BAB IV Kepastian hukum pemberian izin usaha pertambangan dikaitkan dengan
C. Kepastian hukum izin usaha pertambangan terhadap kehutanan
Salah satu masalah yang selalu muncul dalam pengusahaan pertambangan adalah terdapatnya cabakan bahan galian dikawasan hutan, perkebunan, taman nasional, kawasan transmigrasi, dan tanah ulayat masyarakat hukum (sebagaimana sudah dibahas dalam bagian A sub-bab ini), serta hak atas tanah penduduk. Cebakan bahan galian seperti minyak, batubara, emas, perak, nikel, tembaga, timah hitam dan mineral ekonomis lainnya untuk sekarang berguna untuk penunjang pembangunan. Sebaliknya flora dan fauna dalam ekosistem dimana cebakan bahan galian berada, merupakan harta karun yang sampai saat ini sangat sedikit diketahui nilai ekonomis yang tinggi diatasnya dikarenakan dapat mendukung kehidupan setiap warga negara dari setiap waktu ke waktu.
134
134 Pusat Data dan Informasi.Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2014.Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.2015.Hal 72
Berdasarkan data hasil Pusat Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2014 luas kawasan hutan indonesia adalah 120.981.305,98 Ha
dimana kawasan hutan tersebut sudah digunakan untuk perkebunan/pertanian seluas 495.008,57 Ha dan pertambangan 52.209,60 Ha. Dari hasil data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kawasan hutan sudah dimasuki oleh bidang lain yang membutuhkan lahan yang luas untuk pengolahannya. Adapun yang menjadi alasan utama dari pergeseran penggunaan lahan hutan ini menjadi perkebunan dan pertambangan adalah perkembangan pembangunan ekonomi. Salah satunya
Adapun pengertian hutan berdasarkan pasal 1 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan dijelaskan bahwa:
Ayat 1 ”kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu”.
Ayat 2 “hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Karena hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya”.
Hutan berdasarkan fungsinya menurut Pasal 6 dan Pasal 7 Undang- Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan adalah sebagai berikut:
a. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas tiga macam, yaitu kawasan hutan suaka alam, kawasan hutan pelestarian alam dan tamanbaru;
b. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokoksebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi (peresapan) air laut dan memelihara kesuburan tanah;
c. hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasilhutan.
Berdasarkan penjelasan pasal 6 ayat 1 undang-undang No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dijelaskan bahwa “pada umumnya semua hutan mempunyai fungsi konservasi, lindung, dan produksi. Setiap wilayah hutan mempunyai kondisi yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan fisik, topografi, flora dan faunan, serta keragaman hayati dan ekosistemnya”. Kemudian penjelasan ayat 2 dijelaskan “fungsi pokok hutan adalah fungsi utama yang diemban oleh suatu hutan.”
135
135 Abrar Saleng. Op cit. hal 108
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Abrar Saleng, permasalahan tumpang tindih lahan ini semakin kompleks bahkan dapat menjadi pemicu terhambatnya atau tertundanya suatu pengusahaan pertambangan. Pada tahun 1976, tumpang tindih ini sudah masuk dalam tahap Resolusi dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1976 Tentang Sinkronasi Tugas-Tugas Keagrariaan dengan bidang kehutanan, pertambangan, transmigrasi dan pekerjaan umum. Dimana dalam lampiran INPRES ini yaitu pada bagian II/angka 11/ii disebutkan :
“Bila pertindihan/penggunaan tanah tidak dapat dicegah, maka hak prioritas pertambangan harus diutamakan sesuai dengan ketentuan undang-undang Nomor 11 Tahun 1967.”
Sebagaimana dalam analisis penulis berdasarkan bagian I angka 7 peraturan perundang-undangan ini dijelaskan bahwa apabila hak penguasaan hutan diperuntukkan untuk tujuan lainnya daripada penggunaan yang sudah ditentukan.
Maka pemegang hak tersebut harus mengeluarkan izin penggunaan areal tersebut tanpa menunggu jangka waktu berkahirnya hak pemguasaan hutan tersebut.
Dari penjelasan kedua pasal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya apabila terdapat bahan galian pertambangan dalam kawasan hutan, maka izin pertambangan itulah yang merupakan prioritas. Pemegang hak penguasaan hutan tidak dapat menghalangi pemberian izin tersebut.
Ketentuan ini sangat jelas dan tegas mengatur mengenai jika terjadi sesuatu tumpang tindih termasuk segala skala prioritas utama dari suatu sektor tertentu terhadap sektor lainnya. Skala prioritas tersebut tidak termasuk dalam wilayah yang sudah ditetapkan sebagai suaka alam dan kawasan hutan wisata (Taman wisata dan Taman buru).
Berdasarkan Undang-Undang Minerba dan peraturan pelaksanaannya, pemegang hak IUP atau IUPK mendapatkan haknya jika telah diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan wilayah kewenanganya yaitu mendapat persetujuan dari menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangan masing- masing. Hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang Minerba dan Peraturan Menteri ESDM No. 28 Tahun 2009 Pasal 5. Selain memohonkan izin kepada kementerian ESDM sesuai dengan kewenangannya, pemegang IUP atau IUPK harus memohonkan izin Pinjam Pakai kepada Menteri Kehutanan. Izin yang dimohonkan adalah Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010, Pasal 7 ayat (1) yang mengatakan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diberikan oleh Menteri berdasarkan permohonan. Maka pemberian kewenangan yang diberikan kepada Menteri Kehutanan merupakan amanat dari Peraturan Pemerintah.Berkaitan dengan jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan, selalu berhungan dengan Teori Stuffen Bow karya Hans Kelsen
(selanjutnya disebut sebagai ”Teori Aquo”). Hans Kelsen dalam Teori Aquo mambahas mengenai jenjang norma hukum, dimana ia berpendapat bahwa norma-norma hukum itu berjenjang- jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki tata susunan. Hans Kelsen berpendapat sebagai berikut:
”Hubungan antara norma yang menentukan penciptaan norma lain dan norma yang diciptakan sesuai dengan determinasi ini, bisa divisualisasikan dengan menggambarkan pengorganisasian norma di tingkat di tingkat tinggi dan rendah.
Norma yang menentukan penciptaan adalah norma yang lebih tinggi, norma yang diciptakan sesuai dengan determinasi ini adalah norma di tingkat yang lebih rendah. Sistem hukum bukan sebuah sistem yang terdiri dari norma-norma hukum bertingkat, dengan kata lain, berdampingan satu sama lain; rupanya, sistem hukum merupakan urutan hierarkis berbagai strata norma-norma hukum.”
Di Indonesia Teori Aquo ini dijadikan hukum tertulis atau hukum positif dan dituangkan dalam bentuk undang-undang tentang pembentukan peraturan perundang- undangan. Undang-undang mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan pertama kali dipositifkan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 mengatur tentang pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan masih terdapat kekurangan dan belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sehingga perlu diganti.
Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 digantikan dengan undang-undang mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diaturdalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembetukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan Tahun 2011 secara umum memuat materi-materi pokok yang disusun secara sistematis sebagai berikut: asas pembentukan Peraturan undangan; jenis, hierarki, dan materi muatan, Peraturan Perundang-undangan; perencanaan Peraturan Perundang-Perundang-undangan; penyusunan Peraturan Perundang-undangan; teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan;
pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang; pembahasan dan penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah.
Baik UU No.10 Tahun 2004, maupun UU No. 12 Tahun 2011, sama-samamengatur mengenai Teori Aquo. Adapun sebelumnya, dalam Pasal 7 UU No.10 Tahun 2004 mengatur Teori Aquo pada bagian jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan sebagai berikut136
136 Indonesia, Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang – undangan, UU No.12 Tahun 2011, LN No. 82 Tahun 2011, TLN No. 5234, Pasal 7
:
”Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
c. Peraturan Pemerintah;
d. Peraturan Presiden;
e. Peraturan Daerah.”
Sedangkan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mengatur Teori Aquo pada bagian jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
” Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.”
Berdasarkan penjelasan Teori Aquo dari Hans Kelsen dan hukum positif yang ada di Indonesia, terlihat bahwa kedudukan secara hierarkis bahwa Peraturan Pemerintah berada pada posisi atau tingkat yang lebih tinggi dari Peraturan Presiden. Apabila kita kaitkan dengan asas hukum LEX SUPERIOR DEROGAT LEGE INFERIOR yaitu peraturan perundang-undangan yang merupakan hasil produk hukum lembaga yang lebih tinggi dalam susunan hirarki peraturan perundang-undangan menggantikan produk hukum dari lembaga pemerintah yang lebih rendah.
Moratorium Kehutanan tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut berupa Instruksi Presiden. Instruksi Presiden ini dapat dikateggorikan setingkat dengan Peraturan Presiden. Menurut Teori Aquo yang juga telah di kukuhkan sebagai hukum positif di Indonesia, Peraturan Presiden tidak dapat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang merupakan norma hukum yang lebih tinggi dari Peraturan Presiden. Menurut Hans Kelsen bahwa norma hukum yang memiliki tingkat yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan norma hukum yang lebih tinggi. Dalam Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 mengatakan bahwa Menteri Kehutanan tidak diperbolehkan untuk memberikan izin baru terkait izin kawasan hutan pada hutan produksi. Sedangkan, di dalam Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2010 Pasal 7 ayat (1) dikatakan bahwa Menteri Kehutanan dapat mengeluarakan izin pinjam pakai terhadap kawasan hutan produksi yang dimohonkan. Jelas terlihat bahwa terdapat pertentangan antara kedua peraturan perundang-undangan ini, yaitu terletak pada Peraturan Pemerintah memperbolehkan Menteri Kehutanan mengeluarkan Izin Pinjam Pakai Kawasan
Hutan produksi untuk pertambangan, sedangkan pada peraturan perundang–
undangan yang lebih rendah tingkatannya yaitu Instruksi Presiden melarang Menteri untuk melakukan hal tersebut.
Pertentangan yang terjadi diantara kedua peraturan perundang-undangan ini merupakan kecacatan secara hukum dan jelas mencederai kepastian hukum dalam bidang pertambangan yang telah direcanakan oleh pemerintah itu sendiri.
Pemerintah merealisasikan perlindungan hutan yang tidak secara serius ditangani oleh pemerintah berupa banyaknya ketidaksiapan pemerintah dan telah menimbulkan ketidakpastian hukum itu sendiri. Jika di Indonesia tidak terdapat kepastian hukum di bidang pertambangan maka akan sulit untuk mengundang investor masuk ke Indonesia untuk membantu mengelola bahan galian tambang yang akan dimanfaatkan untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Maka dengan demikian, seharusnya Instruksi Presiden ini dicabut oleh presiden sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terbitnyaInstruksi Presiden ini. Hal ini ditujukan agar terciptanya kepastian hukum pada bidang pertambangan di Indonesia.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Kepastian Hukum Hak Penguasaan Negara atas Pertambangan terutama dalam mengatur mengenai hubungan hukum abtara subjek hukum dengan pertambangan belum efektif. Ini bisa kita lihat dalam Pasal 135 dan Pasal 136 UU No. 4 Tahun 2009 seperti yang telahdipaparkan dalam analisis pada pembahasan, terlihat bahwa tidak adanya keterlibatannegara dalam proses pelepasan tanah ulayat untuk kegiatan usaha pertambangan.Padahal apabila diposisikan dalam konteks negara kesejahteraan, yakni suatu konsepyang dipilih dalam pembentukan negara, masyarakat mendambakan peran danpelaksanaan tanggung jawab negara yang lebih besar untuk menyejahterakan rakyat.Kekuasaan pemerintah yang cenderung semakin kuat harus sesuai dengan tuntutankebutuhan akan tanggung jawab yang lebih besar untuk mengatasi berbagaipermasalahan yang timbul dalam masyarakat. Namun sayangnya, Pasal 135 dan 136UU No 4 Tahun 2009 menjadi bukti bahwa masyarakat hukum adat dibiarkanberhadapan langsung dengan pengusaha pertambangan yang akan menggunakantanah ulayat untuk kegiatan usaha pertambangannya.
2. Kepastian hukum hak penguasaan negara atas usaha pertambangan di indonesia bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dimana negara sebagai kekuasaan tertinggi dari organisasi masyarakat harus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Salah satunya bagi masyarakat yang berada disekitar lingkar perusahaan Tambang.
perusahaan tidak hanya memberikan bantuan secara langsung seperti (uang tunai), tanpa memberikan pelatihan khusus dan berkesinambungan.
Karena bantuan tersebut akan habis sehingga masyarakat akan cenderung semakin konsumtif dan lebih parahnya akan dapat membuat masyarakat tergantung kepada perusahaan. Sehingga yang menjadi solusinya adalah dengan meningkatkan soft skillmasyarakat dibidang yang mereka tekuni sesuai dengan wilayah tersebut.
3. Kepastian hukum dalam pemberian izin baru terkait pemakaian kawasan hutan produksi tidaklah sinkron. Dalam Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 mengatakan bahwa Menteri Kehutanan tidak diperbolehkan untuk memberikan izin baru terkait izin kawasan hutan pada hutan produksi. Sedangkan, di dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Pasal 7 ayat (1) dikatakan bahwa Menteri Kehutanan dapat mengeluarakan izin pinjam pakai terhadap kawasan hutan produksi yang dimohonkan. Jelas terlihat bahwa terdapat pertentangan antara kedua peraturan perundang-undangan ini, yaitu terletak pada Peraturan Pemerintah memperbolehkan Menteri Kehutanan mengeluarkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan produksi untuk pertambangan, sedangkan pada peraturan perundang–undangan yang lebih rendah tingkatannya yaitu Instruksi Presiden melarang Menteri untuk melakukan hal tersebut.Pertentangan yang terjadi diantara kedua peraturan perundang-undangan ini merupakan kecacatan secara hukum dan jelas mencederai kepastian hukum dalam bidang pertambangan yang telah direcanakan oleh pemerintah itu sendiri. Pemerintah merealisasikan perlindungan
hutan yang tidak secara serius ditangani oleh pemerintah berupa banyaknya ketidaksiapan pemerintah dan telah menimbulkan ketidakpastian hukum itu sendiri. Jika di Indonesia tidak terdapat kepastian hukum di bidang pertambangan maka akan sulit untuk mengundang investor masuk ke Indonesia untuk membantu mengelola bahan galian tambang yang akan dimanfaatkan untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.
D. Saran
1. Kebudayaan merupakan identitas Negara Republik Indonesia dan merupakan kekayaan yang harus tetap dijaga eksistensinya sebagaimana sudah diatur dalam konstitusi Negara Republik Indonesia yaitu pada pasal 18b ayat 2 dan 3. Eksistensi tersebut merupakan tanggung jawab bagi semua pihak. Namun eksistensi tersebut tidaklah menjadi sebuah penghalang untuk perkemabangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi salah satunya dalam bidang industri Pertambangan. Dalam posisi tersebut, pemerintah haruslah dapat mempertahankan stabilitas antara eksistensi tersebut dan perkembangan IPTEK tersebut. Salah satunya melalui perlindungan terhadap hak konstitusional masyarakat hukum adat, turut serta dalam sengketa yang terjadi antara perusahaan pertambangan dengan Mahudat danmemberikan pengawasan terhadap perusahaan pertambangan yang berada disekitarhak ulayat Mahudat.
2. Tidak dapat dipungkiri pemerataan perekonomian penduduk indonesia tidaklah seimbang. Sehingga pengawasan terhadap setiap usaha-usaha yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak haruslah lebih ditingkatkan. Terutama pengawasan terhadap setiap program perusahaan apakah dampaknya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat setempat bukan hanya dalam waktu yang singkat, namun dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama. Adapun hal yang perlu diberkan oleh perusahaan adalah peningkatan soft skill dari anggota masyarakat hukum adat sesuai dengan bidang yang mereka tekuni, peningkatan sarana prasarana guna untuk memperlancar aktifitas mereka, peningkatan
kualitas kesehatan masyrakat melalui pendirian Rumah Sakit dan/atau Puskesmas, peningkatan mutu pendidikan dengan turut serta untuk mendirikan sekolah, beasiswa kepada anggota mahudat, penambahan jumlah CSR perusahaan.
3. Sinkronisasi antara materi muatan dalam peraturan perundang-undangan yang satu dengan yang lainnya haruslah lebih ditingktakan untuk memberikan sebuah kepastian hukum dalam perkembangan hukum Negara. Maka seharusnya Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 ini dicabut oleh presiden sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terbitnya Instruksi Presiden ini. Hal ini ditujukan agar terciptanya kepastian hukum pada bidang pertambangan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Buku :
C.S.T Kansil dan Kansil.cristine,Kitab Undang-Undang Hukum Agraria,Jakarta: Sinar Grafika 2001,
Boedi Harsono. Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang- Undang Pokok Agraria, Isi, dan Pelaksanaannya, Bandung: Djambatan, 1997.
Amalia, Euis. Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam, Penguatan LKM dan UKM di Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers.2001
Budiono kusumohamidjojo, Ketertiban yang adil, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999
Lawrence M.Friedman, American Law (New York : W.W. Norton and Company,1984)
Leonard J.Theberge, ”Law and Economic Development”, Journal of International Law and Policy,Vol 9, (1980)
A.P Parlindungan, Hak Pengelolaan Menurut Sistem UUPA, Medan: Mandar Maju, 1994
Tampil anshari siregar, UUPA dalam bagan, Medan: KSHM USU, 2003 A.P.Parlindungan. Komentar atas UUPA, Bandung: Mandar Maju, 1991
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (edisi kedua), jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan & balai pustaka,1995
Abrar Saleng, Hukum Pertambangan, jakarta, UII Press, 2004
Bagir Manan, Beberapa catatan atas Rancangan Undang-Undang tentang minyak dan gas bumi, Bandung: FH-Unpad, 1999
Boedi harsono, Undang-undang pokok agraria, (cetakan ketiga), Jakarta:
Djambatan, 1970
Mohammad Hatta, Penjabaran Pasal 33 UUD 1945, Jakarta: Mutiara, 1977 Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi, Jakarta: Djambatan, 1954
Bagir Manan, Pertumbuhan dan Perkembangan konstitusi suatu negara, Bandung: Mandar Maju, 1995
Boedi Harsono, Menuju Penyempurnaan hukum tanah nasioanal dalam hubungannya dengan TAP MPR RI IX/MPR/2001, Surabaya: Universitas Trisakti, 2002
Urip Santoso, Hukum Agraria, Jakarta: Prenada Media Grup, 2012
Soetaryo sigit, Potensi Sumber Daya Mineral Dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia, ilmiah Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa di ITB, Bandung:
1996
Deno Kamelus, fungsi hukum terhadap ekonomi di indonesia, disertasi, pps-unair, surabaya, 1998
Roziq B. Soetjipto, Sejarah Munculnya Pemilikan Pengusahaan Pertambangan yang berorientasi Kerakyatan, yokyakarta: loekman soetrisno et al, 1997
Direktorat jenderal pertambangan umum departemen pertambangan dan energi, kilas balik 50 tahun pertambangan umum dan wawasan 25 tahun mendatang, jakarta: 1995
Sukandarramidi, Hukum Pertambangan, Jakarta: UII Press, 2003 R.Subekti,Pokok-Pokok Hukum Perjanjian,Jakarta: Intermasa, 1983
Sri Soemantri M.,Permasalahan Hukum Tata Negara (dan Politik) Dalam Perspektif Penelitian,Pengembangan dan Pendidikan Hukum di
Indonesia,Semarang: FH-UNDIP-Dikti -Depdikbud,1996)
Taqwaddin, “Penguasaan Atas Pengelolaan Hutan Adat oleh Masyarakat Hukum Adat (Mukim) di Provinsi Aceh”, (Disertasi Doktor Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara, 2010)
Husen Alting, Dinamika Hukum dalam Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah ,LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, 2010
Hazairin. Demokrasi Pancasila. Tintamas, Jakarta, 1970
Soepomo. Bab-Bab tentang Hukum Adat, Pradya Paramita, Jakarta,1977.
Boedi Harsono,Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi, dan Pelaksanaannya, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2008.
Dominikus Rato, Hukum Adat di Indonesia (suatu pengantar),laksbang justitia Suarabaya, Surabaya, 2014
Salim HS., Hukum Pertambangan Mineral dan Batubara, Sinar Grafika, jakarta, 2012
Mochtar Kusumaatmadja,Hukum, Masyarakat, dan pembinaan hukum, Binacipta, Bandung.1976
Jurnal
Perlindungan Hukum Masyarakat Adat di Wilayah Pertambangan.Lex Jurnalica Volume 10 Nomor 3. Desember 2013,hal 208
Hendra Nurtjahjo dan Fokky Fuad, Legal Standing Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Berperkara di Mahkamah Konstitusi. Salemba
Humanika.Jakarta, 2010
Pusat Data dan Informasi.Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2014.Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.2015
Tim Kerja Dibawah Pimpinan Dr. Herlambang P Wiratraman, S.H., MA, LAPORAN AKHIR TIM PENGKAJIAN KONSTITUSI TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MASYARAKAT HUKUM ADAT, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nassional Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2014.
Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI,Laporan akhir tim pengkajian konstitusi tentang perlindungan hukum terhadap masyarakat hukum adat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI Jakarta, 2014
Internet
http://Media.communication.outrech.kerusakan_lingkungan. Diakses tanggal 09 februari 2016, pukul 20.00 wib
Peraturan Perundang-Undangan
UU No.5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Energi Sumber Daya Mineral
Peraturan Pemerintah RI No.22 Tahun 2010 Tentang Wilayah Pertambangan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara.
Landasan historis Tafsiran UUPP 1967
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian.
Undang – Undang Pokok Pertambangan,UU No.11 Tahun 1967,(LN No.22 Tahun 1967)
Undang – undang Perseroan Terbatas,UU No 40 Tahun 2007,(LN No. 106 Tahun 2007,TLN No.4756)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah