• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : GAMBARAN UMUM TENTANG YAYASAN BAITUL

D. Kendala-kendala Yang Dihadapi YBM BRI

Kendala yang dihadapi dalam upaya pelembagaan YBM BRI selama ini antara lain :

1. Pemahaman Zakat

Yang dimaksud dengan pemahaman disini adalah pengertian umat Islam tentang zakat itu, pengertian mereka sangat terbatas kalau dibandingkan dengan pengertian mereka tentang shalat dan puasa. Misalnya ini disebabkan karena pendidikan keagamaan Islam di masa lampau kurang menjelaskan pengertian dan masalah zakat ini. Akibatnya karena kurang paham, umat Islam kurang pula melaksanakannya.69

2. Sikap Kurang Percaya

Disamping kesadaran yang makin tumbuh dalam masyarakat Islam Indonesia tentang pelaksanaan zakat, dalam masyarakat ada juga sikap kurang percaya terhadap

69

Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomin Islam : Zakat dan Wakaf (Jakarta : UI Prees, 1998), cet 1 h. 53.

penyelenggaraan zakat itu. Sikap ini sesungguhnya ditujukan kepada orang atau sekelompok orang yang mengurus zakat, misalnya masyarakat kurang percaya terhadap YBM BRI, antara lain karena pengelola YBM BRI kurang professional serta kurang terbuka dalam pengelolaan ZISnya.

3. Sikap Tradisional

Kebiasaan para wajib zakat dan pada masyarakat umumnya menyerahkan zakatnya tidak kepada delapan kelompok atau beberapa dari delapan golongan yang berhak menerima zakat, tetapi kepada para pemimpin agama setempat (kepada kyai/tokoh masyarakat). Pemimpin agama ini tidak bertindak sebagai amil yang berkewajiban membagikan atau menyalurkan zakat kepada mereka yang berhak menerimanya, tetapi bertindak sebagai mustahik (orang yang berhak menerima zakat) sendiri dalam kategori Sabilillaah yakni orang yang berjuang di jalan Allah. Cara dan sikap ini tidak sepenuhnya salah. Namun sikap demikian tersebut seyogyanya ditinggalkan, diantaranya untuk menghindari penumpukan harta (zakat) pada orang tertentu. Padahal salah satu tujuan zakat adalah pemerataan rezeki untuk mencapai keadilan.

BAB IV

ANALISA TERHADAP PEMBERDAYAAN ZAKAT MODERN YBM BRI

A. Strategi Dalam Menghimpun Dana ZIS

YBM BRI memiliki strategi khusus untuk pengelolaan dana ZIS yang meliputi penghimpunan, pendistribusian sampai ke proses pendayagunaan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh oleh YBM BRI dalam menghimpun dana ZIS tersebut adalah sebagai berikut :

1. Komunikasi aktif dengan BRI berupa laporan kegiatan yang telah, sedang dan akan dilakukan, dengan begitu para pekerja semakin yakin akan keberadaan YBM BRI karena segmen pasar YBM BRI adalah pegawai BRI, disamping masyarakat luas pada umumnya.70

2. Membentuk Jaringan

Jaringan yang dimaksud disini adalah jaringan keseluruhan pihak yang terkait dalam ibadah maaliyah ini yang terdiri dari :

a. Jaringan Mustahik. YBM BRI memandang bahwa mustahik bukanlah sebagai objek melainkan sebagai salah satu subjek penting dalam penyaluran dana maupun pelaksanaan program. YBM BRI bekerjasama antara lain dengan ;

70

Wawancara dengan Bpk, H. Moh. Nasir Tajang (Ketua Pelaksana Harian YBM BRI), Jakarta, 31 Maret 2008.

Foundation Nusantara, AFKN (Faadh Kafa’ah Nusantara, Yayasan al-Mubarokah, Yayasan al-Hikmah, Yayasan al-Fallah, Masjid al-Husna, Masjid as-Shurah.

b. Jaringan Amil

YBM BRI yakin dalam kegiatannya membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, oleh karena itu kerjasama antar amil mutlak diperlukan, YBM BRI menjalin kerjasama dengan pihak yang memiliki visi yang sama.

c. Jaringan Muzakki

Jaringan muzakki yang ingin dibentuk adalah jaringan muzakki yang aktif dan peduli atas kesejahteraan umat, maka dari itu YBM BRI membentuk pengurus ditingkat cabang untuk memudahkan dalam pelaksanaan program dan pendistribusian dana ZIS.

