• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1.2 Kemiskinan

Kemiskinan adalah sesuatu situasi dimana tidak terwujudnya kehidupan yang dikatakan layak dengan penghasilannya USD 1,00 perhari (World Bank, 2001) kemiskinan juga dikatakan dimana keadaan personal tidak mempunyai kecukupan dalam pendapatan, seperti tidak dapat membeli bahan dasar seperti sandang, pangan, papan. Kemudian diambil kesimpulan bahwasannya penduduk yang kurang mampu (miskin) merupakan penduduk yang mempunyai pengeluaran dibawah garis kemiskinan.

Persoalan kemiskinan menjadi salah satu target kebijakan pembangunan di setiap negara agar kesenjangan pendapatan menjadi semakin kecil. Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang bersifat multidimensi karena dalam menanggulanginya masalah yang dihadapi bukan saja sebatas pada hal-hal yang menyangkut hubungan sebab-akibat timbulnya kemiskinan tetapi melibatkan juga preferensi, nilai dan politik.

Kemiskinan memiliki arti yang begitu luas serta didalam memperhitungkannya tidak mudah dilakukan. Kemiskinan absolut didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana penghasilan penduduk maupun rumah tangga tidak mampu memenuhi keinginan hidupnya. Dalam bidang ekonomi ataupun di dalam bidang sosial.

Kemiskinan relatif memberikan cerminan adanya ketimpangan pendapatan antara sekelompok penduduk yang menerima pendapatan, adapun tabel kemiskinan di Provinsi Riau, sebagai berikut :

Tabel 5.2 : Persentase Penduduk Miskin Provinsi Riau Tahun 2010-2019

No Tahun kemiskinan (%)

1 2010 10.01

2 2011 8.17

3 2012 8.05

4 2013 8.42

5 2014 7.99

6 2015 8.42

7 2016 7.98

8 2017 7.78

9 2018 7.39

10 2019 7.08

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2020

Berdasarkan dari tabel diatas dapar diketahui bahwa persentase kemiskinan paling tinggi di provinsi Riau adalah pada tahun 2010 yaitu 10.01% dan persentase kemiskinan terendah ada pada tahun 2019 yaitu 7.08%.

5.2 Analisis Statistik Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau Untuk mengetahui dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Program Eviews 10. Dilakukan terhadap indeks pembangunan manusia (Y) sebagai variabel Terikat sedangkan Pertumbuhan ekonomi (X1) dan kemiskinan (X2) sebagai variabel Bebas selama sepuluh tahun (2010-2019) berikut ini hasil regresinya.

Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 06/24/20 Time: 19:11 Sample: 1 10

Included observations: 10

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

X1 -0.422651 0.214208 -1.973083 0.0891

X2 -1.291662 0.384908 -3.355771 0.0122

C 82.34661 3.059829 26.91216 0.0000

R-squared 0.732804 Mean dependent var 70.62100

Adjusted R-squared 0.656463 S.D. dependent var 1.502549 S.E. of regression 0.880675 Akaike info criterion 2.827069 Sum squared resid 5.429122 Schwarz criterion 2.917845 Log likelihood -11.13535 Hannan-Quinn criter. 2.727489

F-statistic 9.599008 Durbin-Watson stat 0.763213

Prob(F-statistic) 0.009861

Sumber : Hasil olah E-views 10

Dari hasil estimasi diatas maka didapat fungsi persamaan sebagai berikut:

Y = 82.34661 - 0.422651 X₁ - 1.291662 X₂ + ε

Dari persamaan diatas, maka dapat diketahui pengaruh dua variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari variabel dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan memiliki pengaruh negatif terhadap indek pembangunan manusia di provinsi Riau dari tahun 2010-2019. Berikut dijelaskan tentang pengaruh tersebut secara rinci.

5.2.1 Koefisien Regresi

Berikut ini hasil persamaan diatas, yaitu pertumbuhan ekonomi (X₁) dan kemiskinan (X₂) terhadap indeks pembangunan manusia (Y) di Provinsi Riau dari tahun 2010-2019 dapat diketahui persamaan sebagai berikut :

1. Konstanta βₒ sebesar 82.34661 artinya besarnya indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019 jika pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan sama dengan 0 adalah 82.34661 %.

2. Nilai koefisien β₁ -0.422651 berdasarkan uji T (Uji Parsial) dapat diketahui variabel pertumbuhan ekonomi (X₁) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap indeks pembangunan manusia (Y) di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

3. Nilai Kofisien β₂ sebesar -1.291662 berdasarkan uji T (Uji T Parsial) dapat diketahui variabel kemiskinan (X₂) berbengaruh signifikan dan negatif terhadap indeks pembangunan manusia (Y) di Provinsi Riau dari tahun 2010-2019.

