BAB II : TINGKAH LAKU GEOPOLITIK CHINA DI KEPULAUAN
2.3 Kepentingan Nasional Indonesia
Vietnam74
Selain itu, China dengan sewenang-wenangnya melakukan tindakan penyelamatan kapal nelayan yang memasuki Laut Natuna secara ilegal di Natuna, kapal penjaga pantai (coast guard) pemerintah China nekat menerobos perbatasan Indonesia. Tak hanya itu, mereka juga menabrak dan menarik paksa kapal yang baru saja ditangkap operasi gabungan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama TNI AL. Data pemerintah RI menunjukkan koordinat kapal ikan Kway Fey itu berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, ditarik dari tepian Natuna, sesuai dengan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Dia meyakini para pencuri ikan itu beroperasi secara sah di wilayah laut Tiongkok
.
Tidak menuntut kemungkinan, hal serupa akan dilakukan China di kawasan Natuna dengan membangun pulau buatan dan membuat pangkalan militernya untuk menjaga serta menghadang jika ada negara-negara yang ingin menetapkan kawasan tersebut sebagai wilayahnya. Hal ini akan membuat Indonesia semakin terancam kedaulatannya atas perairan dan wilayah Natuna jika benarbahwa China akan membangun pangkalan militernya di wilayah Indonesia.
Hal ini harus diwaspadai oleh pemerintah Indonesia.
75
2.3 Kepentingan Nasional Indonesia .
74 ibid
75Inilah 5 Fakta Arogansi China Yang Bikin Geram Indonesia. Diakses melalui.
http://www.posmetro.info/2016/03/inilah-5-fakta-arogansi-china-yang.html tanggal 15 Juni 2017
Permasalahan Indonesia-China muncul setelah Republik Rakyat China memasukkan daerah Natuna ke dalam wilayahnya dan mereklamasi serta memperluas pulau-pulau kecil Mischief Reef dan Pulau Subi sebagai bagian Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Natuna terdiri dari tujuh pulau, dengan Ibu Kota di Ranai. Pada 1597, kepulauan Natuna sebetulnya masuk dalam wilayah Kerajaan Pattani dan Kerajaan Johor di Malaysia. Setelah Indonesia merdeka, delegasi dari Riau ikut menyerahkan kedaulatan pada republik yang berpusat di Jawa. Pada 18 Mei 1956, Indonesia resmi mendaftarkan kepulauan itu sebagai wilayahnya ke PBB76
1. Perairan Vital (strategis) .
Sebab itu ada permasalahan pokok geopolitik Natuna:
Permasalahan ini terjadi karena kedekatan geografis antara Natuna dengan Laut China Selatan. Perairan Natuna sangat penting bagi Indonesia maupun negara-negara lain yang berada disekitarnya karena perairan Natuna merupakan salah satu perairan vital yang tidak hanya bagi Indonesia melainkan juga bagi kepentingan negara tetangga dan Internasional. Sebagai salah satu jalur perdagangan Internasional yang menghubungan Laut Tiongkok Selatan dengan Samudera Hindia, jalur ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi bagi penggunanya sehingga kemanan lalulintas ini sangat penting.
Perairan Natuna merupakan gerbang utama Republik Indonesia di perairan Laut Tiongkok Selatan yang bersengketa oleh sejumlah negara
ASEAN-76Nabila Arfah dkk. Penyebab Konflik Natuna. Diakses melalui
https://natunanews.wordpress.com/2016/05/25/penyebab-konflik-natuna/ tangggal 13 Juni 2017
Tiongkok. Meskipun Natuna berada di garis terdepan negara, wilayah Natuna sangatlah strategis karena tak hanya saat ini, pentingnya posisi Natuna sudah disadari sejak masa Perang Dunia II.
Kawasan Laut China Selatan yang berada di kawasan perairan Natuna sangat vital bagi China karena kawasan itu merupakan alur pelayaran penting sebagai penghubung komunikasi Utara-Selatan, dan Timur-Barat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi China yang berlangsung sangat pesat beberapa tahun terakhir ini juga membutuhkan sumber-sumber energi baru dari segala penjuru dunia guna mendukung kelangsungan segala macam kegiatan sektor riilnya.
