• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Jenis Penyakit dan Cara Pengobatan

4.1.10 Kencing Manis

Suku Tengger mengobati kencing manis menggunakan kulit dari buah manggis (Garcinia mangostana L.) famili Clusiaceae. Penggunaan kulit manggis untuk pengobatan kencing manis belum ada literatur yang menyebutkan. Akan tetapi, buah dalam dari manggis bisa digunakan sebagai obat radang alat kelamin (Sastroamidjojo, 1997).

4.1.11 Kencing Terasa Sakit dan Panas

Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) oleh Suku Tengger digunakan sebagai pengobatan sakit yang dirasa panas dan sakit sekali pada waktu kencing. Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) digunakan dengan cara ditumbuk sampai halus

kemudian ditambah air panas secukupnya. Setelah dingin, air rendaman dapat diminum dengan aturan sehari tiga kali satu gelas.

Tumbuhan Alang-alang dapat digunakan sebagai diuretik, dengan kandungan minyak atsiri yang banyak pada rimpang. Komponen minyak atsiri tersebut antara lain arundion, fernenol, isoarborinol, clyindrin, simiarenol, campesterol (Asean 1993).

4.1.12 Leresan (Sipilis)

Penyakit sipilis jarang sekali muncul pada Suku Tengger, namun pengobatan tradisional untuk mengatasinya sudah dikenal Suku Tengger sejak lama, diantaranya: a. Lobak Tengger dan Jambu Wer

Sipilis atau yang biasa disebut di Suku Tengger leresan menurut responden dari sebagian Suku Tengger adalah penyakit yang diderita oleh laki-laki yang sakit saat mengeluarkan kencing. Pada waktu kencing mengeluarkan nanah dan terasa sangat panas dan sakit. Penyakit ini, diderita oleh sebagian Suku Tengger yang biasanya melakukan hubungan dengan wanita bukan pasangannya, atau bagi laki-laki yang bekerja terlalu keras dengan suhu yang dingin. Suku Tengger menggunakan daun Jambu Wer (Pimento dionica L.) dengan akar dari Lobak Tengger (Raphanus raphanistrum L.) yang direbus, air rebusan tersebut diminum sebagai pengobatan sipilis.

Jambu Wer (Pimento dionica L.) anggota famili Myrtaceae sangat sedikit literatur yang menyebutkan kandungan dan khasiatnya, tetapi dari famili Myrtaceae yang lain seperti pada Eucalyptus globulus Labill. daun dan minyaknya dapat digunakan sebagai antiseptik atau antibakteri (Newall et al., 1995). Begitu juga tumbuhan lain dari famili yang sama yaitu Eugenia caryophyllus (Spreng.) Bull. digunakan sebagai antiseptik. Kandungan yang ada pada famili Myrtaceae antara lain flavonoid, tanin, saponin dan minyak atsiri, namun belum diketahui mana yang berfungsi sebagai antiseptik (Newall et al.,1995).

Lobak Tengger (Rapanus raphanistrum L.) dari famili Brasicaceae belum diketahui literatur yang menyebutkan kandungan dan juga khasiat untuk pengobatan sipilis. Namun, tumbuhan lain yang satu famili dengan Lobak Tengger seperti pada tumbuhan Radicula armorica L. mempunyai khasiat sebagai anti infeksi saluran urin dan juga sebagai antiseptik dengan kandungan utama dalam akar dari Radicula armorica L. adalah fenol, yang didalamnya terdapat derifat asam caffeic dan derifat asam hydroxycinnamic (Newall et al., 1995). Kandungan tersebut belum diketahui senyawa mana yang berkhasiat sebagai antiseptik dan antiinfeksi saluran kencing. b. Kecap, Telur dan Cuka

Cara pengobatan lain untuk sipilis menggunakan campuran dari kecap, kuning telur dan cuka. Pengobatan sipilis dengan cara ini dilakukan dengan disertai pijatan pijatan pada sekitar kemaluan laki-laki dan mantra-mantra khusus. Pemijatan dan mantra ini hanya dilakukan oleh mereka dari Suku Tengger yang bisa dan dipercaya dapat mengobati atau menyembuhkan penyakit sipilis ini.

