Pengelolaan lembaga pendidikan Islam di Sumatera Timur tidak selamanya berjalan lancar. Beberapa kendala kerap dialami yang mengakibatkan terjadinya dinamika dalam pengelolaannya, seperti:
1. Minimnya fasilitas
Berdirinya lembaga pendidikan Islam di Sumatera Timur pada awal abad ke-20 adalah inisiatif sultan dan umat Islam. Dengan berbagai alasan, pemerintah kolonial Belanda tidak tertarik untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam. Tidak hanya mendirikan, memberikan bantuan terhadap madrasah yang sudah berdiri pun tidak mereka lakukan. Jadilah madrasah ketika itu sebagai lembaga pendidikan yang dibiayai oleh umat Islam sendiri.
Kebijaksanaan Belanda dalam mengatur jalannya pendidikan tentu saja dimaksudkan untuk kepentingan mereka sendiri, termasuk untuk kepentingan agama Kristen. Hal ini terlihat, misalnya ketika Van Den Boss menjadi Gubernur Jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluar kebijakan bahwa sekolah-sekolah gereja dianggap dan diperlakukan sebagai sekolah pemerintah. Sedang departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu, sementara di setiap daerah keresidenan didirikan satu sekolah agama Kristen. Pada tahun 1917
239Ibid., h. 32 dan 42. 240Ibid., h. 52.
87
pemerintah Belanda memberikan bantuan kepada sekolah dasar swasta yang umumnya dikelola oleh pihak Kristen sebesar f. 414.000.241
Jadi yang terpikirkan oleh pemerintah Belanda di bidang pendidikan hanyalah untuk kepentingan mereka sendiri. Inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi adalah ketika Van Der Capellen menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Pada waktu itu ia mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada para bupati yang isinya adalah: “Dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya kemampuan membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hukum negara yang diterapkan Belanda.”
Dengan demikian jelas terlihat, meskipun Belanda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi, tapi semua adalah demi kepentingan mereka semata. Jiwa dari surat edaran yang dibuat Van Der Capellen tersebut di atas adalah menggambarkan tujuan dari didirikannya Sekolah Dasar pada masa itu. Sedangkan pendidikan Islam yang telah ada berlangsung di rumah, pondok pesantren, dan masjid atau yang lainnya dianggap tidak membantu pemerintah Belanda. Para santri pondok masih dianggap buta huruf latin yang secara resmi menjadi acuan pada waktu itu.242
2. Peraturan Pemerintah yang Mempersulit
Di Indonesi a, Belanda menghadapi kenyat aan bahwa sebagian bes ar penduduk yang dij aj ahn ya di kepul auan Nus ant ara ini adal ah beragam a Isl am. Nam un karena kurangn ya pengetahuan ya ng t epat m engenai Is lam, mul a -mul a Bel anda tidak berani men cam puri agam a ini s e cara langs ung. Sikap Bel anda dal am mas al ah ini "dibentuk ol eh kom binasi kontradi kti f ant ara rasa t akut dan harapan yang berl ebihan."243 Di satu pi hak Bel anda s angat khawati r akan timbuln ya pemberont akan orang -orang Isl am fanati k. S em en t ara di pihak lai n Bel anda s angat optimis bahwa keberhasi lan kri stenis asi akan segera men yel es ai kan s em ua pers oal an. Dal am hal ini Isl am sangat ditakuti , karena dianggap mirip dengan Katoli k. Hubungan ant ara umat Isl am di kepulauan i ni —terutama para ulamanya— dengan Khalifah Turki, semula diduga sama dengan hubungan ant ara um at Kat olik dengan Paus di R oma.
241Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda: Het Kantoor voor Inlandsche zaken, (Jakarta: LP3ES, 1985), h. 34
242Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, h. 51.
88
Ketidaktahuan m engenai Isl am dan bahas a Arab, juga belum menget ahui sistem s osi al Is lam , men yebabkan pihak Bel anda pada t ahun 1865 tidak m au memberikan bantuan bagi pem b angunan s uat u m asji d, kecuali kal au ada alasan istimewa. S ebagai koloni alis, pem erint ah Bel anda m em erl ukan inlandsch politiek, yakni kebij aks anaan mengenai pribumi, untuk m em a hami dan m enguasai pribumi.244 Agakn ya dengan menampilkan politik Isl amn ya, S nouck Hurgronje berhasil menemukan seni m e m ahami dan menguas ai penduduk yang s ebagi an bes ar muslim i tu. Dialah "arsit ek keberhasil an politi k Isl am yang pali ng legendaris ,"245 yang telah m elengkapi penget ahuan Bel anda t ent ang Isl am, terut am a bidang sos ial dan poli ti k, di sampi ng berhasil m enelit i ment alit as ketim uran dan Is lam .
Tet api kebij aksanaan untuk tidak mencampuri agama ini nampak tidak konsi sten, karena ti dak adan ya garis yang jel as . Dal am masal ah haji mi saln ya, tern yat a pemeri ntah koloni al ti dak bis a m enah an di ri untuk ti dak campur tangan; j ust eru para haji s ering di curigai , dianggap fanatik dan tukang memberont ak.246 Pada t ahun 1859, Gubernur J enderal dibenarkan mencampuri mas al ah agam a bahkan harus m engawasi seti ap gerak -gerik para ul am a, bila dipandang perlu demi kepenti ngan ket ertiban keaman an.247 Di sini t erl ihat bahwa kebij aks anaan ti dak mencam puri agama han yalah bersi fat sem entara, karena bel um di kuas ain ya m as al ah Isl am s epenuhn ya. Kebij aksanaan i ni pun masi h harus tunduk kepada kepenti ngan rast en orde.
Sem ent ara itu undang -undang Bel anda m emungki nkan zending P rot est an dan mi ssi Katolik untuk beroperasi di Indonesi a.248 M aka berl omba -lom balah berbagai organis asi zendi ng m aupun missi yang di dukung ol eh dana s wast a untuk beroperasi di tanah j aj ahan i ni . Tet api dalam bidang ket at anegaraan,
244Penulis terkenal Perancis Joseph Chaillcy, dosen perbandi ngan sistem kolonial, pernah menyatakan bahwa aktivitas kolonial harus berdasarkan politik pribumi, yaitu seni memahami dan menguasai penduduk pribumi. Lihat: ADA de Kat Angelino, Colonial Policy I, (The Hague, 1931), h.
3.
245Harry J. Benda, Continuity and Change, h. 20.
246Hal ini terlihat jelas pada aneka peraturan tentang haji yang dikeluar kan antara tahun 1825-1859, yang bertujuan untuk membatasi dan memper sulit ibadah haji ke Makkah. (Ibid.)
247Keputusan Raja tanggal 4 Februari 1859 no. 78 memberikan instruksi rahasia kepada Gubernur Jenderal. Ayat 78 berbunyi: "Gubernur Jenderal yang memegang prinsip bahwa pemerintah tidak boleh mencampuri urusan agama, boleh mencampurinya bila dipandang perlu untuk memelihara ketenangan dan ketertiban umum." Ayat 8 0 berbunyi: "Gubernur Jenderal harus mengawasi dengan teliti tingkah laku para ulama, dan harus menjaga agar guru atau zendeling
Kristen tidak mengganggu mereka." (Lihat Arsip UB no. 1803, A21, Leiden). 248Suminto, Politik Islam, h. 19.
89
pem erint ah harus m encegah s eti ap us aha yang akan m embawa rak yat kepada fanatism e dan Pan Isl am. Polit ik pemisahan s em acam i nilah yang ol eh Kem kamp di sebut Splitsingstheorie. Usaha untuk membawa masyarakat Indonesia menuju as osi asi dengan mas yarakat Bel anda, agakn ya tidak terl epas dari tujuan mem elihara ket ert iban keam anan di bawah kekuasaan Bel anda, yakni Pax Neerlandica.
Sesudah terj adi n ya peri sti wa Cil egon t ahun 1888, K.F. Holl e pada t ahun 1890 m en yarankan agar pendi dikan agam a Is lam di awasi ,249 karena pem berontakan para pet ani di Bant en itu dini lai dim otori ol eh para haji dan guru agam a. Maka di J awa t erjadil ah pemburuan terhadap guru agam a; dan demi pen ye ragam an dal am pengawas ann ya, m aka K.F. Holl e m en yarankan agar bupati melaporkan daftar guru di daerahn ya set iap t ahun. Kem udian pada t ahun 1904 Snouck Hurgronj c m engusul kan agar pengawasan t ers ebut m eliputi adan ya izin khus us dari bupati , daft ar tentang guru dan muri d, s erta pengawas an ol eh bupati harus di lakukan oleh s uat u paniti a.250 Pada t ahun 1905 lahi rl ah suat u perat uran tent ang pendidi kan agam a Isl am yang disebut dengan Ordonansi Guru,251 dan din yat akan berl aku untuk J awa M adura kecuali Yogya dan Solo.
Politik yang dijalankan pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasari oleh adanya rasa takut, panggilan agamanya yaitu Kristen, dan sifat kolonialismenya. Sehingga dengan begitu mereka terapkan berbagai peraturan dan kebijakan, antara lain:
249Surat K.F. Holle ke Gubernur Jenderal, 20 September 1890, dalam bundel Beslit rahasia 18 Oktober 1890 no. 1.
250Suminto, Politik Islam, h. 52
251Staatsblad 1905 no. 550, isinya antara lain :
— Seorang guru agama Islam baru dibenarkan mengajar bila sudah memperoleh izin dari Bupati.
— Izin tersebut baru diberikan bila guru agama tersebut jelas -jelas bisa dinilai sebagai orang baik, dan pelajaran yang diberikannya tidak bertentangan dengan keamanan ketertiban umum.
— Guru agama Islam tersebut harus mengisi daftar murid, di samp ing harus menjelaskan mata pelajaran yang diajarkan.
— Bupati atau instansi yang berwewenang boleh memeriksa daftar itu se waktu-waktu. — Guru agama Islam bisa dihukum kurung maksimum delapan hari atau denda maksimum dua puluh lima rupiah, bila ternyata me ngajar tanpa izin atau lalai mengisi/mengirimkan daftar tersebut; atau enggan memperlihatkan daftar itu kepada yang berwewenang, berkeberatan memberi keterangan, atau enggan diperiksa oleh yang berwewenang.
— izin itu pun bisa dicabut bila ternyata berkali -kali guru agama tersebut melanggar
peraturan, atau dinilai berkelakuan kurang baik. Lihat: Perkara Agama Islam Bumiputera,(Batavia:
90
a. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang mereka sebut Priesterraden. Dari nasehat badan inilah pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya tentang kewajiban orang-orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agama Islam untuk meminta izin kepada pemerintah Belanda.
b. Tahun 1925 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan agama Islam yaitu orang boleh memberikan pelajaran mengaji, kecuali telah mendapat rekomendasi atau persetujuan pemerintah Belanda.
c. Kemudian pada tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya berupa kewenangan untuk memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda yang disebut Ordonansi Sekolah Liar.252
Suatu kebij aksanaan pem erint ah koloni al yang ol eh um at Is l am diras akan sangat m enekan adal ah Ordonansi Guru. Ordo nansi pertama yang dikel uarkan pada t ahun 1905 m ewaji bkan s eti ap guru agam a Is l am unt uk m emi nt a dan memperol eh izin terlebi h dahulu, sebel um m el aks anakan t ugas n ya sebagai guru agam a. Sedangkan ordonansi kedua yang di kel uarkan pada t ahun 1925, han ya m ewaj ibkan guru agam a untuk melaporkan diri . Kedua ordonansi ini dimaksudkan s ebagai m edi a pe ngont rol bagi pem erint ah kolonial untuk mengawasi s epak t erjang para pengaj ar dan penganjur agama Is l am di negeri ini.
Kebij aks anaan di bidang pendidikan m enempat kan Is lam sebagai s aingan yang harus dihadapi . Pendidikan Barat diform ulasikan sebagai fakt or yang akan menghancurkan kekuat an Is lam di Indonesi a. Pada akhir abad ke -19 Snouck Hurgronj e t el ah begit u optimi s bahwa Isl am tidak akan sanggup bers aing dengan pendidi kan Barat.253 Agam a ini dinil ai s ebagai beku dan penghal ang kemaj uan, s ehi ngga harus di imba ngi dengan m eningkatkan taraf kem ajuan pribumi.
252Ibid., h. 52.
253Tapi dalam kenyataannya, penetrasi Belanda keluar Jawa segera diikuti oleh kedatangan para mahasiswa dari Al-Azhar di Mesir, dan modernisasiIslam menjalar bagaikan api liar. Lihat: Harry J. Benda, "Continuity andChange in Indonesian Islam", dalam Southeast Asian Studies, (New Haven, 1965), hal. 134.
91
Bagi suat u sekol ah yang m emili ki organis asi t eratur, t untut an ordonansi ini m em ang tidak m enjadi m as al ah. Tapi bagi guru-guru agam a pada umumn ya yang tidak m emil iki adm inist rasi yang m em adai dal am mengelol a pengajiann ya, perat uran ini t eras a sangat mem beratkan. Apal agi pada waktu itu lem baga pendi di kan pesantren bel um memili ki admini strasi yang t eratur, daft ar murid dan guru, at aupun m at a pelajaran. Ban yak di ant ara guru agam a waktu itu yang ti dak bi sa m embac a huruf Latin, s edangkan yang bi sa pun sangat j arang yang m empun yai mesin tuli s unt uk mengis i s ekian l embar daft ar laporan.254
Dal am prakt ek, Ordonansi Gu ru i ni bis a dipergunakan unt uk menekan agam a Islam, karena dikaitkan dengan ketertiban keam anan. Misal n y a keti ka terjadi persaingan ketat ant ara Isl am — Krist en di Tanah Bat ak pada awal abad ini.255 Lul ofs s el aku p enas ehat u rusan luar Jawa menet apkan adan ya suat u garis perbat as an ant ara Isl am dan Krist en. Orang Isl am tidak dibenarkan tinggal di daerah Krist en l ebih dari 24 j am.256 Tet api gagas an i ni dit ent ang oleh Hazeu, sel aku Adviseur voor Inlandsche zaken, yang sangat keras melawan gagasan yang dinil ain ya s ebagai pen yal ahgunaan Ordonansi Guru untuk mengusi r orang Is l am. Di tegaskann ya , Ordonansi Guru it u di bua t unt uk mengawasi pendidi kan Is l am, bukan untuk menghambat at au menekann ya.257