B. Pelayanan untuk mendapatkan kemudahan dalam
2. Kemudahan dalam penggunaan sarana dan
dan kebugaran kepada lanjut usia agar dapat mengisi waktu luang dengan menikmati rekreasi dan olahraga.
2. Kemudahan Dalam Penggunaan Sarana Dan
Prasarana Umum
Setiap pengadaan sarana dan prasarana umum oleh
pemerintah dan/atau masyarakat dilaksanakan dengan menyediakan aksesibilitas bagi lanjut usia.
Penyediaan aksesibilitas bagi lanjut usia pada sarana dan prasarana umum sebagaimana dimaksudkan adalah untuk menciptakan keadaan dan lingkungan yang lebih menunjang lanjut usia dalam melaksanakan fungsi sosialnya dan berperan aktif secara wajar dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pelayanan untuk mendapatkan kemudahan dalam penggunaan sarana, dan prasarana umum dimaksudkan untuk memberikan aksesibilitas terutama di tempat-tempat umum yang dapat menghambat mobilitas lanjut usia.
Aksesibilitas adalah tersedianya sarana dan prasarana umum yang dapat memudahkan mobilitas lanjut usia di tempat-tempat umum, seperti jalan untuk kursi roda, jalan bagi mereka yang bertongkat, pintu, tangga, lift khusus untuk bangunan bertingkat, dan tempat penyeberangan bagi pejalan kaki.
Penyediaan aksesibilitas bagi lanjut usia pada sarana dan prasarana umum dapat berbentuk :
a. Fisik, dan b. Non fisik
Penyediaaan aksesibilitas yang berbentuk fisik dilaksanakan pada sarana dan prasarana umum yang meliputi: a. Aksesibilitas pada bangunan umum;
Asas fasilitas dan aksesibilitas adalah :
1) Keselamatan, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua orang. 2) Kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai
semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.
3 Ukuran dan Detail Penerapan Standar
lxxx
N. PERLENGKAPAN DAN PERALATAN KONTROL 1 Esensi
Merupakan perlengkapan dan peralatan pada bangunan yang bisa mempermudah semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua, orang sakit, balita dan ibu-ibu hamil) untuk melakukan kontrol peralatan tertentu, seperti sistem alarm, tombol/stop kontak, dan pencahayaan.
2 Persyaratan-persyaratan a. Sistem alarm/ peringatan
i. Harus tersedia peralatan peringatan yang terdiri dari sistem peringatan suara (vocal alarms), sistem peringatan bergetar vibrating alarms) dan berbagai petunjuk serta penandaan untuk melarikan diri pada situasi darurat .
ii. Stop kontak harus dipasang dekat tempat tidur untuk mempermudah pengoperasian sistem alarm, termasuk peralatan bergetar (vibraing devices) di bawah bantal.
iii. Semua pengontrol peralatan listrik harus dapat dioperasikan dengan satu tangan dan tidak memerlukan pegangan yang sangat kencang atau sampai dengan memutar lengan.
b. Tombol dan stop kontak
Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan mudah dijangkau oleh penyandang cacat.
3) Kegunaan, yaitu setiap orang dapat menggunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.
4) Kemandirian, yaitu setiap orang harus bisa mencapai, masuk dan menggunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam sautu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002, pada paragraf 5 Persyaratan Kemudahan, dimana pasal 27 menyebutkan : (1) Persyaratan kemudahan sebagaimana dimaksud meliputi
kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung;
(2) Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam gedung sebagaimana dimaksud meliputi tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia;
(3) Kelengkapan prasarana dan sarana sebagaimana dimaksud pada bangunan gedung untuk kepentingan umum meliputi penyediaan fasilitas yang cukup untuk ruang, ruang ganti, ruangan bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi; Aksesibilitas pada bangunan umum sebagaimana disebutkan dilaksanakan dengan menyediakan :
a. Akses ke, dari, dan di dalam bangunan gedung; b. Tangga dan lift khusus untuk bangunan bertingkat; c. Tempat parkir dan tempat naik turun penumpang; d. Tempat duduk khusus;
e. Pegangan tangan pada tangga, dinding, kamar mandi, dan toilet;
lxxviii
3 Ukuran dan Detail Penerapan Standar
f. Telepon umum; g. Tempat minum;
h. Tanda-tanda peringatan darurat dan sinyal.
