KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUD
C. Kendala-Kendala Yang Dialami Mediator Dalam Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Negeri Medan
Meskipun begitu Pemberlakuan Perma Nomor 1 Tahun 2016 ini diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat bahwa pengadilan tidak hanya memutus melainkan juga mendamaikan yang dimana tujuan dilahirkannya Perma ini agar dapat meminimalisir penumpukan perkara yang diajukan di Pengadilan. Keberadaan mediasi yang prosesnya diatur oleh Perma ini diharapkan dapat memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam menyelesaikan sengketa.
Mediasi merupakan alternatif penyelesaian sengketa yang juga memiliki berbagai kelemahan dimana hal ini menjadi kendala bagi mediator untuk mendamaikan para pihak. Adapun yang menjadi kelemahan dari mediasi yaitu kebanyakan proses mediasi itu gagal dilakukan di pengadilan karena sebelumnya mereka sudah melaksanakan proses penyelesaian sengketa ini diluar persidangan akan tetapi tidak ada hasil. Kelemahan lainnya adalah kurangnya dukungan dari penasihat hukum dalam proses mediasi karena jika perkara itu selesai dengan proses mediasi maka akan mempengaruhi biaya jasa mereka. Kelemahan dalam hal hakim sebagai mediator karena hakim tidak memiliki kesempatan yang luas untuk menjalankan peran sebagai mediator yang dimana tugas pokok hakim itu
74
memeriksa dan mengadili perkara sehingga hakim tidak memiliki waktu yang banyak dalam proses mediasi.75
Salah satu hal yang menjadi kendala bagi mediator dalam menjalankan proses mediasi adalah tidak adanya itikad baik para pihak dimana itikad baik sangat penting guna keberhasilan proses mediasi agar tercapai kesepakatan yang
win-win solution. Apabila para pihak tidak mau melihat kebutuhan mereka dan
hanya mengejar keuntungan, maka perdamaian melalui mediasi akan sulit tercapai.
Kendala yang dialami mediator dalam mediasi ini dapat dilihat dari para pihak, dimana jika para pihak tidak mempunyai itikad baik maka akan mempersulit mediator dalam mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan proses mediasi. Bahwa mediasi itu hanya akan efektif jika para pihak benar-benar ingin menyelesaikan sengketa mereka dengan cara mediasi ini. Jika hanya satu pihak saja yang mempunyai itikad baik itu maka mediasi tidak akan berhasil. Salah satu hal yang juga menjadi penyebab tidak berhasilnya mediasi ini adalah pemahaman masyarakat mengenai keberadaan mediasi ini. Seharusnya mediasi itu dapat disebarluaskan atau disosialisasikan dengan baik agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya mediasi itu dalam menyelesaikan sengketa, sehingga mendorong masyarakat yang mempunyai sengketa agar menempuh proses mediasi.
76
Ruangan untuk mediasi juga merupakan faktor penghambat proses mediasi. Dimana dalam Perma mediasi hanya boleh dilakukan dalam lingkup pengadilan sehingga dibutuhkan ruangan untuk mediasi. Tersedianya ruangan
75
Ibid, Wawancara.
76
khusus mediasi merupakan faktor penting untuk mendukung pelaksanaan mediasi tersebut. Di samping faktor kerahasiaan yang harus dijaga, rasa nyaman juga perlu diperhatikan agar para pihak lebih leluasa mengungkapkan masalahnya dan tidak takut masalahnya didengar orang lain.77
Dalam hal yang menjadi mediator adalah hakim maka kendala yang dialami mediator hakim adalah masalah waktu. Hakim memiliki waktu yang sangat terbatas dimana hakim memiliki tugas pokok untu menangani volume perkara yang sangat banyak. Kemudian masalah persiapan psikis, karena untuk menjadi mediator dalam mediasi, maka hakim mediator harus benar-benar mempunyai ketenangan atau tidak dalam keadaan terburu-buru, dimana pada umumnya para pihak memiliki tingkat emosional yang berbeda-beda karena sengketa yang mereka hadapi.78
Jika dalam sistem hukum kita, hakim dipersiapkan untuk menjadi mediator, bagaimana menyiasati agar hakim bisa efektif menjalankan peran sebagai mediator dengan teknik-teknik yang benar. Kalau diamati berbagai praktik di luar, ada beberapa cara menyiasatinya, ada solusi kebijakan dan prosedural. Kebijakan tersebut yaitu :79
1. Hakim mediator bukan hakim yang menangani mediasi. Kalau di Singapura disebut settlement judged. Kalau di Jepang mediator terdiri dari tiga orang yang disebut conciliation commissioner di mana ketuanya hakim, namun bukan hakim yang menangani perkara, sedangkan anggotanya biasanya advokat serta semuanya diadministrasikan oleh
77
Ibid, hal.158.