Pengaruh tersebut artinya jika kemiskinan menurun 1% maka akan indeks pembangunan manusia akan menaik sebesar 1.291% dan begitu juga sebaliknya jika kemiskinan meningkat 1% maka indeks pembangunan manusia akan menurun sebesar 1.291%.

5.2.2 Uji Statistik 1. Uji T (Parsial)

Uji T atau uji parsial merupakan pengujian variabel-variabel independen yang dilakukan secara individu. Tujuan dari pengujian ini yaitu untuk mengetahui signifikansi dari variabel-variabel independen terhadap variabel dependen dengan anggapan bahwaa variabel lain bersifat tetap. Uji ini dilakukan dengan membandingkan antara 1 signifikan dengan uji ini dengan membandingkan antara satu signifikan dengan α 0,05. Dengan ketentuan sebagai berikut :

Jika T prob < α 0,05 maka Hₒ ditolak Jika T prob > α 0,05 maka Hₒ diterima Berikut ini penjelasan mengenai uji T :

a. Pengujian pengaruh pertumbuhan ekonomi (X₁) terhadap indeks pembangunan manusia (Y) berdasarkan hasil uji T (Parsial), maka dapat dilihat bahwa nilai T prob pertumbuhan ekonomi adalah 0.0891 > α 0,05 maka Hₒ diterima. Hal tersebut berarti secara parsial pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau pada tahun 2010-2019.

b. Pengujian pengaruh kemiskinan (X₂) terhadap indeks pembangunan manusia (Y) berdasarkan hasil uji T (Parsial), maka dapat dilihat bahwa dari nilai T prob kemiskinan adalah 0.0122< α 0,05 Hₒ di tolak. Hal ini berarti secara parsial kemiskinan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

2. Uji Statistik F

Uji F merupakan pengujian variabel yang dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas berpengaruh signifikan atau tidak terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Dengan ketentuan sebagai berikut:

Jika F prob < α 0,05 maka Hₒ ditolak Jika F prob > α 0,05 maka Hₒ diterima

Dari hasil uji F (Uji simultan) diketahui bahwa nilai F prob sebesar 0.009861 <

α 0,05 maka Hₒ ditolak. Hal tersebut berarti bahwa variabel pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan secara simultan bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

3. Uji koefisien Determinasi (R²)

Diketahui nilai R² yaitu sebesar 0.732804. hal tersebut berarti bahwa sebesar 73% variabel bebas (pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan) sudah mewakili untuk menjelaskan variabel terikat (indeks pembangunan manusia). Sedangkan sisanya 27%

dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

5.2.3 Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi untuk menguji apakah didalam model regresi, variabel pengganggu ataupun residual memiliki distribusi normal. Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Pada umumnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data pada sumbu diagonal dari tabel atau melihat histogram dari residualnya. Untuk mengetahui apakah model regresi tersebut normal ataupun tidak, dapat diihat dari bentuk histrogram yang residual yang bisasnya berbentuk lonceng jika mempunyai distribusi normal dan juga melakukan uji jarque-Bera. Untuk melihat data terdistribusi normal ataupun tidak adalah: Jika Jarque-Bera < Chi square, maka

data terdistribusi normal, dan jika nilai Jarque-Bera > Chi Square maka data tidak terdistribusi normal.

Grafik 5.1 : Hasil Uji Normalitas Pengaruh indeks pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Provinsi Riau tahun 2010-2019

0

Sumber : hasil olah E-views 10

Dari hasil olah eviews diatas, dapat dilihat bahwa histogram residual model regresi tersebut tidak berbentuk lonceng, maka di dua variabel tersebut mempunyai distribusi yang tidak normal. Sedangkan jika dilihat menggunakan uji Jarque-Bera diketahui nilai JB yaitu 0.775260 dan nilai chi square 14.06714. Maka nilai JB lebih kecil daripada nilai chi square maka model regresi tersebut mempunyai distribusi tidak normal.

2. Uji multikolineritas

Uji Multikolineritas adalah uji untuk mengetahui antara variabel independen yang ada didalamnya memiliki hubungan yang sempurna. Apabila terjadi korelasi

antara variabel independen, maka akan mendapat masalah pada mutikolineritas pada regresi.

