4 METODOLOGI PENELITIAN
KENTANG GRANOLA
Pemasaran adalah salah satu subsistem agribisnis yang penting dalam menunjang pembangunan pertanian. Keterkaitan analisis rantai nilai dengan analisis struktur, perilaku dan kinerja pemasaran khususnya pada komoditas granola adalah melihat secara keseluruhan pemasaran kentang segar yang dilakukan pelaku usaha. Bab 6 membahas pemasaran kentang granola segar yang dilihat dari sisi Structure, Conduct, and Performance (SCP). Struktur pasar ini
mencakup dua hal yang diperhitungkan, yaitu konsentrasi pasar serta hambatan masuk pasar. Perilaku pasar dijelaskan secara deskriptif terkait dengan aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh pelaku usaha dari petani hingga pedagang sayur. Selain itu, perilaku pasar dapat dilihat oleh tiga fungsi, yaitu fungsi fisik, fungsi pertukaran, dan fungsi fasilitas. Kinerja pasar dapat dilihat dengan marjin pemasaran danfarmer share.
Pencucian, pengupasan, dan pengirisan
Perebusan pertama, lalu kentang dihaluskan
Pemberian bumbu
Pengadonan
Perebusan kedua, lalu dilakukan pembentukan (memanjang)
Pengirisan dan pembentukan (bunga)
Penjemuran
Penimbangan
Pengemasan
Analisis Struktur Pasar Konsentrasi Pasar
Konsentrasi pasar dapat dianalisis denganEight Firm Concentration Ratio
(CR 8) dengan cara membandingkan hasil penjualan kentang segar oleh 8 bandar (responden) terhadap penjualan kentang segar di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah bandar di Kecamatan Pangalengan cukup banyak, yaitu mencapai 100 bandar yang menjual hasil panen kentang dari petani. Data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat (2012) menyebutkan bahwa produksi kentang di Kabupaten Bandung mencapai 131 876 ton dan kontribusi Kecamatan Pangalengan terhadap Kabupaten Bandung mencapai 60% sehingga produksi total kentang di Kecamatan Pangalengan tahun 2012 mencapai 79 125.6 ton. Rincian penjualan 8 bandar di Kecamatan Pangalengan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Penjualan bandar di Kecamatan Pangalengan
No. Nama Bandar Penjualan Kentang Jumlah (ton) Intensitas (Kali/tahun) Total Penjualan (ton/tahun)
1 Ajang Kramat Jati 6 720
6 840 Kemang 6 420 2. H. Zaenal Sukabumi 14 96 3 588 Kalimantan 14 96 Kramat Jati 8 28 PT Alamanda 10 48 Pengolahan 2 98
3. Ica Susanto Caringin 5 360
3 528 Kemang 8 96 Tanah Tinggi 8 60 Kramat Jati 8 60 4. Asep Yogaswara Tanah Tinggi 6.5 60 2 730 Kramat Jati 6.5 120 Kemang 6.5 240
5. H. Rudi A Kramat Jati 7 180 2 520 Tanah Tinggi 7 180
6 Nia Sumarna Caringin 8 180 1 440
7. H. Amang Kemang 7.5 180 1 350
8. Edi Gito Tanah Tinggi 7 180 1 260 9. Endang K. Tanah Tinggi 7 180 1 260 10. H. Mumut
Haminudin
Lampung 9 24 936
Pasar Caringin 2 360
Total Penjualan 8 bandar terbesar 23 256
Pangsa Pasar (60%) 79 125.6
CR 8 = 0.29
Perhitungan berdasarkan hasil penelitian didapatkan konsentrasi rasio 8 bandar adalah terkonsentrasi lemah dengan nilai sebesar 0.29. Hal ini berarti bahwa delapan (8) bandar tidak menguasai secara menyeluruh dari hasil penjualan kentang segar di Kecamatan Pangalengan. Terkonsentrasi lemah diindikasikan
berada pada pasar yang memiliki banyak bandar dan memberikan peningkatan persaingan antara produsen untuk menjualnya kepada konsumen.
