2. Secara Praktis a. Bagi Organisasi
2.1.2 Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional pada mulanya diperkenalkan oleh Burns pada tahun 1978 yang megemukakan gagasan bahwa pemimpin yang transformasional meningkatkan motivasi anggotanya dan mendorong perubahan dramatis baik dalam individual, kelompok maupun keseluruhan organisasi.
Menurut Avolio (1999:442) dalam bukunya improving Organization Effectiveness “Through Transformasional Leadership” edited by Bernard M. Bass and Brunce J. Avolio berpendapat bahwa kepemimpinan Transformasional ditunjukan dengan tiga hal, yaitu karisma seorang pemimpin, konsiderasi individual, dan stimulasi intelektual. Namun dalam tahap perkembangannya, perilaku karismatik seorang pemimpin terbagi menjadi dua bagian yaitu, idealisasi pengaruh dan inspirasional. Dengan demikian kepemimpinan transformasional kini diuraikan dalam 4 ciri utama, antara lain : pengaruh ideal, motivasi inspirasional, konsiderasi individual dan stimulasi intelektual sebagaimana
dijabarkan pula dalam Jurnalnya “Re-Examining the Components of Transformational and Transactional Leadership Using the Multifactor Leadership Questionnaire. Journal of Occupational and Organizational Psychology”.
Pada umumnya pola kepemimpnan Transformasional dianggap berhasil menghasilkan kinerja yang mampu melampau ekspektasi capaian dengan tidak menjadikan anggota merasa terbebani oleh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Menurut Frans Maardi Hartanto (2000:512) dalam buku Paradigma Baru Manajemen Indonesia bahwa Kinerja pegawai yang tinggi dihasilkan dari karismatik pemimpin yang sukses mempengaruhi dan memotivasi anggota untuk menumbuhkan loyalitas kerja dan kapasitas terbaiknya dengan sukarela tanpa merasa terbebani.oleh karenanya pemimpin transformasional dianggap sebagai pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin yang lain.
Kepemimpinan transformassional dikembangkan dengan mengacu pada asumsi bahwa pegawai adalah seseorang yang bersumber daya dan mampu belajar memenuhi tugas dan tanggung jawabnya dengan upaya-upaya terbaik jika diarahkan dan dipimpin dengan baik. Maka dari itu, seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin transformasional apabila memiliki ketulusan sejati dalam memimpin, pertimbangan transaksional seperti pemberian imbalan sebagai apresiasi kerja, penghargaan pada bawahan dan pemberian motivasi dan inspirasi dengan mengedepankan keterlibatan langsung seorang pemimpin merupakan inti dari kepemimpinan transformasional yang perlu diterapkan seorang pemimpin.
Sesungguhnya, untuk menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif, seseorang harus menjadi seorang manajer yang baik. Menurut Marshall Sashkin & Molly G, Sashkin (2011:130). Para pemimpin transformasional menggunakan kegiatan-kegiatan manajeral sebagai kesempatan untuk mengomunikasikan nilai-nilai mereka kepada orang lain. Artinya, para pemimpin yang efektif menunjukkan bagaimana nilai-nilai mereka menuntun tindakan-tindakannya. Dengan melakukan hal tersebut, pemimpin menanamkan nilai pemberdayaan, sehingga seorang pemimpin dikatakan transformasional diukur dengan tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan dan rasa hormat para anggotanya.
Pemimpin transformasional selalu berhasil membuat anggotanya merasa termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi. Kepemimpian transformasional memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan karismatik. Karisma merupakan bagian yang sangat penting dalam Kepemimpinan Transformasional. walaupun karisma itu tidak cukup untuk melakukan proses transformasi akan tetapi dalam kepemimpinan transformasional, karisma pemimpin menjadi daya pacu utama dalam mengendalikan anggota menuju transformasi.
Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan perubahan organisasi dari status quo yang berlaku menuju perubahan. Kepemimpinan ini juga didefinisikan sebagai kepemimpinan yang membutuhkan tindakan memotivasi para anggota agar bersedia bekerja demi sasaran-sasaran "tingkat tinggi" yang dianggap melampaui kepentingan pribadinya. dimana lingkungan kerja yang partisipatif, berpeluang untuk
mengembangkan kepribadian, dan keterbukaan dianggap sebagai kondisi yang melatarbelakangi
Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru. Elizabeth O'Leary (2002:107) dalam Kepemimpinan Menguasai Keahlian Yang Anda Perlukan Dalam 10 Menit yang diterjemahkan oleh Deddy, Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa yang bisa dilakukan. dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan yang akan berhubungan dengan peningkatan kinerja.
Adapun Karakteristik kepemimpinan transformasional menurut Avolio (1999:442) dalam buku improving Organization Effectiveveness “Through Transformasional Leadership” edited by Bernard M. Bass and Brunce J. Avolio sebagai berikut
a. Idealized influence ( Pengaruh ideal )
Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus memiliki kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimpinan. Dalam bentuk konkrit, kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional menjadi role model yang dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya.
Pemimpin menampilkan keyakinan, menekankan kepercayaan, mengambil isu-isu yang sulit, menyajikan nilai-nilai mereka yang paling penting, dan menekankan pentingnya tujuan, komitmen, dan konsekuensi etis dari keputusan. Pemimpin seperti dikagumi sebagai pembangkit panutan kebanggaan, loyalitas, kepercayaan, dan keselarasan tujuan bersama.
b. Inspirational motivation (Motivasi Inpirasional)
Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin yang mampu menerapkan standar kerja yang tinggi akan tetapi sekaligus mampu mendorong bawahan untuk mencapai standar kerja tersebut. Karakter seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan antusiasme yang tinggi dari para bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional senantiasa memberikan inspirasi dan memotivasi bawahannya. Pemimpin mengartikulasikan visi menarik dari masa depan, menantang pengikut dengan standar yang tinggi, berbicara optimis dengan antusias, dan memberikan dorongan dan makna untuk apa yang perlu dilakukan.
c. Intellectual stimulation (Stimulasi Intelektual)
Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin transformasional yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Selain itu, karakter ini mendorong para bawahan untuk menemukan cara baru yang lebih efektif dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu kreatif dan inovatif. Pemimpin mempertanyakan cara lama, tradisi, dan
keyakinan, merangsang perspektif baru dan cara melakukan sesuatu, dan mendorong ekspresi ide dari bawahan.
d. Individualized consideration (Pertimbangan Individual)
Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin yang mampu memahami perbedaan individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau dan mampu untuk mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan. Selain itu, seorang pemimpin transformasional mampu melihat potensi prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya. Pemimpin berhubungan dengan orang lain (bawahan) secara personal, mempertimbangkan kebutuhan mereka, kemampuan, dan aspirasi, mendengarkan dengan penuh perhatian, pengembangan lebih lanjut mereka, menasihati, mengajar dan melatih. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu memahami dan menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan berprestasi dan berkembang para bawahan
Kepemimpinan transformasional adalah perilaku pemimpin yang memberikan pertimbangan sendiri, rangsangan intelektual, dan memiliki kharisma. Kepemimpinan transformasional dianggap lebih revolusioner dan aktif (Hasibuan, 2006:122). Maka dapat disimpulkan bahwa menurut beberapa pendapat tentang kepemimpinan transformasional mengenai pengertian kepemimpinan transformasional mencakup perilaku/tindakan perubahan terhadap bawahan untuk berbuat lebih positif atau lebih baik dari apa yang biasa dikerjakan yang berhubungan dengan peningkatan kinerja pegawai. Dimensi kepemimpinan transformasional meliputi : (1) Pengaruh ideal (Idealized influence), (2) Motivasi
inpirasional (Inspirational motivation), (3) Stimulasi intelektual (Intellectual stimulation), dan (4) Pertimbangan individual (Individualized consideration).