HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Kendala yang Menghambat Pertumbuhan Tanaman MPTS
Pertumbuhan tanaman MPTS di Kawasan Hutan Karo bisa dikategorikan baik, karena dapat dibuktikan dengan jumlahnya yang sangat banyak dan kondisi pertumbuhan tanaman yang baik. Tetapi berdasarkan hasil survei dan pengamatan dilapangan serta wawancara yang telah dilakukan kepada masyarakat menunjukkan adanya beberapa kendala yang sering menghambat pertumbuhan tanaman MPTS. Tabel 5 memuat data persentasi kendala yang menghambat pertumbuhan tanaman MPTS yang paling sering dialamai oleh masyarakat di Kawasan Hutan Karo.
Tabel 5. Persentase Kendala yang Menghambat Pertumbuhan Tanaman MPTS di Kawasan Hutan No Kendala Pertumbuhan Jumlah Responden Presentae (%)
1 Iklim atau Angin 189 51,50
2 Hama Penyakit 142 38,70
3 Kesuburan Tanah 36 9,82
4 Ketinggian 0 0
Total 367 100
Iklim saat ini yang sulit ditebak menjadi kendala yang paling sering dialami oleh masyarakat, karena iklim memiliki peranan penting dalam
membantu pertumbuhan hingga prosespembungaan pada tanaman. Salah satu faktor iklim yang paling sering menjadi kendala adalah angin kencang. Pada umumnya dampak yang paling sering merugikan terjadi pada tanaman cengkeh, adalah mulai dari menurunnya produksi buah ataupun gagalnya proses pembungaan tanamman cengkeh.
Selain iklim kendala yang paling sering dialami oleh masyarakat adalah hama penyakit. Hama yang paling sering menyerang tanaman MPTS yang terdapat di lokasi penelitian adalah serangga/lalat buah (Bactoreca, sp). Serangga ini dapat menyebabkan buah dari tanaman MPTS menjadi busuk, atau jatuh meskipun masih muda. Pada umumnya masyarakat menggunakan zat kimia metil euganol yang dicampur dengan lem, zat kimia ini di lengketkan pada botol bekas, maka serangga akan menghinggapi botol karena zat kimia ini menimbulkan aroma buah matang.
Hal ini sesuai dengan penelitian Shahabuddin (2012) yang menyatakan bahwa kepadatan populasi lalat yang terperangkap pada semua perangkap yang diberi ekstrak daun wangi sebagai atraktan (metil euganol) jauh lebih tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan yang tidak
menggunakan atraktan. Hal ini menunjukkan bahwa efek atraktan sebagai isyarat kimia tinggi dalam menarik kedatangan lalat buah pada perangkap yang digunakan.
Tapi meskipun demikian, cara ini tidak cukup efektif menurut masyarakat karena tetap saja masih banyak lalat buah yang menyerang tanaman mereka. Hal ini bisa saja tidak semua lalat buah tertarik terhadap
aroma yang di keluarkan oleh zat kimia metil euganol. Hal ini sesuai dengan pendapat Shahabuddin (2012), meskipun telah banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas metil euganol sintetis ataupun yang terkandung pada ekstrak daun wangi, tetapi tidak semua jenis lalat buah tertarik pada metil euganol. Lalat buah Bactrocera cucurbitae, B. tryoni, dan B. tau misalnya lebih tertarik kepada Cue lure dibandingkan dengan metil euganol. Selain itu metil euganol lebih banyak menarik lalat buah
jantan dibandingkan dengan yang betina karena secara alami metil euganol dikonsumsi oleh lalat jantan, kemudian di dalam tubuhnya diproses untuk menghasilkan feromon seks yang diperlukan untuk menarik lalat betina.
Gambar 2. Penanggulangan Hama dengan Zat Kimia
Berdasarkan hasil survei lapangan, penyakit yang paling sering menyerang tanaman MPTS yang terdapat di lokasi penelitian adalah busuk batang.
Penyakit ini mengakibatkan batang dari tanaman jadi membusuk dan mudah patah jika diterpa angin. Masyarakat pemilik tanaman MPTS tidak melakukan penanggulangan jika tanaman MPTS mereka sudah terserang penyakit, karena pada umumnya masyarakat pada lokasi penelitian tidak mengetahui cara penanggulangan dan cara pencegahan penyakit tersebut.
