• Tidak ada hasil yang ditemukan

rumpon Tangkapan ikan yang ditangkap

VI. KONFLIK NELAYAN

1. KEPEMIMPINAN 1A Pergantian

1A.1 Apakah pemimpin organisasi berubah secara teratur?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

1A.2 Pada saat pemimpin berada pada posisinya cukup untuk mengetahui dan mempelajari fungsi kepemimpinan?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

1A.3 Ada kemungkinan memilih kembali pemimpin yang sukses?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

1B. Kepadatan

1B.1 Berapa banyak orang dalam organisasi yang memiliki kapabilitas dan kualitas menjadi pemimpin yang efektif?

Tidak ada yang memenuhi [ ] 1 Sedikit (1 - 3) [ ] 2 Beberapa (4 - 6) [ ] 3 Banyak (lebih dari 6) [ ] 4

1B.2 Berapa banyak yang siap untuk menjadi pemimpin? Hanya sedikit yang siap menjadi pemimpin [ ] 1

Terbatas namun tersedia [ ] 2

Tidak pernah kekurangan calon [ ] 3

1B.3 Berapa pemimpin sebelumnya yang setuju untuk meneruskan partisipasi dalam organisasi?

Tidak ada pemimpin sebelumnya, organisasi ini masih baru [ ] 1 Hampir tidak ada partisipasi pemimpin sebelumnya [ ] 2 Ada beberapa partisipasi pemimpin sebelumnya [ ] 3 Semuanya berpartisipasi aktif [ ] 4 1C. Keragaman

1C.1 Apakah pemimpin organisasi berasal dari sebuah kelompok atau sebuah keluarga atau merupakan perwakilan dari komunitas?

Dari sedikit kelompok dalam komunitas [ ] 1 Dari beberapa kelompok dalam komunitas [ ] 2 Dari hampir semua kelompok di komunitas [ ] 3 1C.2 Berapa presentase wanita yang menjadi pemimpin?

Kurang dari 10% [ ] 1

Antara 10 % dan 25% [ ] 2 Antara 26% dan 50% [ ] 3

a. Pendidikan/pelatihan [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 b. Dinamika/visi? [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 c. Ketrampilan? [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 d. Kejujuran/transparansi? [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 1E. Hubungan Baik Diantara Pengurus

1E.1 Bagaimana anda melihat hubungan diantara pengurus? Harmonis, tanpa ada masalah besar [ ] 1 Berdampingan, dengan beberapa saingan [ ] 2 Konflik, dengan banyak masalah [ ] 3 Disfungsi, tanpa koordinasi [ ] 4 1E.2 Legitimasi yang dipunyai pemimpin dalam organisasi:

Pemimpin diterima, semua anggota melegitimasi utuk membawa aspirasinya [ ] 1

Pemimpin diterima, mayoritas melegitimasi utk membawa aspirasinya [ ] 2

Pemimpin diterima sedikit anggota dan memiliki sedikit legitimasi [ ] 3 Pemimpin tidak diterima dan tidak memiliki legitimasi. [ ] 4

2. PARTISIPASI

2A. Frekuensi pertemuan

2A.1 Apakah seharusnya frekuensi pertemuan lebih banyak, dikurangi atau tetap?

Lebih banyak [ ] 1

Lebih sedikit [ ] 2

Tetap sama [ ] 3

2B. Partisipasi Dalam Membuat Keputusan

2B.1 Keputusan paling penting yang dibuat pada tahun sebelumnya? Keputusan 1: ___________________________________________ Keputusan 2: ___________________________________________ 2B.2 Pada keputusan tersebut, apakah hal seperti dibawah ini dilakukan?

(Kode keputusan 1 dulu, kemudian dilanjutkan dengan keputusan 2.) Topik a).disemina- si informasi lebih dulu Ya = 1 Tidak = 2 b). kemung- kinan diskusi informal Ya = 1 Tidak = 2 c). konsul- tasi dengan warga Ya = 1 Tidak = 2 d). debat terbuka, opini berbeda, dan diskusi dengan jujur Ya = 1 Tidak = 2 e). dis-eminasi hasil Ya = 1 Tidak = 2 Keputusan 1 Keputusan 2 2C. Keterbukaan

2C.1 Tiga pertemuan terakhir, seberapa besar partisipasi wanita, pemuda dan kelompok miskin?

Aktif Cukup aktif Tidak aktif

a. Wanita [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3

Kurang [ ] 3

Tidak representatif [ ] 4

2C.3 Berapa persen populasi yang merasakan keuntungan dari organisasi ini?

