BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang berarti taat, suka menurut perintah. Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan dokter atau oleh orang lain (Santoso, 2005). Menurut Arisman (2004) mengartikan kepatuhan adalah sebagai tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh bidannya atau oleh orang lain. Kepatuhan dalam penelitian ini menunjuk pada kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi zat besi (Fe).
Sedangkan menurut Kelman adalah perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian baru internalisasi. Kepatuhan individu yang berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman tentang pentingnya perilaku yang baru itu, dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda jenisnya yaitu kepatuhan demi menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut (Sarwono, 2007).
Kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di ukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet zat besi, frekuensi konsumsi perhari. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah menanggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan besi.
Suplementasi besi merupakan cara efektif karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat yang dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat.
Menurut WHO (1996) manfaat dan kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi yaitu :
a. Bisa mencegah anemia defesiensi besi (Fe)
Karena pada wanita hamil cenderung mengalami defesiensi baik zat besi maupun folat. Oleh karena itu penting sekali bagi ibu hamil untuk meminum tablet zat besi setiap hari.
b. Bahaya selama kehamilan, persalinan dan nifas dapat dihindari.
Menurut Smet (1994) beberapa sebab rendahnya kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi (Fe) antara lain karena faktor program dan faktor individu yang meliputi :
1. Individu tidak merasa dirinya sakit
2. Ketidaktahuan akan gejala atau tanda-tanda dan dampak yangditimbulkan 3. Kelainan ibu hamil atau rendahnya motivasi ibu hamil dalam tablet zat besi
setiap hari sampai waktu yang cukup lama
4. Adanya efek samping gastrointestinal seperti mual, rasa nyeri lambung
5. Kurang diterimanya warna, rasa dan beberapa karateristik lain dari suplemen besi (Fe).
6. Rasa takut terhadap suplemen besi (Fe) dapat memperbesar janin dan akan menyulitkan dalam persalinan
2.3.1. Perilaku
Perilaku adalah segala sesuatu yang dapat dikerjakan oleh seseorang baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pengertian perilaku secara umum adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan mahluk hidup, sedangkan menurut Ensiklopedia Amerika perilaku adalah suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya (Notoatmodjo, 2010).
Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar (stimulus). Proses perubahan perilaku merupakan hasil dari suatu yang kompleks, memerlukan waktu yang cukup lama (Notoatmodjo, 2010). Proses tersebut terdiri dari 4 tahap, yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge) yaitu subyek yang mulai mengenal ide baru dan baru dapat memahaminya.
2. Persuasi yaitu individu yang membentuk sikap positif atau negatif dari ide baru tersebut.
3. Mengambil keputusan yaitu individu dapat aktif dalam menentukan keputusan untuk menerima atau menolak ide tersebut.
4. Konfirmasi yaitu individu mulai mencari dukungan dari orang-orang disekitar terhadap keputusan yang dibuatnya.
Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan hasil dari resultasi dari berbagai faktor baik eksternal maupun internal (lingkungan). Pada garis besarnya perilaku manusia dapat terlihat dari 3
aspek yaitu aspek fisik, psikis dan sosial. Akan tetapi dari aspek tersebut sulit untuk ditarik garis yang tegas untuk mempengaruhi perilaku manusia. Secara lebih terperinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi dan sikap.
Perilaku seseorang atau subyek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar subyek. Dalam perilaku kesehatan menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003) terbagi tiga teori penyebab masalah kesehatan yaitu :
1. Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing faktors) yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seesorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi.
2. Faktor pemungkin (Enabling factors) adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau menfasilitasi perilaku atau tindakan. Artinya factor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, serta jaraksarana pelayanan kesehatan.
3. Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors) adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.
Dari uraian dapat disimpulkan bahwa perilaku berawal dari adanya pengalaman seseorang serta didukung oleh faktor luar (lingkungan) baik fisik maupun non fisik, kemudian dipersepsikan, diyakini sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk
bertindak, yang pada akhirnya terjadilah perwujudan niat yang berupa melakukan perilaku.
2.3.2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap ibu hamil dan menimbulkan suatu prilaku pada ibu hamil dalam mematuhi dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe) setiap harinya. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang zat besi (Fe) yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe. Tanpa adanya pengetahuan tentang zat besi (Fe) maka ibu sulit menanamkan kebiasaan dalam menggunakan bahan makanan sumber zat besi (Fe) yang penting bagi kesehatan (Soekirman, 1990).
Pengetahuan tentang zat besi (Fe) akan berdampak pada sikap terhadap pangan yang akan terlihat dari praktek dalam penyediaan makanan sumber zat besi (Fe) yaitu kemampuan untuk menerapkan informasi yang dimiliki dalamkehidupan sehari- harinya. Pengetahuan ibu hamil tentang zat besi (Fe) yang baik diharapkan dapat menerapkan khususnya dalam pemilihan bahan makanan sumber zat besi (Fe) (Soekirman, 1990).
Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah defesiensi zat besi (Fe). Hal ini dapat terjadi karena masyarakat kurang mampu dalam menerapkan informai tentang zat besi (Fe) dalam kehidupan sehari-hari (Khumaidi,1994). Semakin tinggi pengetahuan ibu hamil tentang zat besi (Fe) maka akan semakin patuh dalam mengkonsumsi zat besi (Fe). Ibu hamil dengan pengetahuan tentang zat besi (Fe) yang rendah akan berperilaku kurang patuh dalam
mengkonsumsi tablet besi (Fe) serta dalam pemilihan makanan sumber zat besi (Fe) juga rendah. Sebaliknya ibu hamil yang memiliki pengetahuan tentang zat besi (Fe) yang baik, maka cenderung lebih banyak menggunakan pertimbangan rasional dan semakin patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe) (Sediaoetama, 1999).
2.3.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Fe
a. Umur Ibu
Salah satu keadaan kehamilan yang dapat beresiko tinggi adalah umur ibu hamil yaitu <20 tahun dan >35 tahun. Pada usia<20 tahun kebutuhan zat besi meningkat ditunjang dengan keadaan hamil yang lebih membutuhkan zat gizi terutama zat besi maka kemungkinan untuk menderita anemia pada kehamilan cukup tinggi. Demikian pula pada usia>35 tahun kondisi fisiknya sudah menurun, daya tahan tubuh terhadap berbagai serangan penyakit tidak lagi optimal dan rentan terhadap komplikasi penyakit (Depkes, 2001).
b. Pendidikan Ibu Hamil
Pendidikan adalah hal yang sangat penting, karena pendidikan mempengaruhi pola pikir seseorang tentang sesuatu hal yang nantinya akan berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan tertentu. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pengetahuan dan semakin mudah mengembangkan pengetahuan dan tehnologi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan seseorang. pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan dan pendidikan
dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah sumber informasi dan media informasi, baik media cetak maupun elektronik (Notoatmodjo,2003)
Pada ibu hamil menderita anemia faktor ini sangat berpengaruh dimana ibu hamil yang mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan kurang, akan menyebabkan ibu hamil selalu menderita anemia dan tidak merasakan bahwa anemia kehamilan butuh perhatian khusus. Salah satu yang dapat memberikan pengetahuan pada ibu hamil tentang anemia adalah bidan sebagai tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan ibu hamil.
c. Frekuensi Kunjungan Ibu Hamil
Dokter atau bidan akan sulit mengevaluasi keadaan anemia apabila ibu hamil tidak pernah memeriksa diri atau tidak teratur memeriksakan kehamilannya karena setiap saat kehamilan dapat berkembang menjadi masalah. Berdasarkan kebijakan program pemerintah antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, satu kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III (Depkes,2001).
Kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia sebagaimana tujuan adalah :
- Memantau kemajuan kehamilan dan memastikan kesehatan ibu dan bayi - Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu
- Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembenahan.
- Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
- Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan dengan normal dan pemberian ASI Eksklusif.
- Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal (Depkes RI, 2001).
d. Ekonomi
Penyebab tidak langsung kejadian anemia adalah sosial ekonomi keluarga yang rendah, sehingga mengakibatkan ketersediaan pangan ditingkat keluarga tidak mencukupi, yang juga mempengaruhi pola konsumsi keluarga yang kurang baik (Royston dan Amstrong,1994)
e. Paritas
Kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi (Fe) dan menjadi makin anemis. Jika persediaan cadangan zat besi (Fe) minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan zat besi (Fe) dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya (Manuaba, 2002). Kehamilan yang berulang dalam waktu yang singkat
menyebabkan cadangan besi ibu belum pulih dan terkuras untuk keperluan janin yang dikandung berikutnya (Depkes, 2001).
f. Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe
Dalam bidang pengobatan seseorang dikatakan tidakpatuh apabila seseorang tersebut melalaikan kewajiban untuk berobat, sehingga dapat mengkibatkan terhalangnya kesembuhan. Kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi zat besi (Fe) dengan cara yang benar, akan memenuhi kebutuhan zat besi (Fe) dalam tubuh yang bisa meningkatkan kualitas kehamilan.
Banyak hal yang membuat ibu hamil tidak patuh mengkonsumsi zat besi (Fe) yang terdapat dalam tablet tambah darah yang diprogramkan pemerintah. Salah satunya adalah gangguan saluran pencernaan dapat berupa mual Sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus terutama dari pemberian pelayanan kesehatan misalnya bidan dan dokter (Depkes, 2001).