Hambatan Masuk Pasar
Hambatan masuk pasar dapat dianalisis dengan melihat para pesaing yang muncul dan mencoba masuk ke dalam pasar untuk merebut bagian dari pangsa pasar demi mendapatkan keuntungan dalam lembaga pemasaran. Dalam hal ini adalah bandar yang berasal dari dalam atau luar Kecamatan Pangalengan yang memiliki peluang dalam menguasai pasar. Bagi para bandar yang sudah berperan besar dalam lembaga pemasaran, hal ini merupakan ancaman karena masuknya para pesaing baru akan membuat bagiannya berkurang. Penelitian ini menghasilkan 29% sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi hambatan masuk karena Minimum Efficiency Scale (MES) menunjukkan perhitungan lebih dari
10%, maka dapat diindikasikan bahwa pemasaran kentang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung terdapat hambatan masuk. Hambatan masuk disebabkan karena para bandar yang sudah ada, yaitu (1) memiliki modal yang kuat, (2) akses yang kuat kepada petani dan pedagang besar (pasar induk), (3) informasi, (4) kepercayaan diantara kedua belah pihak, 5) ikatan psikologis antara bandar dan petani, (6) bandar menjadi kaki tangan pedagang, (7) bandar berasal dari masyarakat setempat.
Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar merupakan aktivitas-aktivitas yang terjadi di pasar dan erat kaitannya dengan struktur dan kinerja pasar. Dengan adanya struktur pasar dan perilaku pasar akan membentuk kinerja pasar. Kohls dan Downey (1972) menjelaskan 3 fungsi pemasaran, yaitu fungsi pertukaran (penjualan dan pembelian), fungsi fisik (pengangkutan, penyimpanan, dan pemrosesan), serta fungsi fasilitas (sortasi, grading, informasi harga, penyediaan dana, dan penanganan risiko). Sebelum membahas secara mendalam fungsi pemasaran, terlebih dahulu perlu mengetahui lembaga pemasaran yang berperan dalam pemasaran kentang segar di Kecamatan Pangalengan. Adapun lembaga pemasaran tersebut, yaitu :
a. Petani
Petani berperan sebagai produsen dengan komoditas yang diusahakan adalah kentang granola. Petani ini tidak hanya mengusahakan kentang granola, melainkan beberapa komoditas sayuran, seperti kubis, tomat, cabai, buncis, jagung, dan sayuran lainnya yang mampu memberikan pendapatan lebih bagi para petani. Aktivitas yang dilakukan petani dalam mengusahakan kentang, di antaranya pembelian bibit, pengolahan lahan, penanaman, pengendalian hama dan penyakit, pembelian sarana dan prasarana produksi hingga kegiatan panen. Aktivitas ini masih dilakukan secara tradisional. Setiap petani memiliki cara tersendiri dalam menangani budidaya kentang, baik dari jumlah penggunaan pupuk, obat-obatan, maupun bibit yang digunakan. Kentang dapat di panen pada usia 100-120 hari.
Petani di Desa Margamekar dan Pulosari menanam kentang di luasan lahan berkisar 0.1 sampai lebih dari 3 ha. Hal ini disesuaikan dari modal yang dimiliki. Bibit yang biasanya digunakan oleh petani adalah generasi 2 atau 3 tergantung dari ketersediaan bibit yang ada di penangkar. Pemakaian bibit turunan ini dapat digunakan 2-3 kali penanaman. Apabila hasil turunannya memiliki kualitas yang kurang baik, maka hasil panen akan dijual semua oleh petani. Bila dilihat dari fungsi pertukaran, penjualan kentang segar sebagian besar didistribusikan kepada bandar yang berada di Kecamatan Pangalengan. Transaksi dilakukan beberapa hari sebelum panen berlangsung. Penentuan harga kentang berdasarkan kesepakatan petani dengan bandar dan mengacu pada informasi harga yang diberikan oleh pedagang besar di pasar induk. Harga kentang selalu berubah setiap harinya tergantung dari kondisi permintaan serta ketersediaan kentang yang ada di pasar. Pemilihan bandar didasarkan pada kepercayaan petani dan harga jual. Penjualan dilakukan langsung di lahan, dimana petani sudah menyiapkan kentang dengan jumlah yang sesuai dengan kesepakatan.
