HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Implementasi Perlindungan Hukum bagi Saksi dalam Proses Pemeriksaan Perkara Pidana di Indonesia
2. Kendala – kendala LPSK dalam memberikan Perlindungan Hukum terhadap Saksi
mendukung proses penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia, menuntut LPSK untuk dapat berjalan sesuai dengan aspirasi dan tuntutan publik yang semakin meningkat.
2. Kendala – kendala LPSK dalam memberikan Perlindungan Hukum
Bisa dibayangkan kalau LPSK disentralkan di Jakarta, jelas akan sulit menangani permohonan yang telah dikabulkan LPSK pada waktu yang bersamaan. Jelas, di tingkat operasional, perlu desentralisasi penanganan.
Mengutip pendapat Juru bicara LPSK:
“Keberadaan LPSK yang hanya bertempat di ibukota memang menjadi kendala tersendiri dalam pengajuan permohonan perlindungan oleh masyarakat.”
Untuk mengatasi hal tersebut, UU PSK memberikan keleluasaan bagi LPSK untuk membentuk perwakilannya di wilayah atau daerah lain jika hal tersebut dianggap menjadi peran yang sangat penting untuk pemberian perlindungan. Pilihan UU PSK memberikan akses bagi LPSK untuk mendirikan lembaga perwakilan adalah pilihan yang tepat karena dari segi geografis wilayah Republik Indonesia yang sangat luas dan akses informasi maupun komunikasi yang terbatas baik antara wilayah maupun antar ibukota dengan wilayah lainnya, dan kasus-kasus intimidasi terhadap saksi yang terjadi selama ini justru paling banyak terjadi di luar wilayah Jakarta.
Perwakilan LPSK di daerah bisa didirikan ditingkat wilayah tertentu (antar propinsi) atau dapat juga didirikan di tiap propinsi atau dalam kondisi khusus (penting dan mendesak) LPSK perwakilan bisa juga didirikan di wilayah terpilih, misalnya karena tingginya kasus
intimidasi dan ancaman saksi di daerah tertentu maka LPSK mendirikan kantor perwakilannya.
Banyaknya permohonan perlindungan dari daerah menjadi indikasi bahwa warga daerah lebih rentan terkena dampak hukum.
Banyaknya jumlah permohonan dari daerah luar Jakarta tersebut bertolak belakang dengan keberadaan LPSK yang hanya berada di Jakarta sehingga membuat para pemohon kesulitan untuk meminta perlindungan. Untuk menampung pemohon perlindungan yang ada di daerah, LPSK bahkan harus menjemput bola sekaligus terus menyosialisasikan fungsi lembaga ke daerah-daerah.
Anggota LPSK Tasman Gultom, mengatakan :
“Sesegera mungkin LPSK sudah merencanakan akan mendirikan kantor perwakilan di 3 kota besar di Indonesia yakni Surabaya, Medan, dan Makassar”.
Walaupun idealnya LPSK ini ada ditiap wilayah Propinsi, namun kebutuhan untuk mendirikan perwakilan tersebut juga akan memberikan implikasi atas sumberdaya yang besar pula, baik dari segi pembiayaan, maupun penyiapan infrastruktur dan sumberdaya manusianya. Jangan sampai pendirian perwakilan tersebut justru malah kontraproduktif dengan tujuan dari LPSK misalnya makin membebani kerja-kerja yang justru menjadi prioritas LPSK karena problem administrasi dan lain sebagainya.
Pembentukan LPSK di daerah juga masuk dalam revisi UU PSK.
Mengutip pendapat Ketua LPSK :
“Pembentukan LPSK di daerah merupakan kewajiban, mengingat banyaknya permohonan perlindungan yang masuk dari daerah selain Jakarta. Hal ini mengakibatkan permohonan banyak dilakukan dengan cara melalui email, surat tercatat hingga faks. Jika ada LPSK di daerah akan lebih mengefesiensi dan mengefektifkan pemberian perlindungan terhadap pemohon.”
Dari segi kewenangan.
Dalam UU PSK secara tegas menyatakan bahwa LPSK adalah lembaga yang mandiri.
Disamping lembaga yang mandiri dan independen, UU PSK juga telah memberikan sebuah kewenangan yang besar kepada LPSK dalam hal melakukan koordinasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Pasal 1 angka 3 UU PSK menyatakan :
“Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, yang selanjutnya disingkat LPSK, adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/atau Korban sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.”
