• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Kendala yang Dihadapi Oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)

Mikro Kecil dan Menengah sebagai Upaya Penyelamatan Kredit Bermasalah

Dalam pelaksanaan suatu kebijakan pasti ada beberapa kendala yang dihadapi. Adapun kendala yang dihadapi dapat digolongkan menjadi kendala yuridis dan kendala non yuridis. Kendala yuridis adalah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan restrukturisasi kredit UMKM yang berbasis kebijakan atau aturan-aturan baik berasal dari PT. BRI Cabang Malang maupun ketentuan umum. Sedangkan, kendala non yuridis adalah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan restrukturisasi UMKM

yang berasal dari struktur dan kultur baik dari pihak BRI Cabang Malang maupun pihak debitur itu sendiri.

1. Kendala Yuridis,

Kendala yuridis ini disebabkan oleh belum adanya ketentuan yang mengatur secara tegas mengenai standarisasi proses analisa kredit yang berlaku bagi semua bank umum.

Hal ini ditunjukkan bahwa Bank-bank milik pemerintah dalam membuat kebijakan sering kali terjadi perbedaan.

2. Kendala Non Yuridis, a. Kendala Struktur,

Kendala ini disebabkan oleh petugas penyelamat kredit mempunyai perbedaan persepsi dengan karyawan bank yang memberikan kredit dalam penilaian analisis kredit (5C), karena memiliki karakter yang berbeda-beda dan merestruk suatu kredit lebih sulit dari pada pemberian kredit pada perjanjian awal. Karena, karyawan pertama yang memberikan kredit kurang cermat dalam penilaian analisis kredit sehingga terjadi perbedaan dalam mengambil keputusan.

b. Kendala Kultur,

Kendala yang berasal dari budaya masyarakat yang disebabkan oleh pihak debitur tidak mempunyai itikad baik (tidak terbuka dan berbelit-belit) sehingga berpengaruh

terhadap kelancaran pengembalian kredit dan usaha debitur yang tidak mengalami perkembangan.

Hal ini ditunjukkan dengan adanya debitur yang tidak terbuka terhadap pihak kreditur atau bank tentang penyebab kredit itu bermasalah, sehingga menyebabkan petugas penyelamat kredit (LAO) memberikan skim restrukturisasi kredit yang salah dan dengan adanya hal tersebut dapat juga berakibat kegagalan restruk, karena yang dibutuhkan debitur bukan skim tersebut sehingga pemberian skim tersebut tidak membantu untuk penyelamatan kredit bermasalah.

Disamping hal tersebut juga terdapat kendala adanya usaha debitur yang tidak mengalami perkembangan setelah kredit itu direstruk. Sehingga kredit yang sudah direstruk kepada usaha debitur tidak berdamapak positif dan menyebabkan debitur mengalami kesulitan terhadap pengembalian kredit. Selanjutnya upaya yang dilakukan oleh PT. BRI (Persero) Cabang Malang Kawi, untuk mengatasi kendala tersebut adalah :

1. Upaya terhadap Kendala Yuridis adalah,

Dalam mengahadapi kendala yuridis maka diperlukan adanya kebijakan pemerintah menerbitkan peraturan yang lebih spesifik mengenai standarisasi proses analisa kredit bagi semua bank Pemerintah, sehingga pihak kreditur mempunyai ketegasan dalam memberikan kredit.

2. Upaya terhadap Kendala Non Yuridis, yang dibedakan menjadi 2 yaitu,

a. Upaya kendala struktur,

Dalam kaitan ini agar menyamakan persepsi antara petugas bank pemberi kredit dengan petugas bank penyelamat kredit sangat diperlukan adanya pelatihan dan pembinaan yang diselenggarakan secara periodik, sehingga dapat memberikan kredit secara selektif.