Petani tidak melakukan proses pengolahan kentang segar menjadi produk olahan (keripik dan kerupuk kentang). Dalam hal ini, petani hanya melakukan pengangkutan dan penyimpanan. Pengangkutan hasil panen dilakukan petani dari lahan sampai ke tempat transaksi, lalu bandar melakukan pengecekan serta penimbangan hasil panen kentang di tempat transaksi dan langsung diangkut ke dalam truk untuk didistribusikan kepada lembaga pemasaran selanjutnya. Jika kualitas hasil panen baik, maka petani akan memisahkan bibit yang baik tersebut untuk dijadikan sebagai bibit yang akan ditaman pada periode berikutnya.
Saat panen berlangsung, para pekerja melakukan sortir untuk memisahkan hasil panen yang akan dijual dengan yang akan disimpan untuk dijadikan bibit. Penyediaan dana yang dilakukan petani dapat dilakukan secara langsung maupun peminjaman kepada pihak lain, yaitu bank yang pembayarannya dilakukan pada saat panen (bunga dan pokok pinjaman) ataupun peminjaman kepada bandar dengan pembayaran yang dilakukan saat panen (dipotong dari harga jual petani).
b. Bandar atau Pedagang Pengumpul
Bandar atau pedagang pengumpul merupakan lembaga pemasaran yang berfungsi mengumpulkan hasil panen kentang dari produsen untuk didistribusikan langsung kepada pedagang besar (baik yang berada di pasar induk maupun pedagang besar yang berada di luar kota) ataupun perusahaan ekspor. Peranan bandar dinilai cukup besar dalam lembaga pemasaran karena sebagai penghubung antara petani dan pedagang besar. Bandar memegang besar kepercayaan petani dalam pendistribusian hasil panennya dan kepercayaan pedagang besar dalam memasok kebutuhannya sesuai dengan kualitas yang diinginkan dengan kesepakatan harga yang sudah ditetapkan.
Teknis pembelian kentang oleh bandar adalah pengambilan hasil panen kentang segar dari petani di tempat transaksi dengan perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya (baik waktu pengambilan maupun harga kentang). Sistem pembayaran dapat dilakukan secara cash maupun Down Payment (DP) terlebih
dahulu baru dicicil hingga lunas, rata-rata 3-30 hari dari awal pembelian.
Tipe kentang yang biasanya diperjualbelikan terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe AL, AB, ABC biasa, ABC beres, ABC Super, DN, TO. Berdasarkan penelitian, rata-rata tipe kentang yang dibutuhkan oleh pasar adalah tipe ABC dan AB. Pembelian dan penjualan kentang segar dilakukan setiap hari oleh bandar.
Aktivitas pengangkutan dan penyimpanan juga dilakukan bandar, apabila ada kelebihan hasil panen maka akan disimpan di dalam gudang milik bandar dan akan didistribusikan hari berikutnya. Untuk sortasi dan grading jarang dilakukan oleh bandar karena hasil panen sudah disortasi oleh petani dan sudah dikemas dengan karung berukuran 50 kg serta distribusi hasil panen langsung dilakukan dari tempat transaksi untuk mengurangi penyusutan kentang segar. Informasi harga dilakukan setiap hari dengan mengakses informasi kepada pedagang besar di pasar induk. Harga kentang selalu berubah setiap waktu tergantung dari permintaan pasar dan ketersedian kentang di sentra produksi.
c. Pedagang Besar (Pasar Induk)
Peranan pedagang besar cukup besar dalam lembaga pemasaran, yaitu memenuhi kebutuhan pedagang maupun konsumen terhadap kentang segar. Pedagang besar mendiami beberapa pasar induk, di antaranya Pasar Induk Caringin (Bandung), Pasar Induk Pangalengan (Pangalengan), Pasar Induk Kramat Jati (Jakarta), Pasar Induk Kemang (Bogor), dan Pasar Induk Tanah Tinggi (Tangerang). Kelima pasar induk ini mendapat pasokan kentang segar dari Pangalengan.
