BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
4.1.5 Kependudukan
Pada pertengahan tahun 2013 penduduk kabupaten Samosir berjumlah 121.924 jiwa, terdiri dari 60.558 penduduk laki-laki (49,63%) dan 61.336 penduduk perempuan (50,37). Angka kepadatan penduduk mencapai 84,42 jiwa/km2.
Kecamatan yang mempunyai angka kepadatan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Harian, walaupun merupakan kecamatan yang paling luas wilayahnya, yaitu mencapai 560,45 km2, namun hanya didiami oleh penduduk sebanyak 8.010 jiwa (6,57 persen) dengan rata-rata 14,29 jiwa/km2. Hal ini disebabkan karena sebagian besar wilayahnya merupakan areal hutan produksi maupun hutan lindung dan juga areal pertanian. Sementara angka kepadatan penduduk paling tinggi adalah Kecamatan Pangururan dengan tingkat kepadatan penduduk 246,81.
4.1.6 Sistem Mata Pencarian
Menurut lapangan usaha, penduduk yang bekerja adalah lebih banyak di sektor pertanian (pertanian, perkebunan, kehutanan, pemburuan dan perikanan) yaitu 48.480 jiwa (73,22 persen), diikuti sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan) 4.447 jiwa (6,72 persen), sektor perdagangan besar/eceran, rumah
makan dan jasa akomodasi 7.599 jiwa (11,48 persen), sektor industri pengolahan 2.471 (3,73 persen), sektor konstruksi 1.234 jiwa (1,86 persen), sektor transportasi, perdugaan dan komunikasi 1.689 jiwa (2,55 persen), dan sektor lembaga keuangan dan usaha persewaan 292 jiwa (0,44 persen).Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) penduduk Kabupaten Samosir tahun 2013 adalah sebesar 1,12 persen.
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2013, angkatan kerja yang tersedia di Kabupaten Samosir adalah sebanyak 66.965 jiwa atau 89,02 persen dari seluruh
penduduk berusia 15 tahun ke atas, dimana angkatan kerja yang bekerja adalah sebanyak 66.212 jiwa dan yang menganggur adalah sebanyak 753 jiwa.
Sementara itu penduduk yang tergolong bukan angkatan kerja adalah sebanyak 8.260 jiwa (10,98 persen), yaitu mereka yang sekolah sebanyak 3.334 jiwa, mengurus rumah tangga sebanyak 2.156 jiwa, dan melakukan kegiatan lainnya sebanyak 2.770 jiwa.
Menurut tingkat pendidikan, penduduk Kabupaten Samosir yang bekerja lebih banyak berpendidikan tidak/belum tamat SD 18.388 jiwa (27,46 persen), diikuti oleh tidak/belum pernah sekolah 19.393 jiwa (28,96 persen), SD 20.140 jiwa (22,46 persen), SLTP 6.223 jiwa (9,29 persen), Diploma I/II/III/
Akademi/Universitas 1,933 jiwa (2,89 persen), dan SLTA, yaitu 888 jiwa (1,33 persen).
4.2 Gambaran Umum Desa Tanjung Bunga 4.2.1 Kondisi geografis
Tanjung Bunga adalah sebuah Desa yang berada di Kecamatan Pangunguran Kabupaten Samosir Provinsi Sumatra Utara. Desa Tanjung Bunga terletak sekitar 2 KM dari ibukota Kecamatan dengan jarak tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Wilayah Desa Tanjung Bunga memiliki luas 1.230.180 Ha yang memiliki ketinggian 317 meter diatas permukaan Danau Toba. Desa Tanjung Bunga terbagi menjadi 3 RT,
Secara geografis Desa Tanjung Bunga berbatasan langsung dengan beberapa wilayah sekitarnya, yaitu meliputi:
1. Sebelah Utara : Pangururan
2. Sebelah Selatan : Kelurahan Siogung-ogung 3. Sebelah Barat : Desa Boho
4. Sebelah Timur : Desa Sijambur
Luas wilayah Desa Tanjung Bunga Kecamatan Pangungura Kabupaten Samosir Provinsi Sumatra Utara memiliki luas 1.230.180 Ha.