Dan memfungsikan KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank) sebagai lembaga yang dapat menjembatani sekaligus membina hubungan antara Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan lembaga bank serta Pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi dan UKM untuk melakukan kerja sama dalam pembinaan yang lebih intensif terhadap UMKM dalam pengembangan usahanya guna pengembalian angsuran kredit yang menjadi kewajiban dari UMKM.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pelaku usaha yang memiliki potensi dan kontribusi dalam mendorongan laju pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun regional salah satu diantaranya adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dimana UMKM merupakan tonggak perekonomian bangsa Indonesia yang terbukti saat krisis moneter pada tahun 1997 hampir 80% usaha besar mengalami kebangkrutan dan melakukan PHK massal terhadap karyawannya, tetapi berbeda dengan UMKM yang tetap bertahan di dalam krisis dengan segala keterbatasannya.

2. Proses pengembangan UMKM di Kota Malang sangat membutuhkan dukungan dana yang cukup besar sehingga banyak UMKM yang melakukan financing melalui kredit di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Malang.

3. Seiring berjalannya waktu, perkembangan kredit pada UMKM mengalami goncangan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor intern UMKM itu sendiri, yaitu : Penyalahgunaan kredit usaha untuk kepentingan konsumsi, Kredit yang diterima digunakan untuk dua orang atau lebih, Kredit yang diterima untuk membayar hutang kepada pihak lain, Managemen yang mengelola keuangan dari perusahaan tersebut kurang baik dalam pengelolaannya sehingga pemasukan dan produktifitas menurun. Sedangkan faktor ekstern yaitu adanya persaingan antar para

pengusaha yang mempunyai bisnis yang sama atau, adanya dampak ekonomi secara nasional, krisis moneter, adanya bencana alam yang melanda perusahaan tersebut, sehingga kredit yang disalurkan menjadi kredit bermasalah.

4. Adanya kredit bermasalah pada sektor UMKM, maka PT. BRI (Persero) Cabang Malang melakukan salah satu upaya penyelamatan melalui restrukturisasi kredit, sebagaimana kebijakan yang ditetapkan dalam SK Nomor: Kep.S.94-DIR/ADK/12/2005 tanggal 12 Desember Tahun 2005 tentang restrukturisasi kredit yang pelaksanaannya telah berjalan dengan lancar, karena telah dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:

a. Penjadwalan ulang (PUL); b. Penurunan suku bunga kredit;

c. Penundaan pembayaran kewajiban (grace period); d. Pengurangan tunggakan bunga dan/atau denda; e. Pengurangan tunggakan pokok kredit

f. Pengambilalihan aset debitur (set off);

Tetapi berdasarkan hasil penelitian, aturan tersebut dalam mengimplementasikan penyelamatan kredit bermasalah melalui satu tindakan saja yaitu restrukturisasi kredit dan restrukturisasi kredit ini sudah menyangkut tentang kedua tahapan penyelamatan kredit bermasalah yang sesuai dengan ketentuan PBI No. 11/2/PBI/2009 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Pengimplementasian restrukturisasi kredit ditunjukkan bahwa perkembangan NPL nasional di PT. BRI (Persero) Cabang Malang selalu berada di bawah batas tertinggi dari batas yang

ditentukan oleh BI yaitu di bawah 5% (di tahun 2009 PT. BRI NPL nya berada di 1,2%).

5. Restruturisasi kredit ini bertujuan untuk menyelamatkan kredit sekaligus menyehatkan usaha debitur agar kembali berkembang seperti yang diharapkan. Sedang hal yang utama dalam pelaksanaan restrukturisasi ini adalah tetap mengutamakan kepentingan BRI sebagai alternatif yang terbaik dengan kriteria debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit serta debitur masih memiliki prospek usaha/ kemampuan membayar kembali (Repayment Capacity).

6. Kendala yang Dihadapi Oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Malang Dalam Pelaksanaan Restrukturisasi Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagai Upaya Penyelamatan Kredit Bermasalah (Non Performing Loan).

a. Kendala Yuridis, di Indonesia belum adanya ketentuan yang mengatur secara tegas mengenai standarisasi proses analisa kredit yang berlaku bagi semua bank umum.

b. Adapun kendala Non Yuridis berupa struktur yang disebabkan oleh petugas penyelamatan kredit yang mempunyai perbedaan persepsi dalam penilaian analisis kredit (5C) karena memiliki karakter yang berbeda-beda, serta kendala budaya masyarakat yang disebabkan oleh pihak debitur tidak mempunyai itikad baik (tidak terbuka dan berbelit-belit) sehingga berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit dan usaha debitur yang tidak mengalami perkembangan.

7. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, yaitu untuk kendala yuridis diperlukan adanya kebijakan pemerintah menerbitkan peraturan yang lebih spesifik mengenai standarisasi proses analisa kredit bagi semua bank umum dan mengenai prosedur atau tata cara melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perjanjian kredit. Sedangkan, upaya terhadap kendala non yuridis adalah perlu adanya pelatihan dan pembinaan bagi petugas penyelamat kredit serta memfungsikan KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank) dan Dinas Koperasi dan UKM untuk memberikan pembinaan yang lebih intensif terhadap UMKM tentang persyaratan dan tujuan pemberian kredit dan pengembangan usahanya.

B. Saran

1. Bagi Pihak Debitur

a. Bagi calon debitur debitur yang akan mengajukan permohonan kredit diharapkan mengetahui segala persyaratan serta memenuhinya sebelum mengajukan permohonan demi tercapainya kelancaran proses kredit.

b. Bagi debitur yang kreditnya sudah bermasalah diharapkan memiliki sikap yang kooperatif dan mau bekerja sama dengan petugas dari Bank Rakyat Indonesia. Hal ini diperlukan agar kedua belah pihak tidak dirugikan dan memudahkan proses penanganan kredit tersebut. Hendaknya debitur secara terbuka menyampaikan permasalahannya disertai Surat Permohonan untuk dilakukannya restrukturisasi kredit sesuai kemampuannya.

c. Bagi debitur diharapkan dapat memenuhi dan melunasi kewajibannya yaitu dengan cara melakukan pembayaran tunggakan kredit tepat pada waktunya, dengan dilakukannya kewajiban tersebut maka kredit yang diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia tersebut tidak akan terjadi kredit bermasalah dan dapat menyebabkan kerugian pada kepentingan para pihak.

2. Bagi Pihak Pemberi Kredit (PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Malang)

a. Pihak Bank Rakyat Indonesia dalam hal ini, harus lebih selektif dalam memberikan dana kreditnya, karena tidak semua debitur mempunyai itikad baik untuk mengembalikan dana yang telah diterimanya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara berhati-hati dan teliti dalam melakukan analisa terhadap calon debiturnya agar terhindar dari kasus kredit bermasalah di kemudian hari.

b. Petugas bank penyelamat kredit harus lebih tegas dalam menangani kredit bermasalah dan debitur yang tidak kooperatif, melalui pembinaannya dan proses penyelamatan dengan restrukturisasi, karena dengan adanya kredit yang bermasalah tersebut akan menyebabkan produktivitas bank menjadi menurun.

c. Pihak Bank Rakyat Indonesia sebaiknya memberikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai:

1) Karakteristik produk perbankan khususnya jasa perkreditan

2) Jenis kredit, angsuran, bunga, dan resiko-resiko yang akan dihadapi oleh debitur dalam penggunaan produk kredit tersebut

3) Memberikan pemberitahuan secukupnya kepada para debiturnya akan adanya dan berlakunya klausula-klausula penting dalam perjanjian, dimana pemberitahuan dilakukan sebelum atau pada saat penandatanganan perjanjian kredit.

3. Bagi Pihak Pemerintah

Permasalahan kredit bermasalah bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan permasalahan yang sangat penting, oleh karena itu diharapkan pemerintah juga ikut membantu dalam mencegah dan mengantisipasinya dengan cara melahirkan suatu peraturan yang mengatur secara mendetail tentang restrukturisasi kredit khususnya pada UMKM, agar dapat berlaku secara efektif dan efisien yang berhubungan dengan hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abdullah, M. Faisal, Manajemen Perbankan, Universitas Muhammadiyah Malang Malang : Edisi Kelima, 2005.