Berikut merupakan gambar tanaman MPTS yang terkena penyakit busuk batang yang ditemukan di lokasi penelitian.
Gambar 3. Tanaman MPTS yang Terserang Penyakit D. Potensi Produktivitas Tanaman MPTS
Tanaman jenis MPTS (Multi Purpose Tres Species) adalah jenis-jenis tanaman yang dapat diambil manfaatnya. Secara ekologi, berfungsi untuk rehabilitasi hutan dan lahan kritis dan juga penyedia air. Secara ekonomi tanaman ini dapat menghasilkan kayu atau non kayu. Potensi
ekonomi yang diperoleh dari tanaman MPTS sangat menjanjikan jika ditanam dan dirawat dengan baik. Hampir semua bagian dari tanaman MPTS seperti daun, buah, kulit, kayu, akar, getah dan bunganya dapat dimanfaatkan, baik untuk obat-obatan tradisional, bahan bangunan, bahan pewarna, bahan makanan, dekorasi maupun berbagai kegunaan lain.
Hasil perhitungan potensi produksi tanaman MPTS di Kawasan Hutan Karo Kabupaten Karo Provinsi SumateraUtara pada Tabel 6.
Tabel 6. Potensi Produksi Tanaman MPTS Berdasarkan Jenis Tanaman di Kawasan Hutan Karo Kabupaten Karo Provinsi SumateraUtara
No Nama Lokal Nama Latin (Rp/Ha/Th)
1 Cengkeh Syzygium aromaticum 455.000.000
2 Mangga Mangifera indica 187.200.000
3 Kemiri Aleurites molucana 123.000.000
4 Jambu Biji Psidium guajava 75.000.000
5 Sirsak Annonna muricata 72.800.000
6 Jambu Air Syzygium aqueum 70.200.000
7 Durian Durio zibetinus 68.000.000
8 Alpukat Persea americana 56.160.000
9 Nangka Artocarpus heterophyllus 55.965.000
10 Petai Parkia speciosa 29.700.000
Berdasarkan data Tabel 6. Potensi tanaman MPTS paling tinggi adalah cengkeh dikuti oleh mangga, kemiri, jambu biji dan jambu air. Tanaman cengkeh merupakan tanaman MPTS yang memiliki potensi tinggi, hal ini sesuai dengan pendapat Masengi (2015) cengkeh merupakan salah satu komoditi pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Komoditi ini banyak digunakan untuk pengobatan dan pemeliharaan gigi, bahan utama pembuatan rokok, minyak atsiri, dikenal juga sebagai rempah-rempah. Disamping itu cengkeh digunakan pada upacara-upacara keagamaan. Kebiasaan demikian dikenal di indonesia sejak 2000 tahun yang lalu.
Tetapi di lokasi penelitian hanya beberapa tegakan saja yang ditemukan. Hal ini disebabkan tanaman cengkeh sangat mudah terserang penyakit, tanaman ini
membutuhkan tempat tumbuh yang khusus atau memiliki kriteria tertentu dan tanaman ini juga tidak dianjurkan di areal yang sering diterpa angin.
Adapun daerah yang cocok untuk ditanami cengkeh adalah terletak pada ketinggian 0-900 m dpl paling optimum pada 300-600 m dpl atau terletak pada ketinggian 900m dpl tetapi menghadap ke laut, suhunya 20-30°C pada malam hari tidak boleh kurang dari 17°C, mempunyai bulan kering berturut-turut dengan sedikit hujan dan mendung, bulan kering tidak boleh melibihi 3 bulan berturut-turut kecuali bila tersedia air irigasi yang cukup banyak dan juga tidak ada curah hujan yang melebihi 50-60 mm/perhari, dan juga tidak adanya kabut pada musim bunga mencapai fase mata yuyu, tidak ada angin kencang dimusim kemarau tanahnya juga harus gembur kedalamannya kira-kira lebih dari 2 m, tanah memiliki pH antara 5,5-6,5, serta kedalaman air tanah pada musim hujan tidak lebih dangkal dari 3m dari 8m (Danarti & Najiyati, 1991).
