah terima shift kerja.

a. Tahap persiapan adalah perawat mengumpulkan data pasien seperti nama pasien dan keluhan pasien sebelum dan sesudah dilakukan tindakan medis dan dilakukan di setiap pergantian shifft.

b. Tahap pelaksanaan adalah kegiatan perawat melakukan tindakan di nurse station dan di ruangan pasien serta mengkaji seluruh masalah keperawatan dan juga hal hal khusus yang diperlukan pasien.

c. Tahap post handover adalah kegiatan akhir yang dilakukan perawat dan melakukan pencatatan di form pasien dan kegiatan serah terima di tutup oleh kepala ruangan.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara lansung berpedoman kepada kuesioner yang telah disusun terlebih dahulu dengan

jawaban tertutup. Untuk melengkapi wawancara peneliti juga mengumpulkan dokumen-dokumen yang terkait kepada tujuan penelitian untuk memperkuat daripada hasil wawancara.

Metode Pengukuran

Variabel independen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah proses handover dikategorikan menjadi tiga tingkatan dari skala likert, yaitu selalu, sering, dan jarang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1

Aspek Pengukuran Variabel Proses Handover

Variabel Proses Handover Bobot Nilai 1 Variabel = 1 aitem

Untuk mengetahui proses handover responden dinilai berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh dari jawaban kuesioner melalui 14 pertanyaan. Sehingga didapat jumlah nilai maksimal yang dapat diperoleh dari penilaian proses responden ialah sebanyak 14x3 = 42.

Berdasarkan jawaban tersebut, proses handover responden kemudian dikategorikan dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut (Arikunto, 2010) :

1. Proses handover kurang baik, jika jumlah nilai responden 14-23.

2. Proses handover cukup baik, jika jumlah nilai responden 24-33.

3. Proses handover baik , jika jumlah nilai responden 34-42.

37

Variabel dependen. Variabel dependen penelitian ini adalah pelaksanaan sasaran keselamatan pasien, dikategorikan menjadi tiga tingkatan dari skala likert, yaitu selalu, sering, dan jarang , dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2

Aspek Pengukuran Variabel Keselamatan Pasien Variabel Peningkatan

keselamatan pasien

Bobot Nilai 1 Variabel

= 1 aitem

Bobot Nilai 1 Variabel = 6 aitem.

Untuk mengetahui pelaksanaan sasaran keselamatan pasien responden dinilai berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh dari jawaban kuesioner mengenai sasaran keselamatan pasien responden melalui 6 pertanyaan. Sehingga didapat jumlah nilai maksimal yang dapat diperoleh dari penilaian peningkatan keselamatan pasien responden ialah sebanyak 6x3 = 18.

Berdasarkan jawaban tersebut, peningkatan keselamatan pasien responden kemudian dikategorikan dalam tiga kategori, yaitu sebagai berikut (Arikunto, 2010) :

1. Sasaran keselamatan pasien kurang baik, jika jumlah nilai responden 6-10.

2. Sasaran keselamatan pasien cukup baik, jika jumlah nilai responden 11-14 3. Sasaran keselamatan pasien baik, jika jumlah nilai responden 15-18 Metode Analisa Data

Analisa data pada penelitian ini untuk mengukur hubungan proses handover perawat dengan pelaksanaan sasaran keselamatan pasien menggunakan uji korelasi product moment. Teknik analisis ini Sebelum peneliti melakukan uji

korelasi product moment peneliti mendeskripsikan seluruh variabel-variabel penelitian.

39

Hasil Penelitian

Gambaran Umum RSUD Dr. Pirngadi Medan

Rumah Sakit Dr.Pirngadi Medan didirikan tanggal 11 Agustus 1928 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama “GEMENTA ZIEKEN HUIS”.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan No. 30 Tahun 2002 tanggal 6 September 2002 tentang Perubahan Kelembagaan RSU Dr. Pirngadi menjadi Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan, maka RSUD Dr.

Pirngadi Medan melakukan perbaikan di segala bidang seperti restruksi Organisasi, Personil, dan Manajemen dimana sebagai Direktur diangkat Dr. H.

Sjahrial R. Anas, MHA dan diikuti pembenahan Sarana, Prasarana dan Pengadaan Peralatan-peralatan canggih sebagai pendukung pelayanan.