Kepentingan geopolitik China di Natuna itu adalah meluaskan pengaruhnya ke kawasan Asia Pasifik dan sekaligus mengendalikan jalur-jalur pendekat laut ke wilayahnya. Oleh karena itu, kepentingan geopolitik China memiliki keterkaitan yang erat dengan domain maritim, karena jalur-jalur pendekat China adalah melalui laut.
Terkait dengan hal tersebut, China memberikan reaksi keras, baik secara politik maupun operasional, terhadap kehadiran kapal perang asing di Laut China Selatan khususnya kapal perang yang rutin berlayar di perairan tersebut karena dianggap mengancam kedaulatan China atas wilayah tersebut. China memperkuat militernya untuk merespon tindakan-tindakan negara asing yang masuk kewilayah Laut China Selatan.
2. Sumber Daya Alam Natuna
Wilayah perairan kepulauan Natuna juga kaya akan sumber hayati dan terdapat ratusan spesies ikan, hewan air dan terumbu karang. Selain itu, wilayah ini sangat strategis sebagai pangkalan militer dan urat nadi pelayaran internasional. Perlu diketahui bahwa RRT adalah salah satu produsen hasil laut terbesar di planet Bumi. Setiap tahunnya RRT memproduksi sebanyak 17 juta ton hasil laut untuk dikonsumsi dan diekspor. Belum lagi kekayaan yang ada di dalam landas kontinen di daerah Natuna yang kaya akan gas bumi yang sangat besar.
Kepulauan Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di Dunia. Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680 barel. Kawasan laut Natuna juga merupakan salah satu jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan menjadi lintasan laut internasional bagi kapal-kapal yang datang dari Samudera Hindia memasuki negara-negara industri di sekitar laut tersebut dan juga menuju Samudera Pasifik77
77 ibid
. Akan tetapi, China selama ini mengklaim kedaulatan di hampir seluruh wilayah Laut China Selatan. Dalam hal wilayah, China mengklaim 90% wilayah perairan Laut China Selatan seluas 3,6 juta kilometer persegi. Klaim itu didasari pada peta kuno armada laut China pada abad kedua sebelum Masehi pada masa dinasti Qin dan dinasti Han. Kemudian dari tahun 960 sampai 1368, orang-orang China memperluas aktivitasnya ke perairanan pulau Zhongsha dan Nansha. Aktivitas-aktivitas China berlanjut terus sampai tahun 1911, dimana wilayah kegiatannya sudah mencakup semua pulau di Laut China Selatan.
Luas perairan Natuna yang meliputi 99 persen kabupaten itu memiliki potensi perikanan lebih dari setengah juta ton per tahun. Kawasan ini menjadi daerah yang paling rawan praktek illegal fishing karena letakknya yang strategis dan berbatasan langsung dengan delapan negara. Kapal-kapal China termasuk yang melirik potensi Natuna dan berulang kali didapati melakukan penangkapan ikan secara ilegal. Natuna pantas menyandang predikat sebagai poros maritim Indonesia mengingat kekayaan sumber daya alam dan letak geografisnya yang strategis.78
Setelah itu, pada bulan April 2016, kapal-kapal nelayan RRC ditangkap pihak Indonesia di wilayah ini, dan pihak Indonesia membakar serta meledakkan 2.1 Illegal fishing
Sumber Daya Alam (Laut) yang berada di perairan Natuna membuat China cukup agresif melakukan Illegal Fishing di Natuna. Ini terbukti dari, Kapal penjaga pantai China nekat memasuki Laut Natuna dan mengintervensi aparat Indonesia agar melepaskan nelayan negara mereka yang mencuri ikan di Natuna.
Kapal tersebut berwarna putih terang dengan tulisan China Coast Guard di lambung kapal, ditambah tulisan mandarin di bagian belakangnya. Di atasnya nampak bendera China, dengan lambang bintang di bagian atasnya. Mereka nampak mengikuti pergerakan KP Hiu milik Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tidak dijelaskan berapa lama kapal milik AL China tersebut terus membututi aparat keamanan Indonesia.
