HASIL PENELITAIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Temuan Penelitian
2. Kepala Madrasah dalam Peningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam
Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan agama islam yang dilakukan kepala madrasah berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan peneliti dilapangan. Faktor yang menjadi pendukung sehingga terlaksananya program kepala sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Madrasah Diniyah Salafiyah Ma‟hadul
„Ilmi Wal „Amal di antaranya:
1) Santri
Siswa berasal dari lingkungan keluarga yang beraneka ragam tingkat pemahaman, pengalaman serta penghayatan agama. Dan dengan ini tentunya ada siswa/peserta didik yang berasal dari keluarga yang sudah memiliki pemahaman, pengalaman, dan penghayatan agama tinggi (kyai), tetapi juga ada yang berasal dari kelompok sedang dan rendah (masyarakat biasa). Idealnya kelompok-kelompok tersebut harus dipisahkan agar mendapat perlakuan yang berbeda sehingga masing-masing kelompok memperoleh perhatian.
2) Guru/ustadz
Seorang guru/ustadz dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seseorang dikatakan profesional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntunan zamanya, yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamanya dimasa depan, sebagaimana pernyataan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. “Allimi auladakum fainnahum makhluquna lizamanin ghairi zamanikum” (didiklah /ajarilah anak-anakmu karena mereka diciptakan untuk zamanya dimasa depan bukan untuk zaman sekarang).71
Pada pendidikan madrasah diniyah yang dalam naungan pondok pesantren MIA ini para ustadz yang mengajar di sini tidak sedikit yang memiliki gelar S1,S2 bahkan doctor, sehingga dalam proses KBM dimadrasah tidak jarang para ustadz memberikan ilmu- ilmu baru selain ilmu yang ada dipondok/agama, artinya santri dapat lebih memiliki pengetahuan luas dan yang akhirnya berefek pada mutu pendidikan madrasah yang menghasilkan output atau kader-
71
kader mubaligh yang memiliki pengetahuan yang luas dan siap terjun dimasyarakat.
3) Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan berarti mengambil bagian atau peran dalam pembangunan, baik dalam bentuk pernyataan mengikuti kegiatan, memberi masukan berupa pemikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal, dana atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasilnya Selama ini, penyelenggaraan partisipasi masyarakat dipondok pesantren MIA sudah memang bisa dibilang sangat berjasa sekali baik dari pemikiran, tenaga, waktu, keahlian dan terutama dalam pemodalan untuk melangsungkan pembangunan madrasaha sebagai upaya kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah diniyah pondok pesantren salafiyah Ma‟hadul „Ilmi Wal „Amal Moyoketen Tulungagung.
Penemuan-penemuan dari banyak setudi menunjukkan betapa penting ditegakkan interaksi positif antara sekolah, keluarga dan masyarakat.
Ada beberapa bukti yang menarik perhatian:
a) Diketemukan, bahwa ada satu korelasi positif yang signifikan antara keterlibatan, kewibawaan orang tua didalam kegiatan sekolah dan keberhasilan peserta didik (Hobson, 1976).
b) Apabila orang tua dilibatkan ke dalam kegiatan sekolah, anak- anaknya mnunjukkan pekembangan penting (significant) dalam matematika, membaca dan seni bahasa (Brookover et.al. 1965). c) Keterlibatan kewibawaan orang tua di dalam sekolah dapat
menaikkan produktivitas pendidikan secara dramatis (Wolberg et.ai. 1984)
d) Kemitraan yang dinamis antara sekolah dan masyarakat akan memperbaiki efektivitas sekolah dan membeikn kontribusi terhadap kualitas kehidupan didalam masyarakat secara keseluruhan (Danzberger & Fruth, 1976).72
a. Faktor Penghambat
Terletak pada ustadz madrasah yang kebanyakan rumahnya jauh dari madrasah merupakan salah satu faktor yang menjadikan penghambat bagi kepala madrasah dan tenaga kependidikan untuk mengembangkan kualitas pendidikan khususnya pendidikan agama Islam di madrasah diniyah pondok pesantren salafiyah Moyoketen, karena mayoritas tenaga kependidikan bertempat tinggal jauh dari madrasah, sehingga terkadang ada tenaga pendidik yang terlambat dalam melaksanakan tugas, kemudian dari faktor siswa yang sebagian ada yang tidak disiplin karena kurang memahami pentingnya pendidikan agama islam sehingga siswa tersebut sulit untuk diarahkan. Dan juga dari faktor dana kebanyakan santri tidak tidak menunaikan
72
syahriyahnya tepat waktu sesuai yang telah tetapkan oleh madrasah, sehingga ini dapat menghambat proses peningkatan mutu pendidikan madrasah.