Namun UU PSK tidak merinci tugas dan kewenangan dari LPSK tersebut lebih lanjut perumus UU kelihatannya tidak menjabarkan tugas dan kewenangan LPSK dalam suatu bagian atau bab tersendiri dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 seperti peraturan lainnya. Problem atas minimalnya kewenangan dari LPSK dalam prakteknya akan menyulitkan peranan-peranan dari LPSK.
Tugas dan kewenangan LPSK yang tersebar dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006, yaitu:
1) Menerima permohonan Saksi dan/atau Korban untuk perlindungan (Pasal 29),
2) Memberikan keputusan pemberian perlindungan Saksi dan/atau Korban (Pasal 29),
3) Memberikan perlindungan kepada Saksi dan/atau Korban (Pasal 1),
4) Menghentikan program perlindungan Saksi dan/atau Korban (Pasal 32),
5) Menentukan kelayakan, jangka waktu dan besaran biaya yang diperlukan diberikannya bantuan kepada Saksi dan/atau Korban (Pasal 34).
Dari jabaran tersebut, tugas dan kewenangan LPSK dikelompokan menjadi empat tugas dan kewenangan pokok yakni:
1. Tugas dan kewenangan yang terkait dengan Program Perlindungan Saksi.
2. Tugas dan kewenangan yang terkait dengan Kompensasi dan Restitusi Korban.
3. Tugas dan kewenangan yang terkait dengan Program Bantuan Korban.
4. Tugas dan kewenangan yang terkait dengan Kerjasama.
Jika dilihat dari tugas maupun kewenangan yang diberikan oleh UU PSK terhadap LPSK, secara umum terkesan sudah mencukupi.
Namun jika diperhatikan dengan teliti, apalagi jika dikaitkan dengan mandat dari undang-undangnya maka kewenangan dari lembaga ini masih kurang memadai.
Ada beberapa hal penting yang sebaiknya menjadi kewenangan LPSK yang seharusnya dapat dimasukkan dalam revisi UU Perlindungan Saksi dan Korban, yakni :
1. Wewenang untuk membuat peraturan-peraturan yang berhubungan dengan :
a. bantuan dan dukungan bagi saksi selama di pengadilan;
b. penyediaan tempat khusus bagi saksi di pengadilan;
c. konsultasi bagi para saksi; dan
d. hal-hal lain yang oleh LPSK dipandang sangat perlu diatur untuk menyediakan pelayanan bagi saksi di pengadilan;
2. Wewenang untuk melaksanakan tugas-tugas administratif menyangkut perlindungan saksi dan orang-orang terkait, termasuk menyangkut perlindungan sementara dan layanan-layanan lainnya.
3. Wewenang untuk tidak memberikan informasi tentang data-data tertentu dari saksi (rahasia) yang masuk dalam program perlindungan saksi.
Masalah atas minimnya kewenangan dari LPSK dalam praktiknya dikhawatirkan akan menyulitkan implementasi dari pekerjaan yang harus dilakukan LPSK. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam melaksanakan sebagian dari tugas-tugasnya LPSK akan tergantung pula dengan keberadaan institusi-institusi lainnya. Oleh karena itu maka ketergantungan akan kerjasama dari institusi lainnya harus segera disadari oleh LPSK, dalam konteks ini ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian yakni adanya problem eksistensi antar lembaga negara maupun antar instansi pemerintah bisa dikatakan tidak akan pernah hilang.
UU PSK sebenarnya sudah menentukan kewenangan dari LPSK, maka untuk membantu dan mendukung kerja-kerja LPSK harus segera membuat (pemetaan) daftar kewenangan dan turunan kewenangan yang telah dimandatkan oleh UU PSK. Setelah melakukan pemetaan, LPSK sebaiknya melihat kembali beberapa kelemahan dari kewenangan dan menutupinya dengan menetapkan dalam sebuah keputusan internal LPSK. Walaupun nantinya keputusan LPSK akan terbatas dapat diterapkan di luar LPSK. Namun dengan melakukan pemetaan kebutuhan, (tentunya untuk memperbesar kewenangan) LPSK bisa juga menggunakan perjanjian-perjanjian atau membuat Surat Keputusan Bersama (SKB) dengan berbagai instansi lainnya, tentunya dengan difasilitasi oleh pemerintah. Dengan menggunakan model SKB atau
perjanjian pemerintah ini diharapkan masalah kewenangan antar lembaga dapat diminimalisir.
Dari segi anggaran.