Selanjutnya Bapak Walikota Medan melakukan pembangunan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi dengan 8 (delapan) tingkat dilengkapi dengan peralatan canggih, yang dimana peletakan batu pertama telah dilaksanakan pada 4 Maret 2004 dan mulai dioperasikan tanggal 16 April 2005. Pada tanggal 10 April 2007 Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan resmi menjadi Rumah Sakit Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:

433/Menkes/SK/IV/2007. Adapun Motto RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan adalah Aegroti Salus Lex Suprema yang artinya keselamatan pasen adalah yang utama.

Adapun Visi RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan adalah menjadi Rumah Sakit Pusat Rujukan dan Unggulan di Sumatera Bagian Utara Tahun 2020. Untuk mencapai visi tersebut diupayakan melalui misi :

a. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, profesional, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

b. Meningkatkan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran serta tenaga kesehatan lain.

c. Mengembangkan manajemen RS yang profesional.

RSUD Dr. Pirngadi Medan beralamat di Jl. Prof.H. Yamin No.47. RSUD Dr. Pirngadi Medan adalah Rumah Sakit Negeri kelas B. Rumah Sakit ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah sakit ini juga menampung pelayanan rujukan dari Rumah Sakit Kabupaten. Untuk fasilitas rawat inap, RSUD Dr. Pirngadi menyediakan tempat tidur sebanyak 521 tempat tidur dengan 24 diantaranya adalah tempat tidur kelas VIP. Sedangkan jika dilihat dari segi tenaga kesehatannya, RSUD Dr.Pirngadi Medan memiliki jumlah dokter sebanyak 187 dokter dengan 133 diantaranya adalah dokter spesialis, 38 dokter umum dan 16 dokter gigi.

Sedangkan untuk tenaga dukung lainnya yaitu pegawai khusus kefarmasian berjumlah 18 orang, dan pegawai non kesehatan sebanyak 564 orang.

Dari segi jumlah pasien, Jumlah pasien di tahun 2019 RSUD Dr. Pirngadi Medan sebanyak 8760 pasien.

Karakteristik Responden

Karakteristik responden berdasarkan umur pendidikan, jenis kelamin dan lama kerja dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :

41

Tabel 3

Distribusi Karakteristik Perawat

Karakteristik Jumlah %

Umur

Hasil penelitian pada Tabel 3 diatas menunjukan bahwa 14 orang (37,8%) berada pada umur 20-39 tahun dan sebanyak 23 orang (62,2%) berada pada umur 40-60 tahun. Sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak berumur 40-60 tahun.

Berdasarkan pendidikan responden sebanyak 22 orang (59,5%) berpendidikan D3 dan sebanyak 15 orang (40,5%) berpendidikan S1. Sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak berpendidikan D3.

Berdasarkan jenis kelamin responden wanita sebanyak 33 (89,2) orang dan responden pria sebanyak 4 orang (10,8%). Sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak berjenis kelamin perempuan.

Berdasarkan lama kerja sebanyak 3 orang (8,1%) lama kerja 1-5 tahun dan sebanyak 34 orang (91,9%) lama kerja >5 tahun. Sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak yang bekerja >5 tahun.

Gambaran Umum Proses Handover

Proses handover. Distribusi frekuensi proses handover dapat di liat pada tabel berikut :

Tabel 4

Distribusi Frekuensi Proses Handover Perawat Proses Handover

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan proses handover perawat dengan kategori baik sebanyak 30 orang (81,1%), proses handover dengan kategori cukup baik sebanyak 1 orang (2,7%), dan proses handover kategori kurang baik sebanyak 6 orang (16,2%).

Proses handover perawat dapat diukur dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap post. Berikut penjabaran distribusi frekuensi proses handover berdasarkan indikatornya dapat dilihat sebagai berikut :

Tahap persiapan. Distribusi frekuensi tahap persiapan dapat dilihat

sebagai berikut :

43

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang melakukan tahap persiapan dengan kategori baik sebanyak 26 orang (70,3%), tahap persiapan dengan kategori cukup baik sebanyak 6 orang (16,2%), dan tahap persiapan kategori kurang baik sebanyak 5 orang (13,5%).