78 Widyanita. Kenapa Kapal China Incar Natuna?. Diakses melalui
http://katadata.co.id/grafik/2016/03/24/kenapa-China-incar-natuna pukul 18:08 tanggal 02 Mei 2017
kapal-kapal nelayan RRC dan juga negara lainnya untuk dijadikan rumpon agar ikan-ikan tetap berkumpul diwilayah itu. Setelah kejadian itu, kapal-kapal nelayan RRT mulai dikawal oleh kapal penjaga pantai (Coast Guard) milik RRC.
2016 lalu, kapal nelayan RRC ditangkap di perairan ZEE Indonesia. Pada saat itu terdapat peta di dalam kabin kapal RRC yang membuktikan bahwa wilayah tempat mereka mencari ikan memang perairan ZEE Indonesia. Bukti ini sudah jelas bahwa mereka melanggar batas zona ZEE indonesia.
Pada konflik 17 Juni 2016, sebuah kapal penjaga pantai China kembali ingin mencoba peruntungannya, untuk melindungi kapal-kapal nelayan mereka yang mencuri ikan di Laut Natuna, Kepulauan Riau. Sebelumnya, trik mengusung kapal Coast Guard di Natuna berhasil, setidaknya untuk menggertak kapal penjaga pantai Indonesia dari satuan non militer alias bukan dari kesatuan TNI.
Namun kali ini, trik mereka itu tidak mempan. Kapal Chinese Cost Guard bernomor lambung 3303 yang mencoba melindungi kapal-kapal pencuri ikan dari China, dihadang kapal perang TNI AL, KRI Todak 631. Kapal Chinese Cost Guard 3303 akhirnya memilih menyingkir dan tidak meladeni KRI Todak yang menjaga garis depan laut Indonesia. Padahal kedua kapal inisempat saling berhadapan, berawal saat TNI AL menangkap kapal berbendera RRC, Han Tan Cou 19038, beserta tujuh awak kapal. Kapal itu adalah salah satu dari 12 kapal yang mencuri ikan di kawasan Natuna. Dalam penangkapan kapal tersebut, Kapal
Coast Guard China sempat meminta agar kapal nelayan Han Tan Cou dilepaskan.
Namun, permintaan itu tidak digubris79
Tampak kapal Chinese Cost Guard 3303 yang akhirnya memilih menyingkir dan tidak meladeni manuver berani KRI Todak 631 yang maju ke depan ketika menjaga garis depan laut Indonesia di wilayah perairan Kepulauan Natuna bagian utara setelah berhasil menangkap kapal nelayan RRC, Han Tan Cou 19038. Karena insiden ini pihak Menlu RRC protes keras kepada Indonesia.
Dalam protes yang dimuat kantor berita Prancis AFP, juru bicara Kementerian luar negri RRC mengatakan, bahwa perairan laut utara Natuna termasuk wilayah penangkapan ikan tradisional mereka sehingga penangkapan tersebut melanggar hak
.
80
Dalam perkembangannya, pihak Republik Rakyat Tiongkok (RRT) selalu menyatakan, bahkan tidak pernah merasa keberatan terhadap kepemilikan Kepulauan Natuna oleh Indonesia, akan tetapi perairannya adalah milik RRT sebagai kawasan penangkapan ikan nelayannya secara tradisional. Hal inilah yang sampai sekarang masih menjadi sengketa dan tanda tanya, karena tidak adanya kejelasan serta penegasan dari pihak Indonesia bahwa laut Natuna termasuk wilayah teritorial Indonesia. Sebagai konsekuensi dari klaim tumpang-tindih di Perairan Natuna tersebut, Indonesia dan RRT telah berulang-ulang kali
.
79 Anggi Kusumadewi, “Jika dibiarkan China akan kuasai Laut Natuna” dalam
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160628103959-20-141458/staf-ahli-luhut-jika-dibiarkan-chinakuasai-laut-natuna/ pada tanggal 20 Februari 2017
80 ibid
diperhadapkan pada konflik skala kecil, berupa penangkapan kapal-kapal nelayan RRT memasuki perairan Natuna milik Indonesia dan menangkap ikan secara illegal. Bahkan tindakan militerpun sudah dilakukan, berupa penenggelaman kapal RRT yang tertangkap, serta penembakan dan peledakan kapal nelayan RRT oleh kapal patroli Indonesia, diatas perairan Natuna81
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa Masuknya kapal-kapal China ke wilayah perairan Indonesia dan adanya perlindungan dari kapal patroli mereka, telah menunjukkan adanya upaya untuk menentang hukum laut internasional, khususnya terkait dengan Zona Ekonomi Eksklusif milik Indonesia. Atas dasar kondisi itu memang sudah sewajarnya pemerintah Indonesia kemudian memberikan teguran yang keras kepada pemerintah China. Ini juga sebagai salah
.
Dari kejadian illegal fishing yang dilakukan oleh kapal China berujung pada protes resmi dari pemerintah Indonesia karena upaya penindakan yang ingin dilakukan oleh tim KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dihalang-halangi oleh kapal patroli milik badan keamanan laut (coastguard) China. Kapal penjaga pantai (coast guard) milik Angkatan Laut China nekat menerobos perbatasan.
Bukan hanya itu, mereka juga menabrak dan menarik paksa kapal yang baru saja ditangkap operasi gabungan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama TNI AL. Akibat ulah dari kapal coast guard China yang menerobos masuk ke wilayah perairan Natuna Indonesia. Hal ini membuat pemerintah Indonesia kini berencana meningkatkan pengamanan wilayah perbatasan itu.
81 ibid
satu bukti High Profile China yang semakin menjadi-jadi dan berdampak pada keikutsertaan negara-negara besar seperti AS dan Jepang dalam menghalangi penguasaan China dalam kawasan Laut China Selatan.
2.4 Respon Pemerintah Indonesia Terhadap Sikap China di Perairan Natuna
Tindakan-tindakan ambisius China yang dilakukan di perairan Natuna membuat Pemerintah Indonesia melayangkan nota protes kepada Pemerintah China terkait masuknya kapal penangkap ikan KM Kway Fey 10078 dan kapal coastguard atau keamanan laut milik negara itu ke kawasan perairan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Tiga protes yang disampaikan Indonesia ada 3 hal yaitu: Pertama, Indonesia memprotes pelanggaran yang dilakukan kapal keamanan laut China terhadap hak berdaulat atau yurisdiksi Indonesia di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan di landas kontinen. Kedua, Indonesia memprotes terkait pelanggaran terhadap upaya penegakan hukum yang dilakukan aparat Indonesia di wilayah ZEE dan di landas kontinen. Ketiga, Indonesia memprotes pelanggaran terhadap kedaulatan laut teritorial Indonesia oleh kapal keamanan laut China.Sekaligus juga menekankan mengenai pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982. Dan
menyampaikan bahwa Indonesia bukan merupakan claimant state (negara yang bersengketa) atas konflik yang ada di Laut China Selatan.82
Nota protes tersebut disampaikan secara tertulis kepada kuasa usaha sementara Kedubes China di Jakarta karena Dubes China untuk Indonesia Xie Feng sedang berada di negara asalnya. Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendeteksi adanya pergerakan kapal yang diduga menangkap ikan secara ilegal di perairan Natuna, Sabtu (19/3/2016) sekitar pukul 14.15 WIB83. Kapal tersebut diketahui sebagai KM Kway Fey yang berbendera China.
Kemudian, kapal milik KKP, yakni KP Hiu 11, mendatangi kapal motor tersebut dan mengamankan delapan awak buah kapal (ABK). Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, meskipun kejadian itu ada di wilayah perbatasan, kapal tersebut dinyatakan telah berada di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Kemudian, saat KM Kway Fey akan dibawa petugas KKP, tiba-tiba datang kapal coastguard China yang datang mendekat dan menabrak Kway Fey dengan dugaan agar kapal ikan asal China tersebut tidak bisa dibawa ke daratan Indonesia. Untuk menghindari konflik, petugas KKP meninggalkan Kway Fey dan kembali ke KP Hiu 11 dan hanya berhasil membawa delapan ABK84
Pemerintah China pada Senin (21/3/2016), mengakui wiilayah perairan Natuna milik Indonesia. Pengakuan itu muncul setelah Menteri Luar Negeri
.