UU PSK menyatakan bahwa biaya yangdiperlukan untuk pelaksanaan tugas LPSK dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Salah satu ruang lingkup dari pengeluaran adalah pengunaan atau pendirian tempat perlindungan atau “rumah aman” untuk para saksi maupun orang terkait dengan saksi, misalnya keluarga saksi.
Anggaran menggunakan rumah aman harus ada dalam program perlindungan. Apakah LPSK ingin membangun sendiri atau menyewa dari pihak-pihak lainnya.
Biaya lain yang akan dibutuhkan oleh LPSK adalah berkenaan dengan biaya-biaya khusus yang dikeluarkan untuk perlindungan khusus yang diberikan kepada saksi. Beberapa hal yang
mempengaruhi besarnya biaya tiap kasus yang dilindungi meliputi berbagai faktor, termasuk di dalamnya adalah apakah saksi memiliki keluarga yang membutuhkan perlindungan, waktu yang dihabiskan oleh saksi di tempat tinggal sementara, standar kehidupan saksi, dan hak saksi atas bantuan keuangan. Adanya berbagai macam faktor yang mempengaruhi biaya dan
ketidakpastian pengeluarannya di masa yang akan datang akan
membuat makin sulit untuk memprediksi dengan tepat jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk membantu saksi.
Dari segi SDM, terkait dengan kemampuan LPSK menangani dan menindaklanjuti permohonan yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Hal ini didukung oleh pendapat Tasman Gultom, yang menyatakan:
“Jumlah permohonan yang masuk ke LPSK tidak sebanding dengan jumlah personil LPSK, namun dengan jumlah yang sedikit kami berusaha untuk dapat bekerja semaksimal mungkin.”
Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hal yang mungkin paling sering dialami saksi ketika berhadapan dengan LPSK adalah terlalu lamanya proses pengambilan keputusan mengenai diterima atau tidaknya permohonan perlindungan yang diajukan saksi yang harus menunggu Sidang Paripurna dimana hal ini disebabkan karena kurangnya personil dari LPSK sendiri untuk bisa menangani dalam waktu yang bersamaan semua permohonan yang masuk ke LPSK yang meningkat dari tahun ke tahun.
Ketentuan UU Perlindungan Saksi dan Korban saat ini belum mengakomodasi dan memberikan kewenangan LPSK untuk menentukan sistem manajemen SDM sendiri. Sebagai gambaran, kriteria perlindungan antara lain; memenuhi kualifikasi pengalaman perlindungan pribadi, penanganan senjata, hukum dan psikologi, memenuhi integritas menjaga rahasia, memenuhi profil psikologis
mengubah peran, merekrut jenis pegawai yang lazim dan fleksibel (pegawai tetap, pegawai kontrak/honorer, dan tenaga sukarela), menentukan kebijakan rotasi staf setiap 3-5 tahun (untuk
pengembangan karir, pencegahan korupsi dan sifat pekerjaan yang menuntut produktivitas tinggi). Perlu juga memuat ruang lingkup kemandirian sistem manajemen SDM LPSK yang berbasis
kompetensi atau meritrokrasi. Misalnya seperti persyaratan menjadi pegawai LPSK, kewenangan mengangkat dan memberhentikan pegawai, pola kepangkatan, ketentuan mengenai penyertaan jenjang kepangkatan pegawai yang dipekerjakan ke dalam jenjang kepangkatan di LPSK, dan dasar yang kuat terhadap aturan
mengenai gaji, honorarium, serta hak-hak lain bagi pegawai LPSK.
Keberhasilan program kerja LPSK hanya dapat dicapai jika adanya dukungan baik dari segi penambahan jumlah personil maupun sumber daya manusia yang baik dari kalangan pegawai atau staf yang bekerja di LPSK. Karena itulah maka keberadaan dukungan staf yang berintegritas tinggi, profesional, berkualitas dan memiliki produktifitas yang tinggi sangatlah penting dalam kerja LPSK terutama jika dikaitkan dengan misi yang spesifik dari kerja-kerja perlindungan saksi yang menuntut kedisiplinan dan kerahasiaan yang sangat tinggi.
2. Kendala eksternal Dari segi koordinasi.
LPSK dalam melakukan perlindungan terhadap khususnya terhadap saksi tentunya menyadari bahwa kerja-kerja lembaga akan melibatkan banyak dukungan dari instansi lain.
Pasal 36 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2006 berbunyi :
“Dalam melaksanakan pemberian perlindungan dan bantuan, LPSK dapat bekerjasama dengan instansi terkait yang berwenang.”
