SISWAKetua Komite
B. Gambaran Umum Variabel Penelitian Tentang Implementasi Kurikulum 2013 oleh Pendidik Pendidikan Agama Islam dan Budi
2. Kendala Pendidik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Mengimplementasikan Kurikulum 2013
Setiap sesuatu yang baru pasti membutuhkan waktu untuk menelaah dan mempelajarinya, begitu pula halnya dengan perubahan kurikulum yang semula KTSP menjadi Kurikulum 2013, dan pasti saat menerapkannya pun banyak kendala yang dialami. “Kendala yang
7170. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Bapak Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 22 November 2017, pukul 09.45 WIB
7271. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 21 November 2017, pukul 09.35 WIB
dialami oleh pendidik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu dalam hal penilaian, sarana dan prasarana, serta penguasaan IT oleh pendidik itu sendiri.”74
Kendala kebanyakan pendidik-pendidik di SD N 5 Terbanggi Besar dan terutama pendidik senior yaitu terletak pada aspek penilaian dan penggunaan IT. Karena IT digunakan untuk menganalisis nilai, kalau IT nya saja tidak menguasai bagaimana mau melakukan analisis? Jadi penilaian dan penguasaan IT merupakan kendala bagi kebanyakan pendidik di sini.75
Adapun kendala-kendala yang dialami pendidik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu sebagai berikut:
a. Penilaian
Penilaian atau evaluasi dalam pembelajaran sangat dibutuhkan karena sebagai alat pengukur kemampuan peserta didik dan sebagai tolok ukur sampai batas mana peserta didik memahami materi yang telah diajarkan oleh bapak atau ibu pendidik di kelas.
Implementasi Kurikulum 2013 ini sulitnya yaitu dalam hal penilaian. Bagaimana tidak, pendidik dituntut untuk benar-benar memperhatikan peserta didiknya satu persatu, masih lumayan kalau cuma dapat jam ngajar 2 kelas tidak terlalu berat, tapi jika kelas yang dipegang itu 6 kelas? Analisis penilaiannya yang lumayan berat. Belum lagi tuntutan mengajar untuk sertifikasi yang mengharuskan pendidik mengajar sebanyak 24 jam perminggu, berarti saya harus mengajar minimalnya 6 kelas yang setiap kelas memiliki peserta didik minimal 25-30. Bayangkan saja sudah berapa siswa yang setiap hari harus saya perhatikan. Apalagi untuk K13 ini bukan hanya aspek kognitifnya saja yang dinilai, akan tetapi ada 3 yaitu aspek kognitif, psikomotor dan afektif (sosial dan spiritual).76
7473. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Bapak Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 22 November 2017, pukul 09.50 WIB
7574. Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, Hi. Darmadi, S.Pd. pada tanggal 21 November 2017, pukul 10.45 WIB
7675. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 21 November 2017, pukul 09.40 WIB
“Penilaian pada Kurikulum 2013 sangat rumit dan memberatkan. Akan tetapi dari sinilah kita sebagai pendidik bisa memperhatikan peserta didik satu persatu walaupun sedikit merepotkan pendidik.”77
Penilaian yang menjadi langkah terakhir dalam proses pembelajaran menjadi penentu keberhasilan pendidik dalam mengajar peserta didiknya. Meskipun aspek yang dinilai untuk Kurikulum 2013 lebih banyak dan lebih rumit.
b. Sarana dan Prasarana
1) Sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran
Penciptaan proses belajar mengajar yang kondusif membutuhkan banyak komponen, bukan hanya membutuhkan pendidik yang profesional saja, akan tetapi sarana dan prasarana juga harus dipenuhi. Penerapan Kurikulum 2013 yang mengedepankan kompetensi dan karakter peserta didik membutuhkan media pembelajaran yang memadai dan sesuai dengan meteri yang sedang diajarkan.