4.2.2 Kondisi Demografis
a. Penduduk
Pada awal tahun 2015, penduduk di Desa Tanjung Bunga Kecamtan Pangunguran Kabupaten Samosir berjumlah 1.500 orang dengan 502 kepala keluarga. Dengan perician penduduk terlihat dalam tabel 1 berikut:
Tabel 1
Jumlah Penduduk Desa Tanjung Bunga WNI
Jumlah Laki-Laki Perempuan
712 Orang 788 Orang 1500
Sumber: Profil Desa Tanjung Bunga Tahun 2015
b. Pendidikan
Sarana pendidikan di Desa Tanjung Bunga dapat dilihat dalam tabel 2 berikut:
Tabel 2
Lembaga Pendidikan di Desa Tanjung Bunga
Lembaga Pendidikan Jumlah Unit
PAUD 2
TK/RA 1
SD/MI 3
Sumber: Profile Desa Tanjung Bunga Tahun 2015
c. Agama
Pada umumnya penduduk Desa Tanjung Bunga menganut agama kristen dan dapat dikatakan hampir 100% masyarakatnya menganut agama Kristen.dimana masyarakat Desa Tanjung Bunga sangatlah religius dan taat pada adat istiadat suku batak. begitu banyaknya kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan seperti membentuk.
d. Kesehatan
Di Desa Tanjung Bunga terdapat beberapa sarana kesehatan, diantaranya dapat dilihat dalam tabel 3 berikut
Tabel 3
Sarana kesehatan yang terdapat di Desa Tanjung Bunga
No Pustu/Posyandu RT Jumlah
1 Posyandu 1 1 buah
2 Pustu Desa 1 1 buah
Sumber: Profile Desa Tanjung Bunga Tahun 2015
e. Sosial Budaya
Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia dimasyarakat tidak dapat hidup sendiri, selalu membutuhkan pertolongan orang lain. Tolong menolong dilakukan secara kekeluargaan dan gotong-royong berdasarkan kesadaran.
Sejak dahulu masyarakat Desa Tanjung Bunga sudah memiliki tradisi dan kebiasaan tolong menolong dan tardisi tersebut tumbuh dan tertanam dalam kehidupan masyarakat. Misalnya pada musim panen kopi, kerja bakti, acara perkawinan dan membangun rumah. Masyarakat Desa Tanjung Bunga selalu bekerja sama dalam segala hal sehingga desa ini tenteram, aman, nyaman dan damai.
f. Mata Pencaharian
Penduduk Desa Tanjung Bunga ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan peternakan. Selain itu juga mata pencaharian penduduk Desa Tanjung Bunga adalah sebagai tukang kayu, nelayan dan buruh.
Tabel 4
Mata Pencaharian Penduduk Desa Tanjung Bunga
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Buruh tani 3O
2 Pemilik tanah ladang 15
3 Pemilik ternak sapi 3
4 Pemilik ternak kambing 2
5 Pemilik ternak ayam 14
6 Tukang kayu 5
9 Nelayan 12
11 Warung 10
12 Pemilik kolam 2
14 Guru 7
14 Wiraswasta 5
Sumber: Profile Desa Tanjung Bunga 2015
g. Pemerintahan dan Aparatur Pemerintah Tabel 5
Perangkat Desa Tanjung Bunga
No Nama Jabatan
1 Syamsudin Nadeak Kepala Desa Tanjung Bunga 2 Henrikus Naibaho Sekretaris Desa
3 Netty Gurning Kaur Umum
4 Pardingotan Sitanggang Kaur Pemerintahan
5 Heppy Sitanggang Kaur Pembangunan 7 Rusself P Rajagukguk Kaur Keuangan 8 Kosma E Nadeak Kepala Dusun 1
9 Sardo Naibaho Kepala Dusun 2
10 Marli Naibaho Kepala Dusun 3
Selain perangkat desa, Desa Tanjung Bunga memiliki beberapa lembaga diantaranya yaitu PNPM Mandiri, BPD, LPMD, PKK, Karang Taruna dan lain-lain.
BAB V ANALISIS DATA
5.1 Pengantar
Melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, yaitu melakukan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipasif dengan informan, peneliti berhasil mengumpulkan data dan informasi mengenai
“Tinjauan Sosial Ekonomi Petani Keramba Jaring Apung Di Desa Tanjung Bunga Kecamatan Pangunguran Kabupaten Samosir”.
Informan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang dengan komposisi dua informan kunci, empat informan utama dan. Informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala desa dan Toke Ikan. Informan utama adalah bapak/ibu yang bekerja sebagai petani.. Untuk melihat gambaran lebih jelas dan rinci, maka penulis mencoba menguraikan petikan wawancara dengan informan serta narasi penulis tentang data-data tersebut.