Adler Haymans Manurung, Modal Untuk Bisnis UKM, Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2008.

Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan Perbankan, Fakultas Ekonomi UI, Edisi Kelima, Jakarta, 1999.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1996.

H. As. Mahmoeddin, Melacak Kredit Bermasalah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2002.

Hasanuddin Rahman, Aspek-aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998.

Hermasyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2005.

M. Kwartono Adi, Kiat Sukses Berburu Modal UMKM, Raih Asa Sukses, Jakarta, 2009.

Manurung, Mandala dan Prathama Rahardja, Uang, Perbankan, dan Ekonomi Moneter (Kajian Kontekstual Indonesia), Lembaga Penerbit FEUI, Jakarta, 2004.

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti Bandung, 2000.

Munir Fuady, Hukum Perkreditan Kontemporer, PT, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

Ratna E. Amiati, Penanganan Kredit UMKM Bermasalah, Bank Indonesia, Jakarta, 2006.

Setyari, Ni Putu Wiwin, Posisi Fungsi Intermediasi Bank Umum dan BPR di Bali : Sebuah Kajian Komparatif, Buletin Studi Ekonomi Volume 12 Nomor 2, 2007.

Siswanto Sutojo, Manajemen Terapan Bank (Seri Manajemen Bank). Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. 1997.

Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, 2009.

Widjanarto, Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia, Grafiti, Jakarta, 1993.

B. Undang-Undang dan Peraturan Terkait Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Peraturan Bank Indonesia No. 11/2/PBI/2009 tentang Perubahan Ketiga atas PBI No. 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 tentang Prinsip Mengenal

Nasabah.

Surat Keputusan Direksi SK No.Kep.S.94-DIR/ ADK/12/2005 tentang Restrukturisasi Kredit yang merupakan kebijakan dari pihak PT. BRI (Persero) Cabang Malang.

Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/4/BPP tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan, Penyisihan, Penghapusan Aktiva Produktif.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1998 Tentang Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2002 Tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil, Dan Menengah.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pengakhiran Tugas Dan Pembubaran Badan Penyehatan Perbankan Nasional

C. Internet

UKM Merupakan Benteng Ekonomi Indonesia, Dileme Mimpi dan Realitas, Artikel Website, Oktober 2006, Diakses pada tanggal 1 Desember 2009.

Kajian Stabilitas Keuangan Bank Indonesia, www.bi.go.id, diakses Februari 2009.

Visi Misi PT. Askrindo, www.askrindo.co.id, Diakses pada tanggal 21 Desember 2009.

Pengetahuan Dasar Non Performing Loan ( N.P.L ) Dan Cara Pengendaliannya Pada Lenbaga Keuangan / Bank, http://kejernihanpikiran.blogspot.com/2009/11/pengetahuan-dasar-non-performing-loan.html, Diakses pada tanggal 21 Desember 2009.

DAFTAR PERTANYAAN

1. Bagaimanakah kondisi perkreditan/Kualitas Aktiva Produktif mulai dari kredit yang diterima dengan kondisi kredit yang tidak bermasalah ataupun kredit bermasalah di Bank Rakyat Indonesia cabang Malang pada bulan Januari 2009-November 2009 khususnya di sektor kredit UMKM?

2. Berapa besar prosentase pemberian kredit pada sektor UMKM dibanding dengan kredit secara umum?

3. Apa saja Kriteria UMKM dalam pengajuan kreditnya yang diterima oleh Bank Rakyat Indonesia, dan Prosedur pemberian kredit pada sektor UMKM di Bank Rakyat Indonesia Cabang Malang?

4. Prosedur Permohonan kredit UMKM di Bank Rakyat Indonesia cabang Malang?

5. Sitem pengelolahan kredit UMKM di Bank Rakyat Indonesia cabang Malang? 6. Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan kredit bermasalah (Non

Performing Loan) pada sektor UMKM di Bank Rakyat Indonesia cabang Malang?