1. Jika nilai VIF < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolineritas dalam model regresi.

2. Jika nilai VIF > 10,00 maka artinya terjadi multikolineritas dalam model regeresi.

Tabel 5.2 : Hasil Uji Multikolinieritas Pengaruh Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan Terhadap Indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

Variance Inflation Factors Date: 06/24/20 Time: 19:20 Sample: 1 10

Sumber : Hasil olahan E-views 10

Berdasarkan hasil pengolahan data diatas, dapat diketahui bahwa nilai VIF dari variabel independen yaitu nilai yaitu nilai VIF X1 adalah 1.055447 dan nilai X2

adalah 1.055447. dapat dilihat bahwa nilai VIF dari kedua variabel tersebut lebih kecil dari 10 maka variabel tersebut tidak terkena multikolinieritas. Hal tersebut berarti antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan tidak memiliki hubungan linier didalam model regresi tersebut.

3. Uji Heteroskedastitas

Uji heteroskedastitas adalah uji yang menilai apakah ada ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan ke pengamatan lain pada model regresi linear.

Apabila asumsi heteroskedastitas tidak terpenuhi, maka model regresi dinyatakan tidak valid.

Uji ini dilakukan dengan menggunakan dengan meregresikan residual kuadrat sebagai variabel dependen dengan variabel dependen ditambah dengan kuadrat independen, kemudian ditambahkan lagi dengan perkalian dua variabel independen.

Prosedur pengujian dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut :

Hₒ : Tidak mengandung indikasi heteroskedastisitas Hₐ : Mengandung indikasi heteroskedastisitas

Tabel 5.3 : Hasil Uji Heteroskedastisitas Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau Tahun 2010-2019.

Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 1.100503 Prob. F(5,4) 0.4763

Obs*R-squared 5.790588 Prob. Chi-Square(5) 0.3271 Scaled explained SS 0.905039 Prob. Chi-Square(5) 0.9699

Sumber : Hasil Olahan E-views 10

Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa nilai chi square (Obs* R-Squared) sebesar 0.3271 sedangkan nilai kritis chi square sebesar 14.06714 dapat dilihat bahwa nilai chi square lebih kecil dari nilai kritis yang artinya model regresi tersebut maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4. Autokolerasi

Uji autokolerasi adalah sebuah analisis yang digunakan untuk mengetahui adakah kolerasi variabel yang ada dalam model regresi. Uji autokolerasi harus dilakukan apabila data merupakan data time series atau runtun waktu. Autokolerasi lebih dilakukan dengan melakukan pengujian nilai Durbin Watson (DW test). Jika DW besar dari batas atau (du) dan kurang dari jumlah variabel independen, maka disimpulkan tidak ada autokolerasi.

Gambar 5.1 : Nilai DW Test Pada Uji Durbin Watson

Dari hasil olahan data, diketahui bahwa nilai DW adalah sebesar 1.516874. Jika dilihat dari kurva DW maka nilai tersebut terletak diantara dL sampai dU dan berada pada kriteria ragu-ragu pada autokorelasi. Di area ragu-ragu berarti dianggap tidak ada autokolerasi

Ragu-ragu Ragu-ragu (-)

(+

)

0 dL dU

4-dU

4-dL 4

Tidak ada autokolerasi

0.5253 2.0163 1.9837 3.4747

0.76321 3

5.3 Pembahasan

Setelah dilakukannya pengujian hipotesis serta estimasi pada model, maka akan ditelaah lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau. Berikut merupakan hasil pengujian dari masing-masing variabel bebas terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau.

1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

Berdasarkan hasi penelitian tersebut, maka dapat diketahui memiliki nilai T prob secara parsial Artinya pertumbuhan ekonomi tidak signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Kemudian diketahui koefisien regresi pertumbuhan ekonomi -0.422 yang artinya pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mempengaruhi indeks pembangunan manusia. Menurut Chalid dan Yusuf (2014) dalam Novita (2017) mengatakan perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ekonomi memperlihatkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat dalam periode tertentu. Perekonomian dianggap mengalami kenaikan bila seluruh balas jasa rill terhadap penggunaan faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar dari tahun sebelumnya dan indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yaitu tingkat PDRB berdasarkan harga

konstan. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita masyarakat juga akan meningkat, sehingga indeks pembangunan manusia juga akan mengalami peningkatan. Pendapatan daerah yang tinggi terlihat dari tingginya pendapatan perkapita, secara positif dan berartu. Dengan begitu semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi, maka pendapatan perkapita masyarakat juga akan naik sehingga mendorong meningkatnya indeks pembangunan manusia (Putong,2009).

Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tidak bisa secara langsung mempengaruhi indeks pembangunan manusia, sehingga didalam penelitian ini tidak ditemukan pengaruh antara pertumbuhan ekonomi terhadap indeks pembangunan manusia. Hal ini juga akibat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau mengalami fluktuasi dimana cenderung turun terutama pada tahun 2015 yang hanya 0.22%, oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi tidak serta merta bisa langsung menaikkan indeks pembangunan manusia. pertumbuhan ekonomi tahun sekarang akan mempengaruhi indeks pembangunan manusia ditahun selanjutnya.

Hasil penelitian yang dilakukan memiliki hasil yang sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh David dan Nasri (2017) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di sumatera barat pada tahun 2010-2015.

Berbeda dengan penelitian Denni Sulistio Mirza, didalam penelitiannya mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Jawa Tengah tahun 2006-2009.

2. Pengaruh kemiskinan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

Berdasarkan dari hasil penelitian diatas, dapat dilihat dari nilai T prob secara parsial variabel kemiskinan memiliki pengaruh signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Artinya bahwa tinggi rendahnya kemiskinan memiliki pengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Kemudian diketahui koefisien regresi kemiskinan sebesar -1.291 yang menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 210-2019.

Hal ini berarti apabila terjadi kenaikan tingkat kemiskinan 1% maka akan menyebabkan penurunan indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau sebesar -1.291% periode 2010-2019. Dan begitu pula sebaliknya apabila tingkat kemiskinan menurun maka terjadi peningkatan indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

Hasil penelitian yang dilakukan diatas memiliki kesamaan dengan penelitian oleh David dan Nasri (2017), dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kemiskinan memiliki korelasi negatif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Sumatera Barat pada tahun 2010-2015.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau pada tahun 2005-2018 maka didapat kesimpulan sebagai berikut :

1. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Artinya pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019.

2. Kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau tahun 2010-2019. Artinya, jika terjadi peningkatan kemiskinan 1% maka akan menurunkan indeks pembangunan manusia sebesar 1.291%, dan sebaliknya jika terjadi penurunan kemiskinan 1% maka akan meningkatkan indeks pembangunan manusia sebesar 1.291%.

6.1.2 Saran

Dalam penelitian ini, terdapat 2 variabel bebas yaitu pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan. dalam variabel pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks pembangunan manusia, sedangkan variabel kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia. Untuk itu, bagi

peneliti yang lain bila tertarik untuk meneliti topik ini diharapkan dapat memasukkan variabel-variabel lainnya. Agar penelitiannya dapat disempurnakan.

www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik. 2010-2019. Data Pertumbuhan Ekonomi www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik. 2010-2019. Data Kemiskinan www.bps.go.id

BPS. (2019). Indeks Pembangunan Manusia. Retrieved from bps.go.id:

www.bps.go.id

Boediono, 2009. Teori pertumbuhan ekonomi, BPFE UGM, Yogyakarta

Chalid, Nursiah dan Yusbar Yusuf. 2014. Pengaruh tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, upah minimum Kabupaten/Kota dan laju pertumbuhan ekonomi terhadap indeks pembangunan manusia di Provinsi Riau. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau: Pekanbaru.

David. Nasri. 2017. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks

Pembangunan Manusia di Sumatera Barat. Jurnal. Fakultas Ekonomi.

Universitas Andalas. Padang.

Denni S. Mirza. 2011. Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi dan Belanja Modal Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah. Jurnal.

Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang.

Dewi, Novita. 2017. Pengaruh Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau. Jurnal Fekon Vol. 4, No. 1 Jhingan, M.L, 2004. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, PT Raja Grafindo

Persada, Jakarta.

Jhingan, ML. 2007. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

2009. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan: Vol. 1 (1) (2012). Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Islami. Neng Murialti. Della. 2016. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Riau. Jurnal Akuntansi & Ekonomika, Vol. 6 No. 2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Muhammadiyah Riau.

Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan Teori, Masalah dan Kebijakan, Yogyakarta: UPP-AMP YKPN

Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi & Pembangunan Daerah. Reformasi Perencanaan Strategi dan Peluang. Jakarta: Erlangga

Putong, Iskandar. 2009. Pengantar Mikro dan Makro Edisi 4.

Jakarta: Mitra Wacana M.

Riduwan. 2004. metode Riset. Jakarta : Rineka Cipta

Sugiyono. 2012. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: ALFABETA Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.CV

Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta : PT Raja Grafindo, 2000.

Sukirno, Sadono, 1985, Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Kebijaksanaan, LPFE-UI, Jakarta

Sukirno, Sadono. 2011. Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Rajawali Pers, Jakarta

Todaro M.P. 2006. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Dokumen terkait