BAB II LANDASAN TEORI
5. Kendala - Kendala dalam Pembelajaran Penjasorkes
Penjasorkes merupakan salah satu pelajaran yang mempunyai peran penting untuk mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan. Namun demikian banyak kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.
Dalam jurnal pengembangan pembelajaran pendidikan jasmani dalam pengembangan bolavoli vharsa (2009) adalah untuk memajukan perkembangan pendidikan jasmani tentulah tidak berjalan dengan mudah, sebab banyak masalah yang harus dihadapi. Berikut pendidikan jasmani yang ada di sekolah-sekolah sebagai berikut:
1) Kebutuhan jasmani yang selalu dinomor duakan. Sekolah yang selalu mementingkan pendidikan lain selain pendidikan jasmani tentunya juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan
jasamani. Sekolah akan memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana untuk kebugaran jasmani setelah kebutuhan pendidikan yang lain dipenuhi. 2) Sempitnya lahan sekolah. Permasalahan ini terutama terjadi pada
sekolah-sekolah yang ada di kota. Sehingga pihak sekolah-sekolah beranggapan dengan lahan yang sempit, tidaklah mungkin mengoptimalkan pengadaan sarana dan prasarana untuk kegiatan kebugaran jasmani.
3) Minimnya sarana yang ada di sekolah. Di desa meskipun memiliki lahan yang luas tetapi dalam hal pengadaan sarana yang dibutuhkan untuk kegiatan kebugaran jasmani mereka mengalami banyak persoalan.
4) Minat dan bakat siswa yang ada di sekolah tersebut terhadap kebugaran jasmani. Antusias siswa yang besar dalam kegiatan jasmani akan mendapatkan perhatian dari pihak sekolah. Apalagi bila disekolah tersebut memiliki banyak siswa yang berprestasi dibidang olahraga.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, kendala secara umum yang dihadapi dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Penjaosrkes) meliputi empat faktor yaitu: kebutuhan jasmani yang dinomor duakan, sempitnya lahan sekolah, minimnya sarana di sekolah dan minat dan bakat siswa yang rendah. Untuk mencapai hasil belajar Penjas yang optimal, maka kendala-kendala tersebut harus diatasi. Lebih lanjut dalam jurnal pengembangan pembelajaran pendidikan jasmani dalam pengembangan bolavoli vharsa (2009) dijelaskan penyelesaian untuk masalah-masalah mengenai pendidikan jasmani yang ada di sekolah yaitu sebagai berikut: 1) Pengadaan dana sebagai upaya untuk pengembangan sarana prasarana
pendidikan jasmani merupakan permasalahan yang sangat sulit apalagi bila sekolah tersebut masih dalam tahap pembangunan. Disini yang dibutuhkan adalah sebuah pengertian dari pihak pengelola dana tersebut supaya mau mengadakan dana untuk bidang kesegaran jasmani tersebut. 2) Untuk mengatasi lahan sekolah yang sempit dapat dilakukan
pembangunan gedung olahraga yang bertingkat, sehingga lahan untuk kegiatan kesegaran jasmani dapat diperluas tanpa harus membutuhkan
lahan yang terlalu luas. Selain itu juga dengan cara pengadaan sebuah lapangan yang multi fungsi.
3) Minimnya sarana yang ada bukanlah masalah yang sepele meskipun dalam pembelajaran pendidikan jasmani masalah ini dapat disiasati. Guru penjas selaku pihak yang berhubungan dengan masalah ini hendaknya beliau harus lebih giat lagi berusaha untuk pengadaan sarana tersebut, misalnya meminta bantuan pada pihak sekolah atau sponsor-sponsor produk olah raga.
4) Disini antusias dan tanggapan siswa terhadap olahraga bila sangat besar tentunya ini akan mendapatkan respon yang positif dari pihak sekolah mengenai pengadaan sarana dan prasarana penjas. Sehingga disini mereka harus memberikan sebuah prestasi, agar pihak sekolah lebih memperhatikan kegiatan jasmani.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, kendala-kendala dalam pembelajaran Penjas dapat diselesaikan dengan beberapa cara di anatranaya: diupayakan ada pengerian pihak sekolah dengan pembelajaran Penjas, lahan yang sempit diupayakan tetap tidak mengesampingkan fasilitas dari Penjas dan pihak sekolah seharusnya memberikan tanggapan terhadap siswa yang memiliki antusia yang besar dalam kegiatan olahraga dan berusaha menyediakan sarana dan prasarana Penjas.
6. Kurikulum
a. Pengertian Kurikulum
Menurut Sudjana (2005),” kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah”(hlm.3). Kurikulum adalah niat dan rencana, proses belajar mengajar adalah pelaksanaanya. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni guru dan siswa. Siswa adalah sobyek yang dibina dan guru adalah obyek yang membina.
Curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum
di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.
Pengertian kurikulum menurut Junaidi (2009) “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum adalah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematis dan logis, di berikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah niat, rencana atau harapan. Kurikulum adalah hasil belajar yang dimiati atau intended learning out comes.
b. Pengertian KTSP
Pengertian kurikulum menurut Junaidi (2009) “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Pengertian KTSP menurut Junaidi (2009) KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
Dari pernyataan tersebut kurikulum KTSP adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan di masing-masing satuan pendidikan.
c. Konsep dasar KTSP
Dalam jurnal konsep dasar kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Arisandi (2012) bahwa dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan, penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1) dan 2) sebagai berikut:
a. Pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Kurikulum pada suatu jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
Menurut Mulyasa (2006) hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:
a. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
b. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan KTSP dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar Kurikulum dan Standar Kompetensi lulusan, dibawah sepervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan Departemen Agama yang bertanggungjawab dibidang pendidikan c. KTSP untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan
dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
d. KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP
merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikan sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat.(hlm.20)
Menurut Mulyasa (2006) “KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satuan pendidikan dengan memberikan otonomi yang lebih besar, disamping menunjukkan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efesiensi, dan pemerataan pendidikan”.(hlm.20) KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. Otonomi dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan staf sekolah, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan, khususnya kurikulum. Pada sistem KTSP, sekolah memiliki “full autority and responsibility” dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, isi dan tujuan satuan pendidikan. Untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan tersebut, sekolah dituntut untuk mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator kompetensi, mengembangkan strategi, menentukan prioritas, mengendalikan pemberdayaan berbagai potensi sekolah dan lingkungan sekitar, serta mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat dan pemerintah.
d. Tujuan KTSP
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah unutk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP seperti yang dikemukakan oleh Mulyasa (2006) adalah untuk:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. 3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antara satuan pendidikan tentang
kualitas pendidikan yang akan dicapai.(hlm.22)