7. Bagaimanakah Penanganan kredit bermasalah pada sektor kredit UMKM di Bank Rakyat Indonesia Cabang Malang?

8. Pihak mana di Bank Rakyat Indonesia yang berwenang dalam menanganai kredit bermasalah pada UMKM?

9. Bagaimanakah Sistem dan pola restrukturisasi kredit UMKM di Bank Rakyat Indonesia Cabang Malang?

10. Berapakah perbandingan jumlah debitur bermasalah dengan jumlah permohonannya dan kredit yang direstrukturisasi pada Bank Rakyat Indonesia cabang Malang? (tahun 2009 sampai bulan November)

11. Contoh kredit UMKM yang direstrukturisasi oleh Bank Rakyat Indonesia? 12. Apakah setiap permohonan restrukturisasi kredit yang dimohonkan oleh

debitur bermasalah pasti disetujui oleh Bank Rakyat Indonesia cabang Malang? Apabila tidak, mengapa demikian?

13. Pasal 54 ayat (1) PBI No. 7/2/2005 menyebutkan bahwa bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis mengenai restrukturisasi kredit. Bagaimanakah

kebijakan dan prosedur tersebut pada Bank Rakyat Indonesia cabang Malang khususnya pada sektor UMKM?

14. Faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan oleh Bank Rakyat Indonesia cabang Malang dalam proses restrukturisasi kredit?

15. Bagaimanakah tata cara pengajuan usul, analisa dan monitoring restrukturisasi kredit UMKM pada Bank Rakyat Indonesia cabang Malang?

16. Bagaimanakah penetapan kualitas kredit UMKM yang direstrukturisasi pada Bank Rakyat Indonesia cabang Malang?

17. Faktor/kendala apa saja yang menghambat pelaksanaan restrukturisasi kredit UMKM dalam upaya penyelamatan kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada Bank Rakyat Indonesia cabang Malang?

18. Upaya apa yang dilakukan Bank Rakyat Indonesia cabang Malang dalam mencegah terulangnya kembali kasus kredit bermasalah?

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2002

TENTANG

RESTRUKTURISASI KREDIT USAHA KECIL, DAN MENENGAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa dalam rangka mempercepat proses pemulihan dan pengembangan ekonomi yang berkeadilan, diperlukan upaya khusus penyelamatan, perlindungan dan penyehatan Usaha Keeil dan Menengah;

b. bahwa upaya khusus sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan dengan restrukturisasi kredit Usaha Kecil dan Menengah yang macet akibat krisis;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b perlu menetapkan Keputusan Presiden tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah;

Mengingat :

1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang No. 49 Prp. Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara (LN RI Tahun 1960 No. 156, TLN No. 2104);

3. Undang-undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan (LN RI Tahun 1992 No. 31, TLN No. 3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 (LN RI Tahun 1998 No. 182, TLN No. 3790);

4. Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (LN RI Tahun 1992 No. 116, TLN No. 3502);

5. Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (LN RI Tahun 1995 No. 13, TLN No. 3587);

6. Undang-undang No.9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil (LN RITahun 1995 No. 74, TLN No. 3611);

7. Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (LN RI Tahun 1999 No. 66, TLN No. 3843);

8. Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000 – 2004 (LN RI Tahun 2000 No. 206);

9. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil (LN RI Tahun 1998 No. 46, TLN No. 3743);

10. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1999 tentang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (LN RI Tahun 1999 No. 30, TLN No. 3814) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2001 (LN RI Tahun 2001 No. 71, TLN No. 4102);

11. Keputusan Presiden No. 27 Tahun 1998 tentang Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional;

MEMUTUSKAN: Menetapkan :

KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG RESTRUKTURISASI KREDIT USAHA KECIL, DAN MENENGAH.

Pasal 1

Dalam Keputusan Presiden ini, yang dimaksud dengan :

1. Restrukturisasi kredit adalah upaya yang dilakukan Bank dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) terhadap kredit Usaha Kecil dan

Menengah agar debitor Usaha Keeil dan Menengah dapat memenuhi kewajibannya.