Kurang dari25% [ ] 1

Antara 25 % dan 50% [ ] 2 Antara 51% dan 75% [ ] 3

Lebih dari 75% [ ] 4

2D. Partisipasi Masyarakat Mapan

2D.1 Seberapa besar keluarga yang mapan (keluarga yang mempunyai lahan luas, bisnis perikanan yang maju) terlibat dalam pertemuan, berpartisipasi dalam organisasi? Aktif [ ] 1 Cukup aktif [ ] 2 Kurang aktif [ ] 3 Tidak aktif [ ] 4 3. BUDAYAORGANISASI

3.1 Berapa banyak anggota yang tahu prosedur, norma, dan tugas organisasi?

Mayoritas anggota [ ] 1

Beberapa anggota [ ] 2

Sedikit anggota [ ] 3

3.2 Organisasi mengkonfrontir permasalahan anggotannya seperti; yang tidak datang ke pertemuan, menghindari tugas, mencuri inventaris organisasi? Organisasi selalu mengkonfrontir kebiasaan buruk dari anggotanya [ ]1

Organisasi kadang-kadang mengkonfrontir kebiasaan buruk anggota [ ]2

Organisasi mempunyai sedikit kapasitas untuk mengkonfrontir [ ]3

3.3 Untuk kasus yang serius, apakah terdapat aturan dan sanksi/denda?

Ya [ ] 1

a.Menyelesaikan kewajiban khusus

(pelatihan, pertemuan) [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 b.Mengawasi program kegiatan [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 c. Menyiapkan laporan keuangan

bank, donor atau pemerintah [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 d. Menjawab tantangandan

perubahan dalam organisasi [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 e.Perencanaan detailkedepan [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 f. Belajar dari pengalaman [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 g.Memecahkan masalah dengan

organisasi lain [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 h. Memecahkan konflik di dalam

organisasi [ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] 4 4B. Tindakan Bersama dan Formulasi Kebutuhan

4B.1 Apakah organisasi mengidentifikasi dengan jelas kebutuhan utama anggotanya?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

4B.2 Tiga tahun terakhir, apakah ada tuntutan dari anggota?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

4B.3 Apakah organisasi mampu menyalurkan tuntutan dari anggotanya?

Ya [ ] 1

Tidak [ ] 2

5. BIAYA TRANSAKSI

a. Biaya manajemen organisasi

No Biaya

nominal

Keterangan/alasan 1 Koordinasi antar anggota

2 Sosialisasi keputusan kepada setiap anggota 3 Biaya monitoring

pelaksanaan keputusan 4 Lainnya (sebutkan) Total

b. Biaya penyusunan aturan Pengelolaan Sumberdaya Ikan di Teluk Palabuhanratu

No Biaya nominal Keterangan/alasan 1 Informasi kebutuhan peraturan 2 Pengumpulan bahan- bahan peraturan 3 Penyusunan peraturan 4 Rapat 5 Lobi 6 Sosialisasi 7 Monitoring

c. Biaya pengawasan sumberdaya ikan

No Biaya

nominal

Keterangan/alasan 1 Informasi hasil tangkapan

nelayan 2 Monitoring 3 4 5 Lainnya (sebutkan) 6 Total d. Biaya rumpon No Biaya nominal Keterangan/alasan 1 Pengawasan 2 Sosialisasi 3 Penegakan hukum 4 Monitoring 5 Lainnya (sebutkan) Total

No Aspek Peraturan Jenis Peraturan Pasal dan Ayat Analisis Konstektual 1 Penentuan jumlah tangkapan yang diperbolehkan Undang-Undang Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 7

(1) Dalam rangka mendukung kebijakan pengelolaan sumberdya ikan, menteri

menetapkan :

a. Rencana pengelolaan perikanan

b. Potensi dan alokasi sumberdaya ikan di wilayah pengelolaan perikanan RI

c. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan di wilayah pengelolaan perikanan RI

d. Jenis, jumlah dan ukuran alat penangkapan ikan

e. Jenis, jumlah, ukuran dan penempatan alat bantu penangkapan ikan f. Daerah, jalur dan waktu atau musim penangkapan ikan

g. Persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan h. Sistem pemantauan kapal perikanan

i. Pencegahan pencemaran dan kerusakan sumberdaya ikan serta lingkungannya

j. Rehabilitasi dan peningkatan sumberdaya ikan serta lingkungannya k. Ukuran atau berat jenis ikan yang boleh ditangkap

l. Suaka perikanan

Sampai saat ini pemerintah belum melakukan kajian ulang terhadap jumlah tangkapan yang diperbolehkan untuk ditangkap oleh setiap nelayan dan pengusaha perikanan di wilayah perairan Indonesia.