78
Wawancara dengan Riana br Pohan, Op.Cit.
79
Susanti Adi Nugroho, Penyelesaian Sengketa Arbitrase dan Penerapan hukumnya, ( Jakarta : Prenadamedia Group, 2015), hal.69-70.
Mahkamah Agung Jepang. Mediator bukan hanya ahli hukum melainkan juga ahli teknis yang berkaitan dengan kasus tersebut, seperti akuntan, arsitek dan lainnya. (Di Indonesia hakim mediator tidak boleh merangkap hakim yang menangani perkara).
2. Penerapan tidak murni dari interest based mediation (IBM), tetapi lebih kepada pencampuran teknik, yang bisa menjadi efektif jika diterapkan oleh ahli hukum atau yang disebut dengan early neutral evaluation (ENE), yang dilakukan dengan melihat kasusnya, segi kekuatan dan kelemahannya, berdasarkan bukti dan fakta yang diajukan. Baru kemudian memberikan nasihat, kekuatan, possible outcome, dan liability yang ditanggung sehingga para pihak memutuskan apa akan terus melakukannya atau tidak.
3. Mediator, khususnya di Jepang, Singapura, dan Thailand, bersifat sangat aktif. Bahkan menurut Undang-Undang Konsiliasi, kasus perdata di Jepang, jika conciliation commissioner mencapai kegagalan, maka mereka dapat mengajukan suatu keputusan yang disebut “rulling”. Kalau dalam 14 hari para pihak tidak menjawab, maka dianggap mereka menerima rulling tersebut. Tetapi istilahnya “dapat”, jadi tidak otomatis conciliation
commissioner memberikan rulling. Rulling itu mempunyai kekuatan
hukum seperti kekuatan di Pengadilan.
4. Mediator merupakan gabungan antara hakim dan nonhakim. Di Indonesia, berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung diatur pengembangan daftar mediator terdiri dari hakim, dimana para pihak yang bersengketa boleh memilih.
Dapat disimpulkan bahwa mediasi itu dapat berjalan secara efektif jika benar-benar ada itikad baik dari para pihak, dimana peran mediator baik mediator hakim dan non hakim, serta pengacara menjadi pendukung agar proses mediasi berjalan lancar. Berhasilnya proses mediasi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak apakah para pihak benar-benar ingin sengketanya diselesaikan dengan mediasi. Disinilah peran mediator sebagai jembatan untuk menyatukan perbedaan persepsi dari para pihak demi tercapainya suatu kesepakatan yang memenuhi kepentingan para pihak.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan penulis, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kedudukan mediator sebagai pihak ketiga dalam mediasi harus bersifat netral dalam melayani berbagai kepentingan para pihak. Mediator harus mampu menelusuri apa saja kepentingan para pihak itu, agar dapat menawarkan pilihan kepada para pihak demi memenuhi kepentingan mereka. Sebagai pihak ketiga yang memimpin pertemuan yang dihadiri para pihak, mediator harus mampu mengarahkan para pihak untuk komunikasi yang positif demi memudahkan jalannya proses mediasi. Komunikasi yang baik antara para pihak dapat dijadikan mediator sebagai jembatan dalam menghasilkan pengertian yang sama di antara para pihak. Peran mediator dapat terwujud dengan adanya keahlian dari mediator yang dimana keahlian itu diperoleh melalui pendidikan, pelatihan atau training, dan pengalaman dalam menyelesaikan berbagai sengketa. Berbagai pengalaman mediator dalam menyelesaikan sengketa memudahkan dirinya dalam menjalankan proses mediasi, keahlian-keahlian dari mediator akan terus mendorongnya bertindak positif. Agar mediasi itu berjalan lancar, ada baiknya mediator menjelaskan terlebih dahulu kepada para pihak bagaimana proses mediasi itu dan bagaimana kedudukannya dalam mediasi.