Adapun selengkapnya mengenai aksesibilitas pada bangunan umum sebagaimana dijabarkan pada Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, dijelaskan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan.
b. Aksesibilitas pada jalan umum.
Aksesibilitas pada jalan umum sebagaimana dimaksud, dilaksanakan dengan menyediakan :
1) Akses ke dan dari jalan umum;
2) Akses ke tempat pemberhentian bis/kendaraan; 3) Jembatan penyeberangan;
4) Jalur penyeberangan bagi pejalan kaki; 5) Tempat parkir dan naik turun penumpang; 6) Tempat pemberhentian kendaraan umum; 7) Tanda-tanda/rambu-rambu dan/atau marka jalan;
8) Trotoar bagi pejalan kaki atau pemakai kursi roda; 9) Terowongan penyeberangan.
c. Aksesibilitas pada pertamanan dan tempat rekreasi. Aksesibilitas pada pertamanan dan tempat rekreasi sebagaimana dimaksud, dilaksanakan dengan menyediakan :
1) Akses ke, dari, dan di dalam pertamanan dan tempat rekreasi;
M.TELEPON
1 Esensi
Peralatan komunikasi yang disediakan untuk semua orang yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.
2 Persyaratan
a. Telepon umum disarankan menggunakan tombol
tekan, harus terletak pada lantai yang aksesibel bagi semua orang termasuk penyandang cacat, orang tua, orang sakit, balita dan ibu-ibu hamil.
b. Ruang gerak yang cukup harus disediakan di depan telpon umum sehingga memudahkan penyandang cacat untuk mendekati dan menggunakan telpon.
c. Ketinggian telepon dipertimbangkan terhadap
keterjangkauan gagang telpon terhadap pengguna kursi roda 80-100 cm.
d. Bagi pengguna yang memiliki pendengaran kurang, perlu disediakan alat kontrol volume suara yang terlihat dan mudah terjangkau.
e. Bagi tuna rungu sebaiknya disediakan "telepon text", khususnya untuk di kantor pos, bangunan komersial, dan fasilitas publik lainnya.
f. Bagi tuna netra sebaiknya disediakan petunjuk telpon dalam huruf Braille dan dilengkapi juga dengan isyarat bersuara (talking sign) yang terpasang di dekat telpon umum.
g. Panjang kabel gagang telpon harus memungkinkan pengguna kursi roda untuk menggunakan telpon dengan posisi yang nyaman, dengan ketinggian ± 75 cm.
h. Bilik telepon dapat dilengkapi dengan kursi yang disesuaikan dengan gerak pengguna dan site yang tersedia.
lxxvi
2) Tempat parkir dan tempat naik turun penumbang; 3) Tempat duduk khusus/istirahat;
4) Tempat telepon; 5) Tempat minum; 6) Toilet;
7) Tanda-tanda atau sinyal.
d. Aksesibilitas pada angkutan umum.
Aksesibilitas pada angkutan umum sebagaimana dimaksud, dilaksanakan dengan menyediakan :
1) Tangga naik/turun;
2) Tempat duduk khusus yang aman dan nyaman; 3) Alat bantu;
4) Tanda-tanda atau sinyal.
Kemudian sebagai rasa penghargaan dan penghormatan kepada lanjut usia, Menteri Perhubungan telah mengeluarkan surat yang sampai saat ini masih tetap berlaku, yaitu :
1) Surat Edaran Nomor SE.11/HK.206/PHB-97 tanggal 2 Oktober 1997;
2) Surat Edaran Nomor SE.3/HK.206/PHB-99 tanggal 20 April 1999.
lxxiv
L. WASTAFEL 1 Esensi
Fasilitas cuci tangan, cuci muka, berkumur atau gosok gigi yang bisa digunakan untuk semua orang.