(2) Menteri menetapkan potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mempertimbangkan rekomendasi dari komisi nasional yang mengkaji sumberdaya ikan

Pasca berlakunya UU ini, menteri kelautan dan perikanan belum menetapkan potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan

Peraturan Menteri

Perikanan Tangkap sesuai dengan Jumlah Tangkapan Yang di Perbolehkan (JTB)

c. Telah mempertimbangkan kelayakan usaha yang diajukan

d. Pemohon telah membayar PPP yang dibuktikan dengan tanda bukti

pembayaran

Peraturan Daerah

Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Keputusan Gubernur

Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Peraturan Daerah

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan

Keputusan Bupati

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan

2 Menjaga kelestarian sumberdaya ikan Undang-Undang Undang-Undang No 31 Tahun 2004 Pasal 7

(5) Menteri menetapkan jenis ikan dan kawasan perairan yang masing-masing dilindungi, termasuk taman nasional laut, untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, dan/atau kelestarian sumberdaya ikan dan atau lingkungannya

Pasal 8

(1) Setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan

bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan atau cara, dan atau bangunan yang dapat merugikan dan atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan RI

(2) Nahkoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan dan anak buah kapal yang melakukan penangkapan ikan dilarang menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan atau cara, dan atau bangunan yang dapat merugikan dan atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan

cara, dan atau bangunan yang dapat merugikan dan atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan RI

Peraturan Daerah

Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Keputusan Gubernur

Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Peraturan Daerah

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan

Keputusan Bupati

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan 3 Pemantauan, pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum Undang-Undang Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 66

(1) Pengawasan perikanan dilakukan oleh pengawas perikanan (2) Pengawas perikanan bertugas untuk mengawasi tertib pelaksanaan

perundang-undangan di bidang perikanan

(3) Pengawas perikanan terdiri dari penyidik pegawai negeri sipil perikanan dan non penyidik pegawai negeri sipil perikanan

Pasal 67

Masyarakat dapat dilibatkan dalam membantu pengawasan perikanan

Pasal 68

Pemerintah mengadakan sarana dan prasarana pengawasan perikanan

Pasal 69

(1) Pengawas perikanan, dalam melaksanakan tugas dapat dilengkapi dengan senjata api dan/atau alat pengaman diri lainnya serta didukung dengan kapal pengawas perikanan

lebih lanjut

(4) Kapal pengawas perikanan dapat dilengkapi dengan senjata api

Pasal 71

(1) Dengan undang-undang ini dibentuk pengadilan perikanan yang berwenang

memeriksa, mengadili dan memutus tindak pidana di bidang perikanan (2) Pengadilan perikanan berada di lingkungan peradilan umum

(3) Untuk pertama kali pengadilan perikanan dibentuk di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Medan, Pontianak, Bitung dan Tual

(4) Daerah hokum pengadilan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

sesuai dengan daerah hukum pengadilan yang bersangkutan

(5) Pengadilan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 paling lambat 2 tahun terhitung sejak tanggal undang-undang ini ditetapkan mulai berlaku, sudah melaksanakan tugas dan fungsinya

(6) Pembentukan pengadilan perikanan sebagimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden

Berdasarkan pasal 71 ini pemerintah Kabupaten Sukabumi dapat membentuk pengadilan perikanan guna menegakkan hukum perikanan di Teluk Palabuhanratu Undang-Undang No 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia Pasal 24 Ayat (1)

Penegakan kedaulatan dan hokum di perairan Indonesia, ruang udara diatasnya, dasar laut dan tanah di bawahnya termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya serta sanksi atas pelanggarannya, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan konvensi hokum internasional lainnya, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 24 ayat (2)

Yurisdiksi adalah penegakan kedaulatan dan hokum terhadap kapal asing yang sedang melintasi laut territorial dan perairan kepulauan Indonesia dilaksanakan sesuai dengan ketentuan konvensi, hokum internasional lainnya, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Keputusan

Menteri Kelautan Dan Perikanan

BAB II

LINGKUP KEGIATAN SISWASMAS A. Pembentukan Jaringan SISWASMAS

Pengawasan Masyarakat Dalam Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan lainnya.

2. POKMASWAS dibentuk atas inisiatif masyarakat yang difasilitasi oleh unsur pemerintah daerah, dan dikoordinir oleh seorang anggota masyarakat dalam POKMASWAS, yang berfungsi sekaligus sebagai mediator antara

masyarakat dengan pemerintah/ petugas.

3. Para nelayan yang menjadi ABK kapal-kapal penangkap ikan dan nelayan- nelayan kecil serta masyarakat maritim lainnya, dapat merupakan anggota kelompok masyarakat pengawas.

4. Kepengurusan POKMASWAS dipilih oleh masyarakat dan terdaftar sebagai anggota.

B. Pemberdayaan POKMASWAS dan Peningkatan Kemampuan Kelompok- kelompok Pengawas

1. Tradisi atau budaya setempat yang merupakan perilaku yang ramah

lingkungan seperti Sasi, Awig-awig, Panglima Laut, Bajo dan lainnya merupakan budaya masyarakat yang perlu didorong kesertaannya dalam SISWASMAS.

2. Dalam rangka melakukan apresiasi pengawasan maka perlu

ditumbuhkembangkan POKMASWAS melalui sosialisasi.

3. Sesuai dengan kemampuan pemerintah POKMASWAS dapat diberikan

bantuan sarana dan prasarana pengawasan secara selektif serta disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.

4. Pemerintah dan atau Pemerintah daerah wajib memfasilitasi pemberdayaan POKMASWAS melalui pembinaan, bimbingan dan pelatihan bagi peningkatan kemampuan POKMASWAS

BAB III

JARINGAN DAN MEKANISME OPERASIONAL

1. Masyarakat atau anggota POKMASWAS melaporkan informasi adanya dugaan pelanggaran dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya

· Satpol-AIRUD (atau Polisi terdekat); · TNI-AL terdekat atau;

· Petugas Karantina di Pelabuhan. · PPNS

2. Masyarakat pengawas juga dapat melaporkan adanya dugaan tindak pidana perikanan oleh Kapal Ikan Indonesia (KII) atau Kapal Ikan Asing (KIA) serta tindakan ilegal lain dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. 3. Petugas yang menerima laporan dari POKMASWAS melanjutkan informasi

kepada PPNS dan/ atau TNI-AL dan/ atau Satpol-AIRUD dan/ atau Kapal Inspeksi Perikanan.

4. Koordinator Pengawas Perikanan atau Kepala Pelabuhan Perikanan yang menerima data dan informasi dari nelayan atau masyarakat maritim anggota POKMASWAS, melanjutkan informasi ke petugas pengawas seperti TNI-AL dan Satpol-AIRUD atau Kapal Inspeksi Perikanan.

5. Berdasarkan laporan tersebut PPNS, TNI-AL, Pol-AIRUD dan instansi terkait lainnya, melaksanakan tindakan (penghentian dan pemeriksaan) pengejaran dan penangkapan pada Kapal Ikan Indonesia (KII) dan Kapal Ikan Asing (KIA) atau para pelanggar lainnya sebagai tersangka pelanggaran tindak pidana perikanan dan sumberdaya kelautan lainnya, selanjutnya dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan.

6. Pada waktu yang bersamaan PPNS, Pengawas Perikanan dan/ atau

(Koordinator PPNS dan/ atau Kepala Pelabuhan Perikanan) meneruskan informasi yang sama kepada Dinas Kabupaten/Kota dan instansi terkait Propinsi dengan tembusan Direktur Jenderal Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.

7. Dinas Perikanan kabupaten dan/ atau propinsi melakukan koordinasi dengan petugas pengawas (TNI-AL, POLRI, PPNS) termasuk Keamanan Pelabuhan Laut Pangkalan (KPLP) dalam melakukan operasi tindak lanjut atas pelanggaran yang dilakukan Kapal Ikan Indonesia (KII) dan Kapal Ikan Asing (KIA) maupun para pelanggar lainnya.

Kelautan dan Perikanan dengan anggota unsur Eselon I di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan, dan instansi terkait yang mempunyai kewenangan dalam pendayagunaan sumberdaya kelautan dan perikanan. 2. Satuan Pembina SISWASMAS di tingkat daerah dikoordinir oleh kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan dengan anggota unsure-unsur instansi terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan.

3. Satuan Pembina SISWASMAS memiliki tugas untuk menetapkan kebijakan operasional pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan, melaksanakan koordinasi dan menyelaraskan program dan kegiatan antar instansi/lembaga terkait, serta mengambil tindakan untuk menindaklanjuti dugaan pelanggaran atas informasi dari kelompok pengawas masyarakat, Dinas Kabupaten/Propinsi maupun lembaga terkait terhadap kapal-kapal perikanan dan aktivitas pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan lainnya yang melakukan pelanggaran.

4. Satuan Pembina SISWASMAS melalui Dinas Kabupaten/ Propinsi melakukan peningkatan kemampuan POKMASWAS baik dalam ketrampilan teknik pengawasan, pemahaman peraturan perundan-undangan melalui bimbingan dan pelatihan.

5. Dalam melakukan tugas sehari-hari Pembina SISWASMAS ditingkat Pusat dibantu oleh Sekretariat yang dikoordinir oleh Direktur Pengawasan Sumberdaya Ikan.

6. Sekretariat bertugas mengumpulkan, mengolah dan menganalisa laporan dan informasi, serta melaporkan kegiatan dan perkembangan pelaksanaan SISWASMAS dari daerah serta menyiapkan tindak lanjut penyelesaiannya.

Peraturan Menteri Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.17/MEN/2006 Tentang Usaha Pasal 67

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan usaha perikanan di bidang

penangkapan dan pengangkutan ikan dilakukan oleh Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan kewenangannya

dan pengangkutan ikan serta ketentuan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

Peraturan Daerah

Perda Provinsi Jawa

Barat No 14 Tahun 2002 tentang Usaha Perikanan dan Retribusi Usaha Perikanan Pasal 25

(1) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan perda dilakukan oleh Gubernur yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh Dinas berkoordinasi dengan instansi terkait

(2) Rincian lebih lanjut mengenai kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh gubernur. Keputusan Gubernur Jawa Barat No 45 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 14 Tahun 2002 tentang Usaha Perikanan dan Retribusi Usaha Perikanan Pasal 19

(1) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan perda dilakukan oleh gubernur yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas

berkoordinasi dengan instansi terkait

(2) Instansi terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini terdiri atas : a. Asisten yang membidangi pemerintahan pada Sekertaris Daerah dalam hal

aktivitas pelaksanaan ketentuan berdasarkan Perda dan peraturan- peraturan lainnya

b. Asisten yang membidangi perekonomian pada Sekertaris Daerah dalam hal pengendalian produksi

c. Asisten yang membidangi administrasi pada Sekertaris Daerah dalam hal pembinaan administrasi keuangan

d. Dinas Daerah yang membidangi perdagangan dalam hal pembinaan dan

pengembangan pemasaran serta pemantauan harga perikanan

e. Dinas Daerah yang membidangi Pendapatan Daerah dalam hal

pelaksanaan pemungutan retribusi

Pasal 20

(1) Kepala Dinas selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulan membuat dan menyampaikan laporan atas pelaksanaan Peraturan Daerah kepada Gubernur dengan menggunakan formulir UP 17

Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat, dengan menggunakan formulir Model UP. 18

(3) Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulan membuat dan menyampaikan laporan atas penerimaan dan penyetoran Retribusi Pengusahaan Perikanan dan Retribusi Hasil Perikanan kepada Gubernur dengan menggunakan formulir Model UP.19

Peraturan Daerah

Kabupaten Sukabumi Nomor 3 Tahun 2002 tentang Izin Usaha Perikanan

Pasal 22

(1) Kepala Dinas melaksanakan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin yang telah di keluarkan

(2) Tata cara pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) pasal ini akan ditetapkan lebih lanut oleh Bupati

Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 493 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 3 Tahun 2002 tentang Izin Usaha Perikanan 4 Perlindungan Kepentingan Nelayan Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 60

(1) Pemerintah memberdayakan nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil melalui :

a. Penyediaan skim kredit bagi nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil, baik untuk modal usaha maupun biaya operasional dengan cara yang mudah, bunga pinjaman yang rendah, dan sesuai dengan kemampuan nelayan kecil dan pembudiaya ikan kecil

b. Penyelenggaraan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan bagi nelayan kecil serta pembudidaya ikan kecil untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengolahan

dimaksud ayat (1) dapat juga dilakukan oleh masyarakat

Pasal 61

(1) Nelayan kecil bebas menangkap ikan di seluruh wilayah pengelolaan perikanan RI

(2) Pembudidaya ikan kecil dapat membudidayakan komoditas ikan pilihan di seluruh wilayah pengelolaan perikanan RI

(3) Nelayan kecil dan pembudidaya ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib menaati ketentuan konservasi dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh menteri

(4) Nelayan kecil atau pembudidaya iakn harus ikut sera menjaga kelestarian lingkungan perikanan dan keamanan pangan hasil perikanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

(5) Nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil harus mendaftarkan diri, usaha dan kegiatannya kepada instansi perikanan setempat, tanpa dikenakan biaya, yang dilakukan untuk keperluan statistic serta pemberdayaan nelayan kecil dan pembudidaya iakn kecil

Pasal 62

Pemerintah menyediakan dan mengusahakan dana untuk memberdayakan nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil, baik dari sumber dalam negeri maupun sumber luar negeri, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 63

Pengusaha perikanan mendorong kemitraan usaha yang saling menguntungkan dengan kelompok nelayan kecil atau pembudidaya ikan kecil dalam kegiatan usaha perikanan. Peraturan Menteri Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.17/MEN/2006 Tentang Usaha Pasal 6

(3) Kewajiban memiliki Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dikeculikan bagi kegiatan usaha di bidang penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan dengan

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Keputusan Gubernur

Provinsi Jawa Barat

Belum ada aturan

Peraturan Daerah

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan

Keputusan Bupati

Kabupaten Sukabumi

Belum ada aturan

5 Pengaturan Izin Penangkapan Undang-Undang Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan BAB V USAHA PERIKANAN Pasal 25

Usaha perikanan dilaksanakan dalam sistem bisnis perikanan yang meliputi praproduksi, produksi, pengolahan, dan pemasaran.

Pasal 26

(1) Setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan,

pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIUP.

(2) Kewajiban memiliki SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak

berlaku bagi nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil. Pasal 27

(1) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap

ikan berbendera Indonesia yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dan/atau laut lepas wajib memiliki SIPI.

(3) SIPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Menteri.

(4) Kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang melakukan penangkapan

ikan di wilayah yurisdiksi negara lain harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Pemerintah.

Pasal 28

(1) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIKPI.

(2) SIKPI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Menteri. Pasal 29

(1) Usaha perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia

hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau badan hukum Indonesia.

(2) Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diberikan kepada orang atau badan hukum asing yang melakukan usaha penangkapan ikan di ZEEI, sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan internasional atau ketentuan hukum internasional yang berlaku.

Pasal 30

(1) Pemberian surat izin usaha perikanan kepada orang dan/atau badan hukum

asing yang beroperasi di ZEEI harus didahului dengan perjanjian perikanan, pengaturan akses, atau pengaturan lainnya antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara bendera kapal.

(2) Perjanjian perikanan yang dibuat antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara bendera kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

perikanan kepada orang dan/atau badan hukum asing yang beroperasi di ZEEI, perjanjian perikanan, pengaturan akses, atau pengaturan lainnya antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara bendera kapal.

Pasal 31

(1) Setiap kapal perikanan yang dipergunakan untuk menangkap ikan di

wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib dilengkapi SIPI.

(2) Setiap kapal perikanan yang dipergunakan untuk mengangkut ikan di

wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib dilengkapi SIKPI. Pasal 32

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan syarat-syarat pemberian SIUP, SIPI, dan SIKPI diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 33

Ketentuan lebih lanjut mengenai penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang bukan untuk tujuan komersial diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 34

(1) Kapal perikanan berdasarkan fungsinya meliputi:

a. kapal penangkap ikan;

b. kapal pengangkut ikan;

c. kapal pengolah ikan;

d. kapal latih perikanan;

e. kapal penelitian/eksplorasi perikanan; dan

f. kapal pendukung operasi penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kapal perikanan sebagaimana dimaksud

(2) Pembangunan atau modifikasi kapal perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan, baik di dalam maupun di luar negeri, setelah mendapat pertimbangan teknis laik berlayar dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pelayaran.

Pasal 36

(1) Kapal perikanan milik orang Indonesia yang dioperasikan di wilayah

pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib didaftarkan terlebih dahulu sebagai kapal perikanan Indonesia.

(2) Pendaftaran kapal perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilengkapi dengan dokumen yang berupa:

a. bukti kepemilikan;

b. identitas pemilik; dan

c. surat ukur.

(3) Pendaftaran kapal perikanan yang dibeli atau diperoleh dari luar negeri dan sudah terdaftar di negara asal untuk didaftar sebagai kapal perikanan

Indonesia, selain dilengkapi dengandokumen sebagaimana dimaksud pada

Dokumen terkait