KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Rekrutmen Peserta Didik 1. Rekrutmem Peserta Didik
5. Kendala-Kendala Rekrutmen Peserta Didik Baru
Kendala yang terjadi dalam pelaksanaan penerimaan peserta didik baru
merupakan sebuah kejadian yang biasanya terjadi dalam sebuah kegiatan.
Dalam menjalankan sebuah kegiatan, tidak luput dari sebuah kendala baik
yang dihadapi oleh panitia maupun calon peserta didik. Kendala yang
dihadapi di lapangan biasanya terjadi dari internal maupun ekternal.
Problem penerimaan peserta didik baru yang harus dipecahkan, yaitu:64
Pertama, adanya peserta didik yang hasil nilai tesnya, jumlah DANEM dan kecakapannya sama, dan mereka sama-sama berada pada batas bawah
penerimaan. Guna menentukan peserta didik mana yang diterima, hal
demikian tidaklah mudah.
Kedua, adanya calon peserta didik yang dari segi kemampuan masih kalah dibandingkan dengan yang lainnya, sementara yang bersangkutan
mendapatkan nota dari pejabat tertentu yang mempunyai kekuasaan tinggi di
daerah dimana sekolah tersebut berada.
63
Ali Imron, Manajemen Peserta…,hal. 67
64
Ketiga, terbatasnya daya tampung dan prasaran saran sekolah, sementara di daerah tersebut sangat banyak calon peserta didik yang
mempunyai kecakapan tinggi.
Adapun menurut Pangabean dalam bukunya, kendala-kendala yang
dihadapi dalam proses seleksi antara lain: tolak ukur, penyeleksi, dan
pelamar.65
1. Tolak Ukur
Tolak ukur adalah kesulitan untuk menetukan standar atau tolak ukur
yang akan dipergunakan untuk mengukur kualifikasi-kualifikasi seleksi
secara objektif.
2. Penyeleksi
Pemilihan penyeleksi sebagai orang yang melakukan penilaian
terhadap calon pelamar harus didasarkan pada kompetensi yang dimiliki
bukan berdasarkan kedudukan pada sebuah lembaga. Kesulitan untuk
mendapatkan penyeleksi yang benar-benar qualified, jujur dan objektif
penilaiannya, merupakan salah satu faktor kendala yang sering kali
dihadapi dalam pelaksanaan seleksi.
3. Pelamar
Untuk mendapatkan jawaban yang jujur dari pelamar bukanlah
parkara yang mudah, karena mereka selalu berusaha memberikan jawaban
mengenai hal-hal yang baik saja tentang dirinya sedangkan hal-hal yang
kurang baik disembunyikan. Hal ini terjadi karena pelamar adalah manusia
65
Mutiara Sibarana Pangabean, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), cet.2, hal. 33
yang mempunyai pikiran, kepintaran, dan keahlian untuk mengelabuhi
penyeleksi.
B. Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan 1. Konsep Mutu dalam Pendidikan
Sebelum membahas tentang mutu pendidikan terlebih dahulu akan
dibahas tentang mutu dan pendidikan, banyak ahli yang mengemukakan
tentang mutu seperti yang dikemukakan oleh Sallis, mutu adalah sebuah
filosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan
perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal
yang berlebihan.66
Lalu Sumayang menyatakan quality, mutu adalah tingkat dimana
rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan
penggunaannya disamping itu quality adalah tingkat di mana sebuah produk
barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya.67
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa mutu
(quality) adalah sebuah filosofis dan metodologis tentang (ukuran) dan tingkat
baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan
perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang
dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunaannya dalam menghadapi
tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.
66
Edward Sallis, Total Quality Management in Education, Alih Bahasa Ali Riyadi, (jogjakarta: IRCiSoD, 2012), hal.33.
67
Lalu Sumayang, Manajemen Produksi dan Operasi, (Jakarta: Salemba Empat, 2003), hal, 322.
