• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : HADIS PROBLEMATIK: ULASAN

B. Kemunculan dan Perkembangan Hadis

Pembahasan mengenai sejarah hadis problematik tidak dapat dipisahkan dari dua pembahasan yang saling terkait yaitu (1) sejarah munculnya anggapan atau penilaian bahwa hadis-hadis Nabi Muhammad mengandung makna problematik, dan (2) sejarah perkembangan pemahaman (syarḥ dan ta‟wīl) untuk memberi solusi atas hadis-hadis Nabi yang dianggap problematik. Yang pertama bersifat kritis, karena menilai ada problem makna dalam hadis-hadis Nabi, sedangkan yang kedua bersifat difensif, karena berupaya meluruskan dan memberi penjelasan atas anggapan adanya problem makna tersebut.

Pembahasan berikut ini menjelaskan perkembangan hadis problematik dalam dua aspek tersebut, dan secara kronologis dikelompokkan ke dalam tiga periode yaitu periode awal masa kemunculannya, periode pra modern dan periode modern-kontemporer.

1. Embrio Kemunculan Hadis Problematik

Informasi mengenai Nabi bagi umat Islam generasi awal, yaitu generasi al-ṣaḥābah, al-tābi‟īn dan atbā‟ al-tābi‟īn sangat bernilai baik secara praktis-keagamaan maupun secara spiritual-kejiwaan. Informasi tentang Nabi bukan hanya menjadi data untuk mengkonstruk ajaran agama, namun cerita mengenai Nabi juga menjadi media penting untuk mencurahkan rasa cinta dan kerinduan kepada tokoh yang dipuja. Oleh sebab itu informasi

58

mengenai Nabi yang beredar waktu itu tidak terbatas hanya pada masalah akidah dan hal-hal yang berkonsekwensi hukum saja, namun informasi apapun mengenai kehidupan keseharian Nabi juga turut diriwayatkan.

Generasi pertama yang terlibat dalam proses memahami hadis adalah orang-orang yang hidup semasa dan berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, yaitu para sahabat.12 Bagi generasi awal ini memahami sebagian besar sabda Nabi bukanlah hal yang sulit, sebab mereka memahami bahasa arab yang digunakan oleh Nabi dan mengetahui konteks pembicaraannya. Semasa hidupnya, Nabi Muhammad aktif berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya baik keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Perkataan dan perbuatan Nabi menjadi lokus perhatian pada kehidupan waktu itu. Layaknya komunikasi interpersonal kadang perkataan atau perbuatan Nabi tidak seketika difahami oleh orang disekitarnya, sehingga perlu penjelasan lebih lanjut. Tidak jarang Nabi mengambil inisiatif menjelaskan sendiri perkataan-perkataannya, dan kadang para sahabat bertanya kepada Nabi untuk menjelaskan perkataan atau perbuatan yang dilakukannya. Inilah bentuk awal

syarḥ al-ḥadīṡ yang polanya masing sangat sederhana dan

kebanyakan dalam bentuk penjelasan lisan.13

12Saifudin, “Fiqh al-Hadīts: Perspektif Historis dan Metodologis,” Ilmu

Ushuluddin, 11, 2 (2012): 194.

13Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah baina al-Taq‟īd wa al-Taṭbīq,” (Makalah Seminar Internasional Manāhij

59

Dalam kasus-kasus tertentu sebagian sahabat juga mendapati hadis-hadis yang tidak mudah difahami yang di antara penyebabnya adalah mereka mengira bahwa perkataan Nabi yang sedang disampaikan mengandung pertentangan (al-ta‟āruḍ) dengan pesan ayat al-Qur‟an atau dengan sabdanya yang lain. Contohnya adalah sabda Nabi “man ḥūsiba „użżiba”14 (Siapa yang di akhirat

di-ḥisāb, maka dia diazab). Mendengar sabda Nabi ini, „Aisyah merasa musykil karena di dalam al-Qur‟an terdapat ayat yang berbunyi, “fa saufa yuḥāsabu ḥisāban yasīran” (QS al-Insyiqāq: 8). Merespon kebingungan „Aisyah ini, Nabi kemudian menjelaskan cara mengompromikan ayat dengan sabdanya itu. Beliau menerangkan bahwa ḥisāb yang dimaksud dalam ayat adalah al-„arḍu (menunjukkan catatan amal saja), sedangkan ḥisāb yang dimaksud dalam sabdanya adalah al-niqāsy (interogasi terhadap dosa-dosa).

Menurut Luṭfī ibn Muḥammad al-Zagīr kasus dialog antara „Aisyah dan Nabi ini, dan juga kasus-kasus serupa pada masa Nabi masih hidup merupakan bentuk awal dari fenomena keberadaan hadis problematik (musykil al-ḥadiṡ).15 Ketika Nabi masih hidup, kemusykilan-kemusykilan seperti ini langsung dapat dirujuk penjelasannya kepada Rasulullah saw. Dapat dikatakan bahwa

Tafsīr al-Qur‟ān al-Karīm wa Syarḥ al-Ḥadīṡ al-Syarīf di IIUM Malaysia, 17-18 Juli

2006), 1212.

14

Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim

15

60

interaksi dialogis antara Nabi dan para sahabat merupakan konteks awal kemunculan syarḥ al-ḥadīṡ, dan lebih spesifik lagi syarḥ atau

ta`wīl musykil al-ḥadīṡ, penjelasan Nabi terhadap hadis-hadis yang

maknanya problematis.16

Pasca meninggalnya Nabi, hadis-hadis yang dianggap problematik semakin banyak dan penjelasan khusus mengenainya semakin dibutuhkan. Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd menyebutkan lima faktor yang mendorong peningkatan hadis-hadis yang dinilai problematik dan sekaligus peningkatan aktifitas penjelasan hadis tersebut, yaitu (1) menyebarnya para sahabat di berbagai kawasan; (2) banyaknya orang non-arab yang masuk Islam; (3) munculnya pemikiran-pemikiran teologis; (4) terjadinya konflik politik; (5) semakin jauhnya umat Islam dari masa kehidupan Nabi Muhammad saw.17

Lima faktor tersebut dapat diformulasikan ulang menjadi empat faktor yaitu, (1) faktor tempat; (2) faktor waktu; (3) faktor bahasa; dan (4) faktor kesalahfahaman atau penyelewengan terhadap makna hadis.

Pada masa sahabat hingga paruh pertama abad ke dua hijriah kawasan-kawasan baru yang dikuasai pemerintahan Islam semakin luas hingga melewati jazirah arab. Kawasan-kawasan baru tersebut

16Aḥmad al-Mujtabā Bānaqā & Ismā‟īl Ḥāj „Abd Allāh, “Manhajiyyah Syarḥ al-Ḥadīṡ: Aṣālatan wa Mu‟āṣiratan,” al-Tajdīd 16, 32 (2012): 166-167.

17Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1213-1214.

61

tentu mempunyai situasi dan kondisi yang berbeda dengan Makkah dan Madinah tempat Nabi menyampaikan risalah. Ketika hadis difahami oleh masyarakat yang tinggal di daerah yang situasi dan kondisinya berbeda dengan Makkah dan Madinah, maka potensi ketidakfahaman dan kesalahfahaman sangat terbuka. Selaras dengan itu penjelasan-penjelasaan khusus terutama yang berkaitan dengan unsur-unsur lokalitas Makkah dan Madinah yang tidak ditemukan di kawasan baru tentu menjadi sangat dibutuhkan.

Selain faktor tempat, faktor waktu juga mendorong meningkatnya aktifitas penjelasan hadis yang dianggap problematik. Setelah Nabi wafat, informasi mengenai beliau berada di tangan para sahabat. Orang-orang yang dihadapi oleh para sahabat yang tersebar di berbagai kawasan adalah orang yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Dalam kondisi seperti ini tentunya penjelasan yang lebih detil mengenai hadis yang disampaikan menjadi keniscayaan. Kesenjangan bahasa juga menjadi faktor penting bagi munculnya kemusykilan dalam memahami hadis. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat muslim di luar jazirah arab adalah bahasa „ajam (non-arab). Kemampuan dasar mereka dalam memahami hadis Nabi yang berbahasa arab sudah barang tentu perlu bimbingan dan penjelasan-penjelasan dari guru-guru mereka.

Selain faktor tempat, waktu, dan bahasa, faktor penting lainnya yang mendorong munculnya hadis yang dianggap problematik adalah munculnya aliran-aliran teologis dan konflik

62

politik yang ditengarai memicu terjadinya penyelewengan dalam memahami hadis. Keadaan ini mendorong ulama muslim generasai awal memberikan penjelasan terhadap kesalahfahaman tersebut. Model penjelasan yang dikemukakan para ulama pada masa ini masing sangat sederhana dan kebanyakan dalam bentuk penjelasan lisan.18

2. Hadis Problematik pada Masa Pra Modern a. Hadis Problematik pada Masa Klasik

Yang dimaksud dengan masa klasik dalam pembahasan ini adalah masa yang membentang pasca meninggalnya Nabi Muhammad saw hingga berakhirnya abad kelima hijriyah. Masa ini dalam kajian hadis disebut juga dengan masa periwayatan („aṣr al-riwāyah). Pada masa ini hadis-hadis Nabi diriwayatkan dengan disertai sanad yang menyambung hingga Nabi, dan pada masa ini juga kitab-kitab hadis induk disusun.

Sebagaimana telah diterangkan, banyak faktor yang mendorong munculnya hadis-hadis problematik. Semakin luasnya daerah kekuasaan Islam, banyaknya orang-orang non arab yang masuk Islam, berkembangnya konflik baik dalam bidang politik, teologi maupun fikih menjadi pemicu kesalahan-kesalahan dalam memahami hadis termasuk anggapan bahwa dalam suatu hadis mengandung kemusykilan.

18Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1212.

63

Luṭfī ibn Muḥammad al-Zagīr menegaskan bahwa pada akhir abad ke dua hijriah pemahaman-pemahaman sekte Islam awal semakin menyebar, tidak lagi berbentuk pendapat individu tetapi sudah menjadi sebuah gerakan pemikiran yang massif. Pemikiran-pemikiran Syi‟ah, Khawārij dan Mu‟tazilah sering mengkritisi hadis-hadis Nabi dan menilainya mengandung kontradiksi baik dengan al-Qur‟an, hadis yang lain atau dengan logika.19

Faktor-faktor inilah yang secara simultan mendorong para ulama abad kedua hijriah untuk menyusun kitab-kitab yang menjelaskan hadis-hadis Nabi secara umum dan khususnya hadis-hadis yang maknanya sulit difahami atau yang dianggap mengandung problem kontradiksi. Dengan demikian perkembangan penyusunan kitab yang menjelaskan hadis-hadis problematik (syarḥ musykil al-ḥadīṡ) tidak dapat dipisahkan dari perkembangan aktifitas syarḥ al-ḥadīṡ secara umum.20 Ibrāhīm „As‟as bahkan menegaskan bahwa ilmu musykil

al-ḥadīṡ tidak lain adalah ilmu yang membahas bagaimana cara

menjelaskan hadis („ilm bayān al-ḥadīṡ).21

19Luṭfī ibn Muḥammad al-Zagīr, al-Ta‟āruḍ fi al-Ḥadīṡ, 61-63.

20Sejarah perkembangan syarah hadis lihat Hasan Asy‟ari Ulam‟i, “Sejarah dan Tipologi Syarah Hadis,” Teologia 19, 2 (2008): 339-362; M. Alfatih Suyadilaga,

Metodologi Syarah Hadis Era Klasik Hingga Kontemporer (Potret Konstruksi Metodologi Syarah Hadis) (Yogyakarta: SUKA-Press, 2012).

21Ibrāhīm „As‟as, Dirāsah Naqdiyyah fī „Ilm Musykil Ḥadīṡ (Beirut: al-Maktab al-Islāmī, 1996), 55, 79.