2. Bahwa keberadaan Perma Nomor 1 Tahun 2016 ini masih belum efektif penerapannya di Pengadilan Negeri Medan, karena volume perkara yang diajukan di Pengadilan Negeri medan sangatlah banyak terlebih lagi mediator yang tersedia di Pengadilan Medan hanyalah mediator hakim sedangkan seorang hakim mempunyai tugas yang banyak dalam memeriksa, mengadili, dan memutus berbagai penumpukan perkara yang telah diajukan di Pengadilan Negeri Medan.
3. Kendala yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi ini dapat dilihat dari para pihak, dimana jika para pihak tidak mempunyai itikad baik maka akan mempersulit mediator dalam mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan proses mediasi. Bahwa mediasi itu hanya akan efektif jika para pihak benar-benar ingin menyelesaikan sengketa mereka dengan cara mediasi ini. Jika hanya satu pihak saja yang mempunyai itikad baik itu maka mediasi tidak akan berhasil. Salah satu hal yang juga menjadi penyebab tidak berhasilnya mediasi ini adalah pemahaman masyarakat mengenai keberadaan mediasi ini. Seharusnya mediasi itu dapat disebarluaskan atau disosialisasikan dengan baik agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya mediasi itu dalam menyelesaikan sengketa.
B. Saran
Untuk mengupayakan agar penerapan Perma Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan dapat berjalan dengan baik di Pengadilan Negeri Medan, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Diharapkan adanya itikad baik dari para pihak dalam menempuh mediasi, karena ini merupakan hal yang sangat penting demi berlangsungnya proses mediasi. Itikad baik maksudnya, para pihak hadir setelah dipanggil secara patut dan sah dimana dalam pasal 21 ayat (1) Perma Nomor 1 Tahun 2016 bahwa mediator menentukan hari dan tanggal pertemuan, setelah menerima penetapan penunjukan mediator. Keputusan perdamaian hanya dapat dihasilkan oleh kesepakatan para pihak, karena pelaksanaannya pun berdasarkan itikad baik dari para pihak yang mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi.
2. Agar pelaksanaan mediasi dapat berjalan lebih efektif sebaiknya para pihak memilih mediator non hakim, disebabkan mediator hakim tidak memiliki waktu yang banyak dalam melaksanakan proses mediasi karena banyaknya perkara yang harus diperiksa dan diadili oleh hakim di Pengadilan Negeri Medan.
3. Diharapkan adanya ruangan atau tempat yang memadai di Pengadilan Negeri Medan dalam melaksanakan proses mediasi, dimana dalam pasal 11 Perma Nomor 1 Tahun 2016 Tentang prosedur mediasi dijelaskan bahwa Mediator hakim dan pegawai Pengadilan dilarang menyelenggarakan mediasi di luar Pengadilan. Mediator non hakim dan bukan pegawai Pengadilan yang dipilih atau ditunjuk bersama-sama dengan mediator hakim atau pegawai Pengadilan dalam satu perkara wajib menyelenggarakan mediasi bertempat di Pengadilan.
4. Diharapkan adanya dukungan dari Kuasa Hukum para pihak dalam pelaksanaan mediasi, yaitu dengan memberikan penjelasan yang sebaik-
baiknya tentang mediasi bahwa mediasi merupakan alternatif penyelesaian yang penting dan harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum perkara mereka diadili di Pengadilan.