82 Sabrina Asril. Layangkan Nota Protes Ke China, Indonesia Sampaikan 3 Hal. Diakses melalui
http://nasional.kompas.com/read/2016/03/21/15584441/Layangkan.Nota.Protes.ke.China.Indonesia.Sampaika n.Tiga.Hal tanggal 11 Juni 2017
83 Ibid.
84 ibid
(Menlu) Indonesia Retno LP Marsudi memprotes keras tindakan kapal nelayan China yang masuk Natuna untuk mencuri ikan. Semula, Kedutaan Besar China di Jakarta, memprotes penangkapan kapal dan delapan anak buah kapal (ABK) China oleh aparat keamanan Indonesia. Kedubes China bahkan mengklaim penangkapan itu terjadi di perairan milik China. Padahal, Indonesia berulang menegaskan, perairan Natuna, sepenuhnya milik Indonesia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, akhirnya memberi penegasan soal kepemilikan Indonesia atas perairan Natuna.
Setelah Nota protes dilayangkan, Indonesia memperkuat posisi militernya dikawasan Natuna dengan membangun pangkalan militer Indonesia di Pulau terdepan Natuna. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan sikap Indonesia yang menentang keras adanya sikap semena-mena China terhadap kawasan perairan Natuna dan Kepulauan Natuna. Latihan militer sudah mulai dilakukan di pulau Natuna dan penjagaan perairan juga di perketat untuk menghadang kembalinya kapal China yang ingin melakukan pelayaran dan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Natuna.
Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan rencana untuk meningkatkan kemampuan pertahanan di wilayah perairan Natuna dan pengembangan Landasan Udara (Lanud) Ranai. Lanud itu akan dapat didarati oleh pesawat tempur jenis F-16 dan Sukhoi. Indonesia tetap menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan
Natuna dan juga akan dibangun pangkalan TNI Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan Darat di Natuna guna mengokohkan posisinya di wilayah NKRI. 85
Hal ini membuat pemerintah berkunjung ke pulau untuk memimpin rapat terbatas (ratas) tentang pengembangan potensi ekonomi daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa internasional. Dalam kunjungan kerja pertamanya ke Natuna, Pemerintah akan memimpin ratas yang membahas Pengembangan Potensi Ekonomi Kepulauan Natuna di atas Kapal Republik Indonesia (KRI) Imam Bonjol yang berlayar di perairan Natuna86
Presiden kembali datang ke Natuna untuk menyaksikan static show peralatan tempur. Selain itu, Presiden juga menyaksikan Manuver Latihan Tempur Angkasa Yudha 2016. Jokowi juga menyempatkan diri meninjau Cold Storage Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu. Jokowi menaruh perhatian pada kawasan Natuna. Selain menjadi salah satu wilayah terdepan Indonesia, segala potensi yang ada juga ingin dimaksimalkan
.
87
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
.
Hal itu berawal dari landasan dan tujuan negara yang termasuk dalam alinea 4 Pembukaan UUD 1945, yakni:
85 PanglimaTNI Tegaskan Kedaulatan NKRI di Natuna. Diakses melalui https://jakartagreater.com/panglima-tni-tegaskan-kedaulatan-nkri-di-natuna/ tanggal 15 Juni 2017
86Jokowi Kunjungi Natuna Pertama Kali. Diakses melalui http://www.rappler.com/indonesia/137378-jokowi-kepulauan-natuna-kri-imam-bonjol tanggal 21 Juni 2017
87 Ahmad Romadoni. Presiden Jokowi Terbang ke Natuna Pagi Ini. Diakses melalui
http://news.liputan6.com/read/2957017/presiden-jokowi-terbang-ke-natuna-pagi-ini tanggal 21 Juni 2017
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yangberkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan berasab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwa-kilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan srosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Dengan terganggunya serta terusiknya kepulauan Natuna dalam sengketa Laut China Selatan pastinya akan berdampak terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi, kerena Indonesia sendiri memiliki sumber daya yang melimpahh seperti eksplorasi pertambangan minyak dan gas bumi yang ada di kawasan ZEE tersebut.
