• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN

D. Kendala Yang Di hadapi Orangtua Dalam Pembinaan

Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan atau tindakan yang mempunyai akibat hukum, apabila dilakukan orang dewasa disebut dengan kejahatan dan apabila perbuatan atau tindakan itu dilakukan oleh anak remaja masih dikategorikan sebagai kenakalan. dengan begitu kenakalan remaja merupakan perbuatan dan tingkah laku yang bertentangan dengan hukum, agama, norma-norma masyarakat, yang dilakukan oleh anak remaja yang dapat merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain.

Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa kenakalan remaja yang dimaksud adalah perilaku yang menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum, agama dan norma-norma masyarakat, seperti halnya kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak lain, dan kenakalan yang melawan status.

Apabila dikaitkan dengan prilaku yang ada di Desa Bontobuddung Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa, Maka kenakalan yang dilakukan oleh sebagian remaja yang ada di Desa Bontobuddung Kecematan Tompobulu Kabupaten Gowa merupakan kenakalan yang begitu komplek, seperti bolos sekolah, melawan orang tua, ugal-ugalan dalam berkendara.

Semua prilaku tersebut merupakan tingkah laku yang melanggar norma agama, masyarakat, bahkan hukum negara. Oleh karna itu harus diupayakan pembinaan akhlak yang baik agar para remaja remaja tidak mengulangi kembali kenakalan yang pernah dilakukannya karena orang tua mempunyai kendala dalam hal mendidik anak.

“Berdasarkan Hasil Wawancara dengan ibu Masitah warga Desa Bontobuddung, ibu Masitah mengatakan bahwa kendala dalam pembinaan Akhlak Remaja adalah kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orangtua. Dan dari pihak sekolah juga terkadang guru mereka tidak masuk pada jam pelajaran atau jam sekolah hal ini bisa menjadi peluang bagi mereka untuk bolos dari sekolah dan banyaknya teman yang mengajaknya untuk melakukan kenakalan seperti bolos sekolah.45

Orangtua merupakan orang pertama yang paling bertanggung jawab atas pembinaan akhlak remajanya. kemampuan (intelektual, biaya, dan waktu) orang tua menyebabkan ia mengirim anaknya kesekolah. Orang tua meminta tolong agar sekolah membantunya mendidik dan

membina anaknya, inilah dasar kerja sama orangtua dengan sekolah dalam pembinaan dan mendidik anak remaja mereka.

Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Hanya saja bedanya bahwa sekolah memberikan pendidikan formal dimana kegiatan belajar anak diatur sedemikian rupa dan dalam jangka waktu yang lebih singkat jika dibandingkan dengan lamanya pedidikan d ikeluarga. Upaya pembinaan di sekolah dapat dilakukan dengan memberi penjelasan secara luas dan rinci kepada anak anak remaja tentang beberapa aspek yuridis dan relevan dengan perbuatan-perbuatan nakal yang kerap mereka lakukan.

Disamping aspek kesadaran hukum, ada spek lain yang dapat diberikan kepada anak-anak remaja di sekolah sebagai pembinaan agar remaja menjadi anggota masyarakat dengan prilaku yang positif, yaitu internalisasi nilai-nilai kaidah sosial dan agama yang dapat mendidik para remaja memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan memiliki prilaku yang sesuai dengan pemerintah agama. Usaha untuk mencapai tingkat kesadaran berprilaku positif dikalangan remaja dapat dilakukan dengan penyuluhan. Dengan begitu para remaja akan mampu menginterlisasikan nilai-nilai positif yang bermanfaat ditengah-tengah masyarakat dan lingkungannya. Selain itu, sekolah juga diharapkan dapat membina kesehatan fisik para remaja agar bertubuh sehat, hal ini dapat dicapai dengan menyediakan sarana olahraga bagi para remaja atau peserta didik.

Masyarakat adalah tempat pendidikan ketiga setelah kedua orang tua, dan sekolah. Ketiganya harus bekerja sama dalam mengarahkan anak remaja menjadi generasi yang baik. Upaya pembinaan masyarakat untuk mengatasi kenakalan remaja dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik bersifat hobi sperti keseniaan, dan olahraga, juga yang bersifat kegiatan-kegiatan sosial dan pengajian-pengajian. Gunanya untuk mencapai kekompakan dalm menanggulangi masalah kenakalan remaja yang berkembang dimasyarakat. Sebab jika tidak ada kerja sama untuk mengatasi kenakalan remaja, berarti tidak akan terdapat penyelesaian, bahkan sebaliknya, kenakalan itu akan merajalela.

“Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak H. Supriadi Dg. Liwang warga Desa Bontobuddung kendala yang dihadapi oleh bapak H. Supriadi Dg. Liwang dalam proses pembinaan Akhlak Remaja adalah lemahnya pengetahuan Agama yang seharusnya bisa menjadi benteng bagi remaja tersebut agar tidak melakukan kenakalan-kenakalan dalam bentuk apa pun”.46

60 A. Kesimpulan

Berdasarkan kajian dan hasil penelitian sebagaimana dikemukakan di atas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

1. Peranan orang tua adalah sebagai pendidik utama dalam pembinaan akhlak remaja dan dapat dilakukan dengan cara membimbing, memberi contoh, memberi pegangan dasar-dasar akhlak yang kuat agar tidak mudah terombang ambing dengan kemajuan zaman yang tidak Islami. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan agama yang diberikan merupakan faktor yang konduktif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang berakhlak mulia. Jadi peran orang tua sangat penting dalam pembinaan akhlak remaja.

