• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

5. Kemandirian dan pertumbuhan

Kemandirian dan pertumbuhan yaitu melakukan penilaian kinerja keuangan, maka akan diketahui kemampuan penggunaan modal untuk menghasilkan keuntungan (SHU), yang disebut dengan rasiokemandirian dan pertumbuhan dan dalam perusahaan istilahnya rentabilitas atau profitabilitas(Anwari & Ramadhani, 2017).

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI No. 20/Per/M.KUKM/XI/2008, dijelaskan bahwa: “kemandirian dan pertumbuhan koperasi merujuk pada bagaimana kemampuan koperasi dalam melayani masyarakat secara mandiri dan seberapa besar pertumbuhan koperasi di tahun yang bersangkutan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya”.(Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI No. 20/Per/M.KUKM/XI/2008, 2008)

Hadits Rasulullah SAW berikut ini menjelaskan nilai tambah bagi mereka yang menjaga harga dirinya dari ketergantungan kepada orang lain. Hadist yang diriwayatkan Dari Abu Ubaid, hamba Sayyidina Abdurrahman bin Auf. Ia mendengar dari Sayyidina Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, pikulan seikat kayu bakar di atas punggung salah seorang kamu (lantas dijual) lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, entah itu diberi atau tidak

diberi,” HR Bukhari. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan ibadah sholat, ibadah puasa, ibadah sedekah, dan ibadah yang lainnya, kecuali dengan lelah, letih, susah, dan payahnya seorang hamba didalam mencari rizki yang halal bagi kehidupannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain. Maka riwayat-riwayat diatas dapat dijadikan sandaran bagi kaum muslimin untuk selalu menjadi pribadi yang mandiri didalam menjalankan usahanya(Ashari, 2019).

Pengertian profitabilitas yaitu “Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu. Ada tiga rasio yang sering dibicarakan yaitu profit margin, return on asset (ROA), dan return on equity (ROE)(Ashari, 2019).” Kasmir mengatakan bahwa: “Rasio Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan dari laba yang dihasilkan dari penjualan atau dari pendapatan investasi.”(Kasmir, 2015)

Oleh karena itu Aspek Kemandirian dan Pertumbuhan koperasi didapat melalui perhitungan ROA dan ROE yang sama untuk mencari rasio profitabilitas, maka Kemandirian dan Pertumbuhan Koperasi dapat dikatan juga sebagai Aspek Profitabilitas.(Ashari, 2019)

Dalam aspek kemandirian dan pertumbuhan, melihat kemampuan Koperasi Konsumen Syariah Arrahmah Banjarmasin dalam menghasilkan SHU baik untuk mendanai kemandirian pengembangan lembaga, deviden anggota maupun kaitan dengan beban usaha atau beban operasional. Masing – masing perhitungan sebagai berikut :

a. Rentabilitas Aset

1) Rasio Rentabilitas Aset Penilaian rasio rentabilitas asset dimaksudkan untuk mengukur kemampuan KSPPS/USPPS Koperasi dalam memperoleh SHU dengan memanfaatkan total

aset yang dimilikinya. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara SHU sebelum pajak dengan total aset. Dalam hal ini, SHU sebelum pajak adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya belum termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

2) Bermaksud untuk mengetahui kemandirian dan pertumbuhan lembaga, membandingkan total SHU, kotor berbanding total kewajiban lancar.

3) Rentabilitas adalah kemampuan koperasi simpan pinjam untuk memperoleh sisa hasil usaha.

4) Rentabilitas asset adalah SHU sebelum pajak dibandingkan dengan total asset. Yang perhitungannya ditetapkan sebagai berikut :

a) Untuk rasio rentabilitas asset lebih kecil dari 5% diberi nilai 25, untuk setiap kenaikan rasio 2,5% nilai ditambah 25 sampai dengan maksimum 100, dan

b) Nilai dikalikan dengan bobot 3% diperoleh skor penilaian. Adapun skor dan criteria tersedia dalam tabel 2.1

Tabel 2. 1 Skor Penilaian Rasio Rentabilitas Aset

Rasio Rentabilitas

Asset (%) Nilai Kredit Bobot (%) Skor Kriteria

<5 25 3 0,75 Rendah

5 – 7,4 50 3 1,50 Kurang

7,5 – 10 75 3 2,25 Cukup

>10 100 3 3,00 Tinggi

Sumber : dari Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 07/Per/Dep.6/IV/2016

𝑺𝑯𝑼 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝑷𝒂𝒋𝒂𝒌

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕 𝑿𝟏𝟎𝟎% (1)

Ideal : ≥ 10% , Nilai Kredit : 100, Bobot : 3, dan Skor : 3,00 b. Rasio rentabilitas ekuitas

1) Rasio Rentabilitas Modal Sendiri Penilaian rasio rentabilitas modal sendiri dimaksudkan untuk megukur kemampuan KSPPS/USPPS Koperasi dalam memberikan balas jasa kepada anggota yang telah berkontribusi dalam menanamkan modalnya berupa simpanan-simpanan. Pengukuran tersebur dilakukan dengan cara membandingkan antara SHU bagian anggota dengan total modal sendiri. Dalam hal ini, SHU bagian anggota adalah SHU yang diperoleh anggota atas partisipasi dalam pemanfaatan pelayanan KSPPS/USPPS Koperasi. Sedangkan, total modal sendiri adalah jumlah simpanan pokok jumlah simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan lain yang memiliki karakteristik sama dengan simpanan wajib, hibah, cadangan yang disisihkan dari Sisa Hasil Usaha (SHU) dan dapat ditambah dengan maksimal 50% modal penyertaan.

2) Maksudnya melihat kemampuan lembaga dalam menyediakan SHU bagi anggota dibandingkan dengan modal sendiri dikali 100%. Apabila dalam tahun berjalan belum disisihkan untuk deviden anggota, maka peruntukan deviden untuk anggota sebesar 50% dari SHU kotor.

3) Rasio rentabilitas modal sendiri adalah SHU bagian anggota dibandingkan total modal sendiri, yang perhitungannya ditetapkan sebagai berikut :

a) Untuk rasio rentabilitas modal sendiri lebih kecil dari 3% diberi nilai 25, untuk setiap kenaikan rasio 1% nilai ditambah 25 sampai dengan maksimum 100; dan

b) Nilai dikalikan dengan bobot 3% diperoleh skor penilaian. Adapun skor dan criteria tersedia dalam tabel 2.2

Tabel 2. 2 Skor Penilaian Rasio Rentabilitas Ekuitas

Rasio Rentabilitas

Ekuitas (%) Nilai Kredit Bobot (%) Skor Kriteria

<5 25 3 0,75 Rendah

5 – 7,4 50 3 1,50 Kurang

7,5 – 10 75 3 2,25 Cukup

>10 100 3 3,00 Tinggi

Sumber : dari Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 07/Per/Dep.6/IV/2016

Rumus yang digunakan : 𝑺𝑯𝑼 𝑩𝒂𝒈𝒊 𝒂𝒏𝒈𝒈𝒐𝒕𝒂

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍 𝑺𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊𝑿𝟏𝟎𝟎% (2)

Ideal : ≥ 5% , Nilai Kredit : 100, Bobot : 3, dan Skor : 3,00 c. Kemandirian Operasional Pelayanan

1) Rasio Kemandirian Operasional Pelayanan Penilaian rasio kemandirian operasional pelayanan dimaksudkan untuk mengukur kemampuan KSPPS/USPPS Koperasi dalam membiayai beban usaha dan beban perkoperasian. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara partsipasi netto dengan beban usaha ditambah beban perkoperasian. Dalam hal ini, partisipasi netto adalah partisipasi bruto dikurangi beban pokok. Beban pokok adalah biaya yang dikeluarkan terkait secara langsung dalam rangka menjual produk koperasi kepada anggota yaitu misalnya honor karyawan, pengurus dan pengawas; alat tulis kantor dan tunjangan uang makan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa beban usaha adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan bagi koperasi dan beban perkoperasian adalah beban yang dikeliarkan koperasi terakait dengan gerakan perkoperasian dan tidak berhubungan dengan kegiatan usahanya.

2) Maksudnya adalah rasio kemandirian operasional (Partisipasi Netto) dibandingkan beban usaha ditambah beban operasional. 3) Rasio kemandirian operasional adalah partisiasi netto

dibandingkan beban usaha ditambah beban operasional. 4) Partisipasi Netto (PN) = Partisipasi Bruto – Beban Pokok (BP) 5) Partisipasi Bruto (PB) terdiri atas : pendapatan bunga pinjaman,

pendapatan jasa administrasi pinjaman, uang pangkal, denda pinjaman, dan provisi pinjaman.

6) Beban Pokok/Usaha (BP) = Jasa simpanan seperti beban bunga simpanan, beban bunga pinjaman ke Puskopdit jaringan dan beban administrasi/provisi pinjaman.

7) Rasio kemandirian adalah Partisipasi Netto dibandingkan Beban Usaha ditambah beban perkoperasian, yang perhitungannya ditetapkan sebagai berikut :

a) Untuk rasio kemandirian operasional lebih kecil atau sama dengan 100% diberi nilai 0, dan untuk rasio lebih besar dari 100%; dan

b) Nilai dikalikan dengan bobot 4% diperoleh skor penilaian. Adapun skor dan criteria tersedia dalam tabel 2.3

Tabel 2.3 Skor Penilaian Rasio Rentabilitas

Rasio Kemandirian Operasional (%)

Nilai Kredit Bobot (%) Skor Kriteria

<100 25 4 1 Rendah

100 – 125 50 4 2 Kurang

126 – 150 75 4 3 Cukup

>150 100 4 4 Tinggi

Sumber: dari Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 07/Per/Dep.6/IV/2016

𝑷𝒂𝒓𝒕𝒊𝒔𝒊𝒑𝒂𝒔𝒊 𝑵𝒆𝒕𝒕𝒐 (𝑷𝑵)

𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑼𝒔𝒂𝒉𝒂+𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒓𝒌𝒐𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏x 100% (3)

Ideal :>100% , Nilai Kredit : 100, Bobot : 4, dan Skor : 4,00

Untuk mempercepat kemandirian dan pertumbuhan, koperasi harus diberikan kesempatan lebih luas dalam mengembangkan lingkup usaha bisnisnya. Sebenarnya banyak sekalai usaha bisnis yang dapat dikelola oleh koperasi. Namun untuk menjalankan usaha tersebut, koperasi perlu meningkatkan profesionalisme melalui upaya perbaikan sistem dan pengembangan sumberdaya manusia (SDM). Salah satu upaya dalam memperbaiki sistem kerja koperasi adalah kegiatan operasionalnya. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa komponendari aspek kemandirian dan pertumbuhan yang digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan, yaitu rentabilitas asset, rentabilitas ekuitas, dan kemandirian operasional pelayanan.(Bernadeth, 2018)

Dokumen terkait