Tahap pelaksanaan. Distribusi frekuensi tahap pelaksanaan dapat dilihat

sebagai berikut : Tabel 6

Distribusi Frekuensi Tahap Pelaksanaan

Tahap Persiapan n %

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang melakukan tahap pelaksanaan dengan kategori baik sebanyak 29 orang (78,4%), tahap pelaksanaan dengan kategori cukup baik sebanyak 3 orang (8,1%), dan tahap pelaksanaan kategori kurang baik sebanyak 5 orang (13,5%).

Tahap post. Distribusi frekuensi tahap post dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 7

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang melakukan tahap post dengan kategori baik sebanyak 31 orang (83,8%), tahap post dengan kategori cukup baik sebanyak 1 orang (2,7%), dan tahap post kategori kurang baik sebanyak 5 orang (13,5%).

Gambaran Umum Sasaran Keselamatan Pasien

Sasaran keselamatan pasien. Distribusi frekuensi sasaran keselamatan pasien dapat di liat pada tabel berikut :

Tabel 8

Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Sasaran Keselamatan Pasien Sasaran Keselamatan

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan sasaran keselamatan pasien dengan kategori baik sebanyak 32 orang (86,5%), sasaran keselamatan pasien dengan kategori cukup baik sebanyak 2 orang (5,4%), dan sasaran keselamatan pasien kategori kurang baik sebanyak 3 orang (8,1%).

Sasaran keselamatan pasien dapat diukur dari ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, pengurangan resiko pasien jatuh, pengurangan resiko infeksi, dan kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat operasi.

45

Ketepatan identifikasi pasien. Distribusi frekuensi ketepatan identifikasi

pasien sebagai berikut : Tabel 9

Distribusi Frekuensi Identifikasi Pasien Ketepatan Identifikasi

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan ketepatan identifikasi pasien dengan kategori baik sebanyak 32 orang (86,5%), ketepatan identifikasi pasien kategori cukup baik sebanyak 5 orang (13,5%).

Peningkatan komunikasi yang efektif. Distribusi peningkatan komunikasi

yang efektif sebagai berikut : Tabel 10

Distribusi Frekuensi Peningkatan Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang Efektif n %

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan Komunikasi yang efektif dengan kategori baik sebanyak 22 orang (59,5%), komunikasi yang efektif dengan kategori cukup baik sebanyak 11 orang (29,7%), dan komunikasi yang efektif kategori kurang baik sebanyak 4 orang (10,8%).

Peningkatan keamanan obat yang diwaspadai. Distribusi Frekuensi

peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai sebagai berikut : Tabel 11

Distribusi Frekuensi Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu di Waspadai Peningkatan Keamanan Obat

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan peningkatan keamanan obat dengan kategori baik sebanyak 22 orang (59,5%), peningkatan keamanan obat dengan kategori cukup baik sebanyak 12 orang (32,4%), dan peningkatan keamanan obat kategori kurang baik sebanyak 3 orang (8,1%).

Resiko pasien jatuh. Distribusi Frekuensi resiko pasien jatuh sebagai

berikut :

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan resiko pasien jatuh dengan kategori baik sebanyak 23 orang (62,2%), resiko pasien jatuh dengan kategori cukup baik sebanyak 11 orang (29,7%), dan resiko pasien jatuh kategori kurang baik sebanyak 3 orang (8,1%).

47

Pengurangan resiko infeksi. Distribusi frekuensi resiko infeksi sebagai

berikut : Tabel 13

Distribusi Frekuensi Pengurangan Resiko Infeksi Pengurangan Resiko

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan pengurangan resiko infeksi dengan kategori baik sebanyak 31 orang (83,8%), pengurangan resiko infeksi dengan kategori cukup baik sebanyak 2 orang (5,4%), dan pengurangan resiko infeksi kategori kurang baik sebanyak 4 orang (10,8%).

Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat operasi. Distribusi

Ffrekuensi kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat operasi sebagai berikut : Tabel 14

Distribusi Frekuensi Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Operasi Tepat Lokasi, Tepat Prosedur,

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa proporsi responden yang menjalankan tepat lokasi, tepat prosedur, tepat operasi dengan kategori baik sebanyak 33 orang (89,2%), tepat lokasi, tepat prosedur, tepat lokasi dengan

kategori cukup baik sebanyak 1 orang (2,7%), dan tepat lokasi, tepat prosedur, tepat operasi kategori kurang baik sebanyak 3 orang (8,1%).

Hubungan proses handover dengan sasaran keselamatan pasien.

Selanjutnya dilakukan pengujian korelasi pearson untuk mengetahui hubungan signifikan antara proses handover dengan sasaran keselamatan pasien. Hasil pengujian dapat diliat sebagai berikut :

Tabel 15

Hubungan Proses Handover dengan Pelaksanaan Sasaran Keselamatan Pasien Variabel Correlation Coefficient (r) Sig.

Proses handover 0,793 0,001

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa p value (0,001) < 0,005 menunjukan secara signifikan adanya hubungan variabel proses handover dengan pelaksanaan sasaran keselamatan pasien. Hubungan proses handover dengan pelaksanaan sasaran keselamatan pasien menunjukan adanya korelasi positif yang signifikan (r=0,793) yang artinya semakin baik dalam melakukan handover semakin baik juga dalam pelaksanaan sasaran keselamatan pasien.

49 Pembahasan

Hubungan Proses Handover Perawat dengan Pelaksanaan Sasaran Keselamatan Pasien di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2020

Hubungan proses handover dengan pelaksanaan sasaran keselamatan pasien dalam penelitian ini memiliki hubungan positif dimana korelasi pearson product moment sebesar 0,793 dengan nilai signifikan 0,001 yang berarti jika proses handover baik maka pelaksanaan sasaran keselamatan pasien baik dan sebaliknya jika hubungan proses handover kurang baik maka pelaksanaan sasaran keselamatan pasien semakin tidak baik.

Bahwa hubungan antar proses handover dengan pelaksanaan sasaran keselamatan pasien berhubungan dikarnakan jika seorang perawat tidak melakukan proses handover dengan baik maka perawat tersebut tidak mengetahui bagaimana kondisi pasien. Saat perawat tidak mengetahui kondisi pasien dapat terjadi kerugian pada pasien. Seperti perawat tidak mengkomunikasikan tentang buka dan tutup pagar tempat tidur pasien dapat beresiko pasien jatuh.

Di RSUD Dr. Pirngadi sendiri, mengalami kenaikan kecelakaan pasien dari tahun 2018 ke 2019. Untuk KTD sendiri 25 insiden yaitu pasien jatuh dari tempat tidur sebanyak 25 pasien dikarnakan kurangnya komunikasi antar perawat sehingga menyebabkan kenaikan kecelakaan pasien.

Bahwa saat melakukan handover perawat hanya membaca buku rawatan saja untuk melihat kondisi pasien . seharusnya pada saat melakukan handover sesuai dengan sop yang sudah di terapkan oleh rumah sakit. Bahwa saat

melakukan handover perlu dilakukan tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap post handover .

Pada saat tahap persiapan seluruh perawat yang bertugas dalam shiff tersebut hadir tepat waktu dan sudah mempersiapkan buku yang diperlukan serta melihat hasil masing-masin pasien. Kepala ruangan memimpin setiap pergantian shiff.

Pada saat tahap pelaksanaan handover, perawat melakukan komunikasi dan melakukan penjelasan tentang kondisi pasien di nurse station dan melakukan pengecekan kondisi pasien di sisi tempat tidur pasien yang dipimpin oleh kepala ruangan.

Pada saat tahap post handover perawat mencatat seluruh kondisi pasien yang belum dilakukan, sudah dilakukan dan akan dilakukan selanjutnya oleh perawat yang bertugas

Hasil kategori data proses handover tentang pelaksanaan sasaran keselamatan pasien pada perawat RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan diketahui 6 perawat melakukan proses handover yang kurang baik, terdapat 1 perawat yang melakukan proses handover yang cukup baik dan 30 perawat yang melakukan proses handover baik. Hasil wawancara yang dilakukan kepada perawat mengenai pelaksanaan sasaran keselamatan pasien menyatakan bahwa menanyakan identitas pasien dapat meningkatkan sasaran keselamatan pasien dan komunikasi dalam pemberian pelayanan juga sangat penting sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam melakukan tindakan.