2. Bentuk pembinaan orangtua merupakan sistem atau model yang akan diterapkan untuk pembinaan akhlak remaja yang tujuannya bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembinaan ini diupayakan agar remaja memahami arti agama dan manfaatnya untuk kehidupan manusia, dengan demikian tumbulah keyakinan beragama yang baik.

Apabila dikaitkan dengan pola pembinaan yang diterapkan oleh orangtua di Desa Bontobuddung Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa, maka pola yang yang diterapkan itu sudah cukup baik yang dimulai dari penciptaan hubungan emosional yang baik dengan memberkan waktu luang untuk berkumpul dengan anggota keluarga baik ketika makan maupun setelah waktu melaksanakan sholat jamaah, sehingga dengan begitu terciptalah komunikasi dan hubungan emosional yang baik antara anggota keluarga. Langkah selanjutnya memberikan nasehat agama, baik mengenai aqidah, pembinaan aqidah berfungsi untuk menanamkan keimanan yang kuat terhadap diri remaja agar tidak goyah terhadap godaan-godaan untuk melakukan kemaksiatan.

3. Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan atau tindakan yang mempunyai akibat hukum, apabila dilakukan orang dewasa disebut dengan kejahatan dan apabila perbuatan atau tindakan itu dilakukan oleh anak remaja masih dikategorikan sebagai kenakalan. dengan begitu kenakalan remaja merupakan perbuatan dan tingkah laku yang bertentangan dengan hukum, agama, norma-norma masyarakat, yang dilakukan oleh anak remaja yang dapat merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain.

Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa kenakalan remaja yang dimaksud adalah perilaku yang menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum, agama dan norma-norma masyarakat, seperti

halnya kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak lain, dan kenakalan yang melawan status.

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat dikemukakan bahwa secara umum orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan akhlak remaja.

B. Saran-Saran

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan akhirnya penulis berhasil menyelesaikan karya ilmiah dalam bentuk skripsi ini. Oleh karena itu maka penulis berkeinginan untuk menyampaikan saran kepada beberapa pihak sebagai konsekuensi dari penelitian yang telah dilakukan.

1. Kepada Remaja

Remaja diharapkan agar lebih meningkatkan kewaspadaan diri agar dapat meningkatkan kualitas akhlak dalam kehidupan sehari-hari

2. Kepada OrangTua

Sebagai orangtua marilah kita berusaha meningkatkan pengawasannya terhadap putra-putrinya yang sedang mencari ilmu supaya putra-putri tidak terjerumus kedalam tingkah laku yang menyimpang dari norma agama, norma susila maupun norma-norma yang berlaku dalam masyarakat

3. Kepada Peneliti akan Datang

Bagi peneliti akan datang hendaknya bisa meneliti lebih mendalam dan lebih sempurna lagi tentang peran orangtua dalam pembinaan akhlak remaja.

64

Arifin, M, 1981, Filsafat Pendidikan Islam,Bandung: Remaja Rosdakarya Arikunto Suharsini. Prosedur Penelitian surat Pendidikan Praktek. (Cet.

X.1998).

Al-Jazairi Jabir, Abu Bakar, 2004, Enslikopedia Muslim, Jakarta: Darul Falah

Assegaf, A. Rachman, 2005, Studi Islam Kontekstual, Yogyakarta: Gama Media

Bungin, Burhan, 2001, Metodologi penelitian Sosial, Surabaya: Airlangga Universitas Press

Daradjat Zakiyah, 1989, Kesehatan Mental, Jakarta: Haji Masagung , 1987, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Karya Unipress , Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Departemen Agama Republik Indonesia, 1993, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: Risalah Press

Departemen Pendidikan Nasional, 2002 Kamus Besar Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

Hurlock, Elizabeth B, 1980, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga Hasbulloh, 2003, Dasar-Dasar Ilmu` Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo

Persada

Isngadi, 1984, Islamologi Populer, Surabaya: Bina Ilmu

J Monks, F, 2001, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

J Moleong, Lexy, 2005, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya

Jauhari Muchtar, Heri, 2005, Fikih Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya

Kartono, Kartini, 1986, Psikologi Sosial 2 Kenakalan Remaja: Jakarta: Rajawali

Mappiare, Andi, 1982, Psikologi Remaja, Surabaya: Usaha Nasional Mustafa, A, 1999, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia

Nasution, Harun, 1988, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara Purwanto, Ngalim, 2008, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung:

Remaja Rosdakarya

Sri Rumini Prof. Dra,Perkembangan anak dan Remaja. (Jakarta: PT. Rineka cipta).

Surachman Winarno, Dasar Tekhnik Research, (Bandung : Tarsih, 1977). Sujadi, Nana, 1989, Penelitian dan Penelitian Pendidikan, Bandung: Sinar

Baru

Sulaeman, Dadang, 1995, Psikologi Remaja, Bandung: CV Mandar Maju Surachmad, 1994, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito

Tanzeh, Ahmad, 2009, Pengantar Metode Penelitian, Yogyakarta: Teras Utsman Najati, Muhammad, 2005, Psikologi Nabi, Bandung: Pustaka

Hidayah

W. S, Wingkel, 1996, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo

Dokumen terkait