3. Mengoptimalkan cabang.

Bagi pemohon yang berasal dari daerah, YBM BRI di tingkat cabang turun kelapangan untuk melakukan survey untuk selanjutnya dilaporkan ke tingkat pusat.

4. Melibatkan para pekerja dalam hal penyaluran dana dalam program agen sosial. Para pekerja BRI melaporkan kepada YBM BRI apabila dilingkungan tempat tinggal mereka ada yang memerlukan bantuan, karena merekalah yang mengetahui lingkungan tempat tinggal mereka.

Dalam bentuk laporan keuangan untuk donator dan masyarakat luas, termasuk yang diaudit oleh akuntan publik.

6. Adapun strategi yang kemungkinan sedang diupayakan oleh YBM BRI adalah berzakat melalui via sms, via Internet, tentunya bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten dalam dibang tersebut.71

B. Program Pendayagunaan Melalui Efektifitas Pengelolaan Dana ZIS

Untuk mencapai hasil yang maksimal, efektif dan efisien serta tercapainya sasaran dan tujuan zakat, maka pendayagunaannya lebih baik diarahkan ke arah yang produktif. Pemanfaatan dan pendayagunaan alokasi dana zakat dapat digolongkan ke dalam empat kategori, sebagai berikut :

1. Konsumtif Tradisional

Dalam hal ini zakat hanya dapat dimanfaatkan oleh mustahiq secara langsung dan hanya cukup memenuhi kebutuhan sesaat. Bentuk ini lebih sesuai diberikan kepada yang benar-benar tidak mampu berusaha mencari rizki disebabkan, misalnya, sudah sangat tua dan lemah badannya, atau halangan lain yang dapat diterima akal.

2. Konsumtif Kreatif

Dalam hal ini mustahiq dapat mengembangkan dan memanfaatkan zakat, misalnya untuk pembelian alat-alat sekolah, bea siswa, dan lain-lain.

71

Pendistribusian seperti ini lebih relevan dilaksanakan untuk mereka yang kekurangan tetapi mempunyai potensi untuk mengembangkan diri.

3. Konsumtif Tradisional

Dimana zakat dapat diberikan dalam bentuk barang produktif, seperti bantuan ternak seperti, kambing, sapi. Pemberian pupuk untuk petani dengan harga murah. Bentuk seperti ini lebih sesuai diberikan kepada mereka yang tergolong mustahiq yang mau, mampu dan kuat berusaha.

4. Produktif Kreatif

Dimana zakat diwujudkan dalam bentuk permodalan, baik untuk membangun proyek sosial atau untuk menambah modal bagi para pedagang kecil.72

Model pemanfaatan dan pendayagunaan dana zakat secara produktif-kreatif merupakan model yang paling signifikan dalam mengalokasikan pendayagunaan dana zakat. Hal ini dilakukan oleh Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat yang menyerupai sebuah badan usaha ekonomi atau Baitul Maal yang membantu permodalan dalam berbagai bentuk kegiatan ekonomi masyarakat dan pengembangan usaha-usaha golongan ekonomi lemah, terutama fakir miskin yang umumnya menganggur / tidak bisa berusaha secara optimal karena kekurangan dan ketiadaan modal.

72

Syahrin, Syahrin, Islam Konsep dan Implementasi Pemberdayaan, (Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 1999), cet 1, h. 103-104.

Konsep pendayagunaan zakat produktif kreatif inilah yang dianggap paling memungkinkan efektifnya tujuan zakat adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan, yaitu mewujudkan keadilan sosial dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu kebijakan pendayagunaan zakat harus relevan dengan efektivitas dan produtifitas zakat itu sendiri.

Di dalam undang-undang nomor 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat. Persyaratan dan prosedur pendayagunaan hasil pengumpulan zakat :

1. Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk mustahik dilakukan berdasarkan persyaratan sebagai berikut :

a) Hasil pendataan dan penelitian kebenaran mustahik delapan ashnaf yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah dan ibnu sabil.

b) Mendahulukan orang-orang yang paling tidak berdaya memenuhi kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan bantuan.

c) Mendahulukan mustahik dalam wilayahnya masing-masing.

2. Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk usaha yang produktif dilakukan berdasarkan persyaratan sebagai berikut :

a) Apabila pendayagunaan zakat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sudah terpenuhi dan ternyata masih terdapat kelebihan.

b) Terdapat usaha-usaha nyata yang berpeluang menguntungkan. c) Mendapat persetujuan tertulis dari dewan pertimbangan.

