commit to user
D. Intensitas Penyakit
2. Keparahan Penyakit
Keparahan Penyakit didefinisikan sebagai persentase luasnya jaringan tanaman yang terserang patogen dari total luasan yang diamati. Keparahan penyakit busuk hitam dapat diukur dengan penetapan skor berdasarkan persentase kerusakan pada daun. Keparahan penyakit diamati mulai saat munculnya gejala, berturut-turut secara periodik hingga hari ke-10. Pengamatan lapang menunjukan bahwa diatas hari ke-8 sampel daun muda bergejala sebagian besar menguning dan rontok. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pracaya (2001) bahwa daun kubis muda yang terinfeksi busuk hitam mengalami pertumbuhan yang terhambat, berwarna kuning hingga kecoklatan, layu, dan mati sebelum waktunya.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
23
Gambar 3 Grafik perkembangan tingkat keparahan penyakit busuk hitam
Gambar 3 secara umum memperlihatkan bahwa laju peningkatan keparahan penyakit pada semua perlakuan tertinggi pada hari ke-2 setelah aplikasi. Pada perlakuan kontrol keparahan penyakit pada hari ke-2 hingga hari ke-4 sebesar 10,5%, selanjutnya meningkat kembali pada hari ke-6 sebesar 14,2% dan cenderung tetap hingga hari ke-8. Perlakuan kontrol yang merupakan penyemprotan aqudest tanpa pemberian fage menunjukkan perkembangan keparahan penyakit yang lebih tinggi diduga karen bakteri pathogen bereplikasi secara cepat pada daerah interaksi pada bagian tanaman. Tanpa adanya fage yang berperan sebagai musuh alami yang mampu menginfeksi bakteri pathogen, bakteri dapat leluasa masuk menuju sistem jaringan tanaman melalui hidatoda.
Bakteri kemudian mengadakan replikasi serta menyebar keseluruh bagian tanaman melalui jaringan vaskular. Bakteri tersebut pada akhirnya mengakibatkan infeksi sistemik pada jaringan tanaman yang ditandai dengan kemunculan gejala pada permukaan tanaman (Chupp 2006). Semakin tinggi
0
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
24
tingkat kemampuan replikasi Xcc didalam jaringan tanaman, semakin meningkatkan nilai keparahan penyakit yang diperlihatkan dengan perluasan daerah bergejala pada permukaan tanaman.
Berdasarkan Gambar 3, pada hari ke-2 isolat bakteriofage asal tanah rhizosfer terlihat mampu mengeleminasi inokulum Xcc lebih tinggi dibanding kedua isolat bakteriofage lain yakni dengan nilai keparahan penyakit sebesar 3,1%. Pada hari ke-4 isolat bakteriofage asal akar sakit terlihat memiliki nilai keparahan penyakit terendah dibanding dua isolat bakteriofage lainnya, yakni sebesar 3,7%, namun pada pengamatan hari ke-6 dan ke-8 tingkat keparahan penyakit justru berjumlah paling tinggi dibanding lainnya yakni sebesar 6,2 %.
Pada hari ke-6 dan ke-8, perlakuan bakteriofage isolat tanah rhizosfer menunjukkan nilai keparahan penyakit terkecil dibanding kedua isolat bakteriofage lain yakni sebesar 4,3%.
Tingkat kemampuan bakeriofage pada ketiga isolat yang cenderung seragam dalam mengeleminasi inokulum Xcc dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
tingkat konsentrasi fage awal, tingkat pembusukan virion, kemampuan fage untuk bereplikasi dalam lingkungan, letak infeksi bakteri dalam tanaman, serta tingkat ketersedian air untuk difusi fage (Gill dan Abedon 2003). Dari beberapa faktor tersebut cenderung seragam, kecuali pada tingkat replikasi fage yang belum diketahui secara pasti keefektifannya dilingkungan. Bakteriofage isolat tanah rhisofer sakit, daun sakit, maupun akar kubis sakit pada Gambar 3 secara umum menunjukkan bahwa ketiganya mengalami perkembangan tingkat keparahan penyakit yang tidak berbeda jauh hingga pengamatan hari ke-8. Sehingga dapat dikatakan pada ketiga isolat bakteriofage tersebut cenderung pula memiliki tingkat kemampuan replikasi yang hampir seragam dalam fungsinya sebagai agens pengendali Xcc.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
25
Keterangan : 1) K: kontrol, TR: bakteriofage asal tanah rizosfer kubis sakit, DS:
bakteriofage asal daun kubis sakit, AS: bakteriofage asal akar kubis sakit
2) * : Perlakuan yang paling berpengaruh terhadap KP berdasarkan uji stepwise regresi
Gambar 4 Rata-rata keparahan penyakit busuk hitam
Gambar 4 menunjukan rerata keparahan penyakit busuk hitam pada tanaman kubis. Perlakuan yang menunjukkan pengaruh paling besar terhadap keparahan penyakit berdasarkan analisis regresi stepwise ialah perlakuan kontrol sebesar 14,18%, dimana nilai keparahan penyakit yang tinggi menunjukkan kemampuan eleminasi inokulum pathogen yang rendah. Glazer and Hiroshi (2007) menjelaskan bahwa sistem kerja dari bakteriofage dalam menginfeksi inangnya adalah dengan menginjeksi seluruh isi DNA yang berada di kepala ke dalam sel bakteri. Jenis infeksi bakteriofage tersebut terdiri dari dua macam, yaitu virulen atau litik dan lisogenik. Infeksi yang bersifat virulen mengakibatkan matinya sel inang, adapun infeksi yang sifatnya lisogenik dicirikan dengan sel inang tidak sampai lisis atau mati. Perlakuan kontrol merupakan perlakuan penyemprotan aquadest tanpa bakteriofage yang berfungsi sebagai pembanding terhadap perlakuan bakteriofage dalam kinerjanya menghambat infeksi Xcc.
Keparahan penyakit busuk hitam yang cukup tinggi yang timbul pada perlakuan kontrol pada pengujian lapang, membuktikan bahwa pemanfaatan bakteriofage
14,18*
Keparahan penyakit yang rendah menunjukkan eliminasi inokulum yang tinggi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
26
secara langsung mampu menginfeksi Xcc dan menghambat terjadinya replikasi bakteri pathogen secara lebih lanjut.
Gambar 4 menunjukkan pada keempat perlakuan, nilai keparahan penyakit tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 14,8%. Sedangkan nilai keparahan penyakit terendah yang berarti perlakuan tersebut mampu mengeleminasi inokulum bakteri dalam jumlah terbanyak, terdapat pada perlakuan bakteriofage asal isolat tanah rishofer kubis sakit sejumlah 4,32%.
Perlakuan bakteriofage pada ketiga asal isolat, secara deskriptif menunjukan nilai keparahan penyakit yang tidak jauh berbeda, yakni pada bakteriofage asal isolat daun sakit sejumlah 4,93% serta bakteriofage asal isolat akar sakit sejumlah 6,16%. Hal tersebut menimbulkan pendugaan bahwa kemampuan replikasi bakteriofage pada kondisi lingkungan yang seragam dalam mengendalikan pathogen busuk hitam, tidak dipengaruhi oleh asal isolat bakteriofage tersebut ditemukan. Pernyataan ini sejalan dengan hasil penelitian (Kuo et al. 1971) bahwa isolat fage yang diambil pada air irigasi sawah dan daun bergejala, memiliki kamampuan yang sebanding dan tidak berbeda nyata dalam menginfeksi X.oryzae penyebab hawar daun bakteri pada padi, yakni pengurangan tingkat serangan sebesar 100% dan 96% terhadap kontrol.