Aktivitas pedagang besar pasar induk dimulai pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan berakhir pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Pelanggan yang datang ke pasar induk ini datang dari berbagai daerah yang ada disekitar pasar induk. Penjualan kentang yang dilakukan oleh pedagang besar cukup banyak dari sisi kuantitasnya, yaitu berkisar 6.5 ton hingga 7.5 ton tiap hari (tergantung kondisi pasar). Jika hasil dagangannya tidak habis dalam sehari, pedagang besar melakukan penyimpanan. Apabila kentang segar sudah disimpan selama 3-4 hari, maka pedagang besar akan melakukan sortasi untuk memisahkan antara kentang yang layak untuk dijual ataupun tidak.
d. Pedagang Besar (Luar Kota)
Bandar menjual hasil panen kentang dari petani ke pedagang besar yang berada di luar kota. Beberapa daerah yang mendapatkan pasokan dari Pangalengan, di antaranya Kalimantan Barat, Lampung, dan Sukabumi. Tipe kentang yang didistribusikan di antaranya tipe ABC dengan harga berkisar Rp6 400-6 800 per kg bahkan ada yang mecapai Rp7 000 per kg (tergantung kebutuhan dan persediaan kentang yang ada). Pembelian hasil panen mencapai rata-rata 7.5-14 ton per satu kali pengiriman. Distribusi kentang dilakukan melalui jalur darat dan laut.
e. Pedagang Pengecer
Pedagang pengecer berperan dalam pembelian kentang dari pedagang besar dan penjualan ke lembaga pemasaran lainnya, seperti pedagang sayur maupun konsumen akhir. Pembelian kentang oleh pedagang pengecer tidak sebanyak pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar, hanya sekitar 25-1 000 kg per satu kali pembelian (tergantung modal yang dimiliki dan daya beli konsumen). Pembelian dilakukan secara langsung kepada pedagang yang dikenal dan sistem pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu pembayaran langsung (cash) atau mengambil kentang terlebih dahulu baru dibayar kemudian
hari. Pedagang pengecer tidak hanya menjual kentang saja, melainkan komoditas sayuran lain yang dibutuhkan oleh konsumennya. Pedagang pengecer berjualan di pasar tradisonal yang relatif lebih kecil dari pasar induk. Harga jual kentang juga berkisar Rp9 000-12 000 per kg. Mahalnya harga jual kentang dikarenakan
kuantitas pembelian yang tidak besar serta transportasi pembelian kentang ke pasar induk.
f. Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling hampir mirip dengan pedagang pengecer. Perbedaannya adalah lembaga pemasaran ini menjual kentang segar yang jauh lebih sedikit dari pedagang pengecer, hanya sekitar 5-10 kg per hari. Pedagang ini mendistribusikan kentang dan sayuran lainnya dengan menggunakan gerobak ataupun sepeda motor. Harga jual kentang segar di tingkat ini mencapai Rp12 000 per kg. Aktivitas pedagang sayur keliling dilakukan pada pagi hingga siang hari. Kentang yang dijual dikemas dengan menggunakan plastik putih. Rata-rata pembelian kentang oleh konsumen tidak terlalu banyak, hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Adapun fungsi-fungsi pemasaran pada lembaga pemasaran kentang granola dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Fungsi-fungsi pemasaran pada lembaga pemasaran kentang granola
Fungsi-Fungsi Pemasaran Petani Bandar Pedagang Besar Pedagang Pengecer Pedagang Sayur Keliling 1. Pertukaran a. Beli - √ √ √ √ b. Jual √ √ √ √ √ 2. Fisik a. Angkut √ √ √ √ √ b. Simpan • • • • • c. Proses - - - - -
3. Fasilitas a. Sortasi, Grading √ • • • •
b. Informasi harga √ √ √ √ √ c. Dana √ √ √ √ √ d. Risiko √ √ √ √ √ Keterangan √ = Sering • = Kadang-kadang - = Tidak pernah
Kegiatan Penjualan dan Pembelian
Kegiatan penjualan oleh petani dilakukan pada saat panen dan langsung didistribusikan kepada bandar ataupun langsung ke pedagang besar (pasar induk). Saat panen berlangsung, petani menghubungi bandar yang sudah dikenal ataupun bandar yang mencari siapa saja petani yang akan panen dalam waktu dekat. Petani memiliki hak untuk memilih bandar yang akan membeli hasil panennya berdasarkan harga tertinggi sesuai dengan informasi yang ada. Harga jual hasil panen berdasarkan kesepakatan yang ditetapkan oleh kedua belah pihak antara petani dan bandar.