Prosedur pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk usaha produktif ditetapkan sebagai berikut ; melakukan studi kelayakan, menetapkan jenis usaha

produktif, melakukan bimbingan dan penyuluhan, melakukan pemantauan, pengendalian dan pengawasan, mengadakan evaluasi, membuat laporan.

Program kerja YBM BRI. 1. Hadir di Tengah Musibah

YBM BRI selalu berusaha berada di lokasi musibah untuk meringankan beban korban yang terkena musibah. Baik tim langsung dari Jakarta maupun melalui Kantor Wilayah, Kantor Cabang, maupun Kantor Unit BRI di seluruh pelosok Nusantara.

Selama ini, YBM BRI telah ikut membantu saudara-saudara yang ditimpa musibah mulai dari bencana akibat gelombang tsunami di Aceh, banjir di Riau, banjir bandang dan longsor di Bohorok, banjir bandang di Jember, longsor di Banjarnegara, hingga gempa di Nabire. Tidak terhitung peristiwa bencana akibat kebakaran di berbagai daerah, juga banjir dan gempa di seluruh pelosok Indonesia.

Bantuan yang diberikan pun beragam. Mulai dari bantuan makanan. Peralatan masak, layanan kesehatan, serta berbagai kebutuhan lainnya di tengah bencana. Kami bersama dengan seluruh jajaran BRI selalu siap memberi bantuan kepada korban bencana.

2. Menjawab Kebutuhan Masyarakat

Banyak saudara kita yang menderita karena ketidakmampuan fisiknya. Ada yang tidak bisa melihat karena katarak atau terserang berbagai jenis penyakit ganas seperti tumor dan berbagai penyakit mengerikan lainnya. YBM BRI selalu berupaya membantu mereka berupa bantuan biaya operasi.

Mereka yang sakit atau punya penyakit berat tak lepas dari sasaran bantuan YBM BRI. Cukup banyak frekuensi operasi orang sakit yang dibiayai YBM BRI. Mulai dari operasi bibir sumbing, tumor, bahkan berbagai penyakit berat lainnya.

Pelayanan gizi kepada masyarakat juga menjadi bagian dari kegiatan YBM BRI untuk membantu kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang mengalami gizi buruk. Dan tak kalah pentingnya adalah pelayanan kesehatan Cuma-Cuma yang secara periodik dilakukan di daerah-daerah yang membutuhkan.

Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, YBM-BAPEKIS-CSR BRI menyelenggarakan road show pengobatan. Program ini diberi nama Bakti Insani. Menurut Nasir, program ini diselenggarakan mengingat biaya pengobatan sangatlah mahal, sehingga banyak masyarakat tidak mampu berobat. “Banyak masyarakat tidak mampu yang tidak bisa berobat”, katanya.73

Dalam program ini YBM BRI bertindak sebagai pelaksana dibantu Bapekis BRI, sedangkan dana diambil dari CSR BRI. Mengingat dana yang dipakai adalah diambil dari CSR (Corporate Social Responsibility) BRI, maka dimaksudkan pula untuk menggerakkan komunitas BRI. “agar kedermawanan dan kepekaan sosial dari para karyawan BRI terus terasah melalui kegiatan seperti ini”, tutur Nasir berfilsafat. Bayangkan, jika 40 ribu karyawan BRI yang muslim mempunyai rasa kepedulian di lingkungan seperti itu, berapa ratus ribu warga kurang mampu yang akan terbantu.

Kegiatan ini telah dilaksanakan di empat lokasi. Lokasi pertama di Kelurahan Cawang gang arus. Di kawasan ini banyak komunitas pendatang dari kalangan tidak

73

mampu. Sebagian besar padagang kecil, baik pedagang sayur, pedagang es dan pedagang keliling lainnya. Berikutnya diselenggarakan di Makaliwe, Grogol, Jakarta Barat. Kawasan ini merupakan kawasan padat penduduk. Kebersihan lingkungan dan sanitasi sangat tidak terawat, alasan itulah YBM memilih tempat ini untuk dijadikan lokasi pengobatan.

Ketiga, dilaksanakan di Depok. Pengobatan missal di Depok mendapat sambutan cukup meriah. Bukan hanya ribuan warga yang hadir, namun Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail juga hadir memberi bantuan. Lokasi ke empat di Cimande, Bogor.