Dalam peraturan lain juga dijelaskan bahwa dalam UU ZEE dijelaskan bahwa lingkungan laut diperairan yang berada di bawah kedaulatan dan yuridiksi Republik Indonesia harus dilindungi dan dilestarikan. Dalam ketentuan umum juga dijelaskan bahwa perlindungan dan pelestarian lingkungan laut adalah segala upaya yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara keutuhan ekosistem laut di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Dilihat dari beberapa peraturan diatas yang mewajibkan Negara untuk melindungi kedaulatan rakyat serta kedaulatan wilayah maka dapat disimpulkan
bahwa betapa pentingnya kedaulatan Negara untuk terus dijaga dan dilindungi.
Dengan adanya pengklaiman ini sangat berakibat pada ketahanan dan keamanan Negara Indonesia. Ketahanan Negara akan terganggu oleh adanya konflik ini apabila negara terus bertoleransi dan tidak bersikap tegas terhadap hal-hal yang mengganggu keamanan dan kedaulatan Negaranya. Selain itu Negara kita akan dipandang lemah dan tidak mampu melindungi wilayahnya sendiri oleh Negara-negara lain. Dengan dipandang lemah tersebut, maka kemungkinan bahwa kita selamanya akan dianggap rendah oleh Negara-negara lain. Semakin berkurangnya sedikit demi sedikit wilayah teritorial kita juga menjadi salah satu dampak adanya pengklaiaman wilayah. lebih ekstrim lagi, masyarakat Indonesia tidak akan percaya lagi pada pemerintah karena kasus ini. Tujuan Negara yakni untuk melindungi keutuhan NKRI menjadi tersendat dan tidak berjalan sesuai rencana.
BAB III
ANALISIS KEBIJAKAN LUAR NEGERI CHINA TERHADAP KEPULAUAN NATUNA DI LAUT CHINA SELATAN
Setelah memaparkan teori, data-data dan informasi yang berkenaan dengan,tingkah laku geopolitik China di kepulauan Natuna yang meliputi kegiatan konflik di Laut China Selatan, Perikanan di Natuna, Kepentingan Nasional Indonesia, dan respon pemerintah Indonesia terhadap sikap China di Perairan Natuna dalam bab sebelumnya. Selanjutnya peneliti akan memaparkan analisis tentang kebijakan luar negeri China terhadap kepulauan Natuna di laut China selatan.
Dalam menganalisis kebijakan luar negeri China terhadap kepulauan Natuna di laut China selatan akan menggunakan konsep kebijakan politik luar negeri, dan konsep geopolitik yang nantinya akan menghasilkan analisis yang objektif terhadap informasi dan data-data yang didapat tentang pengklaiman kepulauan Natuna oleh kebijakan politik luar negeri China secara sepihak pada tahun 2009 dimulai dari munculnya nine dash line dan dampaknya terhadap kedaulatan NKRI. Data-data yang dipaparkan dalam bab ini diperoleh dari Jurnal, berita, buku dan website resmi yang berkaitan dengan data yang dicari oleh peneliti.
3.1 Kebijakan Politik Luar Negeri China
Secara umum kajian tentang kebijakan Luar Negeri China berfokus pada teori serta proses pengambilan keputusan. Ada juga kajian yang melihat pergeseran aktor, pergeseran kebijakan, dan perubahan proses politik yang terjadi di dalam negeri China yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam isu internasional dan isu regional yang dianggap strategis untuk China.
Mark R. Amstutz mengemukakan bahwa kebijakan luar negeri merupakan explicit and implicit actions of governmental officials designed to promotenational interests beyond a country’s territorial boundaries.88
Dari teori tersebut Kebijakan luar negeri China pada intinya memuat tiga hal, yaitu: Pertama: Sistem pengambilan keputusan luar negeri China bercirikan model pengambilan keputusan yang menitiberatkan kekuasaan pada pemerintah
Dari teori tersebut Kebijakan luar negeri China pada intinya memuat tiga hal, yaitu: Pertama: Sistem pengambilan keputusan luar negeri China bercirikan model pengambilan keputusan yang menitiberatkan kekuasaan pada pemerintah