BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.4 Kepemimpinan
2.4.1Pengertian Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan dan pemimpin berasal dari kata “pimpinan”, yang
mengandung beberapa arti, yang erat kaitannya dengan pengertian memelopori, di
bagian depan, menuntun, membimbing, mendorong, mengambil inisiatif, bergerak
lebih awal, mendahului, memberi contoh, menggerakan orang lain, mengarahkan
orang lain, memerintah orang lain dan sebagianya. Pamudji (1985: 5) menjelaskan
bahwa dari kata pimpin lahirlah kata kerja memimpin, yang artinya membimbing
atau menuntun dan kata benda pemimpin,yaitu orang yang berfungsi memimpin
atau orang yang membimbing atau menuntun.
kehidupan sehari-hari dan juga dalam kepustakaan munculah istilah yang
tidak ada bedanya satu dengan yang lain, yaitu pimpinan,dan kepemimpinan. Hal
tersebut mungkin dapat menimbulkan kekacauan dalam pemikiran yang berakibat
tentunya kekacauan dalam tindakan dan perbuatan seseorang dan masyarakat,
karena istilah-istilah tersebut masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri.
Banyak konsep yang diajukan oleh para ahli berkenaan dengan pemimpin
dan kepemimpinan, pada umumnya mereka berpendapat bahwa pemimpin adalah
seorang yang dengan cara apa pun mampu mempengaruhi orang lain untuk
berbuat sesuai dengan kehendak orang bersangkutan untuk tujuan tertentu,
sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang yang dengan cara
tertentu mampu mempengaruhi pihak lain untuk melakukan suatu tindakan
tertentu sesuai dengan kehendak orang bersangkutan dalam kerangka mencapai
tujuan tertentu.
Kepemimpinan Utama adalah kemampuan dan kesiapan seseorang untuk
dapat mempengaruhi, mendorong, membujuk, memimpin, bergerak dan jika perlu
memaksa orang lain, bahwa ia menerima pengaruhnya dan kemudian melakukan
sesuatu yang dapat membantu mencapai sesuatu yang berarti atau tujuan tertentu (
Treated et al, 2005: 23). Rauch & Behling, dalam Yukl (2010: 21), menyatakan
bahwa "Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok
terorganisir terhadap pencapaian tujuan", yang berarti bahwa kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok terorganisir untuk mencapai
tujuan. Sule & Saefullah (2008: 255) mengatakan bahwa "Kepemimpinan dapat
didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan karyawan untuk
(1990: 12) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu Mempengaruhi proses
oleh seorang pemimpin yang membuat orang lain bersedia melakukan dengan
baik apa yang harus dilakukan. Stoner, Freeman dan Gilbert (1995: 255) memiliki
pendapat yang sama, bahwa kepemimpinan adalah "proses mengarahkan dan
memengaruhi kegiatan yang berkaitan dengan tugas anggota
kelompok.”Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi anggota tim dalam berbagai kegiatan.
Terry dan Rue, dalam Kambey (2003: 125), juga berpendapat bahwa
kepemimpinan dapat dilihat sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin untuk
mempengaruhi perilaku orang lain sesuai dengan keinginannya dalam situasi
tertentu. Pendapat lain diungkapkan oleh Usman (2008: 293), yang mengatakan
bahwa gaya kepemimpinan adalah perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang pada
saat mempengaruhi perilaku orang lain.Suatu perkembangannya, studi tentang
kepemimpinan berkembang sejalan dengan kemajuan zaman yang dikategorikan
Yuki (2005:12) menjadi lima pendekatan yaitu: (1) pendekatan ciri, (2)
pendekatan perilaku, (3) pendekatan kekuatan-pengaruh, (4) pendekatan
situasional, dan (5) pendekatan integratif.
1. Teori Genetik,
Penjelasan kepemimpinan yang paling lama adalah teori kepemimpinan genetic
dengan ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni a leader is born, not made.
Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu
belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh oleh secara genetik dari
2. Teori sifat,
Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas
kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “ Trait “. Atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan
kemampuan sosial.
3. Teori Perilaku,
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori
“ trait”, para peneliti pada era Perang Dunia II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan.
4. Teori Leadership,
Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan
teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif.
Dalam “ situasional leadership “ pemimpin yang efektif akan melakukan diagnosis situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya
secara tepat.
5. Teori Transformational Leadership,
Pemikiran terakhir mengenai kepemimpinan yang efektif disampaikan oleh
sekelompok ahli yang mencoba “ menghidupkan “ kembali teori “ trait “ atau sifat
– sifat utama yang dimiliki seseorang agar dia bisa menjadi pemimpin.
2.4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan.
Kepemimpinan dalam pendidikan memerlukan perhatian yang baik,
dalam berbagai bidang. Yang terpenting melalui pendidikan kita menyiapkan
tenaga-tenaga yang berkualitas, tenaga yang siap pakai untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat baik masyarakat industri maupun bidang kehidupan
lainnya. Proses kepemimpinan dapat terlaksana jika terjadi interaksi dua atau tiga
orang atau lebih, maka di sini terdapat faktor perilaku pengaruh dan yang
memengaruhi dan siapa yang akan bisa jadi pemimipin. Ada beberapa faktor yang
memengaruhi munculnya kepemimpinan yaitu :
1. Faktor Biologis
Sampai saat ini masih ada orang beranggapan bahwa seorang pemimpin telah
ditakdirkan menjadi pemimpin semenjak dilahirkan. Jika dilihat dari ilmu tauhid
memang ada orang yang ditakdirkan Allah SWT untuk menjadi pemimpin
semenjak lahir.
2. Faktor Sosial Ekonomi
Di dalam kehidupan di desa misalnya orang kaya sering dianggap sebagai
orang terpandang dan dia dapat memengaruhi orang lain sehingga apa yang
menjadi perintahnya sering dituruti, oleh karena itu orang yang kaya di desa
biasanya menjadi pemimpin di desa. Dengan melirik faktor ekonomi ini seseorang
yang menjadi pemimpin saat ini sangat mendasar, karena seolah telah mampu
dengan ekonomi diharapkan tidak akan memprioritaskan perolehan materi terlebih
dahulu dalam kepemimpinannya, tetapi produktivitas kerja yang diutamakan.
Sedangkan dalam sosial dapat dilihat ketika seorang dapat menjadi pemimpin
dikarenakan dia seorang tokoh dalam bidang agama, karena dia dianggap serba
3. Faktor Kekuatan ( Power )
Seseorang dapat menjadi pemimpin dikarenakan ia paling kuat di antara
sesamanya dalam suatu masyarakatnya sehingga apa saja yang dia mau diikuti
oleh masyarakat tersebut. Kepemimpinan ini biasanya terjadi bagi pengikut yang
rendah kematangannya membutuhkan perilaku direktif yang kuat agar dapat
produktif (Winardi, 1990:80). Winardi menjelaskan dan mengklasifikan kekuatan
yang berhubungan dengan kepemimpinan, sebagai berikut :
a. Kekuatan koersif (coeversive power) karena adanya pengesahan ( legitimate
power )
b. Kekuatan karena memiliki sesuatu keahlian (expert power)
c. Kekuatan karena identifikasi dengan yang dikagumi (referent power)
4. Faktor Profesional
Salah satu faktor yang sering menjadi pertimbangan dan harus diperhitungkan
dalam kepemimpinan pada dewasa ini adalah faktor keahlian. Dari kelima faktor
yang memengaruhi munculnya kepemimpinan maka yang paling penting adalah
faktor profesional.
2.4.3 Indikator Kepemimpinan.
Indikator untuk menentukan gaya kepemimpinan mana yang digunakan
adalah: (a) memprioritaskan pencapaian tujuan; (b) menilai pelaksanaan tugas dan
menetapkan tempat waktu untuk pelaksanaan tugas; (c) menetapkan standar tugas;
(d) memberikan bimbingan kepada bawahan; (e) melakukan pengawasan tugas
kooperatif; (i) memberikan dukungan kepada bawahan; (j) menghargai gagasan
orang lain; atau (k) curhat pada bawahan.