5.2 Hasil Temuan
5.2.1 Infoman Kunci I
Nama : Syamsudin Nadeak Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 56 tahun Agama : Kristen Suku : Batak Pekerjaan : Kepala Desa
Pak Syamsudin adalah seorang kepala desa yang telah lama hidup dan tinggal di desa Tanjung Bunga. Pak Syamsudin memilki seorang istri dan 3 anak yang saat ini masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Sebagai kepala rumah tangga tentunya pak Syamsudin memiliki tugas dan tanggunjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta menjadi teladan bagi keluarga kecilnya.
Selama menjabat sebagai kepala desa, Pak Syamsudin bercerita bahwa masalah yang hingga saat ini dihadapi oleh masyarakatnya merupakan masalah yang umum terjadi di desa baik Rendahnya pendidikan serta sempitnya lapangan pekerjaan merupakan faktor utama tingginya angka kemiskinan di desa Tanjung Bunga.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada kepala desa yang menyatakan bahwa kondisi perekonomian di desa Tanjung Bunga terbilang masih sangat susah. Terutama mereka yang bekerja sebagai petani keramba jaring apung. Beliau mengatakan bahwa pendapatan yang mereka dapatkan tiap bulannya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Harapan masyarakat untuk mendapatkan bantuan social masih sangat susah untuk direalisasikan. Bantuan pemerintah seperti pengadaan program beras raskin masih ada. Tetapi pengadaannya masih belum merata (belum tepat sasaran) disebabkan oleh pihak pusat yang masih belum sepenuhnya bekerja secara profesional dan maksimal dalam menerapkan program beras raskin. Beliau mengatakan bahwa pendidikan di desa Tanjung Bunga masih terbilang sangat jauh dari kata maju.
Terlihat dari kondisi masyarakatnya yang rata-rata hanya bekerja sebagai petani,
kuli bangunan bahkan hingga saat ini banyak pemuda-pemuda di desa ini yang masih pengangguran.
Berbicara kondisi kesehatan, beliau mengatakan bahwa hingga saat ini puskesmas dan poskesdes sudah tersedia di desa Tanjung Bunga. Namun, terbatasnya biaya serta kurangnya minat masyarakat untuk berobat di pusat pelayanan yang ada di desa menjadi alasan kenapa kondisi kesehatan di desa Tanjung Bunga masih dalam zona mengkhawatirkan.
Kondisi rumah-rumah di desa Tanjung Bunga rata-rata masih menggunakan rumah bantuan dari pemerintah. Meskipun sebagian masyarakatnya sudah ada yang memiliki rumah pribadi atau warisan dari keluarga. Meskipun rumahnya terlihat kecil namun, lingkungan serta suasananya terlihat sejuk dan indah.
Hubungan interaksi social masyarakat memang sangat erat. Komunikasi antarmasyarakat maupun antarkelompok sangat baik. Beliau mengatakan bahwa masyarakat disini memang menanamkan budaya ataupun nilai-nilai moral yang hingga saat ini masih tertanam. Acara adat yang menjadi lambang dari indentitas suatu masyarakat hingga saat ini masih tercermin dan dapat dilihat seperti pesta adat pernikahan. Kondisi masyarakat yang memiliki suku, maupun agama yang berbeda-beda tidak menjadi hambatan untuk selalu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat lainnya. Belum pernah terdengar kabar ada konflik sosial antar suku dan agama yang berbeda.
5.2.2 Informan Kunci II
Nama : Marolop Simangungsong Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 46 tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak
Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan : Toke Ikan
Bapak marolop merupakan seorang kepala keluarga dari keempat anggota keluarganya. Ia memiliki seorang seorang istri dan empat orang anak. Anaknya yang pertama bernama Sandro sedang duduk dibangku kelas 2 SMA,anak yang kedua bernama Rendi sedang duduk dibangku kelas 3 SMP dan yang ketiga bernama Selvi sedang duduk di bangku kelas 1 SMP. Anaknya yang terakhir perempuan masih duduk di bangku kelas 4 SD. saat ini Bapak marolop menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai Toke Ikan.