4.1.13 Luka Gores

Sebagian besar warga Suku Tengger bekerja sebagai petani yang kemungkinan mengalami luka gores benda tajam atau terjatuh sering dijumpai. Pengobatan luka menggunakan obat tradisional bahan alam pada Suku Tengger banyak sekali macamnya, antara lain;

a. Minyak Tanah dan Sawang (jaring laba-laba)

Selain menggunakan berbagai macam tumbuhan yang ada, Suku Tengger menggunakan bahan mineral dan juga hasil metabolisme dari hewan. Bahan mineral yang dipakai untuk mengobati luka adalah minyak tanah. Minyak tanah digunakan sebagai pembersih luka setelah terkena benda tajam atau tergores, minyak tanah ini dimaksudkan sebagai antiseptik. Selanjutnya, untuk menutup luka Suku Tengger menggunakan Sawang (jaring laba-laba). Belum diketahui penelitian pasti mengenai kegunaan Minyak tanah sebagai Antiseptik dan Sawang sebagai penutup luka.

b. Getah Pisang

Dahan pisang (Musa paradisiaca L.) famili Musaceae dipotong kemudian langsung dioleskan pada bagian yang luka. Pisang mempunyai kandungan kimia serotanin, norepinefrin, noreadrenalina, hidroksitriptamina, dopamin, tanin, vitamin A, vitamin B, dan vitamin C dengan keguanaan pisang sebagai penawar racun (Depkes, 1989). Menurut Sastroamidjojo (1997) getah pisang bisa digunakan sebagai pengobat luka, baik luka gores maupun luka terbakar. Penggunaan pisang sebagai pengobatan luka juga digunakan oleh Suku lokal Gunung Gede Pangarango (Rosita et al., 2007).

c. Bawang Merah atau Bawang Putih

Bawang merah atau bawang putih biasanya digunakan sebagai bumbu dapur, oleh Suku Tengger digunakan sebagai obat luka. Penggunaannya dengan cara ditumbuk halus kemudian ditambahkan gula pasir secukupnya. Setelah penambahan gula pasir, hasil tumbukan dilekatkan pada luka. Bawang merah mempunyai kandungan didalamnya adalah flavonoid, tanin 1% minyak atsiri mengandung komponen sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol, kuersetin, florogusin (Depkes,1997; Sastroamidjojo,1997). Sedangkan Bawang putih (Allium sativum L.) didalamnya terdapat tanin <1% minyak atsiri, dialilsulfida, alisin, enzim alinase, vitamin A, vitamin B, dan juga Vitamin C (Depkes 1997). Kandungan bawang merah dan bawang putih dapat digunakan sebagai antiseptik (Newall et al., 1995).

d. Daun Sirih

Daun sirih (Piper betle L.) famili Piperaceae banyak digunakan oleh Suku Tengger untuk mengobat luka. Daun sirih dipetik kemudian dicuci bersih, setelah itu ditumbuk sampai halus dan langsung dioleskan pada bagian tubuh yang terluka. Sirih dapat digunakan sebagai antiseptik luka (Depkes, 1980; Sastroamidjojo,1997). Kandungan utama daun sirih adalah minyak atsiri yang didalamnya mengandung hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol, terpinen, seskuiterpen, fenil propanan, dan tannin (Depkes, 1980).