3. Mendukung Pendidikan

Biaya pendidikan merupakan salah satu fokus perhatian YBM BRI. Sebab, pendidikan merupakan wahana untuk memperbaiki generasi mendatang. Bila potensi zakat dapat digali secara maksimal, kemiskinan dan pengangguran di Indonesia dapat diatasi dengan baik. Menurut data sementara, potensi zakat Indonesia tercatat besar, yakni sekitar 7,5 triliun pertahun. Itu masih bisa bertambah jika pengelolaan zakat dilakukan secara professional dan serius. Mengingat pentingnya peranan zakat untuk membantu masyarakat kurang mampu inilah YBM BRI bergiat dalam menggali dana zakat di lingkungan BRI dan menyalurkannya kepada masyarakat tidak mampu dan membutuhkan.

Komitmen untuk membantu kalangan tidak mampu itu diwujudkan YBM BRI dalam bentuk pemberian beasiswa. Pada tahun ajaran baru 2006, penerima beasiswa YBM BRI telah berjumlah 1535 anak yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai

tingkat SD sampai Perguruan Tinggi. Bahkan jika dilihat perkembangan dari tahun ke tahun cendrung meningkat. Tahun 2002 sebanyak 333, tahun 2003 sebanyak 615, tahun 2004 sebanyak 983, tahun 2005 sebanyak 1120 dan tahun 2006 sebanyak 1535. Meningkatnya penerima beasiswa dikarenakan kondisi ekonomi bangsa yang belum pulih. Sehingga banyak anak usia sekolah yang terancam putus sekolah.

Para penerima beasiswa di YBM BRI, menurut Ahmad Fakih, dikelompokkan menjadi empat komponen, pertama komponen institusional lembaga pendidikan, kedua, sinergi dengan lembaga lain, ketiga, rekomendasi dari karyawan dan relawan BRI, keempat, dari masyarakat umum.74

Adapun periode penerimaan beasiswa, lanjut Fakih, dilakukan setiap bulan Januari dan Juli. Namun biasanya lebih difokuskan pada bulan Juli karena berbarengan dengan tahun ajaran baru sedang bulan Januari sifatnya mengevaluasi saja. “Jika prestasinya bertahan atau bahkan meningkat maka beasiswa dapat dilanjutkan tapi jika turun maka akan dievaluasi dulu, “ungkapnya. Evaluasi dilakukan dalam rangka memotivasi anak dan untuk meningkatkan prestasinya, sehingga memiliki nilai yang bagus dan dapat diterima di sekolah negeri.

Dana beasiswa perbulan untuk tingkat SD sebesar Rp 40 ribu, SMP 60 ribu, SMA 75 ribu dan Perguruan Tinggi 150 ribu. Memang secara nominal tidak besar tapi cukup untuk meringankan kebutuhan rutin mereka. Terutama untuk membeli buku-buku paket pelajaran dan biaya transportasi. Penerima beasiswa tingkat Perguruan Tinggi mendapat tugas tambahan dari YBM. Mereka diminta memberi

74

bimbingan belajar bagi tingkat di bawahnya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan tali silahturrahmi antar penerima beasiswa sekaligus memberi tambahan belajar baik agama maupun pelajaran umum bagi siswa tersebut.

Selain bantuan pendidikan kepada siswa, YBM BRI juga memberi bantuan kepada sekolah. Bentuknya juga beragam mulai dari perlengkapan belajar hingga sarana fisik penunjang pendidikan seperti bangunan ruang kelas, perpustakaan, dan kebutuhan lainnya.

4. Memberdayakan Masyarakat

Upaya pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian aktivitas YBM BRI. Bantuan diberikan berupa modal usaha bagi para pedagang kecil, petani, peternak, atau usaha produktif lainnya. Bantuan tentu diberikan dengan perhitungan dan kriteria yang memenuhi syarat sesuai dengan peruntukan dana yang diamanahkan.

Menurut Ahmad Fakih bantuan berupa modal usaha yang diberikan berkisar antara Rp. 1 juta sampai Rp 2 juta. Seperti bantuan untuk membuat gerobak, atau untuk usaha seperti, pedagang es, pedagang sayur dan sebagainya, dan modal tersebut dikembalikan dengan cara diangsur free tanpa bunga selama 20 bulan, besarnya tergantung modal usaha yang diberikan. Mustahik juga bisa mengajukan peminjaman modal kembali untuk mengembangkan usahanya setelah angsuran selesai dibayarkan.

Bantuan bukan hanya modal usaha melainkan juga kesempatan berpameran serta bentuk bantuan lainnya yang bisa meningkatkan kemandirian para penguasaha kecil dan mikro. Dengan bantuan ini diharapkan banyak masyarakat yang bisa

berusaha dan hidup mandiri. Sehingga mereka, yang semula masuk kriteria mustahik, dengan usahanya tersebut bisa berubah menjadi muzakki.

Dari permasalahan yang terjadi di YBM BRI, maka YBM BRI membuat langkah konkrit untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di YBM BRI. Langkah-langkah konkrit tersebut adalah :

1) Melaksanakan pelatihan keterampilan. 2) Memberikan pinjaman modal bergulir. 3) Memberikan pinjaman modal usaha.

4) Melaksanakan kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan dan memperluas jaringan pemberdayaan ekonomi mandiri.

5) Membentuk cabang/unit kerja dipelosok nusantara.

6) Melibatkan seluruh pekerja BRI muslim seluruh Indonesia dalam program “Agen Sosial”.

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan terhadap efektifitas pengelolaan dana ZIS pada YBM BRI maka dapat dikatakan semua berjalan sesuai dengan apa yang telah diprogramkan, misalnya saja dalam penyaluran dana zakat, disebutkan, bahwa dalam pemberian bantuan harus berdasarkan rekomendasi dari masjid sebagai jamaah aktif, karena lembaga tersebut melakukan kerjasama salah satunya dengan pihak masjid sebagai mitra kerja.

Begitu juga halnya dengan penyaluran dana zakat, YBM BRI, tidak hanya berprinsip sekedar menyalurkan saja, akan tetapi mengusahakan agar dana ZIS yang disalurkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat. YBM BRI berharap

agar para mustahik tidak terus menerus menjadi mustahik, akan tetapi suatu waktu nanti mereka dapat pula menjadi muzakki dan menjadi donatur tetap di YBM BRI.

Pendistribusian/penyaluran dana zakat kepada delapan golongan mustahik dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu :

a) Kelompok Permanen

Termasuk dalam kelompok ini adalah fakir, miskin, amil, dan muallaf. Empat golongan mustahik ini diasumsikan akan selalu ada di wilayah kerja organisasi pengelola zakat dan karena itu penyaluran dana kepada mereka akan terus menerus atau dalam waktu lama walaupun secara individu penerima berganti-ganti.

b) Kelompok Temporer

Termasuk dalam kelompok ini adalah riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. Empat golongan mustahik ini diasumsikan tidak selalu ada di wilayah kerja suatu organisasi pengelola zakat. Kalaupun ada maka penyaluran dana kepada mereka tidak akan terus menerus atau tidak dalam waktu panjang sesuai dengan sifat permasalahan yang melekat pada empat golongan ini.75

C. Pemberdayaan Zakat Modern YBM BRI Ditinjau dari Hukum Islam

Salah satu yang dinilai sangat besar pengaruhnya terhadap zakat, adalah menyangkut aspek pengelolaannya. Selama ini, pendayagunaan zakat masih saja

75

Lili Bariadi, dkk, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta :Centre For Entreneurship Development, 2005), h. 23.

berkutat dalam bentuk konsumtif-karitatif yang kurang atau tidak menimbulkan dampak sosial yang berarti, dan hanya bersifat temporary relief.76 Yaitu peringanan beban sesaat yang diberikan kepada fakir miskin.77

Akibatnya pembayaran wajib zakat umat Islam yang masuk kedalam kegiatan ibadah dilakukan secara sukalera atas kesadarang masing-masing sehingga potensi umat yang sebenarnya cukup besar itu terbagi-bagi dalam serpihan kecil yang kurang berarti.78

Membayar zakat melalui Lembaga Amil Zakat memiliki efek yang jauh lebih baik daripada membayar zakat secara perorangan. Ini juga harus dibuktikan melalui pengelolaan zakat yang amanah, profesional dan transparan sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Amil Zakat semakin baik. Selain itu, pemanfaatan zakat melalui program yang produktif, juga menentukan masyarakat dalam menjatuhkan pilihannya untuk membayar zakat melalui lembaga. Sehingga diperlukan kecerdasan amil dalam mengelola dana zakat dan menelurkan program pendayagunaan zakat itu sendiri.

Karena bila zakat tidak diberdayakan secara produktif bagi dhuafa, justru hanya akan menimbulkan penyakit baru di masyarakat, yakni “kebudayaan menunggu bantuan tanpa berusaha” (cargo cult mentality). Kalau program yang yang

76

M.Djamal Doa, Pengelolaan Zakat Oleh Negara Untuk Mengurangi Kemiskinan (Jakarta : Nuansa Madani Publisher, 2004), cet 1, h. 113-114.

77

Yusuf Qardawi, h. 27. 78

Karnaen A. Perwataatmadja, Membumikan Ekonomi Islam di Indonesia, (Depok : Usaha Kami, 1996), h. 116

dijalankan Lembaga Amil Zakat membuat para mustahik menjadi kreatif, maka hal ini sudah sejalan dengan prinsip zakat itu sendiri yaitu “Mengubah mustahik menjadi muzakki”. Karena pada hakikatnya, zakat itu memberdayakan dhuafa.

Prinsip-prinsip dasar tentang hakikat tujuan diturunkannya syari’at Islam (al-maqasid al- syari’ah) sesungguhnya juga berorientasi pada penciptaan kesejahteraan dan perlindungan kaum dhuafa.79

Namun perlu dipahami, bahwa zakat juga ada yang bersifat konsumtif disamping yang produktif. Jumlah pemberdayaan dana zakat di sektor produktif mesti digalakkan agar prinsip zakat tadi benar-benar terwujud. Contohnya, pembangunan pabrik dengan menggunakan dana zakat yang keuntungan dan kepemilikannya mengedepankan kepentingan dhuafa agar mereka bisa diberdayakan menjadi pribadi-pribadi yang kreatif.80

Ditinjau dari hukum Islam apa yang dilakukan YBM BRI dalam hal penyaluran dana ZIS telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, bagi mustahik yang belum bisa berusaha (mandiri), orang sakit atau cacat YBM BRI memberikan bantuan hidup yang sifatnya konsumtif dan bagi mereka yang masih kuat bekerja dan bisa mandiri dalam menjalankan usaha dalam hal keterampilan, YBM BRI memberdayakan mereka dengan bantuan modal untuk usaha agar tercipta kemandirian.

79

Kusuma, Bungai Rampai Islam dan Kesejahteraan Sosial, (Jakarta : IAIN Indonesian Social Equity Project, 2006), h. 40.

80

http://www.file:///F:/Karena%20Zakat%20Memberdayakan%20Dhuafa%20 %C2%AB.htm. Diakses tanggal 31 mei 2008.

Penyaluran zakat secara produktif ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Dikemukakan dalam sebuah hadis riwayat Imam muslim dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan zakat kepadanya lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.81 Bahkan khalifah Umar bin Khatab pernah menyerahkan zakat berupa tiga ekor unta sekaligus kepada salah seorang mustahik yang sudah rutin meminta zakat kepadanya, tetapi nasibnya belum berubah. Pada saat penyerahan unta tersebut, khalifah mengharapkan agar yang bersangkutan tidak datang lagi sebagai penerima zakat, tetapi diharapkan sebagai pembayar zakat. Keinginan khalifah tersebut ternyata menjadi kenyataan, karena pada tahun berikutnya orang tersebut datang bukan untuk meminta zakat, tetapi untuk menyerahkan zakat.82

Kalau kita melihat pengelolaan zakat pada masa Rasulullah saw dan para sahabat kemudian diaplikasikan pada kondisi sekarang kita dapati bahwa penyaluran zakat dapat kita bedakan dalam dua bentuk; yakni bantuan sesaat dan pemberdayaan. Bantuan sesaat bukan berarti bahwa zakat hanya diberikan kepada seseorang satu kali atau sesaat saja. Bantua sesaat dalam hal ini berarti bahwa penyaluran kepada mustahik tidak disertai target terjadinya kemandirian ekonomi (pemberdayaan) mustahik. Hal ini dilakukan karena mustahik yang bersangkutan tidak mungkin lagi

81

http://www.nu.or.id/page.php?=Id&Menu=news_view&news_Id=8203. Diakses tanggal 29 mei 2008.

82

Irfan M. Ra’ana, Sistem Ekonomi Pemerintahan Umar bin Khatab, alih bahasa Mansyuruddin Djoely, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1979), h. 88.

mandiri seperti pada diri para orang tua yang sudah jompo, orang dewasa yang cacat yang tidak memungkinkan untuk mandiri.83

Adapun pemberdayaan adalah penyaluran zakat yang disertai target merubah

Dokumen terkait