51

Dalam penelitian lain juga oleh Nyoman (2015), terdapat hubungan antara handover dengan keselamatan pasien di ruang ratna RSUP Sanglah Denpasar (p=0,000). Hasil penelitian lain yang juga tentang handover sebagai peningkatan keselamatan pasien oleh Cecep (2016) yang menunjukan ada hubungan yang signifikan antara variabel handover dengan keselamatan pasien dengan hasil penelitian (p=0,004). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang berjudul

“Handover sebagai upaya peningkatan keselamatan pasien (patient safety) di Rumah Sakit bahwa terdapat hubungan antara handover atau timbang terima dengan patient safety (keselamatan pasien) dengan hasil responden menyatakan timbang terima baik dan keselamatan pasien baik dengan nilai ρ value 0,004.

Adanya hubungan antara proses handover pasien dengan keselamatan pasien oleh perawat pelaksana di RSU GMIM Kalooran Amurang dengan p value

= 0,000 (< 0,05). Perawat yang tidak melakukan handover secara komprehensif dapat dikatakan bahwa perawat tersebut tidak menerapkan keselamatan pasien secara penuh di setiap kerjanya, karena handover termasuk pada sasaran keselamatan pasien, semua konponen yang tercantum pada peraturan mengenai keselamatan pasien harus diperhatikan oleh perawat, supaya tidak terjadi hal yang membut pasien dirugikan terkait dengan keselamatannya, perawat yang tidak melakukan handover secara komprehensif dapat mempengaruhi keselamatan pasien.

Maryam (2009) dalam penelitiannya menunjukkan adanya hubungan komunikasi saat operan pasien dengan kepuasan pasien.Maryam (2009) berasumsi banyak kesalahan terjadi akibat dari miskinnya komunikasi lisan atau tertulis.

Meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi antar anggota yang lebih baik dari tim kesehatan dan pasien adalah sangat penting guna mencegah terjadinya kesalahan. Penelitian yang dilakukan oleh Husna (2010) juga menunjukkan adanya hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien dalam pelayanan keperawatan di RS Siti Khodijah Sepanjang p value = 0,007 (α<0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi antara tim kesehatan khususnya perawat dengan pasien sangat berpengaruh pada pelaksanaan timbang terima pasien.

Keselamatan pasien adalah suatu prosedur atau proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. Dalam pelayanan terutama keselamatan pasien ada beberapa standar yang perlu diimplementasikan , salah satu standar tersebut adalah handover (serah terima). Kerangka komunikasi SBAR digunakan pada saat perawat melakukan handover, pindah ruang perawatan maupun dalam melaporkan kondisi pasien kepada dokter (Tim KP-RS RSUP Sanglah ,2011).

Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien sangat penting untuk mendorong pelaksanaan program keselamatan pasien. Perawat harus mengetahui pengertian keselamatan pasien, unsur-unsur didalam keselamatan pasien, tujuan keselamatan pasien, upaya keselamatan pasien serta perlindungan diri selama kerja. Program keselamatan pasien merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Di dalam sistem tersebut meliputi penilaian resiko seperti resiko jatuh atau infeksi selang, identifikasi dan pengolahan hal yang berhubungan dengan resiko pasien , pelaporan dan analisis insiden atau

53

kejadian tidak diharapkan, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko (Depkes RI, 2008).

Penelitian yang dilakukan oleh Husna (2010) juga menunjukkan adanya hubungan komunikasi perawat dengan kepuasan pasien dalam pelayanan keperawatan di RS Siti Khadijah dengan p value = 0,007 ( < 0,05 ), jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi antara tim kesehatan khususnya perawat dengan pasien sangat berpengaruh pada pelaksanaan timbang terima pasien.

Saat handover hal yang sangat diperlukan adalah komunikasi. Komunikasi terbuka harus diterapkan baik oleh perawat pelaksana, karena perawat berperan dalam meningkatkan komunikasi dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya, komunikasi mempunyai arti penting dalam keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan (Depkes, 2006).

Handover merupakan hal yang sangat penting pada perawat dimana perawat dapat mengetahui kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan kepada pasien. Misalnya seorang perawat tidak melakukan handover dengan baik akan

Handover merupakan hal yang sangat penting pada perawat dimana perawat dapat mengetahui kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan kepada pasien. Misalnya seorang perawat tidak melakukan handover dengan baik akan

Dokumen terkait