2. Bank adalah bank yang seluruh sahamnya atau mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah.

3. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) adalah Badan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden No. 27 Tahun 1998.

4. Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara adalah Direktorat Jenderal di bawah Departemen Keuangan yang menangani piutang dan lelang.

5. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

6. Usaha Kecil adalah kegiatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.

7. Usaha Menengah adalah kegiatan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai usaha menengah.

Pasal 2

(1) Restrukturisasi kredit Usaha Kecil dan Menengah diberikan kepada perorangan atau badan usaha yang dikategorikan sebagai usaha keeil dan menengah yang mempunyai total pagu kredit per tanggal 31 Desember 1997 dan/atau sisa utang pokok sampai dengan Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) per debitor pada bank dan atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional. (2) Kredit Usaha Keeil dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kredit yang digunakan untuk kegiatan produktif atau Kredit Pemilikan Rumah Sederhana/Rumah Sangat Sederhana (KPR RS/RSS) yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 1997 dan dinyatakan macet antara tanggal 1 Januari 1998 sampai dengan tanggal 31 Desember 2000.

Pasal 3

Perorangan atau badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus memenuhi syarat-syarat sbb.:

a. bersedia bekerja sama (kooperatif) dan mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan utang;

b. masih memiliki prospek usaha yang baik akan tetapi mengalami kesulitan pembayaran utang pokok dan atau bunga kredit;

c. kredit yang diperoleh telah diproses sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan sesuai dengan kebijakan serta prosedur perkreditan pada bank; dan

d. tidak termasuk perusahaan yang merupakan anak perusahaan besar atau grup usaha besar.

Pasal 4

(1) Pelaksanaan restrukturisasi kredit Usaha Kecil dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilakukan oleh Bank, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia dan Anggaran Dasar masing-masing Bank, serta Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). (2) Kredit maeet yang pengelolaannya telah diserahkan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara, atas permintaan Bank dapat ditarik kembali melalui mekanisme penarikan kembali tanpa harus menyampaikan proposal.

(3) Penarikan kembali atas kredit sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dikenakan biaya administrasi pengurusan piutang negara.

Pasal 5

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara sebagai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Wakil Pemerintah sebagai pemegang saham pada Badan Usaha Milik Negara/perseroan Terbatas mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka restrukturisasi kredit Usaha Kecil dan Menengah.

Pasal 6

(1) Dalam program restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 pada bank, kepada debitor Usaha Keeil dan Menengah dapat diberikan insentif sebagai berikut:

a. dalam hal debitor membayar tunai dalam jangka waktu 6 bulan terhitung sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden ini, dapat diberikan insentif potongan atas utang pokok serta penghapusan bunga dan denda;

b. dalam hal debitor tidak dapat membayar tunai, debitor dapat diberikan perpanjangan jangka waktu pelunasan dengan pembebasan bunga dan denda. (2) Besarnya insentif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Bank. Pasal 7

(1) Dalam program restrukturisasi kredit Usaha Keeil dan Menengah yang dilakukan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dimana debitor dapat membayar tunai dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden ini, dapat diberikan insentif potongan atas utang pokok serta penghapusan bunga dan denda.

(2) Besarnya insentif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

(3) Dalam hal debitor tidak dapat membayar tunai, maka akan diselesaikan dengan cara :

a. penjualan portofolio kreditnya dan/atau jaminan dengan mekanisme lelang secara terbuka dan transparan sesuai ketentuan yang bertaku;

b. pembentukan clearing house atau joint venture. Pasal 8

pengawasan program Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden ini dilakukan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 9

(1) Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melakukan sosialisasi program Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah.

(2) Dalam melakukan sosialisasi, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dapat bekerjasama dan meminta bantuan dengan instansi Pemerintah terkait dan/atau pihak lain yang dianggap perlu.

Pasal 10

Ketentuan lebih lanjut sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden ini diatur oleh Menteri Keuangan, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, dan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah baik secara sendiri-sendiri