HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.3 Kendali Pemerintah Gampong
Kontrol sosial harus selalu dilakukan, baik oleh pihak aparatur desa, komplek, masyarakat, dan orang tua. Hal ini dikarenakan dengan adanya pengontrolan terhadap remaja maka kenakalan remaja yang dapat membuat resah dan mengkhawatirkan masyarakat akan dapat teratasi dengan baik. Dalam hal ini Irma Sania selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“dikomplek perumahan ADB tidak pernah terjadi tauran yang disebabkan oleh para remaja, akan tetapi kenakalan yang dlakukan remaja hanya berkelahi antar teman yang kadang-kadang terjadi jika ada kesalah pahaman, namun hal tersebut hanya sebentar kemudian mereka saling memaafkan kembali. (Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan serupa juga di sampaikan oleh Sabitah, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“remaja di komplek perumahan ADB akan tetapi bukan tauran hanya balapan liar dan perkelahian antar teman-teman saja. Akan tetapi hal tersebut tidak berlanjut lama. (Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan serupa juga di sampaikan oleh Andi, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“para remaja yang ada di komplek perumahan ADB tidak pernah melakukan keonaran yang meresahkan, mengkahawatirkan dan merugikan masyarakat di komplek perumahan ADB. (Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan serupa juga di sampaikan oleh Sabitah, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“para remaja di komplek perumahan ADB tidak pernah membuat keonaran maupun kenakalan yang membuat rugi masyarakat sekitar (Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan berbeda di sampaikan oleh Riski, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“ada sebagian para remaja di komlepk perumahan ADB melakukan keonaran yaitu ada yang membawa teman wanita kedalam kost sehingga mendapatkan teguran dari masyarakat sekitar, adanya para remaja yang pulang hinnga pagi membuat masyarakat terganggu.
(Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan serupa di sampaikan oleh Vila, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“kenakalan remaja yang sering terjadi adalah para remaja merokok, balapan liar, dan kenakalan-kenakalan yang sering terjadi pada remaja lainnya. Akan tetapi kenakalan-kenakalan tersebut tidak membuat kerugian yang sangat berarrti bagi masyarakat sekitar. (Wawancara, 10 September 2014).
Pernyataan serupa di sampaikan oleh Irfan, selaku salah satu remaja di komplek ADB menyatakan bahwa:
“kenakalan sering dilakukan oleh para remaja di komplek perumahan ADB adalah sabung ayam atau adu ayam dan balapan liar.
(Wawancara, 10 September 2014).
4.4. Pembahasan
Pada dasarnya pengendalian sosial adala upaya untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap penyimpangan sosial dikenal dengan pengendalian sosial (social control). Pengendalian sosial merupakan sebuah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan dengan tujuan mengajak, membimbing, bahkan memaksa masyarakat agar mematuhi nilai-nilai atau aturan-aturan yang
berlaku, atau dengan kata lain pengendalian sosial merupakan tindakan pengawasan terhadap perilaku anggota masyarakat agar tidak melakukan penyimpangan.
Dalam hal ini kontrol sosial yang dilakukan adalah kontrol sosial terhadap para remaja yang melakukan kenakalan, dan mengakibatkan keresahan atau kekhawatiran pada masyarakat sekitar yang ada di komplek perumahan ADB.
Kontrol sosial yang terjadi terhadap kenakalan remaja di komplek perumahan ADB adalah kontrol sosial secara persuasif. Kontrol sosial secara persuasif merupakan cara pengendalian tanpa kekerasan. Cara pengendalian lebih menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, terkesan halus dan berupa ajakan atau himbauan. Dalam hal ini aparatur komplek seperti keuchik, dan aparatur komplek lainnya selalu mengontrol dan menghimbau masyarakat agar selalu hidup rukun, menghargai sesama, mentaati peraturan, dan menjaga etika. Jika ada masyarakat khususnya para remaja yang membuat keonaran maka akan langsung di tegur dan diberi himbauan atau nasehat agar keslahan atau keonaran tersebut tidak terulang lagi.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti kepada keuchik dan masyarakat di komplek perumahan ADB, didapat hasil bahwa adanya kenakalan remaja yang terjadi dikomplek ADB, namun tidak sepenuhnya kenakalan tersebut meresahkan dan menimbulkan rasa khawatir pada masyarakat di komplek perumahan ADB. Kenakalan remaja yang paling tidak disukai oleh para masyarakat adalah remaja laki-laki yang membawa teman wanitanya kedalam kos, dan remaja wanita yang membawa teman prianya kedalam kost.
Akan tetapi kenakaln lainnya masih dapat di maklumi oleh masyarakat yang ada.
Kontrol sosial yang dilakukan terhadap kenakalan remaja tersebut adalah berupa teguran bagi remaja yang melakukan kenakalan dan jika terulang lagi maka akan diberi sanksi sesuai dengan peraturan yang ada.
Dari keseluruhan hasil wawancara diatas, jika dihubungkan dengan teori yang penulis gunakan yakni Teori kontrol sosial menurut F. Ivan Nye, dapat dilihat bahwa:
1. direct control imposed from without by means of restriction and punishment (kontrol langsung yang diberikan tanpa mempergunakan alat pembatas dan hukum) .
Dalam hal ini adalah pengontrolan sosial yang dilakukan oleh aparatur desa seperti keuchik dan masyarakat sekitar yaitu dengan memberikan teguran dan nasehat kepada para remaja dengan carqa baik-baik sehingga para tremaja mau menerima nasehat tersebut dengan hati yang terbuka.
2. internalized control exercised from within through conscience (kontrol internalisasi yang dilakukan dari dalam diri secara sadar) ;
Adanya kontrol sosial dari dalam diri remaja itu sendiri yaitu untuk tidak melakukan keonaran, selalu menjaga diri dari hal-hal yang tidak disukai oleh orang lain dan selalu berbuat baik kepada sesama.
3. indirect control related to affectional identification with parent andother non-criminal person (kontrol tidak langunsung yang berhubungan dengan pengenalan (identifikasi) yang berpengaruh dengan orang tua dan orang-orang yang bukan pelaku kriminal lainnya) ;
Adanya interaksi antara remaja dan orang tua walaupun orang tua berada jauh namun selalu melakukan pengontrolan kepada remaja lewat telefon dan lainnya. Hal ini dapat membuat remaja terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
4. availability of alternative to goal and values (ketersediaan sarana-sarana dan nilai-nilai alternatif untuk mencapai tujuan)
Adanya kegiatan-kegiatan positif baik yang dilakukan dalam lingkungan komplek perumahan ADB seperti adanya pengajian malam, gotong royong bersama, dan hal positif lainnya. Hal ini dapat membuat remaja untuk tidak melakukan kenakalan remaja yang membuat irang lain rugi.
5. Peran orangtua sangat diperlukan untuk menjaga kesetabilan perilaku remaja, dimana remaja yang selalu mendapat perhatian dan nasehat kedua orangtua akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja itu sendiri dalam pergaulannya.
BAB V