Hal ini relevan dengan yang dikatakan zuhairini dan abdul ghofir bahwa Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan disuatu lembaga pendidikan. Maka pasti ada problem-problem yang dihadapi, sehingga dapat menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan. Adapun problem-problem yang biasanya dihadapi dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah:
1) Sumber Daya Manusia a) Pendidik
Banyak guru di madrasah yang masih belum memenuhi syarat. Hal ini mengakibatkan terhambatnya proses belajar mengajar, apalagi guru yang mengajar bukan pada bidangnya. Para guru juga harus mengintegrasikan IMTAQ dan IPTEK, hal ini berlaku untuk semua guru baik itu guru bidang agama maupun umum. Selain dihadapkan dengan berbagai persoalan internal, misalnya persoalan kurangnya tingkat kesejahteraan guru, rendahnya etos kerja dan komitmen guru, dan lain-lain.73Begitu pula yang dialami oleh tenaga kependidikan madrasah diniyah MIA Moyoketen bahwa Terletak daerah tempat tinggal ustadz
73 Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang:Universitas Malang, 2004), hal. 104.
yang jauh ternyata merupakan salah satu faktor yang menghambat tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya.
b) Peserta didik
Pendidikan kita selama ini dirasa membelenggu, akibatnya kedudukan siswa sebagai objek. Mereka ditempatkan sebagai tong kosong yang dapat diisi apa saja dalam diri siswa melalui pendidikan. Kebutuhan siswa tidak pernah menjadi faktor pertimbangan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan dirasakan sebagi kewajiban dan bukan kebutuhan. Pendidikan yang membebaskan dapat diwujudkan dengan aktualisasi para siswa dalam proses belajarnya. Mereka dapat melakukan berbagai kegiatan, tetapi tetap ada kontrol dari para guru/pendidik. Begitu juga yang dialami oleh santri madrasah diniyah MIA Moyoketen bahwa banyak dari mereka tidak displin karena kurang/belum mengerti pentingnya pendidikan agama terhadap mereka, sehingga ini merupakan salah satu faktor hamabatan kepala madrasah untuk meningkatkan mutu pendidikan agama islam. 3. Langkah-langkah Kepala Madrasah dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan Agama Islam
Figur kepala madrasah di era peningkatan mutu madrasah dibutuhkan pemimpin yang mampu meningkatkan mutu madrasah. Apalagi dengan diberlakukannya otonomi madrasah maka kepala madrasah sebagai nahkoda di sekolahnya harus mampu mengambil
keputusan yang cerdas tidak merugikan dan menguntungkan sebelah pihak semata. Karena konsep manajemen ini menggariskan bahwa manajemen madrasah sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam membuat keputusan-keputusan yang bermutu yang diperoleh melalui langkah- langkah yang sistematis.74
Hal itu sudah dilaksanakan oleh kepala madrasah diniyah MIA sebagai sosok pemimpin yang arif dan bijaksana serta profesional dalam menjalankan tugas karena dalam memutuskan perkara yang ada dalam madrasah diniyah MIA senantiasa melalui musyawarah yang diikuti oleh para dewan guru, staf madrasah, serta para wali santri.
Kemudian untuk mengatasi hambatan yang ada pada madrasah
diniyah Ma‟hadul „Ilmi Wal „Amal Moyoketen, seperti yang
diungkapdiatas oleh kepala madrasah bahwa kepala madrasah senantiasa menjalankan perannya secara efektif. efisien dan selalu berusaha untuk menjadi leadership bagi guru, karyawan dan peserta didik. Kemudian memberikan pelajaran kepada siswa yang berkaitan dengan siraman rohani serta nilai-nilai agama yang telah ditetapkan dan membekali para santri pelajaan-pelajaran yang nantinya santri setelah bermasyarakan bisa menjawab dan memberi solusi atas problem-problem yang ada dimasyarakat, memiliki wawasan luas yang tidak gamang menghadapi zaman modern dan sekaligus tidak kehilangan identitas dan jati diri sebagai santri, serta dapat mengantarkan masyarakat menjadi komunitas
74 Sudarwan Danim, Visi baru Manajmen Sekolah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hal. 229.
yang menyadari tentang persolan yang dihadapi dan mampu mengatasi dengan penuh kemandirian dan keadaban.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian yang peneliti lakukan tentang upaya kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam di Madrasah diniyah salafiyah
Ma‟hadul „Ilmi Wal „Amal maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan mutu pendidikan di madrasah diniyah Ma‟hadul „Ilmi Wal
„Amal yang mencakup tujuan dan target, sistem dan metode mengajar,
strategi pengajaran, masa dan waktu pendidikan, materi pelajaran madrasah, sarana dan prasarana pendidikan, serta evaluasi pengajaran sudah cukup baik, terencana sesuai dengan kurikulum dan kalender pendidikan madrasah. Dari segi proses, ustadz agama Islam di madrasah diniyah MIA telah menggunakan metode pengajaran klasikal yang bervariasi sehingga membuat peserta didik lebih mudah menerima dan memahami materi pembelajaran khususnya materi pendidikan agama Islam. Kepala madrasah diniyah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam telah memainkan peran-perannya diantaranya sebagai Edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator. Dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam, seperti yang telah dilakukan Kepala sekolah yang terus bepacu dalam meningkatkan pendidikan melalui peningkatan kualias para ustadz, meningkatkan
kedisiplinan santri serta penigkatan penanaman tentang pentingnya pendidikan agama Islam pada santri.
2. Kepala madrasah diniyah dalam meningkatkan mutu pendidikan, kepala madrasah dalam menjalankan tugasnya bersikap bijaksana dan profesional serta dalam memutuskan perkara yang ada dimadrasah senantiyasa melalui jalan musyawarah bersama, ustadz, staf madrasah, dan wali santri.
3. Langkah-langkah Kepala madrasah diniyah Ma‟hadul „Ilmi Wal „Amal Moyoketen dalam meningkatkan mutu pendidikan Agama Islam selalu berinovasi dan berusaha untuk menjadi leadership bagi guru, karyawan dan peserta didik. Kemudian memberikan pelajaran kepada siswa yang berkaitan dengan siraman rohani serta nilai-nilai agama yang telah ditetapkan dan membekali para santri pelajaan-pelajaran yang nantinya santri setelah bermasyarakan bisa menjawab dan memberi solusi atas problem-problem yang ada dimasyarakat.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian upaya kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam di madrasah diniyah Ma‟hadul
„Ilmi Wal „Amal Moyoketen, maka disarankan:
1. Untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam di madrasah diniyah
Ma‟hadul „Ilmi Wal „Amal Moyoketen, kepala madrasah agar secara terus
menerus melakukan inovasi, perbaikan dalam pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan agama islam terutama dalam meningkatkan prestasi guru, yaitu mengadakan studi banding ke madrasah yang bermutu,
diklat/pelatihan ustadz madrasah diniyah untuk peningkatan mutu pendidikan agama Islam. Lebih memperhatikan peran-peran kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.
2. Kepala madrasah diniyah terus mengembangkan mutu atau kualitas pendidikan di lembaga yang dipimpinnya sehingga menghasilkan peserta didik yang mempunyai prestasi yang tidak kalah dengan madrasah lain, senantiasa memperhatikan faktor kedisiplinan bagi tenaga pendidikan karena faktor tersebut ikut menentukan berhasil tidaknya pendidikan serta menyediakan buku bacaan yang ada di perpustakaan guna memperdalam pengetahuan agama dan umum peserta didik.
3. Di samping itu juga perlu adanya sebuah upaya penyadaran kepada seluruh warga madrasah, termasuk para orangtua siswa dan masyarakat, bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah adalah tanggungjawab kolektif, sehingga mereka juga harus memberikan kontribusi yang nyata terhadap berbagai program yang dilakukan oleh madrasah.
4. Kepada peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian tentang Peran kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam dari tinjauan lain, sehingga dapat memberi tambahan refernsi menganai peran kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam.