• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan, Agama, dan Situasi Indonesia

Dalam dokumen reza a a wattimena menjadi pemimpin sejati (Halaman 53-58)

Beberapa hari yang lalu, Saya memberikan ujian lisan pada salah satu mahasiswa Saya. Ini adalah ujian mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Dari judulnya sudah terlihat jelas, yakni “filsafat”, “ilmu”, dan “logika”. Apa yang sama dari ketiga kata ini? Coba tebak.

Yang sama adalah ketiganya mengutamakan akal budi manusia, atau daya nalar manusia. Awalnya, Saya menduga akan terlibat diskusi panjang dan dalam dengan mahasiswa Saya. Harapan Saya ternyata salah. Yang keluar adalah nasihat-nasihat normatif yang mengatasnamakan Tuhan. Kacau....

Intinya, ia sama sekali tidak belajar. Ia juga tidak bisa membedakan wilayah iman dan akal budi. Menurut Saya keduanya berbeda tetapi amat perlu untuk bekerja sama. Bagaimana menurut Anda?

Pengalaman kecil ini mendorong Saya untuk bertanya, mengapa banyak orang Indonesia, terutama anak-anak muda, suka sekali bawa-bawa Tuhan di dalam pola berpikir mereka? Tidak bisakah mereka berpikir sendiri? Lalu, sebenarnya apa sebaiknya peran agama dalam kehidupan bersama kita? Anda mau mencoba berpendapat?

Saya berpendapat bahwa agama sekarang ini harus menjalankan lima peran. Saya menyebutnya Panca Dharma Agama di Indonesia. Apa saja isinya? Saya akan jelaskan lebih jauh.

Suara Hati

Pertama, menurut Saya, agama harus menjadi suara dari hati nurani masyarakat. Agama menyuarakan apa yang sungguh diinginkan dan dibutuhkan oleh manusia. Agama menjadi rambu-rambu yang mengingatkan kita tentang apa yang sungguh penting dalam hidup. Agama menjadi hati nurani kita sebagai bangsa. Setuju?

Saya senang sekali ketika para tokoh agama di Indonesia bekerja sama untuk menyuarakan keprihatinan mereka secara nasional. Suara

mereka adalah suara rakyat. Suara mereka adalah suara hati nurani yang terpendam di batin rakyat. Bahkan menurut Saya suara mereka jauh lebih mewakili rakyat daripada suara anggota DPR kita di Senayan sana. Bagaimana menurut Anda?

Namun di sisi lain, Saya juga melihat, banyak pemuka agama, di berbagai agama, belum menjalankan peran ini. Mereka seringkali hanya menggunakan agama untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Mereka berbuat jahat lalu bersembunyi di balik agama untuk membenarkan tindakannya. Apakah Anda punya pengalaman seperti ini?

Sikap Kritis Sosial

Yang kedua, menurut Saya, agama harus menjadi fungsi kritis di dalam menanggapi berbagai situasi sosial masyarakat. Ini sebenarnya terhubung dengan yang pertama sebelumnya, yakni agama sebagai hati nurani masyarakat. Untuk bisa menjadi hati nurani, agama harus menjadi fungsi kritis masyarakat. Apa maksudnya?

Artinya, agama harus mengajarkan orang tentang nilai-nilai kehidupan yang paling penting. Agama mengajarkan orang tidak gampang terpesona dengan kekuasaan. Agama mengajarkan orang untuk punya sensitivitas pada ketidakadilan. Inilah agama yang menjalankan fungsi kritisnya dalam masyarakat. Bagaimana menurut Anda?

Menjabarkan argumen ini, Saya teringat dua pengalaman. Pertama, Saya sering melihat di berbagai belahan dunia, bagaimana agama sungguh menjadi fungsi kritis di hadapan kekuasaan politik yang korup dan totaliter. Datanya beragam, mulai dari teologi pembebasan, sampai dengan pemberontakan organisasi-organisasi Islam progresif di berbagai negara Arab akhir 2011 lalu sampai 2012 sekarang ini. Ini tak terbantahkan. Ya kan? Namun Saya juga punya pengalaman langsung, bagaimana agama menjadi candu untuk membuai rakyatnya. Saya melihat sendiri bagaimana agama mengalihkan orang dari isu-isu yang sungguh penting untuk hidup bersama, dan membawa mereka fokus pada isu-isu mistik yang penuh dengan takhayul. Saya melihat agama memperbodoh, dan membuat orang jadi dangkal, pengecut, dan tak peduli. Bagaimana pengalaman Anda?

Kritik Diri

Yang ketiga, sikap kritis keluar diri akan menjadi sia-sia, jika tidak dibarengi sikap kritis ke dalam diri. Agama harus melakukan refleksi dan bersikap kritis pada dirinya sendiri. Agama harus berani bercermin, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tindakannya selama ini. Setuju?

Saya juga menyadari bagaimana agama yang Saya anut sekarang ini bergelut selama berabad-abad, dengan korban jiwa yang begitu banyak, untuk memperbaiki dirinya sendiri. Sampai sekarang proses itu masih terus berlanjut. Saya amat mendukung proses ini. Semoga Anda berani mendukung, atau bahkan memulai, proses kritik diri agama Anda masing- masing. Semoga..

Di sisi lain, Saya juga melihat banyak orang-orang yang beragama secara bebal. Mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dan tak peduli yang lainnya. Ada juga orang-orang yang beragama secara merusak. Mereka amat yakin dengan kebenaran yang mereka pegang, dan membunuh serta menghancurkan semua yang bertentangan. Seram ya?

Untuk mencegah itu, agama harus berani melakukan refleksi diri. Agama harus berani melihat ke dalam dirinya sendiri, mengakui kesalahan- kesalahan yang pernah ia buat, dan berusaha memperbaikinya. Saya amat terharu, ketika Paus Yohanes Paulus II, atas nama Gereja Katolik Roma, meminta maaf pada Galileo Galilei. Ingat ketegangan antara Gereja Katolik Roma dan Galileo Galilei pada abad pertengahan dulu?

Makna dan Kedamaian Diri

Yang keempat, menurut Saya, agama bisa menjadi sumber makna dan nilai hidup yang berharga untuk kehidupan pribadi. Agama tidak hanya perlu fokus pada hidup sosial, tetapi juga hidup eksistensial-individual para penganutnya. Intinya, agama bisa memberikan tujuan hidup yang bermakna sekaligus kedamaian untuk penganutnya. Ini adalah peran yang tak tergantikan dari agama. Ya kan?

Baru-baru ini, Saya membaca buku tulisan James Martin. Isinya tentang bagaimana humor justru merupakan komponen penting setiap

agama. Banyak orang lupa dengan ini. Andai kata lebih banyak humor di dalam agama kita masing-masing, bukankah hati kita lebih damai, dan dunia pun juga jadi lebih damai? Kita seringkali beragama dengan cara-cara yang terlalu serius. Bagaimana menurut Anda?

Saya juga pernah (tidak sering) bertemu dengan para pemuka agama yang bertampang galak. Wajahnya seram. Kata-katanya seringkali bernada menilai dan sok-sok moralis, seolah ia sendiri tak punya salah dalam hidupnya. Jika para pemuka agamanya seperti ini, bagaimana penganut agamanya bisa merasa damai? Bagaimana agamanya bisa menjadi tujuan yang bermakna untuk para penganutnya? Ndak mungkin lah...

Kedamaian Sosial

Yang kelima, hati yang damai adalah kunci pertama perdamaian dunia. Jika hati setiap penganut agama itu damai, tidak ada rasa benci dan dendam, maka perilaku beragamanya juga pasti damai. Pada peran kelima ini, menurut Saya, agama perlu menjadi simbol perdamaian bangsa-bangsa. Ini peran yang tak dapat dibantah lagi! Setuju?

Saya melihat sendiri, bagaimana agama bisa menggerakan hati orang untuk melakukan hal-hal yang luar biasa indah dan baik. Saya mengalami sendiri, bagaimana agama bisa membawa orang pada dimensi yang lebih tinggi dari hidup kesehariannya. Agama menjadi inspirasi bagi orang untuk menghasilkan karya-karya yang luar bisa indah, atau dalam bahasa Steve Jobs, hal-hal yang insanely great!..

Namun Saya melihat sendiri, bagaimana agama bisa menjadi sumber kebencian dan sikap-sikap merusak. Saya mengalami sendiri, bagaimana agama bisa menjadi alat untuk mendiskriminasikan orang, membuat orang tidak menjadi manusia, tetapi hanya semata sebagai benda, atau bahkan musuh yang perlu dihancurkan. Sayang sekali memang...

Panca Dharma

Di Indonesia, kita tidak bisa hidup tanpa agama. Semua orang berbicara tentang agama. Ini fakta yang tidak dapat dibantah lagi sekarang ini. Namun hidup beragama tidak bisa sembarangan, tetapi harus

menjalankan panca dharma agama, sebagaimana Saya jelaskan sebelumnya. Sudah cukup jelas bukan?

Isinya adalah berikut, yakni kemampuan agama untuk menjadi suara hati nurani bangsa (1), agama sebagai fungsi kritis pada situasi masyarakat (2), agama yang reflektif, dalam arti mampu melihat dirinya sendiri secara jernih (3), agama yang memberikan kedamaian hati dan makna hidup bagi setiap penganutnya (4), dan agama yang berperan besar dalam perdamaian dunia (5). Pada hemat Saya, inilah jalan yang harus ditempuh setiap agama.

Institusi agama bisa berperan besar dalam memimpin bangsa ini menuju keadilan dan kemakmuran, jika mereka bisa menjalankan lima hal di atas. Sebagai orang yang juga beragama, Saya ingin aktif membantu terciptanya agama-agama semacam itu. Pertanyaannya, maukah Anda?

Memahami “Bahasa”

Dalam dokumen reza a a wattimena menjadi pemimpin sejati (Halaman 53-58)