4.1.14 Masuk Angin

Suhu udara yang dingin menyebabkan masuk angin sering dijumpai pada Suku Tengger. Obat tradisional yang digunakan antara lain:

a. Kayu Putih

Kandungan minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) adalah minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50-65%, α-terpineol, valeraldehida, dan belzaldehida, dengan kegunaan sebagai perut kembung (karminatif) (Depkes,1979; Wijayakusuma et al., 1998). Pada Suku Tengger, dahulu minyak kayu putih didapatkan dari penyulingan sendiri dari daun kayu putih. Kayu putih yang disuling didapatkan dari hutan sekitar kawasan Tengger. Namun, sekarang ini Suku Tengger sudah tidak lagi menyuling kayu putih melainkan langsung membeli di Toko-toko sekitar.

b. Menggunakan Bunga Adas

Bunga adas digunakan sebagai obat masuk angin memiliki frekuensi pengetahuan dan penggunaan yang cukup banyak pada Suku Tengger. Hal Ini disebabkan karena tumbuhan adas tumbuh subur di kawasan Tengger dan juga suhu udara yang dingin menyebabkan frekuensi terserang masuk angin atau kurang enak badan cukup banyak, terutama pada anak-anak. Tumbuhan Adas (Foeniculum vulgare L.) dari famili Apiaceae tumbuh liar dikawasan Tengger dengan kandungan utamanya adalah minyak atsiri yang didalamnya terdapat anethol yang tinggi dan digunakan sebagai pengobatan perut kembung (Sastroamidjojo, 1997). Cara pengobatannya cukup sederhana yaitu bunga Adas sebanyak satu genggam diremas-remas kemudian dioleskan langsung pada perut.

4.1.15 Memperlancar Kencing dan Gejala Penyakit Ginjal

Alang-alang yang tumbuh liar oleh Suku Tengger digunakan untuk memperlancar kencing dan gejala penyakit ginjal. Dalam penggunaannya akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) famili Graminae ditambah lempuyang (Pragmites australis). Lempuyang yang digunakan oleh Suku Tengger bukan lempuyang yang berasal dari famili Zingiberaceae, melainkan dari famili Graminae. Peramuannya

yaitu dengan diambil akar alang-alang secukupnya ditambah akar lempuyang yang kemudian ditumbuk sampai halus. Setelah dirasa cukup halus hasil tumbukan tersebut direbus dengan air secukupnya. Air hasil rebusan diminum sehari tiga kali satu gelas.

Alang-alang dapat digunakan sebagai obat penghancur batu ginjal. Kandungan kimia di dalamnya antara lain damar, asam kresik, kalium dan logam alkali. Kalium merupakan zat yang diduga kuat sebagai penghancur batu ginjal (Wakidi, 2003). Lempuyang (Pragmites australis) dan Alang-alang (Imperata cylindrical L.) masih dalam satu famili. Diduga kuat dengan keterkaitan famili tersebut Lempuyang juga mempunyai kandungan dan aktivitas yang sama dengan Alang alang.

4.1.16 Mimisan

Ganjan di wilayah Tengger tumbuh liar seperti rumput, Suku Tengger menyebutnya sebagai hama tumbuhan. Ganjan (Tagetes signata Bartl.) dari suku Asteraceae digunakan oleh Suku Tengger sebagai obat mimisan. Tumbuhan dari famili Asteraceae yang digunakan sebagai obat mimisan antara lain Artemisia vulgaris L., Eupatorium triplinerve Vahl. (Dalimartha, 1999). Zat yang terkandung didalam kedua tumbuhan tersebut antara lain glikosida dan tanin (Sastroamidjojo, 1997). Penggunaan Ganjan sebagai obat mimisan sangat sederhana sekali. Daun Ganjan diremas-remas kemudian di sumbatkan ke lubang hidung yang keluar darah mimisan.

4.1.17 Pegal Linu

Obat tradisional yang digunakan oleh Suku Tengger untuk Pegal Linu antara lain:

a. Tepung Otot

Tumbuhan Tepung otot (belum teridentifikasi 1) tumbuh liar menjalar di tanah seperti rerumputan yang lain. Penggunaan Tepung otot sudah familiar pada Suku Tengger, hal ini disebabkan karena tumbuhan tepung otot digunakan oleh sebagian

besar Suku Tengger yang mayoritas pekerjaannya sebagai petani dan rentan terkena pegal linu. Penggunaan tepung otot sangat mudah yaitu tumbuhan tepung otot yang menjalar dikumpulkan satu genggam kemudian dibasahi dengan air secukupnya. Setelah terbasahi, tepung otot diremas-remas dan kemudian digosokkan pada bagian tubuh yang terserang pegal linu.