2 Persyaratan
a. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga tinggi
permukaannya dan lebar depannya dapat
dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik. b. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di
depan wastafel.
c. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda.
d. Pemasangan ketinggian cermin diperhitungkan
terhadap pengguna kursi roda.
e. Menggunakan kran dengan sistem pengungkit.
3 Ukuran dan Detail Penerapan Standar
Kepada para lanjut usia, dengan menunjukkan bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP) diberikan reduksi/ potongan tarif angkutan penumpang dalam negeri untuk semua kelas yang ada sebesar 20%, termasuk pada masa sibuk/peak season, seperti lebaran, natal, tahun baru dan sebagainya.
Diharapkan pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk : 1) Ikut serta menyosialisasikan kepada para pengusaha transportasi di wilayahnya untuk tetap memberikan potongan reduksi tarif kepada para lanjut usia dalam menggunakan jasa transportasi;
2) Agar dalam penyusunan peraturan daerah yang terkait dengan penetapan tarif angkutan surat edaran Menteri Perhubungan tersebut dapat menjadi rujukan serta mengawasi pelaksanaan-nya.
Pada setiap tahun dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional, Menteri Perhubungan selalu mengeluarkan surat kepada Direksi BUMN sektor transportasi yang melayani jasa transportasi dan jajaran Kementerian Perhubungan untuk memberikan pembebasan biaya-biaya tertentu kepada para lanjut usia,
seperti pembebasan bea passenger service charge (PSC)/pungutan jasa penumpang pesawat (PJP2U).
Salah satu kebijakan Kementerian Perhubungan dalam mendukung kesejahteraan lanjut usia adalah agar pada setiap sarana dan prasarana transportasi disediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi para lanjut usia, seperti : 1) Prioritas pelayanan penumpang lanjut usia pada saat
embarkasi/debarkasi atau naik/turun kapal/ pesawat terbang.
2) Penyediaan kursi roda dan akses untuk kursi roda dengan terminal;
3) Penyediaan kamar mandi/toilet khusus; 4) Penyediaan lift khusus;
5) Penyediaan ruang tunggu khusus di terminal penumpang;
6) Penyediaan tenaga medis;
7) Penyediaan loket khusus bagi lanjut usia.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam bentuk legalitas, pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan bandar udara wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan bagi lanjut usia seperti kemudahan akses antara tempat parkir dengan
lxxii
bangunan terminal dan kemudahan bagi pengguna kursi roda serta memberikan pelayanan khusus bagi lanjut usia.
Selain itu Pasal 131, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, menyebutkan :
(1) Penyelenggara sarana perkeretaapian wajib memberikan fasilitas khusus dan kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah lima tahun, orang sakit, dan orang lanjut usia;
(2) Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipungut biaya tambahan.
Kemudian pada Pasal 42, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, disebutkan :
(1) Perusahaan angkutan di perairan wajib memberikan fasilitas khusus dan kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah lima tahun, orang sakit, dan orang lanjut usia;
(2) Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipungut biaya tambahan.
Demikian juga pada pasal 134, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mengatur :
(1) Penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak di bawah usia 12 (dua belas) tahun, dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus dari badan usaha angkutan udara niaga; (2) Pelayanan berupa perlakukan dan fasilitas khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi :
a. Pemberian prioritas tambahan tempat duduk; b. Penyediaan fasilitas kemudahan untuk naik ke dan
turun dari pesawat udara;
c. Penyediaan fasilitas untuk penyandang cacat selama berada di pesawat udara;
d. Sarana bantu bagi orang sakit;
e. Penyediaan fasilitas untuk anak-anak selama berada di pesawat udara;
f. Tersedianya personel yang dapat berkomunikasi dengan penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak, dan/atau orang sakit; dan
g. Tersedianya buku petunjuk tentang keselamatan dan keamanan penerbangan bagi penumpang pesawat udara dan sarana lain yang dapat
(handrail) pada posisi yang memudahkan pengguna kursi roda bertumpu.
c. Bilik pancuran dilengkapi dengan tombol alarm atau alat pemberi tanda lain yang bisa dijangkau pada waktu keadaan darurat.
d. Kunci bilik pancuran dirancang dengan
menggunakan tipe yang bisa dibuka dari luar pada kondisi darurat (emergency).
e. Pintu bilik pancuran sebaiknya menggunakan pintu bukaan keluar.
f. Pegangan rambat dan setiap permukaan atau
dinding yang berdekatan dengannya harus bebas
dari elemen-elemen yang runcing atau
membahayakan
g. Menggunakan kran dengan sistem pengungkit.
lxx
dan aksesibilitas pada:
i. Ukuran dasar ruang/ruang lantai bebas; ii. Jalur pedestrian;
iii. Jalur pemandu; iv. Area parkir; v. Ram;
vi. Rambu dan Marka;
d. Setiap pembangunan lingkungan di luar bangunan harus memperhatikan pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada:
i. Ukuran dasar ruang / ruang lantai bebas; ii. Jalur pedestrian;
iii. Jalur pemandu; iv. Area parkir;
v. Ram;
vi. Rambu dan Marka.
K. PANCURAN 1 Esensi
Merupakan fasilitas mandi dengan pancuran (shower) yang bisa digunakan oleh semua orang, khususnya bagi pengguna kursi roda .
2 Persyaratan
a. Bilik pancuran (showe cubicles) harus memiliki tempat duduk yang lebar dengan ketinggian disesuaikan dengan cara-cara perilaku memindahkan badan pengguna kursi roda.
b. Bilik pancuran harus memiliki pegangan rambat
dimengerti oleh penyandang cacat, lanjut usia, dan orang sakit.
(3) Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dipungut biaya tambahan.
Sedangkan pada pasal 239, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mengatur :
(1) Penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus dari badan usaha bandar udara atau penyelenggara angkutan bandar udara;
(2) Pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Pemberian prioritas pelayanan di terminal;
b. Menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat selama di terminal;
c. Sarana bantu bagi orang sakit;
d. Menyediakan fasilitas untuk ibu merawat bayi (nursery);
e. Tersedianya personel yang khusus bertugas untuk melayani atau berkomunikasi dengan penyandang cacat, orang sakit, dan lanjut usia, serta
f. Tersedianya informasi atau petunjuk tentang keselamatan bangunan bagi penumpang di terminal dan sarana lain yang dapat dimengerti oleh penyandang cacat, orang sakit, dan lanjut usia.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 242 mengatur :
(1) Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau perusahaan angkutan umum wajib memberikan perlakuan khusus di bidang lalu lintas dan angkutan jalan kepada penyandang cacat, manusia usia lanjut, anak-anak, wanita hamil, dan orang sakit;
(2) Perlakukan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Aksesibilitas;
b. Prioritas pelayanan; dan c. Fasilitas pelayanan.
Selanjutnya penyediaan aksesibilitas yang berbentuk non fisik meliputi :
a. Pelayanan informasi;
Layanan informasi sebagaimana dimaksud, dilaksanakan dalam bentuk penyediaan dan penyebarluasan informasi
oleh petugas pelayanan untuk tujuan
pemeliharaan dan perawatan bangunan.
5. Prinsip Penerapan
Dalam rangka menciptakan lingkungan binaan yang memenuhi pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas, digunakan prinsip-prinsip penerapan sebagai berikut:
a. Setiap pembangunan bangunan gedung, tapak
bangunan, dan lingkungan di luar bangunan harus dilakukan secara terpadu.
b. Setiap kegiatan pembangunan bangunan gedung
harus memperhatikan semua pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada:
i. Ukuran dasar ruang/ ruang lantai bebas; ii. Pintu;
iii. Ram; iv. Tangga; v. Lif;
vi. Lif Tangga (stairway lift); vii. Toilet;
viii.Pancuran; ix. Wastafel; x. Telepon; xi. Perabot;
xii. Perlengkapan dan Peralatan Kontrol; xiii.Rambu dan Marka.
