SIKLUS II (1) Perencanaan Penelitian
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Persiklus
1. Deskripsi Studi Awal
4.1 Kemampuan Motorik Kasar Pada Studi Awal
No Kemampuan Motorik Kasar F %
1. () Belum Berkembang 19 73
2. () Masih Berkembang 4 15
3. () Berkembang Sesuai Harapan 2 8
4. () Berkembang Sangat Baik 1 4
Jumlah 26 100
Sehingga, terlihat pada tabel diatas bahwa dari 26 anak, yang belum berkembang dalam kemampuan motorik kasar, sebanyak 19 anak atau 73%, yang masih berkembang sebanyak 4 anak atau 15%. Berkembang sesuai harapan sebanyak 2 anak atau 8 %, dan yang berkembang sangat baik hanya 1 anak atau 4% saja.
2. Siklus I
Setelah peneliti mendapatkan data studi awal di atas, sehingga kemampuan motorik kasar pada anak kelompok B TK Chuzaemah Pagojengan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes perlu dikembangkan, sehingga peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak dengan melaksanakan penelitian siklus I.
a. Perencanaan
Sebelum peneliti melaksanakan penelitian pada siklus yang pertama, dilaksanakan pada tanggal 15, 16, dan 19 Mei 2012, peneliti melakukan persiapan terlebih dahulu pada kegiatan bermain engklek diantaranya sebagai berikut:
a.) Peneliti menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH).
b.) Peneliti menyusun langkah-langkah perbaikan yang akan dilaksanakan. c.) Peneliti menyiapkan lembar observasi.
d.) Peneliti menyiapkan alat serta tempat yang akan dipergunakan untuk melakukan kegiatan.
b. Persiapan
Sebelum melaksanakan pembelajaran pada siklus I, peneliti mempersiapkan media yang akan digunakan untuk bermain engklek, mencari pecahan genting untuk kojo atau patah, yang akan digunakan oleh peserta didik, berdiskusi dengan guru kelas untuk memilih tempat yang akan digunakan bermain, dan mempersiapkan denah untuk bermain.
c. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan Tindakan Kelas ini akan melaksanakan kegiatan dengan bermain engklek yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar.
Pada pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2012. Pada perencanaan kegiatan harian yang pertama mengajak siswa untuk berdo‟a sebelum memulai kegiatan, setelah itu mengajak anak untuk keluar kelas dengan tertib ke tempat yang sudah dipersiapkan. Guru menjelaskan bentuk-bentuk gambar geometri yang ada pada denah beserta tata cara bermain selama kegiatan berlangsung dalam permainan engklek. menyuruh Anak berbaris dengan rapi lalu membagi anak, yang setiap regunya dua orang pemain dengan cara suit. Semua anak di suruh memegang kojo, dan siapa yang menang dalam undian suit berhak untuk bermain terlebih dahulu.
Pada pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2012, Pada perencanaan kegiatan harian yang pertama mengajak siswa untuk berdo‟a sebelum memulai kegiatan, Mengajak anak menyanyi lagu keseharian misalnya nyanyian yang berjudul gempa. Guru memberikan apersepsi dengan tanya jawab macam-macam permainan yang ada dilingkungan. Guru menyiapkan media untuk kegiatan bermain engklek dengan membuat denah, kemudian guru memberikan contoh bermain engklek dengan benar beserta tata cara yang harus dipatuhi selama permainan dimulai, Setelah itu guru memulai
permainan dan memberikan kesempatan bagi anak yang menang dalam undian suit untuk bermain.
Pada pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2012. Pada perencanaan kegiatan harian yang pertama mengajak siswa untuk berdo‟a sebelum memulai kegiatan, setelah itu menyuruh salah satu anak untuk bercerita tentang liburan, sedangkan anak yang lain mendengarkan dan menanggapi apa yang diceritakan temannya. Guru mengingatkan kembali kegiatan pembelajaran melalui bermain engklek. Guru mencontohkan kembali pembelajaran tersebut, lalu guru mempersilahkan anak yang dapat undian untuk melakuakan kegiatan bermain engklek.
Pada pelaksanaannya guru mengamati setiap anak dan jika ada anak didik yang belum bisa, guru membimbing anak tersebut supaya bermain engklek dengan baik dan benar.
d. Observasi
Berdasarkan hasil observasi anak didik kelompok B TK Chuzaemah Pagojengan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, pada siklus I, Guru menjelaskan kepada anak didik cara bermain engklek pada saat kegiatan pembelajaran. Anak sangat senang serta antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Guru melakukan pengamatan dengan membuat catatan dan mengevaluasi hasil kemampuan anak. Hal ini terlihat pada anak yang mengalami peningkatan dengan ditandai dalam kegiatan tanpa dibantu guru.
pada tahapan ini guru juga melihat anak didik di kelompok B TK Chuzaemah tampak antusias terhadap permainan engklek, hal tersebut karena anak tidak pernah memainkan permainan engklek. Dari setiap pertemuan keberhasilan anak mengalami peningkatan walaupun pada awalnya anak mengalami kesulitan ketika melakukan bermain engklek, namun pada pertemuan berikutnya anak sudah mulai lebih baik dalam bermain engklek. Pengamatan juga dilakukan menggunakan lembar observasi keterlibatan anak dalam kegiatan bermain. Dimana pada siklus I masih banyak anak yang belum aktif dalam kegiatan, tetapi keterlibatan anak sudah cukup baik.
1. RKH ke- I Pertemuan I
Pada kegiatan awal guru mengkondisikan anak dengan mengajak anak
untuk berdo‟a sebelum melakukan kegiatan. Guru mengajak anak benyanyi
anak katak dengan gerakan.
Pada kegiatan Inti guru memperkenalkan bentuk-bentuk denah dan
cara bermain engklek. Guru menanyakan „apakah anak-anak pernah
bermain engklek di rumah?”. Setelah menanyakan pertanyaan itu ke anak
-anak lalu guru menjelaskan cara bermain engklek dengan mencontohkan bermain engklek serta guru menjelaskan tata cara dalam mengikuti bermain engklek. Apabila ketika anak menginjak garis denah dan maupun saat anak melempar kojo tidak sesuai dalam denah maupun di luar denah tandanya anak tersebut tidak dapat meneruskan permainan dan diganti yang lainnya
secara bergiliran. Dalam kegiatan inti, anak disuruh untuk bermain engklek, secara kelompok dengan masing-masing anak dua pemain.
Pada kegiatan akhir, guru mengajak anak bernyanyi disana senang di sini senang, setelah itu guru menanyakan perasaan anak setelah melakukan bermain engklek. Guru kemudian melakukan evaluasi terhadap kegiatan anak, dan anak yang mampu menyelesaikan pembelajaran dengan baik mendapatkan reward dari guru.
2. RKH ke- II Pertemuan II
Pada kegiatan awal guru mengkondisikan anak dengan membaca do‟a sebelum melakukan kegiatan, lalu mengajak anak untuk tepuk badut.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan dan memberi contoh bermain engklek seperti pada pertemuan sebelumnya, yakni bermain engklek.
Pada kegiatan akhir, guru menanyakan perasaan anak didik setelah melaksanakan kegiatan bermain engklek. Guru mengevaluasi anak yang sudah mampu melakukan kegiatan bermain engklek dengan benar mendapkan reward berupa pujian.
3. RKH ke- III Pertemuan III
Pada kegiatan awal, guru mengkondisikan anak dengan berdo‟a sebelum melakukan kegiatan. Guru mengajak anak bernyanyi huuf fokal a, i, u, e, o. Pada kegiatan inti, guru menjelaskan cara bermain engklek serta memberi contoh seperti kegiatan sebelumnya.
Pada kegiatan akhir, guru melakukan tanya jawab dengan anak didik tentang kegiatan yang telah dipelajari, yaitu pada denah engklek memiliki bentuk apa saja. Guru melakukan evaluasi dimana pada kegiatan ini guru menilai anak yang anak yang dapat melakukan sesuai petunjuk guru akan mendapatkan reward berupa bintang.
e. Refleksi
Berdasarkan pertemuan pertama ternyata masih banyak anak yang mengalami kesulitan didalam bermain engklek, masih banyak anak yang belum mencapai indikator yang diharapkan. Kesulitan itu terjadi pada saat anak engklek masih menginjak garis denah, ada juga anak yang mengalami kesulitan ketika melempar kojo tidak sesuai dengan sasaran. Ketika membalik badan juga kaki masih menginjak garis denah. Walaupun guru sudah memberikan motivasi dan bimbingan dalam bermain engklek namun anak masih cenderung minta bantuan di pegangi saat engklek.
Pada pertemuan kedua sudah ada peningkatan, walaupun sedikit, namun guru akan berusaha untuk lebih maksimal lagi dalam pertemuan berikutnya. Ternyata pada pertemuan ketiga masih ada anak yang belum bisa melakukan gerakan. Saat melempar kojo masih belum sesuai dengan sasaran, sehingga kojo keluar dari denah dan terkadang juga mengenai garis denah. Pada saat menghentikan dan membalik gerakan di akhir maupun di tengah denah masih ada anak yang masih menginjak garis.
Hasil yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian berlangsung dari pertemuan satu sampai tiga pada siklus I. Dari 26 anak yang belum berkembang dalam kemampuan motorik kasar, sebanyak 9 anak atau 35%, yang masih berkembang sebanyak 12 anak atau 46%. Berkembang sesuai harapan sebanyak 5 anak atau 19 %. Hal tersebut belum mencapai indikator yang diharapkan dan belum sesuai dengan acuan pada kriteria keberhasilan, sehingga perlu mengadakan perbaikan dan melanjutkan pembelajaran di siklus II.
Hal tersebut, dapat dilihat pada data tabel kemampuan motorik kasar anak kelompok B TK Chuzaemah Pagojengan pada Siklus I sebagai berikut: