Ada kuasa yang datang kepada para misionaris yang patuh. Para pemimpin misi menekankan pen-tingnya mematuhi perintah dan peraturan misi. Para misionaris tidak perlu patuh secara buta me-lainkan patuh dengan penuh kesetiaan. Kedamaian melalui kepatuhan yang penuh kesetiaan.
Bersama dengan peraturan umum misi, para mi-sionaris memiliki kesempatan untuk mengikuti na-sihat khusus yang diberikan oleh para pemimpin mereka. Presiden Gordon B. Hinckley memberikan sebuah contoh mengenai kuasa yang datang kare-na mematuhi presiden misi:
“Bertahun-tahun yang lalu saya berada di misi di Inggris. Saya telah dipanggil untuk bekerja di kantor Misi Eropa di London di bawah Presiden Joseph F. Merrill dari Kuorum Dua Belas Rasul, saat itu sebagai presiden Misi Eropa. Suatu hari tiga atau empat surat kabar London memuat tin-jauan mengenai sebuah buku kuno yang dicetak ulang, warnanya buruk dan jelek, yang mengindi-kasikan bahwa buku itu adalah sejarah
orang-• Yohanes 14:15 • 1 Nefi 3:7 • Alma 37:35
• Ajaran dan Perjanjian 82:10 • Ajaran dan Perjanjian 130:20–21
Tuliskan kesan-kesan Anda terhadap tulisan suci ini dalam jurnal belajar Anda.
Tulisan Suci untuk Dipelajari
dan Direnungkan
orang Mormon. Presiden Merrill berkata kepada saya, ‘Saya ingin Anda pergi kepada penerbitnya dan memprotes ini.’ Saya menatapnya dan hampir mengatakan, ‘Jangan saya.’ Tetapi saya dengan lembut berkata, ‘Ya, Pak.’
Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa saya ta-kut. Saya pergi ke kamar saya dan merasakan sesuatu yang menurut saya pasti dirasakan oleh Musa ketika Tuhan memintanya untuk menemui Firaun. Saya berdoa. Perut saya mulas sewaktu saya berjalan me-nuju stasiun Jalan Goodge untuk naik kereta bawah tanah menuju Jalan Fleet. Saya menemukan kantor presidennya dan memberikan kartu nama saya ke-pada resepsionis. Dia mengambilnya dan masuk ke bagian dalam kantor dan segera kembali untuk me-ngatakan bahwa presiden tersebut terlalu sibuk un-tuk menemui saya. Saya menjawab bahwa saya telah datang dari perjalanan lima ribu mil [8.000 km] dan bahwa saya mau menunggu. Selama satu jam berikutnya dia berjalan dua atau tiga kali ke kantor presidennya itu; dan akhirnya mempersilakan saya masuk. Saya tidak akan pernah lupa pemandangan saat saya masuk. Dia sedang mengisap cerutu pan-jang dengan pandangan yang seolah-olah berkata, ’Jangan ganggu saya.’
Saya memegang tinjauan itu. Saya tidak ingat apa yang saya katakan setelah itu. Sebuah kekuatan lainnya seolah-olah berbicara melalui saya. Pada awalnya dia bertahan dan bahkan berdalih. Kemudian dia mulai melunak. Dia mengakhiri dengan berjanji untuk melakukan sesuatu. Dalam waktu satu jam pernyataan menyebar ke seluruh toko buku di Inggirs untuk mengembalikan buku-buku itu kepada penerbitnya. Dengan biaya ma-hal dia mencetak dan mengetik di depan setiap jilid sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa buku itu tidak dianggap sebagai sejarah, melain-kan hanya sebagai fiksi, dan bahwa hal itu tidak dimaksudkan untuk menentang orang-orang Mormon. Bertahun-tahun kemudian dia membe-rikan bantuan lagi yang sangat berharga bagi Gereja, dan setiap tahun hingga kematiannya saya menerima kartu Natal darinya.
Saya akhirnya mengerti bahwa saat kita berusaha dalam iman untuk berjalan dalam kepatuhan sesuai dengan permintaan dari pemimpin imamat, Tuhan membuka jalan, bahkan ketika tampaknya tidak
Para misionaris yang de-ngan penuh iman belajar untuk patuh akan diberkati dengan kuasa. Presiden Ezra Taft Benson menekankan perbedaan antara kepatuhan yang ragu-ragu dan kepa-tuhan yang sukarela: “Ketika kepatuhan berhenti menjadi suatu gangguan dan menjadi keinginan kita, maka pada saat itu Allah akan menganugerahkan kepada kita kuasa” (dalam Donald L. Staheli, dalam Conference Report, April 1998, 108; atau Liahona, Juli 1998, 101). Penatua Dennis B. Neuenschwander dari Tujuh Puluh berbicara mengenai pentingnya mematuhi peraturan misi: “Peraturan misi sama pentingnya ngan perintah. Kita semua perlu mematuhinya, de-ngan memahami bahwa peraturan itu memberi kita kekuatan, arahan, dan batasan. Misionaris yang cer-das akan mempelajari maksud dari peraturan itu dan menjadikannya sebagai sarana untuk berhasil. Misi Anda adalah waktu untuk disiplin dan pikiran yang berfokus pada satu hal. Anda akan diminta untuk pergi tanpa hal-hal yang biasa Anda miliki dalam ya hidup Anda saat ini: TV, musik, novel, bahkan ga-dis. Tidak ada masalah dengan hal-hal tersebut, … namun, juga tidak ada masalah jika Anda makan, ke-cuali Anda sedang berpuasa, karena dalam keadaan berpuasa ini bahkan sesendok air pun tidak boleh di-minum” (dalam Conference Report, Oktober 1991, 59; atau Ensign, November 1991, 43).
Penatua Richard G. Scott menjelaskan bagaimana kepatuhan dapat membantu seorang misionaris bersaksi dengan kuasa: “Para misionaris yang telah membayar persepuluhan, misalnya, dapat memberi-kan kesaksian tentang berkat yang dijanjimemberi-kan yang Tuhan berikan bagi orang-orang yang patuh. Seorang misionaris yang telah menjalankan kehidupan yang saleh dapat memberikan kesaksian yang kuat karena dia memiliki pengalaman rohani dalam kehidupan-nya. Pengalaman semacam itu disyaratkan atas kelayakan dan iman kepada Juruselamat” (dalam “Teaching from the Heart,” Ensign, Juni 2004, 9).
POKOK BAHASAN
konsentrasikan untuk dikembangkan saat ini dalam kehidupan Anda?
• Apa yang perlu Anda lakukan untuk meningkat-kan sifat-sifat seperti Kristus yang dipilih? • Bagaimana sifat-sifat seperti Kristus membuat
para misionaris mampu mengajarkan dengan efektif Injil yang dipulihkan?
• Mengapa baik kemampuan dan hasrat untuk melayani dengan tekun penting bagi pekerjaan misionaris?
• Bagaimana Anda dapat mengembangkan kemam-puan yang lebih besar untuk bekerja keras agar dapat menjadi seorang misionaris yang tekun? • Apa saja berkat yang dihasilkan dari kepatuhan? • Apa hubungan antara kepatuhan dan
memi-liki Roh?
TUGAS YANG DISARANKAN
• Merenungkan kemajuan pribadi Anda untuk mengembangkan sifat-sifat seperti Kristus. Memilih satu atau dua bidang untuk diting-katkan dan mengembangkan rencana khusus untuk peningkatan.
BACAAN TAMBAHAN
YANG DIANJURKAN
Teguh Pada Iman: Sebuah Referensi Injil
• “Kasih yang Murni” (hlm. 58–59) • “Iman” (hlm. 48–51)
• “Pengharapan” (hlm. 153–154) • “Kerendahan Hati” (hlm. 98) • “Kepatuhan” (hlm. 93–94)