b. Pangotan dan Pakis Sayur

Microsorium buergerianum (Miq.) Ching atau yang biasa disebut oleh Suku Tengger tumbuhan Pangotan berasal dari satu famili dengan Pakis Sayur (Diplazium esculentum (Retz.) Sw.) yaitu famili Polypodiaceae. Campuran dari kedua tumbuhan tersebut pada Suku Tengger digunakan sebagai pengobatan pegal linu atau yang biasa disebut Linu-linu. Penggunaannya yaitu dengan mencampurkan akar dari pangotan dan herba pakis sayur yang kemudian direbus dengan air secukupnya. Air rebusan yang sudah dingin diminum sehari dua kali satu gelas.

Pangotan mempunyai nama umum Paku Pedang yang mempunyai kandungan aktif alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiatnya sebagai anti radang (anti inflamasi), anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009). Dapat disimpulkan sementara bahwa antara pangotan dan pakis sayur mempunyai kandungan dan fungsi yang sama.

4.1.18 Penguat Syahwat (Afrodisiak)

Penggunaan buah Terong Belanda (Cyphomandra betaca (Cav.) Sendtn.) famili Solanaceae sebagai penguat syahwat pada Suku Tengger dinformasikan oleh sedikit responden. Suku Tengger masih menganggap tabu mengenai masalah ini, sehingga belum semua informasi tersampaikan. Maka, perlu adanya pendekatan yang lebih lanjut untuk menggali informasi tentang afrodisiak pada Suku Tengger.

Buah terong belanda yang sudah berwarna merah dipetik dan langsung dimakan. Kandungan aktif didalamnya alkaloid, flavonoid dan tanin. Kandungan tersebut umum digunakan sebagai obat penurun tekanan darah tinggi dan penyegar badan (IPTEK, 2009).

4.1.19 Penyakit Kuning

Pring kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) famili Graminae di Suku tengger digunakan sebagai obat penyakit kuning (hepatitis). Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah akar Pring kuning yang direbus. Air rebusan diminum sehari dua sampai tiga kali satu gelas. Belum ada literatur yang menjelaskan bahwa Pring kuning dapat digunakan sebagai bahan pengobatan penyakit kuning.

Bahan obat lain yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit kuning pada Suku Tengger adalah hewan Keong Mas. Cara peramuannya yaitu, Keong Mas dikeluarkan dari cangkangnya kemudian dicuci bersih. Hasil cucian Keong Mas dibakar di perapian sampai matang, setelah matang langsung dimakan. Hewan Keong Mas juga belum ada literatur yang menjelaskan kandungan dan kegunaan sebagai obat penyakit kuning.

4.1.20 Perut Kembung

a. Beras Kencur dan Daun Sirih

Pengobatan perut kembung menggunakan campuran antara beras kencur dan daun sirih. Kandungan sirih (sudah dijelaskan dipengobatan luka gores) dapat digunakan sebagai karminativ (perut kembung) (Asean. 1993). Sedangkan kandungan dari kencur (Kaempferia galanga L.) famili Zingiberaceae antara lain minyak atsiri 2,4-3,9 % yang mempunyai aktifitas sebagai karminatif (Depkes, 1977; Sastroamidjojo, 1997).

b. Simbukan

Daun simbukan (Paedaria foetida L.) famili Rubiaceae digunakan sebagai obat kembung (karminatf) dengan kandungan bahan aktif glikosida iridoid asperulin, aukobin, paederosida dari arbutin, triterpen, sistosteral, paederon dan paederolan, peifridenalol asetat,dan metil merkapan (Depkes, 1989). Penggunaannya menurut Suku Tengger yaitu dengan cara daun simbukan dicuci bersih kemudian direbus dengan air, hasil rebusan diminum secukupnya.

4.1.21 Rematik

Suku tengger menggunakan tumbuhan Bawang pre (Allium fistulosum L.) dari famili Liliaceae sebagai pengobatan asam urat dan rematik. Bawang pre dibakar kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang linu atau terasa sakit untuk pengobatan rematik. Selain menggunakan bawang pre, Suku Tengger menggunakan akar Pring kuning atau Bambu kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) sebagai pengobatan penyakit rematik. Akar Pring kuning direbus kemudian diminum air rebusannya sehari dua sampai tiga kali satu gelas. Bawang pre maupun Pring kuning belum ada literatur yang menyebutkan kandungan dan kegunaan sebagai obat rematik atau asam urat. 4.1.22 Sakit Gigi

Tumbuhan Kamboja (Plumeria rubra L.) famili Apocynaceae getah daun digunakan sebagai obat sakit gigi pada Suku Tengger. Penggunaanya yaitu dengan cara getah dari daun diambil, kemudian diteteskan pada bagian gigi yang sakit. Kandungan kamboja (Plumeria rubra L.) antara lain flavonoid dan polifenol (IPTEK, 2009), dari kandungan tersebut bisa digunakan sebagai obat sakit gigi (IPTEK, 2009; Sastroamidjojo, 1997). Damar dan asam plumeria diduga kuat sebagai bahan aktif yang berada di daun kamboja dan bisa digunakan untuk pengobatan sakit gigi (Sastroamidjojo, 1997).

4.1.23 Sakit Perut.

Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) mempunyai nama umum Paku pedang yang mempunyai kandungan alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiat anti radang, anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009). Sakit perut bisa disebabkan karena bakteri-bakteri yang kurang menguntungkan berada dalam perut. Pangotan digunakan sebagai antibakteri pada Suku Tengger untuk pengobatan sakit perut. Akar pangotan dikelupas kemudian direndam di air hangat. Setelah beberapa jam perendaman, air rendaman akar pangotan diminum secukupnya.

4.1.24 Penyakit Dalam (Panas, Batuk, dan Pusing)

Suku Tengger menggunakan campuran beberapa tumbuhan untuk mengobati penyakit komplikasi seperti panas, batuk, pusing. Diantaranya menggunakan buah Adas (Foeniculum vulgare Mill.), akar lempuyang (Pragmites australis) famili Poaceae, akar Tepung otot (belum teridentifikasi 1), kulit Keningar (Cinnamomum burmani (Nees & T. Nees) Bl.), Mrica (Piper nigrum L.), serta Pule (Alstonia scdolaris R. Br.). Semua bahan ditumbuk menjadi satu kemudian direbus. Setelah direbus sampai mendidih, kemudian disaring dengan kain yang bersih. Hasil saringan yang digunakan untuk pengobatan dengan aturan pemakaiannya yaitu sehari dua sampai tiga kali satu sendok makan.

Beberapa tumbuhan yang digunakan sebagai campuran untuk mengobati segala penyakit memang sudah banyak disebutkan di beberapa literatur. Sastroamidjojo (1997) menyebutkan antara lain Adas (Foeniculum vulgare Mill.), Mrica (Piper nigrum L), Pule (Alstonia shcolaris R. Br.) dapat digunakan untuk pengobatan panas, batuk dan stamina. Sedangkan akar lempuyang (Pragmites australis), akar Tepung otot (tidak teridentifikasi 1) belum ada literatur yang menyebutkan kandungan diantara keduanya yang bisa digunakan sebagai bahan pengobatan.

4.1.25 Stamina

Suku Tengger dalam menjaga kondisi tubuh (stamina) juga mempunyai resep tradisional, diantaranya:

a. Mrica, Telur jawa, dan Madu

Suku Tengger untuk meningkatkan stamina menggunakan resep tradisional campuran antara biji Mrica (Piper nigrum L) famili Piperaceae, Telur Jawa, dan Madu. Satu sendok kecil mrica yang sudah halus dicampur dengan satu kuning telur jawa dan ditambah madu secukupnya. Campuran tersebut diminum sehari satu kali sebelum tidur malam.