Setiap harinya ia bersama istri dan kedua anaknya menampung dan menerima hasil tangkapan ikan dari petani KJA. Hal ini merupakan bagian dari pekerjaan utama. Selain sebagai toke ikan, keluarga Beliau memiliki pekerjaan sampingan dengan memelihara ternak yaitu babi. Sebagai toke ikan ia hanya menerima hasil tangkapan di pagi dan sore hari saja. Seperti penuturan beliau :
“Bapak dan Ibu untuk memenuhi kebutuhan setiap hari Bapak dan Ibu dengan cara menerima ikan kemudian menjualnya
kembali, yah hitung-hitung kalau pekerjaannya dilakukan bersama-sama bisa lebih cepat, dan lebih lumayan keuntungannya,dan kadang kami membeli langsung dari pemilik keramba jaring apung agar diberi lebih murah.
Selama bekerja sebagai toke ikan tentunya musim hujan merupakan kendala utama yang umum dirasakan oleh beliau selaku penerima ikan tangkapan.
Bapak mengatakan bahwa jika hujan terjadi selama 1 hari penuh maka saya toke ikan sudah tidak mendapatkan banyak ikan untuk dijual kembali. Kondisi ini sangat berpengaruh kepada penghasilan dan pendapatan setiap harinya. Seperti penuturan beliau :
“Tidak selalu lancarlah nak, apalagi kalau mau hujan tiba-tiba.
Tentu para petani hasil ikannya bekurang otomatis juga pendapatan kesaya juga akan berkurang”.
Pendapatan merupakan penghasilan yang diperoleh oleh seseorang selama seseorang itu bekerja sehingga dapat mempengaruhi ekonomi keluarga. Seperti halnya bapak Marolop yang selama ini memperoleh pendapatan dari hasil kerja kerasnya. Bapak Marolop mengatakan bahwa penghasilan mereka tiap bulannya berbeda-beda.
Kondisi yang demikian yang harus memaksa mereka harus mencari alternatif lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Usaha sampingan pun menjadi alternatif bagi keluarga pak marolop dengan memanfaatkan lahan dibelakang rumah yang kemudian dijadikan sebagai tempat memelihara ternak seperti babi. Saat ini mereka memiliki 5 ekor babi yang ukurannya lumayan besar.
Bilamana keuangan mereka mulai habis, maka pak marolop akan menjual hewan mereka tersebut untuk dapat menutupi kekurangan ekonomi keluarga. Seperti penuturan beliau :
“Rata-rata pendapatan keluarga bapak dalam sebulan tidak menentu nak, tergantung rejeki yang bisa bapak dapatkan dalam satu hari itu. Kalau lagi sepi dan keuangan sudah mulai habis, bapak dan ibu akan menjual ternak yang dipelihara oleh ibu di halaman belakang rumah kami nak. Yah, setidaknya itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga bapak tanpa harus meminjam kepada orang lain”.
Rumah merupakan tempat berteduh dan tempat tinggal bagi setiap insan manusia. Rumah juga merupakan sarana yang utama manusia dapat bertahan hidup. Dari wawancara peneliti dengan bapak marolop yang mengatakan bahwa saat ini dia tinggal dirumah orang tuanya dulu. Namun, telah direnovasi dengan dibuat dapur dan halaman belakang dimanfaatkan sebagai tempat memelihara ternak seperti babi. Kondisi rumah bapak marolop juga kelihatan bersih dan sejuk dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Sumber air bersih dirumah beliau juga tidak ada. Mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditampung untuk diminum dan memasak dan kadang-kadang mengambil langsung dari danau. Seperti keluarga lainnya, bapak Marolop dan kelaurganya mandi dan mencuci di pinggiran danau. Soal tata kelola sanitasi (tempat pembuangan air besar) juga dirumah Bapak marolop hampir sama dengan keluarga lainnya dengan menggunakan tong besar dan dikubur didalam tanah. Beliau juga mengatakan
jika tagihan tiap bulannya tidak sama antara Rp30.000 sampai 40.000 sebulan.
Seperti penuturan beliau :
“Seperti inilah nak, kamu bisa lihat sendiri keadaan rumah ibu.
Rumah ini merupakan peninggalan dari orang tua bapak. Memang ukurannya tidak terlalu besar tetapi yang terpenting bisa ditempati. Kalau Sumber air bersih dirumah bapak tidak ada nak.
Di dusun ini susah mendapatkan air bersih, biasanya kami sekeluarga mengkonsums iair hujan yang ditampung sebagai air minum. Tetapi kalau aktivitas sehari-hari seperti mandi maupun mencuci ya di danaulah nak. Kalau tempat pembuangan air besar sama dengan keluarga lainnya disini nak, menggunakan tong besar yang merupakan bantuan dari pemerintah dan dikubur di dalam tanah. Listrik masih ada kok nak, tapi sering mati. Tagihannya tiap bulan tidak menentu antara 30.000-40.000”.