Dalam pandangan Zamroni dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah
adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan
tujuan agar target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.68
Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan
mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian
orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan
teka-teki. Mutu dianggap sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit
di ukur. Mutu dalam pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan
mutu dalam pandangan orang lain, sehingga tidak aneh jika ada dua pakar
yang tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang bagaimana cara
menciptakan institusi yang baik.69
Sebagai suatu konsep yang absolut, mutu sama halnya dengan sifat
baik, cantik dan benar, merupakan suatu idealisme yang tidak dapat
dikompromikan. Dalam definisi yang absolut, sesuatu yang bermutu
merupakan bagian dari standar yang sangat tinggi yang tidak dapat diungguli.
Produk-produk yang bermutu adalah sesuatu yang dibuat dengan sempurna
dan dengan biaya yang mahal.70
Mutu dalam pengertian relatif bukanlah suatu sebutan untuk suatu
produk atau jasa, akan tetapi adalah persnyatan, bahwa suatu produk atau jasa
telah memenuhi persyaratan atau kinerja atau spesifikasi yang ditetapkan.
68Zamroni, Meningkatkan Mutu Sekolah, (Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2007), hal,2
69
Edward Sallis, Total Quality Management in Education, Alih Bahasa Ali Riyadi, (jogjakarta: IRCiSoD, 2012), hal.29-30
70
Produk atau jasa tersebut tidak harus terbaik, tetapi telah memenuhi standar
yang ditetapkan. Mutu dalam pengertian relatif memiliki dua aspek. Pertama,
mutu diukur dan dinilai berdasarkan persyaratan kriteria dan spesifikasi
(standar-standar) yang telah ditetapkan lebih dulu. Kedua, konsep ini
mengakomodasi keinginan konsumen atau pelanggan, sebab di dalam
penetapan standar produk dan atau jasa yang akan dihasilkan memperhatikan
syarat-syarat yang dikehendaki pelanggan, dan perubahan-perubahan standar
antara lain juga didasarkan atas keinginan konsumen/pelanggan, bukan
semata-mata kehendak produsen.71
Kata mutu berasal dari bahasa Inggris, quality, yang berarti kualitas.72
Quality is the totality of features and other characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.73
Definisi tentang mutu sangat beragam dengan sudut pandang yang
berbeda namun memiliki hakekat yang sama. Dalam membahas definisi mutu
kita perlu mengetahui definisi mutu produk yang disampaikan oleh lima pakar
manajemen mutu terpadu (Total Quality Management). Berikut ini
definisi-definisi tersebut:
a. Juran menyebutkan bahwa mutu produk adalah kecocokan penggunaan
produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
b. Crosby mendefinisikan mutu adalah conformance to requirement, yaitu
sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan.
71
Umaidi, Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah, (Ciputat: Pusat Kajian Manajemen Mutu Pendidikan, 2004), hal,162-163.
72John M. Echols dan Hasan Shadhily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1976), hal, 327.
73
c. Deming mendefinisikan mutu bahwa mutu adalah kesesuaian dengan
kebutuhan pasar.
d. Feigenbaum mendefinisikan mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya.
e. Garvin dan Davis menyebutkan bahwa mutu adalah suatu kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas,
serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau
konsumen.74
Mutu adalah gambaran karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa
yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang akan
atau yang tersirat. Lebih luas lagi mutu adalah kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk jasa, manusia, proses, dan hubungan yang
memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.75
Dari beberapa definisi mutu di atas, maka bisa ditarik kesimpulan
bahwa:
a. Mutu meliputi usaha memenuhi kebutuhan atau melebihi kebutuhan atau
harapan pelanggan.
b. Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
c. Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang
dianggap merupakan mutu saat ini, mungkin dianggap kurang bermutu
pada masa mendatang).
74
Rita H, Definisi Mutu, http://weblog. Pendidikan.blogspot.com/2009/08/definisiz mutu.html. diakses pada 13/02/2017.
75
Abu Choir, Manajemen Mutu Terpadu, Modul Mata Kuliah Jurusan Kependidikan Islam, Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo Semarang, hal 1.
Sedangkan mutu di bidang pendidikan meliputi mutu input, proses,
output, dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap
berproses. Proses pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana
yang PAKEM (pembelajaran yang aktif, efektif, menyenangkan dan
bermakna). Output dinyatakan bermutu jika hasil belajar akademik dan non
akademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu apabila lulusan cepat
terserap di dunia kerja, gaji wajar, semua pihak mengakui kehebatan lulusan
dan merasa puas.