BAB III KONDISI INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
3.5 Dimensi Pendukung IPM
3.5.3 Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah yang selalu dihadapi manusia disetiap daerah provinsi serta kabupaten, Masalah kemiskinan ini juga sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahanya dapat melibatkan berbagai segi kehidupan manusia.
Dengan arti lain kemiskian ini merupakan masalah sosial yang sifatnya mendunia, dimana sudah menjadi perhatian dunia di semua negara walaupun dampak kemiskinan di setiap negara berbeda-beda.
Selain itu, kemiskinan dapat dilihat sebagai masalah multidimensi
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 142 karena berkaitan dengan ketidak mampuan akses ekonomi, sosial, budaya, politik dan partisipasi dalam masyarakat.
Bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar yaitu 270,2 juta jiwa dan dinaugrahi sumber daya alam yang sangat melimpah. Sedangkan dalam data bank dunia adalah hampir setengah dari penduduk di Indonesia rentan terhadap kemiskinan.
Dengan kondisi hampir 42% rumah tangga hidup diantara garis kemiskinan terlalu banyak rakyat indonesia yang sangat rentan jatuh ke kemiskinan.
Pembangunan manusia dapat diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang merupakan suatu indeks komposit untuk mengukur pencapaian kualitas pembangunan manusia. Todaro (2006) menyatakan bahwa IPM menggambarkan indeks pengembangan manusia yang dilihat dari sisi perluasan, pemerataan, dan keadilan baik dalam bidang kesehatan, pendidikan, maupun kesejahteraan masyarakat.
Rendahnya IPM akan mengakibatkan pada rendahnya produktivitas kerja dari penduduk. Produktivitas yang rendah mengakibatkan rendahnya perolehan pendapatan, sehingga menyebabkan tingginya jumlah penduduk miskin. Dalam hal ini, pembangunan manusia diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang merupakan suatu indeks komposit untuk mengukur pencapaian kualitas pembangunan manusia.
Kegagalan mengatasi persoalan kemiskinan akan dapat menyebabkan munculnya berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik di tengah-tengah masyarakat. Upaya serius pemerintah untuk mengatasi kemiskinan sudah dilakukan sejak era Orde Baru.
Hasilnya, selama periode 1976-1996 (Repelita II - V), tingkat kemiskinan di Indonesia menurun secara drastic dari 40% di awal Repelita II menjadi 11% pada awal Repelita V (Mubyarto,2003).
Catatan gemilang tersebut tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 143 bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai program pembangunan ekonomi. Selama tiga dekade pembangunan tersebut, ekonomi Indonesia rata-rata tumbuh di atas 7 persen tiap tahunnya.
Keberhasilan Indonesia dalam melakukan pembangunan ekonomi dan mengurangi angka kemiskinan ini kemudian mendapat banyak pujian dari masyarakat dunia. Laporan World Bank (1993) yang bertajuk: "The East Asian Miracle", misalnya, menempatkan Indonesia menjadi salah satu macan Asia dalam daftar "The High Performing Asian Economies (HPAEs)" sejajar dengan Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Sayangnya, tidak lama setelah World Bank mempublikasikan laporannya, krisis ekonomi kemudian melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Krisis ini pada awalnya hanya merupakan persoalan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat atau krisis moneter (krismon) saja karena dipicu oleh kejatuhan mata uang Thailand, Bath.
Tanpa diduga, krismon yang sulit dikendalikan oleh pemerintah kemudian memicu munculnyu l.irii politik yang ditandai dengan kejatuhan regim Orde Baru. Seperti bola salju, krisis ini kemudian membesar dan menjadi pencetus muncuhtyu krisis-krisis yang lain.
Pendek kata, krismon kemudian berubah menjadi krisis total (kristal) yang mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Hantaman badai krisis tersebut kemudian menyebabkan Indonesia benar-benar jatuh dalam titik nadir; dari negara yang memiliki prestasi pembangunan yang penuh keajaiban menjadi negara yang membutuhkan keajaiban untuk dapat keluar dari krisis. Jika negara-negara Asia Tenggara lainnya, misalnya, Malaysia, Thailand, dan Singapura, telah berhasil memulihkan momentum pembangunan ekonomi mereka seperti kondisi sebelum krisis, sampai saat ini, Indonesia masih belum mampu keluar dari belitan krisis. Sebagai akibatnya, berbagai program anti kemiskinan yang selama ini diprakarsai oleh pemerintahan Orde Baru menjadi tidak terurus
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 144 dengan baik. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi yang demikian adalah meroketnya kembali angka kemiskinan di Indonesia. Sebagai ilustrasi, jika pada tahun 1996 (sebelum krisis) jumlah penduduk miskin di Indonesia dapat ditekan, setelah krisis melanda, angka tersebut menggelembung kembali menjadi 24% atau sekitar 39,4 juta orang.
Tabel 3.36
Jumlah Penduduk Miskin Menurut Kab/Kota
Sumber : www.bps.go.id
Gambar 3.36
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kalimantan Barat 400.40.00 376.12.00 371.22.00 380.71 381.90 383.70 381.35.00 387.43.00 387.08.00 378.41.00 366.77 Sambas 50 46.98 45.31.00 51.20.00 49.30.00 49.29.00 44.88 45.42.00 45.48.00 43.84 41.41.00 Bengkayang 0,72222222 0,67986111 15.20 18.40 0,72916667 16.49 18.04 18.48 0,77361111 0,75625 17.11 Landak 46.50.00 43.69 42.57.00 49.50.00 48.50.00 48.46.00 44.55.00 44.82 43.73 43.16.00 42.36.00 Mempawah 15 14.09 0,59097222 0,66666667 15 0,60277778 0,62569444 15.30 0,62569444 14.02 13.18 Sanggau 20.50 19.26 0,8 20.40 0,84027778 20.26 20.27 0,87638889 21.59 21.41 21.16 Ketapang 58.50.00 54.97 53.46.00 58.80 54.20.00 55.39.00 53.07.00 54.28.00 54.86 53.84 53.45.00 Sintang 35.50.00 33.36.00 32.49.00 39 35.70 36.83 40.36.00 41.46.00 42.65 40.30.00 39.19.00 Kapuas Hulu 25.30.00 1,01180556 23.16 26.40.00 24.30.00 1,00972222 24.49.00 1,025 24.76 25.22.00 1,02291667 Sekadau 12.30 11.56 11.14 13.20 12.10 12.56 0,52569444 0,55138889 12.29 12.28 0,52222222 Melawi 24.80 23.30 22.56 26 24 24.56.00 25.05.00 25.28.00 26.24.00 25.71 25.34.00 Kayong Utara 11.20 10.52 10.17 11.10 0,4375 10.41 0,47847222 0,46875 11.13 11.21 0,47916667 Kubu Raya 35.90 33.73 32.76 32.10.00 29.50.00 28.38.00 27.83 29.53.00 28.86 27.37.00 25.90 Kota Pontianak 36.60 34.39.00 33.41.00 32.80 30.90 31.56.00 34.13.00 33.18.00 31.76 31.46.00 30.70 Kota Singkawang 11.40 0,46597222 10.41 13 12 0,52083333 11.21 0,50069444 11.17 0,47916667 10.23
Kab/Kota Kemiskinan Menurut Kab/Kota
Jumlah Penduduk Miskin (Ribu Jiwa)
0,722222220,67986111 15,2 18,40,7291667 16,49 18,04 18,48
0,773611110,75625 17,11 400,4
376,12 371,22 380,71 381,9 383,7 381,35 387,43 387,08 378,41 366,77
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
(Ribu Jiwa)
Jumlah Penduduk Miskin (Ribu Jiwa)
Bengkayang Kalimantan Barat
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 145 Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Bengkayang dan
Kalimantan Barat
Tingkat angka kemiskinan Kalimantan Barat pada tahun 2010 sebesar 400.40.00 juta jiwa dan mengalami peningkatan hingga tahun 2020 sebesar 366.77 juta jiwa. Dapat dilihat dari data tersebut bahwa pada tahun 2010-2012 tingkat kemiskinan meningkat setiap tahunnya sedangkan 2013-2015 meningkat kembali angka kemiskinan Kalimantan Barat, 2016 mengalami penurunan angka dari tahun sebelumnya ,2017 mengalami kenaikan kembali angka kemiskinan kalimantan barat, angka terus meningkay hingga tahun 2018 dan pada tahun 2019-2020 angka kemiskinan terakhir tercatar menurun dari tahun sebelumnya.
Setiap Kabupaten yang mempunyai tingkat kemiskinan tinggi atau rendah jika dihubungkan dengan data lainnya yang berhubungan dengan kemiskinan dapat di lihat dari pertumbuhan penduduk, pengangguran dan PDRB tidak selalu selaras. Kabupaten yang tingkat kemiskinan tinggi tidak selalu pertumbuhan penduduknya tinggi, pengangguran tinggi dan PDRB rendah, demikian sebaliknya yaitu kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan rendah tidak selalu pertumbuhan penduduknya rendah, pengangguran rendah dan PDRB tinggi. Kondisi umum Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat berbeda beda jika dilihat dari angka tingkat kemiskinan, tingkat pertumbuhan penduduk, tingkat pengangguran.
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 146 Tabel 3.36
Tingkat Kemiskinan Bengkayang
Uraian Satuan 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah Penduduk Miskin Orang 16.490 18.040 18.478 17.940 17.690 17.110 Persentase Penduduk Miskin
(P0) % 6,94 7,46 7,51 7,17 6,96 6,62
Kedalaman Kemiskinan (P1) - 0,94 1,26 0,94 0,69 1,22 1,06 Keparahan Kemiskinan (P2) - 0,22 0,28 0,17 0,11 0,28 0,24
Garis Kemiskinan (GK) Rp/Kapita/Bln 273.629 291.430 311.815 339.891 357.112 365.755
Gini Rasio - 0,27 0,27 0,29 0,30 … …
Sumber : BPS kab.Bengkayang
Gambar 3.37
Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Bengkayang
16490
18040 18478
17940 17690
17110
15000 16000 17000 18000 19000
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah Penduduk Miskin
Jumlah Penduduk Miskin
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 147 Gambar 3.38
Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Bengkayang
Gambar 3.39
Garis Kemiskinan per Kapita di Kabupaten Bengkayang
6,94
7,46 7,51
7,17
6,96
6,62
6 6,5 7 7,5 8
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Penduduk Miskin
Persentase Penduduk Miskin
273,629 291,43 311,815 339,891 357,112 365,755
0 50 100 150 200 250 300 350 400
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Rp/Kapita/Bln
Garis Kemiskinan
Garis Kemiskinan
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 148 Gambar 3.40
Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan serta Gini Rasio Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Bengkayang
Perkembangan kemiskinan di kabupaten bengkayang selama 6 tahun terakhir (2015-2020) cendrung menurun baik dari jumlah persentase meskipun meski di awal tingkat kemiskinan sempat meningkat. Angka Kemiskinan Bengkayang pada tahun 2020 meskipun cenderung mengalami penurunan, namun perlu penanganan yang lebih intens lagi. Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih berlangsung, perlu antisipasi dengan program yang tepat agar jangan sampai masyarakat miskin makin bertambah. Hal ini tentunya karena perekonomian masyarakat yang sangat terpengaruh dengan adanya pandemi ini.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan diantara nya yaitu rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya derajat kesehatan, terbatasnya lapangan perkejaan. Dalam laporan yang dikeluarkan dari World Bank (2006) diketahui ada lima faktor yang dianggap dapat mempengaruhi terjadinya kemiskinan, yaitu; pendidikan, jenis pekerjaan, gender,
0,94
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Kedalaman Kemiskinan Keparahan Kemiskinan Gini Rasio
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 149 akses terhadap pelayanan kesehatan dasar dan infrastruktur dan lokasi geografis yang sulit untuk di jangkau ataupun kurangnya sosialisasi pada suatu wilayah tersebut.
Tampaknya dalam merumuskan sebuah kebijakan maupun program yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten/Kota perlu dilakukan beberapa tahapan kegiatan.
Misalnya, diawali dengan assesment, dalam tahap ini dilakukan merumuskan atau mengkatagorikan dimensi-dimensi dan faktor penyebab kemiskinan, analisis kebutuhan dan potensi yang dapat dikembangkan, dan merumuskan bentuk-bentuk program yang diinginkan oleh penduduk miskin. Selain itu, dirumuskan pula pihak-pihak yang dapat dilibatkan dalam kegiatan atau program kemiskinan, serta membuat jadwal pelaksanaannya. Setelah tahap ini selesai, maka dilanjutkan ke tahap pelaksanaan kegiatan dan diakhiri dengan tahap monitoring dan evaluasi.
Tahap ke dua, adalah menentukan tujuan, target dan indikator yang ingin dicapai. Seperti yang dikemukakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan target, yaitu pertama; tujuan yang ingin dicapai harus menyesuaikan dengan standar internasional yaitu harus sesuai dengan tujuan MDGs. Kedua; dalam menentukan tujuan perlu memperhatikan distribusi pendapatan. Ketiga; tujuan ditentukan melalui proses partisipasi semua pihak. Keempat; tujuan ditentukan dengan menentukan ukuran pencapaian atau benchmark berdasarkan waktu yang tersedia. Kelima; dalam menetukan tujuan agar lebih tepat sasaran harus berdasarkan pada beberapa ukuran kemiskinan berbeda. Keenam; tujuan harus dibuat secara spesifik dengan program agar proses monitoring menjadi lebih mudah.
Tahap ketiga, yaitu merancang dan meng-implementasikan program. Hasil dari tahap ini yaitu berupa peraturan, petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis. Pada saat akan mengim-plementasikan program harus dimulai dengan kegiatan sosialisasi
KAJIAN STRATEGI PENINGKATAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN BENGKAYANG 150 program pada taha awal, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan moni-toring selama program berlangsung, dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi ketika program berakhir.
Monitoring dilakukan untuk menyediakan informasi apakah kebijakan program diimplementasikan sesuai dengan rencana dalam upaya mencapai tujuan. Monitoring ini merupakan alat manajemen yang efektif, pada kegiatan ini jika implementasi program tidak sesuai dengan rencana maka dapat mengidentifikasi letak masalahnya kemudian dicari penyelesainnya. Sedangkan evaluasi berfungsi untuk melihat dampak dengan mengisolasi efek suatu intervensi.
Kebijakan dalam upaya pengentasan kemiskinan tentunya dalam implementasi melalui program-program yang berbasis pada penggalian potensi yang ada di masyarakat itu sendiri. Artinya perlu melibatkan peran serta masyarakat dalam melaksanakan program, dan pemerintah berperan sebagai fasilitator. Selain itu perlu juga dirumuskan strategi untuk keberlangsungan program (kegiatan) di masyarakat yang didukung dengan adanya koordinasi antara instansi terkait.