64

Model syarah hadis yang berkembang pada periode ini dapat diklasifikasikan ke dalam enam bentuk, yaitu (1) Penyusunan kitab hadis secara tematis; (2) Penjelasan hadis dalam bentuk kitab fikih, akidah atau tafsir; (3) Kitab gharīb

ḥadīṡ; (5) Syarḥ komprehensip terhadap hadis (6); Kitab al-nāsikh wa al-mansūkh dan (4) Mukhtalif al-ḥadīṡ dan musykil al-ḥadīṡ.

Gambar 2.1

Model Syarah Hadis pada Era Klasik

Semua model kitab tersebut mempunyai maksud yang sama yaitu menjelaskan makna yang terkandung dalam hadis

65

Nabi. Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd22 berpendapat bentuk aktifitas penulisan pertama yang dapat dikategorikan sebagai

syarḥ al-ḥadīṡ adalah penulisan kitab hadis yang disusun secara

tematis. Judul-judul bab (al-tarājum) yang mengawali setiap hadis yang dicantumkan merupakan bentuk aktifitas syarḥ

al-ḥadīṡ, menjelaskan kandungan hadis. Penyusunan kitab hadis

berdasarkan urutan tema atau bab seperti ini muncul antara tahun 140 hingga 160 hijriah. Kitab-kitab hadis yang disusun secara tematis seperti ini mempunyai dua kecederungan, pertama mengumpulkan hadis-hadis dalam satu pembahasan tertentu seperti Kitāb al-Manāsik karya Ibnu „Abī „Arūbah (w. 156 H). Kedua mengumpulkan hadis-hadis dalam berbagai pembahasan yang beragam seperti kitab al-Jāmi‟ karya Ma‟mar ibn al-Rāsyid (w. 154 H).

Dua kecenderungan model penyusunan kitab hadis secara tematis seperti ini terus berkembang pada masa periwayatan. Kitab-kitab hadis yang konsen membahas satu bab pembahasan saja semakin banyak disusun para ulama hadis pada masa-masa berikutnya. Tema-tema yang diangkat juga beragam dari masalah akidah, fikih hingga akhlak. Di antara kitab kumpulan hadis yang membahas satu bab secara spesifik adalah kitab

al-Zuhd karya Wakī‟ ibn al-Jarrāḥ (197), kitab al-Fitan karya

Nu‟aim ibn Ḥammād al-Marūzī (w. 228 H), kitab al-Amwāl dan

22Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1215.

66

kitab al-Ṭahūr karya Abū „Ubaid al-Qāsim ibn Salām (w. 224), kitab Juz` Raf‟ al-Yadain dan kitab Khalq Af‟al al-„Ibād karya al-Bukhārī (w. 256 H) dan juga karya-karya Ibnu Abī al-Dunyā (w. 281 H) yang sangat banyak.

Sementara itu, kecenderungan penyusunan tematis kedua juga mengambil bentuk yang beragam. Selain bentuk al-Jāmi‟, pada masa periwayatan juga muncul kitab hadis dengan model

al-muwaṭṭa`āt seperti al-muwaṭṭa` karya Imām Mālik (w. 179

H), model al-muṣannaf seperti karya „Abd al-Razzāq al-Ṣan‟ānī (w. 211 H) dan Abū Bakr ibn Abī Syaibah (w. 235 H); dan model al-Sunan seperti karya al-Tirmiżī (w. 279 H), Abū Dāwud (w. 275 H.) dan lain-lain. Para ulama tersebut kadang memberi penjelasan untuk menyelesaikan hadis-hadis yang dinilai problematik (musykil al-ḥadīṡ) dalam judul-judul bab yang dikemukakan atau di di sela-sela pemaparan hadis yang diriwayatkan.

Bentuk kedua dari syarḥ al-ḥadīṡ yang muncul pada masa periwayatan adalah penjelasan atau penyimpulan (istinbāṭ) atas hadis dalam disiplin ilmu tertentu. Contohnya adalah penjelasan-penjelasan hadis yang dilakukan oleh Imām al-Syāfi‟i (w. 204 H) dalam kitab al-Umm dan al-Risālah. Begitu juga yang dilakukan oleh Muḥammad ibn Ḥasan al-Syaibānī (w. 189 H) dalam karya-karyanya. Kitab-kitab fikih, akidah ataupun tafsir masa periwayatan selalu mencantumkan hadis sebagai dasar argumen pandangan dan pendapat yang

67

dibangun.23 Saat menjelaskan konsep-konsep tertentu para ulama tersebut juga kadang menjelaskan mengenai hadis-hadis yang dianggap problematik (musykil al-ḥadīṡ).

Salah satu bentuk syarḥ al-ḥadīṡ lainnya yang muncul pada masa periwayatan adalah penjelasan terhadap kosakata hadis yang dianggap sulit difahami. Untuk keperluan tersebut para ulama menyusun kitab khusus yang berisi kosakata-kosakata dalam hadis yang susah difahami kemudian menjelaskan makna dan maksudnya. Biasanya kosakata yang dicantumkan dalam kitab jenis ini diurutkan berdasarkan huruf abjad. Kitab-kitab dengan model seperti ini dinamakan dengan kitab gharīb

al-ḥadīṡ. Di antara ulama terawal yang menyusun kitab jenis ini

adalah ahli hadis Mesir „Abd „Allāh ibn Wahb al-Miṣrī (w. 197) yang menyusun kitab Gharīb al-Muwaṭṭa`. Setelah itu banyak para ulama yang menyusun kitab-kitab dengan model penyusunan seperti ini, di antaranya adalah Abū „Ubaidah Ma‟mar ibn al-Muṡanna (w. 208 H), Abū „Ubaid al-Qāsim ibn Salām (w. 224 H.), Abū Isḥāq Ibrāhīm al-Ḥarbī (w. 285 H), Ibnu Qutaibah al-Dainūrī (w. 278 H), dan Muḥammad ibn Naṣr al-Ḥumaidī (w. 488 H) yang menulis kitab Tafsīr Gharīb Mā fī

al-Ṣaḥīḥain. 24 Penjelasan para ulama terhadap

23Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1216.

24Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1217.

68

kosakata yang terdapat dalam hadis tersebut kadang memberi solusi dalam memahami hadis problematik (musykil al-ḥadīṡ).

Selain tiga model syarḥ al-ḥadīṡ yang sudah disebutkan, pada masa periwayatan juga berkembang kitab syarḥ al-ḥadīṡ yang sifatnya lebih holistik dan komprehensip. Kitab-kitab tersebut tidak hanya menjelaskan makna dan maksud matan hadis secara lebih luas, tetapi juga menjelaskan aspek sanad dan perawi hadis tersebut. Kitab syarḥ al-ḥadīṡ jenis ini dapat dikelompokkan menjadi tiga,25 yaitu:

1. Kitab syarḥ yang menjelaskan hanya satu hadis saja seperti kitab Syarḥ Ḥadīṡ Ummu Zara‟ karya Ismā‟īl ibn Abī Uwais al-Madanī (w. 226)26;

2. Kitab syarḥ yang fokus menjelaskan hadis-hadis yang terdapat dalam kitab induk tertentu, seperti kitab A‟lām

al-Sunan Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan kitab Ma‟ālim al-al-Sunan Syarḥ Sunan Abī Dāwud karya al-Khaṭṭābī (w. 388 H), kitab Syarḥ al-Bukhārī karya Ibnu Baṭṭāl (w. 449 H), al-Tamhīd li mā fī al-Muwaṭṭa` min al-Ma‟ānī wa al-Asānīd karya Ibnu

„Abd al-Barr (w. 463 H);

3. Kitab syarḥ yang menjelasakan hadis-hadis yang

dikompilasi oleh pengarangnya sendiri dengan disertai

25 Fatḥ al-Dīn al-Bayānūnī, “Ahammiyat al-Syurūḥ al-Ḥadīṡiyyah wa Qawā‟iduhā,” (Makalah Seminar Internasional Manāhij Tafsīr al-Qur‟ān al-Karīm wa

Syarḥ al-Ḥadīṡ al-Syarīf di IIUM Malaysia, 17-18 Juli 2006), 958-959.

26Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1217.

69

sanadnya sendiri dan disusun berdasarkan urutan bab tertentu. Pengarang kitab jenis ini bukan hanya mengumpulkan materi-materi hadis berdasarkan tema bab tertentu saja tetapi kitab ini juga memberi komentar dan penjelasan. Tema-tema yang diangkat juga beragam seperti tema keagamaan secara umum, fikih, akidah, akhlak dan hadis-hadis yang mengandung polemik. Di antara contohnya adalah kitab Tahżīb al-Ᾱṡār wa Tafṣīl Ma‟ānī al-Ṡābit „an

Rasūlillāh saw min Akhbār karya Muḥammad ibn Jarīr

al-Ṭabarī (w. 310 H) dan kitab al-Hidāyah „ilā „Ilm al-Sunan karya Abū Ḥātim Ibnu Ḥibbān (w. 354 H). Sedangkan contoh kitab yang hanya fokus pada pembahasan fikih adalah kitab Syarḥ Ma‟ānī al-Ᾱṡār karya al-Ṭaḥāwī (w. 321 H) dan al-Sunan al-Kubrā karya al-Baihāqī (w. 458 H). Tema akidah juga menjadi pembahasan penting para

pen-syarḥ periode ini, di antaranya adalah kitab Dalā`il al-Nubuwwah dan al-Asmā` wa al-Ṣifāt karya al-Baihāqī (w.

458 H). Selain tema-tema di atas, hadis-hadis bertemakan akhlak juga menjadi perhatian para ulama untuk dijelaskan. Di antara kitab-kitab yang dapat dikategorikan kitab syarḥ tentang hadis-hadis akhlak adalah kitab Rauḍah al-„Uqalā`

wa Nuzhat al-Fuḍala` karya Ibnu Ḥibbān (w. 354 H) dan Nawādir al-Uṣūl fī Ma‟rifat Aḥādīṡ al-Rasūl karya al-Ḥakīm

70

Karakter khas model syarḥ komprehensip masa periwayatan ini adalah hadis-hadis yang dikemukakan selalu disertai dengan jalur sanad yang menghubungkan penulis dengan Rasulullah. Nukilan penjelasan dari tokoh otoritatif seperti sahabat atau tabi‟in juga disertai dengan jalur sanad. Sedangkan komentar yang dipaparkan oleh pengarang biasanya dalam bentuk uraian singkat. Model syarḥ yang berkelindan dengan periwayatan bersanad ini berakhir pada awal abad ke enam hijriah. Menurut Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd27 kitab Syarḥ al-Sunnah karya al-Baghawī (w 516 H) merupakan kitab syarḥ terakhir yang menggunakan model seperti ini.

Salah satu bentuk aktifitas syarḥ al-ḥadīṡ yang juga berkembang pada masa periwayatan adalah penjelasan para ulama yang secara khusus menerangkan hadis-hadis yang dinilai problematik (musykil al-ḥadīṡ). Antara satu hadis dengan hadis yang lain kadang dinilai bertentangan maknanya. Namun pertentangan tersebut oleh para ulama dapat diselesaikan dengan cara memperhatikan sisi historisnya mana yang lebih awal muncul dan mana yang belakangan, sehingga diketahui mana yang mansūkh (direvisi hukumnya) dan mana yang

al-nāsikh (merevisi). Terkait dengan masalah ini, pada masa

periwayatan muncullah kitab-kitab yang membahas al-nāsikh

wa al-mansūkh dalam hadis seperti karya Aḥmad ibn Ḥanbal

27Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah.” 1219.

71

(w. 241 H) dan Abū Dāwud al-Sijistānī (w. 275 H).28 Ini merupakan bentuk kelima dari model syarḥ al-ḥadīṡ.