Hal ini menjelaskan bahwa LPSK dalam melakukan perlindungan saksi dapat berkoordinasi dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kapasitas dan hak untuk memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung, yang diperlukan dan disetujui keberadaannya oleh saksi .
Sebagai contoh, berkaitan dengan intimidasi dan ancaman yang serius yang melibatkan relokasi saksi baik relokasi sementara maupun permanen, kerjasama antar-lembaga dengan program perlindungan saksi sangatlah penting baik dalam mengamankan perpindahan saksi dari rumah mereka dengan komunitas baru.
Namun jika seseorang merupakan saksi yang berisiko terkena intimidasi yang serius yang mungkin juga akan mengancam jiwanya maupun keluarganya dan memiliki kemungkinan akan ada usaha dari pihak lain untuk melacak keberadaannya, maka sangatlah penting bila hubungan dengan lembaga-lembaga terkait dilakukan secara cepat dan aman.
Kerjasama ini diperlukan karena tidak mungkin LPSK berjalan sendiri dalam melindungi saksi sementara beberapa pihak ada yang menginginkan agar LPSK tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya.
Oleh karena itu pula maka hubungan antar lembaga tersebut harus didukung dan difasilitasi oleh Presiden, karena LPSK bertanggungjawab pula kepada Presiden. Posisi Presiden sebagai posisi yang sangat sentral dalam mendukung kerja LPSK sekaligus sebagai posisi yang membawahi masing-masing departemen atau lembaga terkait lainnya.
Seiring berjalannya waktu LPSK dalam melaksanakan tugas dan fungsinya tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Banyak hal yang terjadi sehingga menimbulkan masalah di dalam segala kegiatan LPSK dalam melindungi saksi. Salah satu masalah yang terjadi adalah timbulnya ketidaksepahaman antara LPSK dengan pihak-pihak terkait yang berwenang khususnya aparat penegak hukum. Hal ini tentu akan menghambat tugas paling utama dari LPSK yaitu melindungi saksi.
Ketua LPSK mengungkapkan, pihaknya masih kesulitan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum terutama di daerah, terkait tugas lembaganya untuk memberikan perlindungan saksi dan korban.
Mengutip pendapat Ketua LPSK :
"Aparat penegak hukum di tingkat operasional terutama daerah seringkali belum memahami dan mengetahui detail peran mereka dalam pelaksanaan pemberian perlindungan saksi dan korban sesuai keputusan LPSK."
Padahal, pemberian perlindungan saksi dan korban mustahil memutus peran berbagai pihak terkait. Dari pihak penegak hukum misalnya, yang terdiri dari unsur kepolisian, kejaksaan, advokat, dan hakim.
Berdasarkan hasil penelitian, banyak aparat penegak hukum yang belum mengetahui keberadaan LPSK. Padahal, LPSK yang dibentuk pada 8 Agustus 2008 lalu berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban berkaitan langsung dengan aparat penegak hukum.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Tasman Gultom, yang menyatakan:
“LPSK sudah sering melakukan sosialisasi ke daerah di luar Jakarta namun sampai saat ini masih banyak yang belum mengetahui keberadaan LPSK khususnya bagi aparat penegak hukum contohnya ada seorang hakim di Pengadilan Negeri di Jakarta yang mengatakan LPSK itu LSM dari mana.”
Hal yang sama juga disampaikan Penanggung Jawab Bidang Hukum, Diseminasi, dan Humas LPSK, Hotma David Nixon, yang mengatakan :
"Mayoritas aparat penegak hukum tidak kenal LPSK. Apakah LSM atau lembaga negara? Bahkan, jaksa, hakim, kepolisian, tidak tahu.
Kalau penegak hukum tidak kenal LPSK, itu sangat menyedihkan, dan bukan hanya aparat penegak hukum yang
tidak mengetahui adanya LPSK sebagai lembaga negara yang membidangi masalah perlindungan saksi dan korban, tetapi anggota DPR juga ada yang tidak mengetahui keberadaan lembaga ini. Anggota DPR Komisi X Deddy 'Miing' Gumelar saja tidak tahu apa itu LPSK ketika dia dipindahkan ke Komisi III bidang hukum. Ada juga seorang hakim di Bekasi yang mengira LPSK itu sebuah LSM.
Seluruh penegak hukum diharapkan untuk terus mengembangkan diri dalam membaca dan mendapatkan informasi. "Kan informasi tidak hanya harus dari koran, tapi juga bisa browsing melalui internet. Jadi jangan sampai aparat penegak hukum hanya fokus dengan kerjaan, tapi juga harus tahu mengenai informasi lain."
Namun demikian, Ketua LPSK mengatakan pihaknya pun turut mengapresiasi sejumlah aparat penegak hukum yang telah menerapkan pola kerjasama yang baik dengan LPSK terutama dalam pelaksanaan perlindungan saksi dan korban.
Mengutip pendapat Ketua LPSK bahwa :
“Sepanjang tahun 2012, inisiatif aparat penegak hukum untuk merekomendasikan saksi dan korban yang perlu dilindungi pun meningkat jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, setidaknya ada sekitar 15 saksi dan korban yang diajukan aparat penegak hukum (Jaksa dan Polisi) untuk diberikan perlindungan oleh LPSK. Respon aparat penegak hukum merupakan point penting untuk menentukan berjalan atau tidaknya pelayanan pemberian perlindungan terhadap saksi dan korban. Komitmen aparat penegak hukum untuk serius dalam menangani proses penegakan hukum menunjukan penghargaan yang signifikan terhadap informasi dan keterangan yang telah disampaikan saksi terutama yang telah mendapatkan perlindungan LPSK.
Untuk itu, Ketua LPSK berharap, pelaksanaan forum koordinasi aparat penegak hukum dapat mengurai benang kusut kendala kerjasama aparat penegak hukum dalam melaksanakan keputusan LPSK dan optimalisasi pelaksanaan perlindungan terhadap saksi dan korban. Berjalan atau tidaknya proses hukum sangat menentukan jangka waktu pemberian perlindungan LPSK terhadap saksi, sehingga perlu adanya pemahaman bersama aparat penegak hukum mengenai urgensi pemberian perlindungan terhadap saksi.”
LPSK tidak dapat bekerja sendiri, ada bagian-bagian dimana LPSK tidak mempunyai kewenangan untuk mengintervensi tugas dan wewenang lembaga penegak hukum lainnya. Misalnya masalah peradilan, LPSK tidak bisa sampai ke sana tanpa ada kerjasama dengan pihak Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan
Mahkamah Agung. Artinya, dengan mengharmonisasikan perbedaan yang ada maka diharapkan LPSK dapat menjadi lembaga yang komplemen yang dapat berguna bagi lembaga-lembaga penegak hukum dan instansi terkait lainnya.
Sebagai lembaga yang masih relatif baru, LPSK memerlukan dukungan dari berbagai instansi lainnya. Untuk menyamakan persepsi tentang jalur dan sistem kerjasama seperti apa yang akan dipakai untuk perlindungan saksi, LPSK terus membangun
kerjasama kelembagaan secara formal yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman Bersama. Sampai saat ini, kerjasama kelembagaan telah terwujud dalam penyelenggaraan
penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara LPSK dengan :
- Kejaksaan RI - Kepolisian RI - Kemenkumham RI
- Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)
- Komnas HAM
- Komnas anti Kekerasan terhadap Perempuan - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) - PPATK
- Ombudsman
- Badan Narkotika Nasional (BNN) - Departemen Sosial (Depsos)
- BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara)
Kerjasama yang dibangun, selain dengan Instansi/Lembaga Negara, Lembaga Pendidikan, Lembaga Masyarakat maupun Lembaga Usaha (dunia penerbitan) didalam negeri juga dilakukan kerjasama dengan negara-negara lain dan lembaga pada tataran internasional.
Selain hal tersebut diatas, kendala yang juga sering dihadapi LPSK dalam menjalankan tugasnya adalah adanya intimidasi dari pihak-pihak tertentu yang ingin menghalangi LPSK dalam
memberikan perlindungan hukum terhadap saksi. Contohnya pada kasus penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan terdakwa 12 prajurit Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, Kartosuro, Sukoharjo yang saat ini sudah masuk tahap pemeriksaan di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta.
Peran LPSK sangat penting dalam perkara tersebut, dimana LPSK telah menerima permohonan perlindungan terhadap 42 saksi dalam kasus tersebut. Berdasarkan data pada LPSK, 42 saksi itu di
antaranya terdiri dari 31 tahanan Lapas Cebongan dan 11 sipir tahanan. Jumlah tersebut merupakan rekomendasi hasil investigasi yang dilakukan LPSK.
Namun tindakan LPSK tersebut tidak disambut baik oleh pihak tertentu. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas Brigadir Jenderal Adi Widjaja, yang menyebutkan 42 saksi yang akan memberikan keterangan di persidangan kasus penembakan tahanan di Lembaga
Pemasyarakatan (LP) Cebongan tidak mengalami stres dan trauma.
Kepada media massa, Danrem tersebut menyatakan bahwa tidak ada saksi yang merasa keberatan untuk memberikan kesaksian langung di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta. Begitu pula pernyataan Danrem mengenai permohonan LPSK ke Mahkamah Agung untuk meminta persetujuan penggunaan video conference untuk para saksi yang masih trauma untuk memberikan kesaksian secara langsung didepan persidangan dimana Danrem menuduh LPSK dalam pemberitaan di beberapa media, memiliki kepentingan pendanaan dibalik penggunaan Video Conference (VCR) tersebut.
Atas pernyataan Danrem tersebut, Ketua LPSK menyatakan :
"Pernyataan seperti itu tidak pantas diucapkan seorang
Danrem. Jika yang bersangkutan belum pernah membaca hasil rekam psikologis para saksi dan tidak melihat langsung kondisi para saksi tersebut. LPSK telah melibatkan 18 orang psikolog untuk memulihkan trauma para saksi tersebut. Jika saksi dianggap tidak trauma dan stres, buat apa 18 orang psikolog kami kerahkan untuk memulihkan psikologis para saksi. LPSK adalah lembaga independen, dibentuk berdasarkan ketentuan UU, dan semua fasilitas yang dimiliki LPSK dibiayai oleh APBN dan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Kepentingan kami ya cuma satu, yakni untuk melindungi saksi dan korban, dan kami tidak punya problem pendanaan apalagi kepentingan lain dalam penggunaan VCR, hal itu murni untuk mengakomodir kepentingan saksi yang masuk program perlindungan LPSK."
Selanjutnya, Ketua LPSK juga menyatakanbahwa sikap Danrem yang demikian justru dapat menunjukan sinyal buruk pelaksanaan sidang kasus LP Cebongan. Dengan dibiarkannya saksi
berhadapan langsung dengan pelaku, akan membuat saksi ketakutan, tertekan dan trauma berulang. Akibatnya, keterangan yang diberikan para saksi tidak maksimal. Jika tidak maksimal, hukuman bagi pelaku bisa ringan atau bahkan dibebaskan. Agar Danrem dapat memahami fungsi perlindungan saksi dalam sistem peradilan pidana. Dalam beberapa kasus yang melibatkan anggota militer, kehadiran LPSK dapat diterima dengan baik, dan saran-saran LPSK pun selama ini dijalankan pengadilan militer, kenapa untuk pengungkapan kasus di LP Cebongan justru dipersulit.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Anggota LPSK, Teguh Soedarsono, yang menyatakan :
“Tindakan LPSK selama ini menangani saksi kasus
penyerangan LP Cebongan adalah bentuk itikad baik terhadap militer, pernyataan Danrem tersebut terkesan melecehkan LPSK. Itikad baik LPSK memberikan perlindungan terhadap para saksi dalam kasus ini adalah agar proses peradilan militer dalam kasus cebongan dapat dipercaya masyarakat dan
terkesan transparan, selain itu dengan mengakomodir
perlindungan saksi, dapat menaikkan citra TNI AD yang kian terpuruk akibat tragedi ini. Diizinkan atau tidak, lembaganya tetap akan mempersiapkan VCR untuk kebutuhan saksi yang takut berhadapan langsung dengan terdakwa di persidangan nanti. VCR merupakan media alternatif yang dapat digunakan saksi dalam memberikan keterangan di persidangan,jika merasa terancam atau ketakutan."
Salah satu bukti dari pentingnya peran LPSK dalam memberikan perlindungan hukum bagi saksi kasus penyerangan Lapas Cebongan tersebut adalah dengan mengajukan permohonan penggunaan video teleconference ke Mahkamah Agung untuk beberapa saksi yang tidak ingin bersaksi secara langsung didepan pengadilan karena masih mengalami trauma pasca kejadian penyerangan tersebut dimana hal tersebut telah sesuai dengan ketentuan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang secara umum menyatakan bahwa saksi yang merasa dirinya berada dalam ancaman yang sangat besar, atas persetujuan hakim dapat memberikan kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan tempat perkara tersebut sedang diperiksa dan dapat didengar kesaksiannya secara langsung