c. Setiap pembangunan tapak bangunan gedung
lxviii
v. Bangunan gedung yang merupakan bangunan
darurat:
Bangunan sementara, yang didirikan tidak dengan konstruksi permanen tapi dimaksudkan untuk digunakan secara penuh oleh masyarakat umum selama lebih dari 5 (lima) tahun, diwajibkan
memenuhi pedoman teknis fasilitas dan
aksesibilitas.
b. Penerapan Tidak Wajib.
Ketentuan dalam pedoman ini bersifat tidak wajib bagi bangunan sebagai berikut:
i. Bangunan yang dapat dibuktikan, berdasarkan pendapat ahli yang berkompeten dan disetujui oleh pemerintah daerah, bahwa pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas tidak dapat dipenuhi karena adanya kondisi site bangunan, kondisi sistem struktur dan kondisi lainnya yang spesifik. ii. Bangunan sementara yang tidak digunakan oleh
masyarakat umum dan hanya digunakan dalam waktu terbatas.
iii. Bangunan penunjang struktur dan bangunan untuk peralatan yang digunakan secara langsung
di dalam suatu proses pelaksanaan
pembangunan, seperti perancah, gudang
material dan direksi keet.
iv. Bangunan dan bagian bangunan yang
dimaksudkan untuk tidak dihuni secara tetap dalam waktu yang lama, yang dicapai hanya melalui tangga, dengan merangkak, gang yang sempit, atau ruang lif barang, dan bagi ruang ruang yang hanya dapat dicapai secara tertentu
yang menyangkut segala bentuk pelayanan yang disediakan bagi lanjut usia.
b. Pelayanan khusus.
Layanan khusus sebagaimana dimaksud, dilaksanakan dalam bentuk :
1) Penyediaan tanda-tanda khusus, berbunyi dan gambar pada tempat-tempat khusus yang disediakan pada setiap sarana dan prasarana pembangunan/fasilitas umum;
2) Penyediaan media massa sebagai sumber informasi dan sarana komunikasi antara lanjut usia.
Penyediaan aksesibilitas oleh pemerintah dan masyarakat dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan prioritas aksesibilitas yang dibutuhkan lanjut usia dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara.
Sarana dan prasarana yang telah ada dan belum dilengkapi dengan aksesibilitas wajib dilengkapi dengan aksesibilitas sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
BAB III
P E N U T U P
Buku ini adalah sebagai sumber informasi untuk aksesibilitas kemudahan dalam penggunaan sarana dan prasarana bagi lanjut usia.
Mudah-mudahan dengan terbitnya buku ini para lanjut usia dapat mengetahui dan kepada para pemangku kepentingan dapat memberikan layanan sebagaimana mestinya.
Kepada semua pihak yang membantu hingga tersusunnya buku ini diucapkan terima kasih.
Setiap bangunan gedung dan/atau bagian dari bangunan gedung yang telah ada wajib
memenuhi pedoman teknis fasilitas dan
aksesibilitas secara bertahap yang diatur oleh pemerintah daerah, minimal pada lantai dasar, terkecuali pada bangunan gedung pelayanan
kesehatan, bangunan gedung pelayanan
transportasi, dan bangunan gedung hunian masal semua lantai bangunan yang ada harus
memenuhi pedoman teknis fasilitas dan
aksesibilitas.
ii. Bangunan gedung yang akan dibangun:
Setiap bangunan gedung yang akan dibangun, harus memenuhi seluruh pedoman teknis fasilitas
dan aksesibilitas yang ditetapkan dalam
pedoman ini.