Setelah tanaman cengkeh tanaman MPTS yang paling memiliki potensi tertinggi adalah mangga dan kemiri. Hal ini menyebakan kedua tanaman tersebut menjadi kesukaan masyarakat di lokasi penelitian. Karena selain tanaman ini mudah tumbuh dan tidak membutuhkan syarat tumbuh yang rumit, tanaman ini memiliki potensi produksi yang tinggi. Mangga yang mempunyai buah yang mempunyai nilai jual yang menjanjikan.
Menurut Krisnawati dkk (2011) produktivitas pohon kemiri untuk menghasilkan biji dilaporkan meningkat hingga umur 20 tahun dan mulai menurun pada umur 70 tahun. Duke (1983) melaporkan bahwa produksi buah kemiri berkisar antara 4–20 ton per ha per tahun dan produksi minyak kemiri sekitar 3100 kg per ha.
Gambar 4. Pohon Kemiri dan Buah Kemiri E. Pemanfaatan Tanaman MPTS oleh Masyarakat
Jenis-jenis bermanfaat ganda (multi purpose) adalah jenis-jenis yang dapat diambil manfaatnya bagi manusia, baik berupa hasil kayu maupun non kayu.
Selain hasil non kayu seperti: getah, buah, kulit, dan daun. Tetapi juga setelah jenis tersebut mencapai tua dan hasil non kayunya sudah berkurang atau terhenti, maka pohonnya dapat ditebang untuk diambil manfaat kayunya yang laku di pasaran.
Analisa kuisioner dan wawancara terhadap para responden menunjukkan sebagian besar masyarakat masih terfokus pada pemanfaatan buah saja. Sementara dari tanaman MPTS ini masih banyak yang bisa dimanfaatkan seperti getah, daun dan lain sebagainya. Tabel 7 merupakan persentasi manfaat tanaman MPTS.
Tabel 7. Persentase Manfaat Tanaman MPTS di Kawasan Hutan Karo Kabupaten Karo Provinsi SumateraUtara
No Manfaat Tanaman MPTS Jumlah Responden Persentase (%)
1 Pemanfaatan Buah 283 77,11
2 Tanaman naungan 39 10,63
3 Pemanfaatan Kayu 28 7,63
4 Obat-Obatan 17 4,63
Total 367 100
Berdasarkan data Tabel 7. Pemanfaatan tanaman MPTS yang paling banyak dipilih oleh responden adalah pemanfaatan buah yang dipilih oleh 283 responden dengan persentasi 77,11%. Hal ini dikarenakan tanaman MPTS yang paling banyak dimiliki oleh masyarakat di lokasi penelitian adalah tanaman buah yaitu mangga dan kemiri.Masyarakat pada umumnya hanya memanfaatkan buah dari tanaman MPTS, sedangkan bagian-bagian yang lain dari tanaman ini masih jarang dimanfaatkan. Hal tersebut disebabkan kurangnya pengalaman atau pengetahuan masyarakat dalam memaksimalkan manfaat dari tanaman MPTS.
Buah dari semua jenis tanaman MPTS pada umunya adalah makanan cepat saji seperti: mangga, durian, alpukat, sirsak dll, oleh karena itu buah dari tanaman ini tidak akan bisa tahan lama atau akan cepat membusuk. Contohnya buah mangga, apabila saat pemanenan buahnya jatuh langsung ketanah (terbentur), maka akan langsung pecah dan jika buahnya terlalu lama dijual akan busuk juga.
Sistem jual hasil tanaman MPTS adalah borongan, yaitu pembeli akan langsung datang kelokasi panen, untuk memanen langsung buahnya. Harga ditentukan saat negosiasi dengan pembeli dan biasanya masyarakat pemilik tanaman MPTS ini hanya menerima hasil bersih karena biaya pemanenan ditanggung oleh pembeli. Pemanenan buah tanaman MPTS pada umumya dilakukan dengan cara memanjat. Buah yang sulitdijangkau akan menggunakan pengait (galah).