Mrica (Piper nigrum L) dengan kandungan minyak atsiri yang didalamnya terdapat felandrin, dipenten, kariopilen, enthoksilin, limonene, alkaloid piperina dan kavisina mempunyai kegunaan sebagai karminativ dan iritasi lokal (Depkes, 1980). IPTEK (2009) menyebutkan bahwa dari kandungan tersebut juga digunakan sebagai tekanan darah tinggi, obat sesak nafas dan peluruh keringat. Belum ada yang menyebutkan bahwa dari kandungan tersebut digunakan sebagai penambah stamina. b. Akar Pangotan

Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) mempunyai nama umum Paku pedang yang mempunyai kandungan alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiat anti radang, anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009), dari kandungan tersebut belum ada literatur yang menyebutkan bahwa akar pangotan dapat digunakan sebagai penambah stamina.

4.1.26 Stamina pada Ibu Hamil

Daun pepaya (Carica papaya L.) dan daun ketela pohon (Manihot utilissima Pohl) digunakan untuk meningkatkan stamina pada ibu hamil. Daun dari kedua tumbuhan tersebut direbus kemudian diminum airnya sehari dua kali, setiap pagi dan sore hari satu gelas. Daun pepaya mempunyai kandungan enzim papain, alkaloid karpaina, pseudo karpaina, glikosida, karposida, dan saponin (Depkes, 1989), dari kandungan yang ada bisa digunakan untuk meningkatkan stamina pada ibu hamil (Sastroamidjojo, 1997).

4.1.27 Sulit Buang Air Besar a. Jambe dan Beras

Kandungan jambe (Areca catechu L.) famili Arecaceae antara lain arekolin, arekaidin, guvasin, guvakolin, isoguvasin, gula dan resin (Depkes, 1989). Kandungan tersebut mempunyai kegunaan sebagai obat cacing dan anti diare (Depkes,1989; Sastroamidjojo,1997). Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai jambe dan juga

penambahan beras yang dihaluskan digunakan sebagai pengobat sulit buang air besar seperti yang dilakukan oleh Suku Tengger.

Buah jambe yang sudah masak dicacah halus kemudian digoreng di tempat penggorengan yang terbuat dari tanah liat. Hasil penggorengan yang sudah hangus kemudian ditumbuk sampai halus. Cara pemakaiannya yaitu dengan disedu menggunakan air panas hasil tumbukan buah jambe yang sudah digoreng dua sampai tiga sendok makan. Diminum sehari dua kali, pagi dan malam hari.

b. Daun Ceplukan

Daun ceplukan (Physalis angulata L.) famili Solanaceae digunakan oleh Suku Tengger untuk mengatasi sulit buang air besar. Kandungan bahan di dalamnya antara lain asam sitrat, fisalin sterol/ terpen, saponin, flavonoid, dan alkaloid (Depkes, 1995). Kandungan utama yang aktif pada daun dan kelopak adalah fisalin dengan kegunaannya sebagai diuretikum, dan jika terlalu banyak pemakaiannya maka akan dapat menyebabkan pusing (Sastroamidjojo, 1997). Jenis tumbuhan yang berasal dari satu famili dengan ceplukan salah satunya adalah Capsicum sp. dengan kegunaan sebagai antipiretik, antiflatulen dan sebagai obat mules atau sakit perut (Depkes, 1995).

4.1.28 Tenggorokan Serik

Tebu (Saccaharum officinarum L.) digunakan oleh Suku Tengger untuk pengobatan tenggorokan serik. Menurut Suku Tengger, tenggorokan serik terjadi ketika individu atau warga Suku yang akan terkena batuk. Cara pengobatannya cukup mudah yaitu tebu dipotong kira-kira satu jengkal orang dewasa kemudian dibakar di perapian. Setelah tebu kelihatan hangus, diangkat dan ditunggu sampai dingin. Tebu hasil pembakaran dikelupas dari kulitnya kemudian diperas sampai keluar airnya. Air perasan diminum sehari tiga kali. Kandungan kimia dari tebu (Saccaharum officinarum L.) adalah glikosida, saponin, flavonoid, dan polifenol yang dapat digunakan sebagai obat batuk (IPTEK, 2009).

4.1.29 Typus

Cacing yang digunakan berada di pohon pisang yang sudah busuk untuk mengobati penyakit typus. Cacing direbus dengan air kemudian air rebusan diminum sehari dua kali satu gelas. Cacing yang digunakan oleh Suku Tengger belum teridentifikasi, sehingga kandungan dan manfaat yang jelas belum dapat ditemukan. 4.2 Jenis Tumbuhan, Hewan dan Bahan Mineral

Berdasarkan hasil penelitian di Suku Tengger terdapat 47 tumbuhan dan juga 3 jenis hewan yang digunakan untuk pengobatan di Suku Tengger (Tabel 4.2 dan Tabel 4.3). Dari tabel persentase tersebut Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan Pisang (Musa paradisiaca L.) mempunyai persentase pengetahuan dan penggunaan yang paling tinggi (lebih dari 50%). Bawang merah (Allium ascolanicum L.), Dringu (Acorus calamus L.), Ganjan (Tagetes signata Bartl.), Grunggung (Pothentilla argunta Pursh), Jambu biji (Psidium guajava L.), Jambu wer (Pimento dionica L.), Kunyit (Curcuma domestica Valeton), dan Tepung otot (belum teridentifikasi 1) mempunyai persentase pengetahuan atau penggunaan yang relatif sedang (berkisar antara 20%-50%). Sedangkan sisa tumbuhan yang lain mempunyai persentase sampai 20%.

Bahan obat yang berasal dari hewan yang diketahui atau digunakan oleh Suku Tengger semuanya mempunyai persentase sampai 20%. Sedangkan untuk bahan mineral alam juga mempunyai persentase pengetahuan atau penggunaan sampai 20%. Semakin tinggi persentase penggunaan atau pengetahuan semakin tinggi tingkat kepercayaan bahwa tumbuhan, hewan atau bahan mineral alam dapat memberikan pengobatan.

Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam sistem pengobatan pada umumnya adalah tumbuhan yang tumbuh di pekarangan dan dikembangkan dengan teknik budidaya sederhana (asal tanam), sedangkan bahan obat hewan dan bahan mineral alam didapatkan Suku Tengger jika memerlukan dan didapatkan disekitar

kawasan Tengger. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang diambil langsung dari hutan sekitar wilayah Tengger. Suku Tengger mengambil tumbuhan, hewan dan bahan mineral alam sebagai obat dalam jumlah kecil, sehingga penyusutan dari tumbuhan obat di wilayah Tengger relatif rendah. Akan tetapi, keadaan wilayah Tengger yang sekarang banyak digunakan sebagai kawasan ladang produktif untuk tanaman sayur-sayuran menyebabkan beberapa tumbuhan obat menjadi langka. Seperti jamur impes yang tidak tahan terhadap bahan-bahan kimia untuk penanaman sayur. Begitu juga dengan keong mas yang berada disekitar aliran sungai yang keberadaannya sudah hampir tidak ada, sehingga perlu adanya kesadaran dari semua pihak untuk tetap melestarikan tumbuhan atau hewan yang bisa digunakan oleh Suku Tengger sebagai resep pengobatan tradisional.

Obat tradisional yang ada, digunakan oleh Suku Tengger secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi seiring dengan pewarisan budaya Suku Tenger. Namun, pola pewarisan tersebut sangat terbatas dikalangan usia rata-rata diatas 45 tahun keatas. Hal ini terbukti dari responden yang memberikan informasi dari hasil metode pengambilan sample Snowball Sampling hanya dikalangan umur 45 tahun keatas. Dikhawatirkan ada kecenderungan terjadinya pengikisan pengetahuan pengobatan tradisional pada Suku Tengger.

Dokumen terkait