iii. Bangunan gedung yang mengalami perubahan dan penambahan:
Setiap bangunan gedung yang mengalami perubahan dan penambahan bangunan yang menyebabkan perubahan, baik pada fungsi maupun luas bangunan, maka pada bagian bangunan yang berubah harus memenuhi semua pedoman yang ditetapkan, sedangkan pada
bagian bangunan yang tetap, diharuskan
memenuhi pedoman sesuai ketentuan butir i. iv. Bangunan gedung yang dilindungi:
Bangunan gedung yang merupakan bangunan bersejarah harus memenuhi pedoman teknis aksesibiltas, dengan tetap mengikuti pedoman dan standar teknis pelestarian bangunan yang berlaku.
lxvi
perkantoran, kantor pos, bank, gedung pelayanan umum lainnya, bidang perdagangan, gedung pabrik perindustrian, perhotelan, wisata dan rekreasi, restoran, terminal, bandara, pelabuhan laut, stasiun kereta api;
d. Bangunan gedung fungsi sosial dan budaya meliputi: bangunan untuk pendidikan, kebudayaan, museum, perpustakaan, pelayanan kesehatan, laboratorium, bioskop, tempat pertunjukan, gedung konferensi;
e. Bangunan gedung fungsi khusus meliputi: bangunan
gedung untuk reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanan;
f. Fasilitas umum seperti taman kota, kebun binatang, tempat pemakaman umum dan ruang publik lainnya.
3. Fasilitas umum lingkungan (Ruang terbuka dan penghijauan)
a. Ruang terbuka aktif: setiap ruang terbuka yang diperuntukkan untuk umum sebagai tempat interaksi sosial, harus memenuhi pedoman teknis aksesibilitas yang ditetapkan dalam pedoman ini;
b. Ruang terbuka pasif: setiap ruang terbuka yang terjadi dari hasil perencanaan bangunan secara terpadu seharusnya memenuhi seluruh pedoman teknis aksesibilitas yang ditetapkan.
4. Penerapan
a. Penerapan Wajib.
Ketentuan dalam pedoman ini bersifat wajib bagi bangunan sebagai berikut:
i. Bangunan gedung yang telah ada:
Lampiran I
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 71 TAHUN 1999
tentang
AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT DAN ORANG SAKIT PADA SARANA DAN PRASARANA PERHUBUNGAN
MENTERI PERHUBUNGAN,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1998
tentang upaya peningkatan
Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat, telah diatur ketentuan mengenai aksesibilitas/ kemudahan bagi penyandang cacat di bidang saranan dan prasaranan perhubungan;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu mengatur aksesibilitas / kemudahan yang disediakan bagi penyadang cacat di bidang sarana dan prasarana perhubungan dengan Keputusan Menteri Perhubungan;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1984 tentang Pos (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 28,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3276);
ten-tang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3391);
3. Undang - undang Nomor13Tahun1992 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3479);
4. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480;
5. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3481);
6. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493);
7. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1985 tentang Penyelenggaraan Pos (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3303);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3514);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan (Lembaran
yang bersifat umum dalam suatu lingkungan. 4. Kemandirian, yaitu setiap orang harus bisa mencapai,
masuk dan mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain. C. PENERAPAN PEDOMAN
1. Lingkup
Peraturan Menteri ini menetapkan pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas, yang diperlukan oleh setiap bangunan gedung, termasuk ruang terbuka dan
penghijauan yang dikunjungi dan digunakan oleh semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia.
Bangunan gedung yang dimaksudkan dalam Peraturan Menteri adalah semua bangunan, tapak bangunan dan lingkungan luar bangunannya, baik yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta, maupun perorangan, yang berfungsi selain sebagai rumah tinggal pribadi yang didirikan, dikunjungi dan mungkin digunakan oleh semua orang termasuk penyandang cacat dan lansia dan lansia.
2. Jenis Bangunan gedung
Jenis bangunan gedung yang dimaksudkan dalam pedoman ini adalah bangunan yang berfungsi sebagai: a. Bangunan gedung fungsi hunian, meliputi:
rumah susun, rumah flat, asrama, panti asuhan, apartemen, hotel, dll;
b. Bangunan gedung fungsi keagamaan meliputi:
masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng serta