Biaya transportasi yang dikeluarkan bandar untuk mendistribusikan ke pedagang besar (pasar induk) berkisar Rp300 000 sampai Rp1 300 000 per satu kali pengiriman (tergantung alat transportasi dan jarak tempuh). Biaya transportasi ke pedagang besar (luar kota) mencapai biaya Rp1 000 000 sampai Rp3 000 000 per satu kali pengiriman.
51% 18% 23% 8% Sendiri Bank
Sendiri dan Bank Lainnya
Pengangkutan, Penyimpanan, dan Pemrosesan
Pengangkutan yang dilakukan petani mulai dari lahan hingga ke tempat transaksi (pinggir jalan) sesuai dengan perjanjian. Jika lahan ke tempat transaksi tersebut jauh biasanya dikenakan biaya pikul sesuai dengan jarak tempuh, rata- rata biaya pikul per karung (50 kg) mencapai Rp1 000-5 000 dan menjadi tanggungan petani. Selanjutnya bandar mengangkut dengan menggunakan truk double yang memuat kapasitas maksimal sebesar 7.5 ton. Beberapa bandar ada yang memiliki truk sendiri ataupun ada yang menyewa. Penyimpanan hasil panen terkadang dilakukan oleh lembaga pemasaran, mulai dari petani hingga ke pedagang sayur keliling. Bila hasil panen tersebut tidak habis dalam satu hari maka akan disimpan untuk penjualan hari berikutnya. Setelah penyimpanan lebih dari 3 hari, maka kentang harus disortir kembali untuk memisahkan kentang yang bagus dengan yang kurang baik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penjualan kentang dengan kualitas yang rendah. Lembaga pemasaran mulai dari petani hingga ke pedagang sayur keliling tidak melakukan pemrosesan kentang segar menjadi produk olahan, dikarenakan pemasaran ini berfokus pada distribusi kentang segar dari petani hingga kepada konsumen.
Pendanaan/Sumber Modal
Modal merupakan aspek penting dalam pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa membudidayakan kentang membutuhkan modal yang besar bila dibandingkan dengan komoditas sayuran lainnya, yaitu sebesar 60 juta rupiah per ha. Penyebab tingginya biaya produksi adalah input produksi yang digunakan, seperti obat-obatan, pupuk, dan harga bibit kentang. Tingginya harga obat-obatan dikarenakan berasal dari impor sehingga harga obat-obatan terus melonjak naik. Pupuk yang ada dipasaran terkadang sulit ditemukan menjelang waktu penanaman kentang granola. Bibit kentang sendiri harganya cukup tinggi, sekitar Rp12 000-15 000 per kg untuk generasi ketiga. Tingginya harga bibit, tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan oleh penangkar bibit. Tingginya modal yang dibutuhkan membuat para petani mencari cara untuk dapat menjalankan usahanya, yaitu dengan peminjaman modal kepada bank atau mengumpulkan modal dengan beberapa rekan untuk melaksanakan usaha bersama, ataupun dengan peminjaman kepada pihak lain. Sumber modal pelaku usaha, di antaranya modal sendiri sebesar 51%, bank sebesar 18%, sendiri dan bank sebesar 23%, serta lainnya (pemerintah, kerabat atau keluarga, leasing)
sebesar 8%. Sumber modal pelaku usaha dapat dilihat pada Gambar 13.
Kerjasama diantara Lembaga Pemasaran
Kerjasama antar lembaga pemasaran merupakan sesuatu yang penting untuk memperlancar distribusi hasil panen. Setiap petani memiliki jaringan sendiri dalam memasarkan hasil panennya ke bandar-bandar yang sudah dikenal baik. Hal ini dikarenakan kepercayaan merupakan salah satu modal yang bandar yakini untuk mempercayakan hasil panennya dapat didistribusikan dengan baik. Harga jual yang lebih tinggi bisa menjadi pertimbangan petani menjual kepada bandar. Begitupun kerjasama antara bandar dengan pedagang besar ataupun pedagang besar dengan pedagang pengecer, serta pedagang pengecer dengan konsumen dan pedagang sayur keliling. Selain modal kepercayaan, lembaga pemasaran saling mempertahankan kualitas hasil panen yang baik sesuai permintaan. Kualitas kentang yang baik, di antaranya berukuran besar, daging kentang berwarna kuning, kulit kentang bersih, tidak terkelupas, tidak tercangkul atau busuk.
Analisis Saluran Pemasaran Kentang Granola
Kotler (2003) dan Levens (2010) menjelaskan saluran pemasaran sebagai jaringan semua pihak yang saling terkait satu sama lain dalam mengalirkan barang maupun jasa yang berawal dari produsen sampai konsumen. Data sampel dalam penelitian ini, terdiri atas petani (n=57), petani dan bandar (n=3), bandar (n=7), pedagang besar (n=5), pedagang pengecer (n=8), dan usaha pengolahan (n=6). Penelitian menghasilkan 7 saluran pemasaran kentang granola, di antaranya : Saluran 1 : Petani-bandar-pedagang besar pasar induk-pedagang pengecer
pedagang sayur keliling-konsumen akhir Saluran 2 : Petani-bandar-perusahaan ekspor Saluran 3 : Petani-bandar-pedagang luar kota Saluran 4 : Petani-bandar-usaha pengolahan Saluran 5 : Petani-perusahaan ekspor
Saluran 6 : Petani-pedagang besar pasar induk-konsumen akhir
Saluran 7 : Petani-(petani+bandar)-pedagang besar pasar induk-pedagang pengecer-pedagang sayur keliling-konsumen akhir
Saluran 8 : (Petani+bandar)-pedagang besar pasar induk-pedagang pengecer pedagang sayur keliling-konsumen akhir
Saluran 9 : petani-(petani+bandar)-pedagang besar pasar induk-pedagang pengecer-konsumen akhir
Pada saluran pemasaran ini dapat dilihat bahwa sebanyak 47 petani (78.33%) menjual kentang segar kepada bandar dan sisanya sebanyak 12 orang (20%) menjual langsung kepada pedagang besar di pasar induk khususnya di Pasar Induk Pangalengan, dan 1 orang (10%) menjual ke perusahaan ekspor. Bandar sebagai lembaga pemasaaran pertama menjual kentang segar kepada pedagang besar pasar induk, yaitu sebanyak 6 orang (60%). Selanjutnya 2 orang (20%) menjual ke pedagang luar kota, 1 orang (10%) ke perusahaan ekspor, dan 1 orang (10%) ke usaha pengolahan. Terdapat 3 petani yang merangkap pekerjaan sebagai bandar dimana hasil panen didistribusikan langsung kepada pedagang besar pasar induk. Dengan adanya modal kepercayaan yang kuat, petani sekaligus bandar ini dapat menembus pasar induk dengan mudah. Saluran pemasaran kentang granola dapat dilihat pada Gambar 14.
Keterangan :
= saluran 1 = saluran 5 = saluran 9
= saluran 2 = saluran 6 = olahan
= saluran 3 = saluran 7 = olahan
= saluran 4 = saluran 8
Gambar 14 Saluran pemasaran kentang granola
Analisis Kinerja Pasar Marjin pemasaran
Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga di tingkat konsumen dengan harga yang diterima petani (Tomek dan Robinson 1990). Analisis marjin pemasaran pada komoditas kentang granola memiliki 9 saluran. Total marjin tertinggi terdapat pada saluran ketujuh dan kedelapan yang menunjukkan total marjin mencapai Rp6 227.27 per kg. Tingginya total marjin ini disebabkan adanya peran ganda petani sekaligus bandar. Peran ganda inilah yang membuat harga jual kentang menjadi lebih tinggi dibandingkan hanya sebagai petani saja. Total marjin di saluran pertama juga tergolong tinggi, yaitu Rp6 034.72 per kg disebabkan cukup banyak lembaga pemasaran yang terlibat sehingga menimbulkan tingginya biaya pemasaran. Berbeda dengan saluran kesembilan yang menjual langsung kentang segar dari pedagang pengecer kepada konsumen akhir, sehingga total marjin yang didapat mencapai Rp3 352.27 per kg.
Total marjin terendah terdapat pada saluran ketiga sebesar Rp1 368.06 per kg dikarenakan harga jual kentang segar ke luar kota tidak terlalu tinggi. Tipe ukuran kentang yang didistribusikan adalah ABC dengan harga jual sekitar Rp6 500 per kg. Sedangkan pada saluran keempat, total marjin mencapai Rp2 034.72
Petani (n=57) Vol. 763 820 kg/musim Bandar (n=7) Vol. 135 000 kg/pengiriman Petani + Bandar (n=3) Vol. 81 000 kg/musim
Pedagang Besar Pasar Induk (n=5) Vol. 35 000 kg/pembelian Perusahaan Ekspor Pedagang Besar Luar Kota Usaha Pengolahan (n=6) Vol. 260 kg/pemrosesan Pedagang Pengecer (n=8) Vol. 1 875 kg/pembelian KONSUMEN AKHIR Pedagang Sayur Keliling (n=2) Vol. 18 kg/penjualan 19 000 kg 2.50% 10 000 kg 7.41% 37 000 kg 27.41% 2 000 kg 1.48% 277 000 kg 36.26% 354 720 kg 46.44% 86 000 kg 63.70% 100% 95% 20% 100% 5% 80% 113 100 kg 14.80% Kios Oleh-Oleh dan warung
per kg, yang mana penjualan kentang segar oleh bandar ke usaha pengolahan secara langsung dengan tipe AB (keripik kentang). Harga jual untuk tipe AB mencapai Rp8 000 per kg sehingga marjin yang didapatkan lebih tinggi sedikit dibanding saluran ketiga.
Total marjin tertinggi terdapat pada saluran ketujuh dan kedelapan dengan presentase 51.89%. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan saluran pertama yang mencapai 50.29%. Selanjutnya saluran kedua, total marjin yang ada sebesar 40.35%. Pada saluran kelima adalah pendistribusian langsung antara petani kepada perusahaan ekspor sehingga tidak ada marjin yang diterima oleh pelaku usaha. Marjin pemasaran dapat dilihat pada Tabel 12 dan Lampiran 1.
Farmer share
Kohls dan Uhl (2002) menjelaskan bahwa farmer share merupakan
perbedaan antara harga pengecer dan marjin pemasaran. Hudson (2007) menekankan pada rasio antara harga di tingkat petani terhadap harga di tingkat pengecer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa farmer sharetertinggi terdapat
pada saluran kelima sebesar 100%. Hal ini bukan berarti bahwa saluran kelima merupakan saluran yang efektif, hanya saja penjualan dilakukan secara langsung oleh petani kepada perusahaan ekspor.
Saluran ketiga memiliki farmer share tertinggi kedua, yaitu sebesar
81.34% dimana petani menjual kentang segar kepada bandar dan didistribusikan kepada pedagang besar di luar kota dengan kuantitas yang lebih besar dibandingkan dengan distribusi ke pedagang besar pasar induk. Distribusi ini bisa mencapai 14 000 kg per satu kali pengiriman Selanjutnya, saluran enam dan empat masing-masing menghasilkan farmer share sebesar 75.11% dan 74.57%.
Adapun kinerja pemasaran kentang granola dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12 Kinerja pemasaran kentang granola
Uraian Total Biaya
(Rp/kg) Total Marjin (%) ∏/C (%) Farmer share (%) 1 3 884.62 50.29 0.55 49.71 2 20.00 40.35 200.74 59.65 3 207.69 18.66 5.59 81.34 4 132.50 25.43 14.36 74.57 5 - - - 100.00 6 228.56 24.79 6.68 75.21 7 3 852.67 51.89 0.62 48.11 8 3 641.06 51.89 0.71 48.11 9 1 921.42 36.74 0.74 63.26
Pemasaran kentang granola dianalisis dengan menggunakan struktur, perilaku, dan kinerja pasar, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa