• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR

2.2. Telaah Literatur

2.2.4. Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan

Berdasarkan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Peraturan perundang undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yaitu suatu sifat patuh dan taat terhadap peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.

Salah satu kriteria pemberian opini BPK yaitu kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dimana hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terdiri atas tiga kondisi yaitu 1) Timbulnya kerugian daerah dan potensi kerugian daerah; 2) Kekurangan penerimaan daerah; dan 3) Penyimpangan administrasi. Temuan dalam pemeriksaan BPK yang mengakibatkan kerugian daerah antara lain kasus belanja barang dan jasa yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan, kasus biaya perjalanan dinas ganda dan sebagainya (BPK, 2014).

Menurut Kapp (1978) dalam bukunya yang berjudul Some Problems of a legal compliance audit disebutkan bahwa audit kepatuhan hukum merupakan sebuah usaha oleh manajemen perusahaan, atau orang yang bertindak atas permintaan atau di bawah pengawasan manajemen perusahaan, dari kajian internal formal dan rinci untuk menentukan apakah dan sejauh mana berbagai departemen dan divisi bisnis perusahaan, beroperasi sesuai dengan hukum, peraturan, dan regulasi yang berlaku untuk perusahaan.

37

Terdapat beberapa ketentuan peraturan digunakan BPK untuk dijadikan dasar dalam memberikan opini terhadap pengelolaan keuangan negara, yakni Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), UU Nomor 17 Tahun 2003, UU Nomor 1 Tahun 2004, dan UU Nomor 15 Tahun 2004, UU Nomor 32 Tahun 2004, berbagai Peraturan Pemerintah, dan Permendagri terkait pedoman pengelolaan keuangan daerah pada tahun saat dilakukan pemeriksaan. Sedangkan untuk menyajikan laporan keuangan, SAP merupakan acuan wajib dalam menyajikan laporan keuangan entitas pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. SAP yang berlaku di Indonesia ditetapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005 dengan pembaruannya PP Nomor 71 Tahun 2010 (Safitri 2014).

Asas umum pengelolaan keuangan daerah Permendagri No. 13 Tahun 2006 menyatakan bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

Adapun Perspektif pertama dalam memahami keberhasilan suatu implementasi ialah kepatuhan para implementor dalam melaksanakan regulasi yang tertuang dalam dokumen regulasi (Purwanto dan Sulistyastuti, 2012).

Perubahan fundamental sistem pelaporan dan akuntansi dari basis kas menjadi basis akrual perlu dikelola dan dipersiapkan dengan baik. Perubahan peraturan tersebut disikapi dengan peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan melalui sosialisasi dan bimbingan teknis untuk mengurangi temuan.

38 2.2.5. Pengelolaan Aset Milik Daerah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 menjelaskan bahwa Barang milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Sementara menurut Permendagri No. 17 Tahun 2007, tentang petunjuk teknis pelaksanaan pengelolaan barang daerah dijelaskan bahwa Barang Daerah adalah semua kekayaan daerah baik yang dimiliki maupun yang dikuasai yang berwujud, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak serta bagian bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu uang dapat dinilai, dihitung, diukur, atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan surat berharga lainnya.

2.2.5.1. Jenis Aset Milik Daerah

Dalam PP NO. 27 Tahun 2014 mengenai pengelolaan barang milik daerah, barang milik Negara/daerah meliputi :

a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban anggaran pendapatan belanja negara/daerah.

b. Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, yang terdiri dari : - Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis - Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian /kontrak - Barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan

39

- Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Sedangkan menurut Mahmudi (2010), barang milik daerah dilihat dari imobilitas barangnya dibedakan menjadi 2 kategori :

a. Benda tidak bergerak (real property), yang terdiri dari tanah, bangunan, gedung, bangunan air, jalan dan jembatan, instalasi, jaringan, serta monument,/bangunan bersejarah (Heritage)

b. Benda bergerak (personal property), yang terdiri mesin, kendaraan, peralatan, buku/perpustakaan, barang persediaan, serta surat-surat berharga.

2.2.5.2. Kegiatan Pengelolaan Aset Milik Daerah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2008, maka pengelolaan barang milik daerah meliputi : a. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran, merupakan kegiatan merumuskan

rincian kebutuhan barang milik negara/daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan yang akan datang.

b. Pengadaan, merupakan kegiatan pengadaan barang milik negara/daerah dengan berlandaskan prinsip efesien, efektif, transparan, bersaing, adil, dan akuntabel, serta mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

40

c. Penggunaan, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengguna barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik negara/daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi instansi yang bersangkutan.

d. Pemanfaatan, merupakan pendayagunaan barang milik negara/daerah yang dilaksanakan berdasarkan pertimbangan teknis dan dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah serta kepentingan umum.

e. Pengamanan dan pemeliharaan, merupakan kegiatan pengamanan yang terdiri dari pengamanan administrasi, pengamanan fisik, dan pengamanan hokum, serta Pemeliharaan untuk tujuan memelihara barang.

f. Penilaian, merupakan kegiatan memberikan opini atas suatu objek yang dinilai berupa barang milik negara/daerah.

g. Pemindahtanganan, merupakan kegiatan pengalihan kepemilikan barang milik negara/daerah, hal ini ditetapkan berdasarkan keputusan kepala daerah setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

h. Pemusnahan, merupakan tindakan memusnahkan fisik dana tau kegunaan barang milik negara/daerah.

i. Penatausahaan, merupakan kegiatan yang terdiri dari pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan barang milik negara/daerah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan-undangan.

j. Pembinaan merupakan kegiatan memberikan bimbingan, pedoman, pelatihan untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah.

k. Pengawasan, merupakan kegiatan menilai kenyataan yang sebenarnya tentang pelaksanaan kegiatan pengelolaan barang milik daerah.

41

l. Pengendalian, merupakan kegiatan untuk menjamin agar kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014, Pengelola barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan barang milik negara/daerah.

Pengelolaan barang milik daerah menurut Permendagri Nomor 17 Tahun 2007, pengelolaan barang milik daerah adalah serangkaian kegiatan dan/atau tindakan yang meliputi penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan dan pengendalian, dan tuntutan ganti rugi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan barang milik daerah adalah seluruh kegiatan yang menyangkut pengelolaan barang berupa kekayaan yang dimiliki oleh suatu daerah yang perolehan nya dari APDB atau dari perolehan lainnya yang sah.

Adapun pengelolaan barang milik daerah yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan rangkaian sistematis dalam pengelolaan barang milik daerah yang meliputi tertib administrasi dalam penginventarisasian aset/barang, adanya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan aset/barang daerah, pengamanan barang milik daerah serta tersedianya data/informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan daerah dalam hal ini data yang tersedia sesuai dengan fisik dilapangan sehingga nilai barang milik daerah yang tercatat di neraca (laporan keuangan pemerintah daerah) sesuai dengan fisik barang serta laporan inventarisasi barang milik daerah.

42 BAB III

KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Penelitian

Kerangka Konsep dalam Penelitian ini dibangun untuk menunjukkan hubungan antara Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, dan Pengelolaan Aset Daerah yang merupakan variabel Independen terhadap Kualitas Laporan Keuangan sebagai Variabel Dependen. Berikut ini merupakan kerangka konsep yang disajikan dalam penelitian ini, dapat digambarkan seperti Gambar 3.1 dibawah ini.

Gambar 3.1 Kerangka Penelitian Sistem Pengendalian

Internal Pemerintah (SPIP) (X1)

Kualitas Laporan Keuangan (Y)

Pengelolaan Aset Daerah (X4) Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan

(SAP) (X2)

Kepatuhan Terhadap Peraturan

Perundang-undangan (X3)

43

Berdasarkan gambar Kerangka Konseptual diatas dapat diketahui empat model yaitu:

1. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan.

2. Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan.

3. Kepatuhan Peraturan Perundang-undangan berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan.

4. Pengelolaan Aset Daerah berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Keuangan.

3.2. Pengembangan Hipotesis

3.2.1. Pengaruh SPIP terhadap Kualitas Laporan Keuangan

Sistem pengendalian intern pemerintah dalam pelaksanaannya mewajibkan tercapainya empat tujuan yaitu (1) efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, (2) keandalan pelaporan keuangan, (3) pengamanan aset negara, dan (4) ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Hal ini seperti dikemukakan dalam Permendagri 13 Tahun 2006 dimana tujuan dari pengendalian intern adalah untuk meningkatan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah yang tercermin melalui informasi laporan keuangan.

Berdasarkan hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa Sistem Pengendalian Internal bertanggung jawab untuk menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas. Dengan kontrol yang baik menjamin laporan yang disajikan ke

44

masyarakat benar sesuai kejadian yang sebenarnya. Dalam penelitan Fakhri and Ivan (2018) mengatakan “bahwa untuk menciptakan kesadaran akan suatu pengendalian dapat dilakukan dengan tidak memberikan jarak berupa level antar pihak dalam perusahan, sehingga karyawan merasa nyaman dan dimungkinkan bahwa mereka akan sadar untuk memaksimalkan pelaksanaan pekerjaan mereka”.

Dalam penelitian Ikrar (2018), mengatakan bahwa “Implementasi sistem pengendalian pemerintah yang baik akan meingkatkan kualitas laporan keuangan lokal”, dan Nirwana and Haliah (2018) juga mengatakan bahwa “dalam penelitian ini ditemukan bahwa kualitas laporan keuangan mempengaruhi kinerja, kualitas laporan keuangan yang baik akan meningkatkan kinerja”. Hal ini sejalan dengan penelitian Febrian (2015) yang mengatakan bahwa semakin baik Sistem Pengendalian Internal maka semakin baik juga Kualitas Laporan Keuangan. Serta hal ini didukung oleh penelitian Demonti (2016), Gamelia (2016), Lumongga (2017), yang mengatakan bahwa Sistem Pengendalian Intern Pemerintah memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah. Berdasarkan dukungan teori dan bukti empiris diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dibangun sebagai berikut :

H1 : Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) berpengaruh Positif dan signifikan terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

45

3.2.2. Pengaruh Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) terhadap Kualitas Laporan Keuangan

Tujuan pelaporan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, yakni Laporan yang berkualitas maka LKPD yang disusun oleh masing-masing pemerintah daerah harus memenuhi karakteristik tertentu. Menurut PP No. 71 tahun 2010 karakteristik yang dimaksud dalam LKPD adalah relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami. Karakter tersebut merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki.

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah, semakin baik implementasi SAP ini akan mempengaruhi peningkatan kualitas laporan keuangan. Implikasi pengaruh nya dalam hal ini adalah apabila kegiatan pengelolaan keuangan menggunakan prinsip-prinsip yang diatur dalam SAP secara benar dan lengkap maka otomatis kualitas laporan keuangan akan semakin meningkat. Hal diatas didukung oleh Opini Mahmudi (2011) yang mengemukakan bahwa SAP merupakan salah satu aspek penting yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas tata kelola keuangan negara dan pelaporan keuangan pemerintahan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manullang (2016) dan Suwanda (2015) yang membuktikan bahwa Implementasi SAP berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kualitas laporan keuangan pemerintah. Berdasarkan dukungan teori dan bukti empiris diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dibangun sebagai berikut :

46

H2 : Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berpengaruh Positif dan Signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

3.2.3. Pengaruh Kepatuhan Peraturan Perundang-undangan terhadap Kualitas Laporan Keuangan

Selain SPIP dan Implementasi SAP, dasar pemberian opini audit juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan (UU No. 15 Tahun 2004). Hal ini sejalan dengan isi pernyataan standar pelaporan tambahan kedua pada SPKN bahwa laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan telah dilakukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan adalah faktor yang dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan.

Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 juga disebutkan bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menunjang kualitas laporan keuangan, dan hal ini sejalan dengan penelitian Sianturi (2016) dan Manullang (2016) bahwa Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Berdasarkan dukungan teori dan bukti empiris diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dibangun sebagai berikut :

47

H3 : Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan berpengaruh Positif dan Signifikan terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

3.2.4. Pengaruh Pengelolaan Aset Milik Daerah terhadap Kualitas Laporan Keuangan

Aset merupakan salah satu komponen dalam Salah satu laporan keuangan pemerintah daerah, pengelolaan asset yang baik akan mempengaruhi kualitas dari laporan keuangan yang dihasilkan. Dalam Penelitian Eriadi Et al. (2018), dituliskan bahwa “Sebagai mediator, efektivitas pengelolaan BMD dipengaruhi dan berhubungan positif dengan perilaku motivasi pengguna properti, bukti kepemilikan dan pemanfaatan yang teratur, dan sekaligus sebagai mediator memberikan pengaruh positif dalam pemenuhan kualitas laporan keuangan. Pada tahap pemanfaatan, bentuk kerjasama leasing, pemanfaatan dan bangun untuk penyerahan selalu diwajibkan dengan mengacu pada kebijakan akuntansi yang berlaku”. Hal ini didukung oleh penelitian Ansyari dan Efrizal (2016), yang mengatakan bahwa Pengelolaan Barang Milik Daerah memiliki pengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah.

Pengelolaan asset daerah yang merupakan salah satu penentu kualitas laporan keuangan masih terkendala, sehingga mempengaruhi keualitas dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Hal ini sejalan dengan Gutomo (www.bpkp.go.id) yang menyatakan bahwa asset yang belum akuntabel menjadi masalah mayoritas yang menghambat perolehan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Permasalahan aset

48

tetap pemerintah daerah pada umumnya terkait adanya barang milik daerah yang tidak dicatat, barang milik daerah yang tidak ada justru masih dicatat, barang milik daerah dicatat tapi tidak didukung dengan dokumen kepemilikan yang sah sehingga pencatatan atas nilai aset tersebut tidak menggambarkan hal yang sebenarnya.

Berdasarkan dukungan teori dan bukti empiris diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dibangun sebagai berikut:

H4 : Pengelolaan Aset Daerah berpengaruh Positif dan signifikan terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

49 BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang merupakan penelitian yang mencari hubungan antara satu atau beberapa variabel dengan variabel lain. Dalam penelitian asosiatif terdapat tiga bentuk hubungan yang mendasarinya, yaitu hubungan simetris, hubungan kausal, dan hubungan interaktif/resiprokal/timbal balik. Dalam penelitian ini bentuk hubungan yang terjadi adalah untuk mengetahui hubungan kausal (Causal Effect) dimana menunjukkan hubungan yang bersifat sebab akibat dengan menunjukkan adanya variable independen (variable yang mempengaruhi) dan variable dependen (dipengaruhi). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, dan Pengelolaan Aset Daerah terhadap Kualitas Laporan Keuangan.

4.2. Defenisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel yang diungkap dalam definisi konsep tersebut, baik secara operasional dan secara praktik, maupun secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti. Variabel yang

50

digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independent Variabel) dan variabel terikat (dependent variable).

Variabel dependen (Y) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang diwakili dengan opini BPK, sedangkan variabel independennya terdiri dari Sistem Pengendalian Intern Pemerintah/SPIP (X1), Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan/SAP (X2), kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan (X3), dan Pengelolaan Aset Daerah (X4).

Adapun skala dalam pengukuran variabel penelitian ini menggunakan skala interval, yaitu skala pengukuran yang mengungkapkan kategori, peringkat dan jarak konstruk yang diukur tetapi tidak menggunakan angka nol sebagai titik awal perhitungan dan bukan merupakan angka absolut (Erlina dan Mulyani, 2007). Skala interval diukur melalui instrumen kuesioner dengan Skala Likert. Menurut Indriantoro dan Supomo (2012) Skala Likert merupakan metode yang mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya terhadap subyek, obyek, atau kejadian tertentu. Skala Likert umumnya menggunakan lima angka penilaian yaitu dengan skor 1 sampai 5, dimana skor dalam penelitian ini ditentukan sebagai berikut :

Skor 5 (SS= Sangat Setuju), skor 4 (S= Setuju), skor 3 (N= Netral), skor 2 (TS=

Tidak Setuju) dan skor 1 (STS= Sangat Tidak Setuju).

51 4.2.1. Kualitas Laporan Keuangan (Y)

Kualitas laporan keuangan dalam penelitian ini akan dijelaskan dengan menggunakan 4 (empat) karakteristik kualitatif yang terdapat dalam PP No. 71 Tahun 2010, yakni relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami.

Ukuran-ukuran normatif ini harus diterapkan dalam informasi akuntansi untuk memenuhi tujuannya. Pengukuran variabel ini menggunakan instrumen kuesioner dengan 9 (sembilan) butir pertanyaan yang dimodifikasi dari Sianturi (2016).

4.2.2. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah/SPIP (X1)

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) merupakan Sistem yang dirancang oleh pimpinan untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi. Sistem Peengendalian dalam penelitian ini berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008. Adapun Unsur Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terdiri dari lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Pengukuran variabel ini menggunakan instrumen kuesioner dengan 10 (sepuluh) butir pertanyaan yang dimodifikasi dari Lumongga (2017).

4.2.3. Implementasi Standar Akuntansi Peerintahan/SAP (X2)

Implementasi SAP dalam penelitian ini adalah yang dimaksud, yaitu penerapan SAP oleh PA, PPK, dan bendahara pengeluaran dalam penyusunan laporan keuangan yang mengacu pada PP No. 71 Tahun 2010. SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang harus diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan

52

keuangan pemerintah. Implementasi SAP dalam penelitian ini diukur dengan mengukur penyajian laporan keuangan berbasis akrual, penyajian LRA berbasis kas, penyajian CaLK secara lengkap, pengakuan dan pencatatan aset tetap, dan pelaksanaan koreksi kesalahan, serta pengakuan penyusutan dan piutang.

Pengukuran variabel ini menggunakan instrumen kuesioner 6 (enam) butir pertanyaan yang dimodifikasi dari Irwan (2011).

4.2.4. Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan (X3)

Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan adalah sifat patuh para PA, PPK, dan bendahara pengeluaran terhadap peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum, kemudian mengelola keuangan daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan tersebut. Kepatuhan dalam penelitian ini berpedoman pada Permendagri No. 13 Tahun 2006, dengan menggunakan tolak ukur yakni perbedaan kode perkiraan karena penerapan akrual, kemampuan penyusunan indikator kinerja dan RKA, pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan kerugian daerah, pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah, pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan penyimpangan administrasi. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan ini diukur dengan menggunakan instrumen kuesioner sebanyak 5 (lima) butir pertanyaan yang dimodifikasi dari Manullang (2016).

53 4.2.5. Pengelolaan Aset Daerah (X4)

Pengelolaan barang milik daerah adalah tingkat keberhasilan SKPD dalam pengelolaan barang milik daerah yang meliputi tertib administrasi, efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan aset/barang daerah, pengamanan barang milik daerah serta tersedianya data/informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan daerah dengan berpedoman pada Permendagri No. 17 Tahun 2007. Pengelolaan Aset Daerah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan instrumen kuesioner sebanyak 6 (enam) butir pertanyaan yang dimodifikasi dari Bangun (2015).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.1.

Defenisi Operasional Variabel

Variabel Defenisi Operasional Parameter Skala

Kualitas Laporan Keuangan

(Dependen)

Ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. (Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010)

Laporan keuangan yang relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami. (Sianturi, 2016)

Proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi (Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008)

Variabel ini meliputi 5 unsur yaitu : lingkungan pengendalian, penilaian

risiko, kegiatan

pengendalian, informasi dan

komunikasi, dan

Penerapan SAP oleh PA, PPK, dan bendahara pengeluaran dalam penyusunan laporan keuangan yang mengacu pada PP No. 71 Tahun 2010.

1. Penyajian laporan keuangan berbasis akrual 2. Penyajian LRA berbasis

kas

3. Penyajian CaLK secara lengkap

4. Pengakuan dan pencatatan aset tetap

5. Pelaksanaan koreksi kesalahan

6. Pengakuan penyusutan dan piutang (Irwan, 2011)

Interval

54

Pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan

(Permendagri No. 13 Tahun 2006)

Indikator Penilaian:

1. Perbedaan kode perkiraan karena penerapan akrual.

2. Kemampuan penyusunan indikator kinerja dan RKA.

3. Pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan kerugian daerah.

4. Pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah.

5. Pengelolaan keuangan tidak mengakibatkan

Pengelolaan Aset milik daerah adalah tingkat keberhasilan SKPD dalam pengelolaan Aset milik daerah yang meliputi tertib administrasi, efisiensi dan efektivitas dalam penggunaanh aset/barang daerah, pengamanan barang milik daerah serta tersedianya data/informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan daerah. (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah).

Variabel ini diukur dengan empat indikator yaitu tertib administrasi, efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan aset/barang daerah, pengamanan barang milik daerah serta tersedianya data/informasi yang akurat mengenai jumlah kekayaan daerah. (Bangun, 2015)

Interval

Source: Penulis

4.3. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sekretaris/Kepala Tata Usaha, PPK (Pejabat Penatausahaan Keuangan) OPD, Pengurus Barang dan Bendahara Pengeluaran pada OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nias Barat yang berjumlah 124 orang dari 31 OPD. Penelitian ini menggunakan teknik

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sekretaris/Kepala Tata Usaha, PPK (Pejabat Penatausahaan Keuangan) OPD, Pengurus Barang dan Bendahara Pengeluaran pada OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nias Barat yang berjumlah 124 orang dari 31 OPD. Penelitian ini menggunakan teknik

Dokumen terkait