Pendidikan merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh orangtua dengan cara menyekolahkan anak mereka. Tanpa pendidikan anak tidak akan bisa menjadi seseorang bagi keluarga maupun masyarakat lainnya. Dulunya beliau sekolah hingga SMA tapi tidak mempunyai biaya untuk melanjut ke perguruan tinggi. Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang paling tinggi harus pupus ditengah jalan. Namun, cita-cita beliau berusaha Ia wujudkan melalui kedua anaknya. Dia tidak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya yang hanya tamat SMA dan pada akhirnya cuman bekerja sebagai penambang pasir. Memang biaya sekolah semua anaknya menjadi penghalang utama bagi anaknya untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang paling tinggi. Namun, Bapak marolop
selalu berusaha untuk dapat membiayai setiap kekurangan semua anaknya sehingga tidak berdampak buruk bagi anak-anaknya. di sekolah, cuman anaknya yang pertama yang mendapatkan beasiswa berupa uang saku sebesar 600.000/tiga bulan sekali. Dengan adanya beasiswa tersebut, Bapak marolop merasa terbantu dalam mencukupi kekurangan biaya sekolah anaknya. seperti penuturan beliau :
“Bapak tamatan SMA nak. Dulu sempat berpikir untuk melanjutkan kuliah tapi, kembali kepada ekonomi orangtua yang sangat susah.
Makanya, bapak kerjanya cuman ini. Mau melamar kerjaan tapi tidak punya keahlian. Beginilah nak nasib bapak sekarang. Saat ini bapak cuman mengharapkan anak bapak yang saat ini masih sekolah. Bapak kerja seperti ini pun untuk dapat menyekolahkan mereka. Walaupun bapaknya cuman tamatan SMA tapi harapannya anak bapak bisa menjejaki bangku perkuliahan. Kalau masalah biaya bapak dan ibu berusaha semaksimal mungkinlah nak, yang penting anak-anak bisa sekolah. yahh untung saja anak bapak yang namanya sandro kelas 2 SMa dapat beasiswa sebesar Rp 600.000/tiga bulan itu sudah bisa bantu pendidikannya”.
Bapak marolop mengatakan bahwa setiap harinya mereka makan setidaknya 3 kali sehari. setiap harinya keluarga bapak marolop hanya mengonsumsi ikan asin dan sayuran yang diambil dari kebun di belakang.Dalam seminggu hanya sekali mereka mengonsumsi ikan basah dan ikan arsik yang dimana itu sudah menjadi menu utama keluarga pak marolop. Setidaknya itu dapat menghemat biaya pengeluaran mereka dalam sebulan. Seperti penuturan
beliau :
“Sehari-hari bapak sekeluarga makan seadanya nak, makan 3 kali dalam sehari juga itu sudah sangat bersyukur, dan tidak harus dengan lauk pauk yang mewah. Kalau ada sayuran seperti daun singkong itu cukup di gulai saja untuk jadi lauknya. Tapi sesekali bapak juga akan memebeli ikan laut, yang nanti bisa di goreng ibu dan bisa untuk lauk beberapa hari kedepan. Kalau untuk baju sangat jarang nak, yahh kalau masih bisa dipakai untuk apa beli baru. Paling tidak setahun sekali bapak dan keluarga beli baju baru sebagai kado pergantian tahun saja nak”.
Di dalam keluarga, pak marolop merupakan sosok ayah yang selalu memberikan nasehat dan teguran kepada istri dan anak-anaknya. beliau selalu menjalin komunikasi yang baik dengan anggota keluarganya seperti berteman baik dengan anak-anaknya dengan menanyakan tugas sekolah. tiap minggu mereka selalu mengikuti ibadah di gereja ataupun persekutuan-persekutuan doa yang diadakan di lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan sosial yang diadakan di lingkungan masyarakat juga seperti gotongroyong di desa selalu diikuti. Berikut penuturan beliau :
“Hubungan bapak ibu dan anak-anak ya baik nak. kita selalu kasi nasehat untuk anak-anak untu kebaikan mereka. Bapak juga selalu suruh mereka untuk beribadah setiap minggunya supaya bisa lebih dekat dengan Tuhan dan jadi anak yang baik. Bapak dan ibu juga seperti itu. Selain itu kalau dengan masyarakat disini bapak juga selalu ikut serta dalam setiap kegiatan seperti gotong royong”.
