BAB III : PEMBAHASAN
3.1.3 Kendala yang Dihadapi BPR
1. Persaingan bisnis pada industri perbankan rakyat.
Persaingan bisnis pada industri lembaga keuangan BPR sangat ketat dan berat. BPR memiliki pesaing dari bank umum yang menyelenggarakan program kredit UKM dan BMT yang memilik pangsa pasar pada usaha-usaha kecil. Dalam kapanlagi.com, Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menilai persaingan usaha antara bank perkreditan rakyat (BPR) dengan bank-bank umum yang bermain dengan pangsa pasar sama cenderung tidak sehat serta merugikan keberadaan BPR. Persaingan tidak sehat itu seperti tercermin dalam regulasi yang ada bahwa bank umum sangat mudah membuka kantor cabang
pembantu untuk melayani usaha mikro, sedangkan BPR dibatasi hanya boleh buka satu cabang dalam satu tahun. Dalam hal CAR atau rasio kecukupan modal, BPR minimum harus mengantongi CAR 15%, padahal bank umum hanya dipatok delapan persen atau hanya separuhnya. Bank umum juga dibebaskan menggunakan merek atau nama untuk kantor cabang pembantu (KCP), walau bertentangan, misalnya dalam kasus Dana Simpan Pinjam (DSP) Bank Danamon, sedangkan BPR tidak boleh melakukan hal seperti ini. Selain itu, persaingan tidak sehat itu yang terlihat dari lokasi pembukaan KCP bank umum yang banyak di daerah yang sudah dilayani BPR serta mebiayai nasabah yang sama dilayani BPR, sehingga tujuan meningkatkan akses bagi usaha mikro tidak tercapai. Hal ini perlu disiasati secara kreatif dan inovatif.
Kendala seperti relatif tingginya tingkat bunga yang ditawarkan BPR, tingginya cost of fund, biaya provisi dan biaya operasional yang juga tinggi, belum tersosialisasinya keberadaan. BPR ditengah masyarakat, Keengganan pengusaha itu sendiri berhubungan dengan BPR. Yang seharusnya dapat menjadi nasabah potensial BPR. Hingga tingginya tingkat persaingan BPR dalam pembiayaan UMK baik bersaing dengan sesama, BPR maupun dengan lembaga keuangan dan non keuangan lainnya.
2. Penguatan modal.
Masih carut-marutnya perebutan segmentasi pasar antara bank perkreditan rakyat (BPR) dengan bank umum membuat persaingan dua bank itu tidak sehat.
Pasalnya, saat ini bank umum ditengarahi mulai gencar membidik segmen mikro seperti halnya yang dilakukan oleh BPR. Diakui banyak pengamat perbankan bahwa, permodalan di bank umum lebih kuat dibandingkan dengan BPR, kerena itu penguatan lebih penting daripada memilih akuisisi.
Dengan penguatan permodalan di setiap BPR sangat memungkinkan BPR bersangkutan bisa bersaing dengan bank umum dalam hal penyaluran kredit.
Dengan penguatan modal ini, diharapkan mampu memiliki likuiditas yang kuat, sehingga mampu memberikan ketenangan pada nasabah.
3. Masalah sumberdaya dan pengembangan serta kesejahteraan.
Menghadapi tingkat persaingan yang makin ketat di sektor keuangan, tidak saja memerlukan modal cukup dan sistem yang canggih, juga perlu terus dilakukan peningkatan kualitas SDM. Untuk itu SDM memiliki peran penting dalam manajemen BPR, seperti integritas, komitmen dan produktivitas. Kesulitan untuk memperoleh SDM yang baik disebabkan oleh minimnya ketersediaan modal sehingga berakibat terhadap lemahnya pelayanan.
4. Regulasi pemerintah.
Dalam bisnis BPR pun pemerintah memiliki peran menjamin keamanan dana masyarakat dan melindungi pengusaha dalam bentuk regulasi-regulasi.
Jangan sampai terjadi seperti berita yang dikutip dari bisnis.com, BPR dirugikan karena bank sentral memberikan kemudahan bank umum dalam melakukan ekspansi usaha. Ekonom Indef Aviliani mengatakan persaingan tidak sehat itu tercermin dari kemudahan regulasi pembukaan kantor cabang pembantu untuk melayani usaha mikro bagi bank umum dibandingkan dengan BPR. "BPR dibatasi hanya boleh buka satu cabang dalam satu tahun, sedangkan bank umum bebas buka kantor cabang pembantu,"
BPR di Indonesia tersendat-sendat, ada dua problem dalam upaya mengembangkan BPR yaitu Pertama, regulasi yang ketat dalam upaya menumbuhkembangkan BPR. Kedua, adanya tindak kejahatan di tubuh BPR sebagai imbas diabaikannya pengawasan terhadap lembaga ini daripada bank umum dan syariah. BI masih memberlakukan regulasi yang ketat terhadap pihak-pihak yang ingin mengembangkan BPR. Selama ini, BPR sering mendapat kesulitan dalam pendirian kantor-kantor cabang. Meski dalam API (Arsitektur Perbankan Indonesia) disebutkan bahwa BPR akan mendapat kemudahan izin ketika hendak membuka cabang, dalam kenyataannya masih jauh dari ideal karena terkendala regulasi yang ketat.
BAB IV pemerintah memutuskan untuk mendirikan suatu lembaga keuangan mikro bertujuan untuk menghapus ketergantungan masyarakat terhadap sistem pinjaman uang yang diberikan oleh rentenir. BPR memiliki peran dan fungsi dalam kegiatan ekonomi yaitu memberikan pelayanan jasa perbankan (seperti: memberikan kredit dan menerima penyimpanan dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu) kepada pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan, menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil dan menunjang pertumbuhan dan modernisasi ekonomi pedesaan.
Kendala yang dihadapi BPR yaitu persaingan bisnis pada industri perbankan rakyat yang tidak sehat, permodalan di bank umum lebih kuat dibandingkan dengan BPR yang menyebabkan BPR sulit bersaing dengan bank umum, BPR mengalami kesulitan untuk memperoleh SDM yang baik disebabkan oleh minimnya ketersediaan modal sehingga berakibat terhadap lemahnya pelayanan, dan regulasi pemerintah yang ketat dalam upaya menumbuhkembangkan BPR.
4.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan makalah ini, kami memberikan saran – saran sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan dan mengembangkan BPR, pemerintah memberikan kemudahan kepada BPR dari sisi aturan agar dapat bersaing secara sehat dengan bank umum.
2. Dengan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah, BPR mampu memperoleh modal yang cukup untuk memperoleh SDM yang layak dan bermutu dari sisi kuantitas dan kualitas SDM agar pelayanan diberikan menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
http://kliping.mediabpr.com/p/apa-itu-bank-perkreditan-rakyat-bpr.html
http://compusstreet.blogspot.co.id/2012/03/fungsi-dan-peranan-bank-umum-bank.html
http://duniamanajemenku.blogspot.co.id/2009/12/tantangan-dan-peluang-bpr-ke-depan.html
http://bankrakyatbpr.blogspot.co.id/2013/09/peran-dan-fungsi-bpr-dalam-masa-pra.html
LAMPIRAN