Selain problem pertentangan makna hadis yang dapat diselesaikan dengan prosedur al-naskh, para ulama juga mengumpulkan hadis-hadis problematik yang sifatnya lebih luas, yaitu hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan al-Qur‟an, hadis yang lain atau dengan akal yang penyelesainnya tidak mesti dengan prosedur al-naskh. Kitab-kitab model seperti ini disebut dengan kitab mukhtalif ḥadīṡ dan musykil

al-ḥadīṡ. Kemunculannya di antaranya adalah untuk merespon

polemik yang terjadi dalam bidang pemikiran teologis, hukum dan juga konflik politik yang melibatkan hadis-hadis yang dianggap bermasalah maknanya yang terjadi pada masa itu. Di antara ulama yang konsen dalam hal ini adalah adalah al-Syāfi‟i (w. 204 H.) yang menyusun kitab Ikhtilāf al-Ḥadīṡ, Ibnu Qutaibah (w. 278 H.) yang mengarang Ta`wīl Mukhtalaf

Ḥadīṡ, Ṭaḥāwī (w. 321 H.) yang menyusun Syarḥ Musykil Āṡār dan Baihāqī (w. 458 H) yang menyusun kitab al-Khilāfiyyāt.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembahasan mengenai musykil al-ḥadīs pada masa periwayatan selain ditemukan dalam kitab-kitab para tokoh pengkritik hadis seperti dari kalangan mu‟tazilah, juga dapat ditemukan

28Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥamīd, “‟Ilm Syarḥ Ḥadīṡ wa Marāḥiluh al-Tārīkhiyyah,” 1217-1218.

72

penjelasannya dalam kitab-kitab syarah hadis dengan berbagai modelnya, terutama yang secara khusus membahas hadis-hadis problematik. Berikut ini beberapa contoh kitab yang secara khusus membahas hadis-hadis problematik pada masa periwayatan hingga abad ke lima hijriah,

Tabel 2.2

Kitab-kitab Musykil al-Ḥadīṡ pada Masa Klasik

ABAD NAMA KITAB PENGARANG

Abad Ke 3 H Ikhtilāf al-Ḥadīṡ Muhammad ibn Idrīs

al-Syāfi‟ī (w. 204)

Ta`wīl Mukhtalaf al-Ḥadīṡ

Ibnu Qutaibah

al-Dainūrī (w. 276)

Abad Ke 4 H Syarḥ Musykil al-Āṡār Abū Ja‟far al-Ṭaḥāwī

(w. 321)

Tahżīb al-Ᾱṡār Abū Ja‟far al-Ṭabarī (w. 310)

Ta‟wīl Aḥādīṡ al-Musykilāt al-Wāridah fī al-Ṣifāt

Abū Ḥasan al-Kasrawī (w. 330)

Abad Ke 5 H Musykil al-Ḥadīṡ wa

Bayānuh

Ibnu Fūrak (w. 406)

Ta`wīl Mutasyābih

al-Akhbār „Abd Baghdādī (w. 429) al-Qāhir

al-Al-Ᾱṡār allatī Żāhiruhā Ta‟āruḍ wa Nafy al-Tanāquḍ „anha

Ibnu Hazm (w. 465)

Yang perlu mendapat perhatian dari data di atas adalah bahwa sebagian karya tersebut hanya khusus membahas satu jenis dari musykil al-ḥadīṡ yaitu hadis-hadis yang dianggap kontradiktif dengan hadis yang lain, seperti karya al-Syāfi‟ī

73

Ikhtilāf al-Ḥadīṡ, atau hanya membahas hadis-hadis mutasyābih

khususnya yang berkaitan sifat-sifat Allah yang secara tekstual menyerupai sifat makhluk (anthropomorphic), seperti karya al-Khaṭṭābī A‟lām al-Sunan dan Ibnu Fūrak Musykil al-Ḥadīṡ wa

Bayānuh.29

Sedangkan yang lain mengumpulkan berbagai

macam hadis yang mengandung problem, baik problem kontradiksi internal ataupun kontradiksi dengan dalil eksternal

Dokumen terkait