Kurikulum 2013 yang lebih menonjolkan penggunaan IT di kelas, membutuhkan alat bantu seperti LCD, Laptop dan beberapa perangkat lain yang mendukung, tetapi di SD ini masih kurang dalam penyediaan LCD, untuk bisa menggunakan LCD harus bersaing dengan pendidik mata pelajaran yang lain.78
7776. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Bapak Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 22 November 2017, pukul 09.55 WIB
7877. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Bapak Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 22 November 2017, pukul 09.50 WIB
Sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan agar materi yang disampaikan dapat tersalurkan dengan baik. Dan idealnya setiap pendidik memiliki media pembelajaran masing-masing agar memudahkan dalam proses pembelajaran.
2) Sarana dan prasarana untuk beribadah
Ibadah merupakan kewajiban setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan. Selain dalam proses pembelajaran, dalam beribadah pun juga dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mendukung terlaksanya ibadah dengan baik.
Sarana penunjang untuk beribadah sangat minim sekali, terutama untuk tempat wudhu, mukena dan masjid yang terlalu kecil. Karena masjid merupakan tempat untuk beribadah peserta didik, jadi masjid juga merupakan sarana untuk membentuk karakter peserta didik. Maka dari itu seyogyanya masjid harus memiliki fasilitas yang lengkap dan memadai.79
“Kognitif peserta didik dibentuk dari hasil belajar di kelas, dan aplikasi dari ilmu yang didapat itulah yang akan menjadi karakter peserta didik, dan salah satunya menjalankan shalat berjamaah di masjid.”80
Kelengkapan sarana dan prasarana dalam beribadah merupakan hal yang harus diperhatikan, karena itu merupakan media untuk membantu terbentuknya karakter peserta didik yang
7978. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Bapak Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 22 November 2017, pukul 09.50 WIB
8079. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 21 November 2017, pukul 09.40 WIB
telah tercantum dalam Kompetensi Inti yaitu menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. Untuk mencapainya membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.
c. Penggunaan IT
Saat ini penggunaan IT (teknologi dan informasi) di masyarakat bukan merupakan hal baru atau sesuatu yang dianggap sulit. Justru dengan adanya teknologi masyarakat merasa dimudahkan dalam beberapa pekerjaan. Untuk itu di dalam pengembangan Kurikulum 2013 IT bukan lagi menjadi mata pelajaran, akan tetapi IT masuk ke dalam setiap kali proses belajar mengajar berlangsung. Begitupun dalam proses penilaian juga membutuhkan kemampuan menganalisis dengan menggunakan IT.
Kendala kebanyakan pendidik-pendidik di SD N 5 Terbanggi Besar dan terutama pendidik senior yaitu terletak pada aspek penilaian dan penggunaan IT. Karena IT digunakan untuk menganalisis nilai, kalau IT nya saja tidak menguasai bagaimana mau melakukan analisis? Jadi penilaian dan penguasaan IT merupakan kendala bagi kebanyakan pendidik di sini.81
Kurikulum 2013 ini, pendidik harus bisa mengaplikasikan komputer, karena itu modal untuk bisa menganalisis nilai-nilai peserta didik nantinya. Mungkin untuk pendidik yang masih junior untuk belajar sedikit demi sedikit masih terasa mudah, tapi untuk pendidik yang senior tuntutan penggunaan IT dalam pembelajaran dan untuk analisis nilai siswa sedikit memberatkan.82
8180. Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, Hi. Darmadi, S.Pd. pada tanggal 21 November 2017, pukul 10.45 WIB
8281. Hasil wawancara dengan pendidik Pendidikan Agama Islam, Tumijan, S.Pd.I pada tanggal 21 November 2017, pukul 09.50 WIB
Pemanfaatan IT dalam pembelajaran merupakan cara untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas pendidik agar pembelajaran yang sedang berlangsung lebih menarik dan tidak cenderung monoton. Dalam Kurikulum 2013 juga ditegaskan bahwa IT bukan lagi menjadi mata pelajaran yang terpisah dengan pelajaran yang lain, akan tetapi diintegrasikan menjadi satu dan menjadi sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran.
3. Pembentukan Karakter Melalui Kurikulum 2013 oleh Pendidik