5.2.3 Informan Utama I
Nama : Jonter Naibaho
Jenis Kelamin : laki – laki
Umur : 40 tahun
Agama : Kristen
Suku : Batak
Pekerjaan : Petani KJA
Pendidikan terakhir : SD
Bapak Jonter Naibaho memiliki 4 orang anak,tiga anak laki-laki dan satu perempuan. Setiap harinya, Bapak Jonter Naibaho bekerja sebagai Petani KJA di Desa Tanjung Bunga yang letaknya tidak jauh dari belakang rumah. Jarak tempuhnya pun kurang lebih 30 meter dari tempat tinggal.
Seperti pernyataan beliau :
“Pekerjaan sebagai petani KJA ikan sudah lama saya lakukan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga penghasilan yang didapat juga lumayan untuk keperluan anak sekolah.
Selama bekerja sebagai Petani KJA, Beliau bersama dengan keluarganya mencari dan menyimpan ikan dengan menggunakan metode/cara yang terbilang masih sangat sederhana yaitu dengan menggunakan jaring apung yg sudah dibuat kemudian disimpan didalam keramba yang ada di belakang rumah yang sudah disediakan untuk di jual kepada pembeli.
“Disini nak, bapak dan keluarga biasanya mencari ikan di danau menggunakan cara yang masih tradisonal artinya masih sangat sederhana. Untuk mencari ikan tentunya menggunakan keramba sebagai tempat menyimpan ikan yang ada didanau”.
Kehidupan sebagai petani KJA tentunya sangat bergantung kepada kondisi fisik alam yang memungkinkan untuk menghasilkan banyak ikan. Bukan hanya itu, cuaca menjadi faktor penentu bagi beliau dan keluarga untuk dapat menghasilkan banyak ikan setiap harinya. Cuaca yang ekstrim menjadi kendala utama bagi Petani KJA. Salah satunya yaitu banjir. Berdasarkan penuturan pak Jonter bahwa dulu pernah terjadi banjir yang besar disini selama satu minggu sehingga menyebabkan pekerjaan mereka terganggu. Artinya, jika banjir terjadi otomatis pak Jonter dan keluarga banyak kehilangan hasil tangkapan. Seperti penuturan beliau :
“Kendala utama bagi Ibu dan keluarga dalam bekerja sebagai Petani KJA nak adalah banjir. Jika banjir terjadi hal itu dapat menyebabkan banyak ikan yang lepas kami sekeluarga bahkan keluarga lainnya mengalami kerugian. Dulu pernah terjadi banjir selama seminggu disini nak, dan itu menyebabkan kami sekeluarga tidak dapat keuntungan”.
Aktivitas dalam bekerja sebagai Petani KJA tentunya dapat memberikan dampak ekonomi keluarga. Namun tidak sepenuhnya mampu dapat menutupi kebutuhan keluarga. Dimana penghasilan yang didapatkan saat ini masih tergolong sangat kurang. Seperti penuturan beliau yang mengatakan bahwa :
“Kalau penghasilan Bapak setiap bulan sih nak, tidak menentu.
Istilahnya, tidak ada penghasilan yang jelas. Berbeda seperti PNS atau guru disini yang memiliki penghasilan yang tetap.
Kadang bapak cuman mendapatkan Rp 700.000-Rp 800.000,-/bulan. Namun, jika musim hujan penghasilan Bapak kadang tidak sampai Rp 500.000,-/bulan. Harus bagaimana lagi nak, harga ikan disini sudah tidak seperti dulunya,tapi kalo pas musim panen kadang penghasilan kami itu bisa melonjak naik tinggi hingga mencapai RP.3000.000.
Layaknya kehidupan manusia biasa yang membutuhkan tempat tinggal untuk dapat bertahan hidup. Tentunya rumah menjadi salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Tidak terkecuali Beliau, saat ini dia tinggal disebuah rumah yang bisa dibilang sangat sederhana dan terbuat dari kayu bertembokkan papan dengan ukuran 5x8 petak persegi. Rumah ini merupakan warisan dari keluarga. Lantai rumah hanya dilapisi semen cor dengan beralaskan karpet plastik.
Tak ada ruang ventilasi disetiap pintu atau jendela rumah. Hanya dengan dua jendela dan 1 pintu depan dan pintu belakang rumah. Tak ada kamar tempat
Tak ada ruang ventilasi disetiap pintu atau jendela rumah. Hanya dengan dua jendela dan 1 pintu depan dan pintu belakang rumah. Tak ada kamar tempat