BAB III ANALISIS DOMINASI KEKUATAN EKONOMI DALAM
3.3 Kepentingan Pemilik Modal Dalam Pemilihan Kepala
Pada pemilihan Kepala Desa Simare pada hari selasa tanggal 05 Oktober 2010, tidak terlepas dari peran para wiraswasta yang dalam hal ini para pemilik modal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada setiap proses pemekeran desa sampai pada pemilihan kepala desa, pemilik modal sangat berperan penting pada setiap prosesnya. Dominasi dari pemilik modal dalam pemekaran desa sangat berpengaruh pada penentuan calon Kepala Desa.
Pemilik modal yang telah memiliki kekuasaan pada sektor ekonomi, dan dengan kekuasaan ekonomi para pemilik modal mempunyai pengaruh pada masyarakat untuk melaksanakan apa yang menjadi kehendak dari pemilik modal. Pengaruh tersebut adalah bukan hanya dalam hal proses pemekeran desa dan juga pada pemilihan kepala desa. Dimana pada pemilihan Kepala Desa, para pemilik modal saling membantu dalam pemenangan calon Kepala Desa Simare.
Pemilihan Kepala Desa yang merupakan perebutan kekuasaan politik di desa, dimana kekuasaan politik tentunya akan sangat berdampak pada pembangunan desa tersebut. Di samping itu dengan adanya kekuasaan politik yang mengikat, tentunya akan sangat berpengaruh pada sektor ekonomi pemegang kekuasaan politik atau Kepala Desa, dan juga terhadap kelompok-kelompok yang mendukungnya. Hal inilah yang terjadi di Desa Simare, dimana ada kelompok- kelompok yang dalam hal ini adalah wiraswasta atau pemilik modal yang memanfaatkan pengaruhnya di masyarakat dengan melakukan pemekaran desa,
yang tujuannya adalah untuk mendapatkan kekuasaan politik di Desa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak Parasian Tampubolon62,
“ Para elit ekonomi yang mendorong terbentuknya pemerintahan desa tentunya mempunyai tujuan tersendiri. Hal ini mengacu pada gencarnya para elit ekonomi dalam melobi pemerintahan kabupaten untuk memuluskan pemekaran Desa Simare, yang nantinya semakin mempermudah pembangunan ke Desa Simare. Di samping itu, para wiraswastaan juga melakukan lobi kepada pimpinan PT. Toba Pulp Lestari sektor Habinsaran, supaya semakin memperbanyak lahan penanaman ekaliptus yang akan dikerjakan oleh para wiraswastaan ”.
Tidak jauh berbeda dengan penjelasan sebelumnya, bahwa kepentingan pemilik modal yakni para elit ekonomi berkepentingan dalam tubuh pemerintahan. Dimulai dengan usaha pemekaran desa, ikut ambil bagian dalam pemilihan kepala desa, hingga ketika pemerintahan desa sudah terbentuk maka para elit dapat ikut ambil bagian dalam pemerintahan desa. Sehingga sangatlah penting bagi para elit agar calon yang didukungnya harus menang.
Semua hal tersebut bukan tanpa alasan. Secara praktis, hal ini akan memberikan beberapa kemudahan bagi para elit dalam bidang usahanya maupun untuk ikut ambil bagian dalam proses berjalannya pemerintahan. Contoh kecil misalnya, apabila calon yang didorong oleh para elit menang menjadi kepala desa, maka akan memberi dampak dalam pembagian lahan ekaliptus yang dulunya
62
Wawancara dengan Bapak Parasian Tampubolon, karyawan PT. Toba Pulp Lestari pada tanggal 10 Oktober 2015 di Desa Simare
merupakan lahan yang digunakan masyarakat untuk menanam kopi dan juga kemenyan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Bapak Parasian Tampubolon63,
“ Wilayah yang dekat dengan dusun Simare dan dusun Pardomuan Nauli, yang dulunya merupakan lahan ladang kopi masyarakat sekarang sudah menjadi lahan ekaliptus. Disamping itu, wilayah di dusun Natinggir yang berbatasan langsung dengan desa Sipahutar, yang dulunya merupakan tanaman kemenyan saat ini juga sudah menjadi lahan ekaliptus ”.
Seiring berjalannya proses pemilihan kepala desa yang diikuti dengan pengaruh elit di dalamnya, maka mudah ditebak bahwa perangkat pemerintah desa dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan akan menguntungkan ataupun memudahkan para elit ekonomi. Hal ini sesuai dengan penjelasan Bapak Parasian Tampubolon64,
“ Para elit ekonomi yang berperan dalam pemekeran desa Simare dan juga yang mendominasi struktur pemerintahan desa, dimana dengan menguasai pemerintahan desa membuat para elit ekonomi dengan mudah untuk melakukan setiap kebijakan yang berkaitan langsung dengan setiap kepentingan para elit ekonomi. Kepentingan ini termasuk pada pembagian lahan-lahan yang menjadi area kerja PT. Toba Pulp Lestari, dan juga pengurusan administrasi pembuatan bidang usaha dari para elit ekonomi”.
63
Wawancara dengan Bapak Parasian Tampubolon, karyawan PT. Toba Pulp Lestari pada tanggal 10 Oktober 2015 di Desa Simare.
64
Wawancara dengan Bapak Parasian Tampubolon, karyawan PT. Toba Pulp Lestari pada tanggal 10 Oktober 2015 di Desa Simare.
Semua kepentingan dari para pemilik modal nantinya akan mempengaruhi setiap kebijakan-kebijakan pemerintah desa, khususnya kebijakan yang berkaitan dengan usaha para elit. Sehingga tidaklah sulit untuk menemukan bagaimana sistem pemerintahan desa yang memberikan kemudahan-kemudahan bagi para elit, bila memandang peran mereka dalam pemilihan kepala desa dan memberi pegaruh kepada masyarakat desa Simare dimana dengan terbentuknya pemerintahan desa Simare mengalami banyak kemajuan terutama dibidang ekonomi yang tidak terlepas dari peran elit ekonomi. Seperti pernyataan bapak Walmiden Hutapea65,
“ Elit ekonomi berperan penting sebagai penghubung antara masyarakat dengan PT. Toba Pulp Lestari dan juga elit ekonomi memberi penjelasan kepada masyarakat termasuk saya sendiri bagaimana cara pembagian hasil dari penanaman, perawatan sampai pada penebangan pohon ekaliptus yang membawa keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat “.
Dari pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa elit ekonomi berpean dalam kemajuan Desa Simare dimana elit ekonomi sebagai penghubung antara masyarakat dengan PT. Toba Pulp Lestari dan juga yang memberi penjelasan kepada masyarakat mengenai pembagian hasil dari proses perkebunan tanaman pohon ekaliptus yang hal ini memberi keuntungan bagi masyarakat, dimana masyarakat memperoleh keuntungan dari proses penanaman, perawatan hingga
65
Wawancara dengan Bapak Walmiden Hutapea, masyarakat desa Simare pada tanggal 19 Maret 2016 di Desa Simare.
proses penebangan pohon ekaliptus. Hal ini juga diperjelas dengan pernyataan dari bapak Walmiden Hutapea yang mengatakan bahwa66,
“ Iya, saya sudah merasakan hasil dari kerjasama tersebut. Dimana saat ini saya sudah bisa membangun rumah dan juga membeli kendaraan roda dua dan hal ini sangat membantu saya “.
Dari pernyataan – pernyataan diatas dapat diketahui bahwa PT. Toba Pulp Lestari dan juga elit ekonomi yang sudah menjadi bagian dari pemerintahan di Desa Simare, hanya dapat mengembangkan ekonomi masyarakat yang memiliki kerjasama dengan PT. Toba Pulp Lestari. Dalam hal ini, masyarakat di Desa Simare tidak hanya masyarakat yang mempunyai lahan untuk ditanami pohon ekaliptus, tetapi ada masyarakat lainnya yang merupakan petani yang tidak memiliki lahan untuk dialihfungsikan menjadi tanaman pohon ekaliptus.
Dalam hal ini elit ekonomi yang memegang pemerintahan desa dianggap mengenyampingkan masyarakat petani dan hal ini menjadi penyebab terjadinya kesenjangan antara petani dengan masyarakat yang bekerja untuk elit ekonomi. hal ini sesuai dengan pernyataan dari Bapak Pasal Manalu67,
“ Setelah pemekaran memang berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Akan tetapi saya dan sebagian masyarakat lainnya yang masih bertani belum merasakan perkembangan tersebut dikarenakan sampai saat ini pun saya sulit memperoleh pupuk pertanian, dan ini membuat hasil pertanian kami kurang menguntungkan “.
66
Wawancara dengan Bapak Walmiden Hutapea, masyarakat desa Simare pada tanggal 19 Maret 2016 di Desa Simare.
67
Wawancara dengan Bapak Pasal Manalu, masyarakat desa Simare pada tanggal 19 Maret 2016 di Desa Simare.
Berdasarkan pernyataan diatas yang dinyatakan oleh dua pihak yang berbeda mengenai dampak dari pemekaran dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Simare menjelaskan bahwa, ada perbedaan dari elit ekonomi yang juga merupakan bagian dari pemerintahan desa Simare dalam hal meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Simare. Dimana elit ekonomi sebagai bagian dari pemerintahan Desa Simare lebih mengutamakan pertumbuhan perekonomian masyarakat yang bekerjasama dengan PT. Toba Pulp Lestari dibandingkan dengan masyarakat yang bekerja sebagai petani yang tidak memiliki lahan untuk dialihfungsikan menjadi tanaman pohon ekaliptus.
BAB IV PENUTUP
4.1KESIMPULAN
1. Sumber daya kekuasaan sebagai hal yang tentunya harus terpenuhi terlebih dahulu untuk mencapai kekuasaan politik. Seperti artian yang ada dalam tipe sumber daya ekonomi yang merupakan salah satu dari sumber kekuasaan dimana dalam hal ini diartikan bahwa mereka yang memiliki kekayaan dalam jumlah yang besar, setidak-tidaknya secara potensial akan memiliki kekuasaan politik. Seperti halnya dalam penelitian ini yang dilakukan di desa Simare bahwa elit yang memprakarsai pemekaran desa Simare merupakan elit ekonomi dimana elit ekonomi ini memiliki kekayaan secara ekonomi, dan dengan sumber daya kekayaan yang dimiliki oleh elit ekonomi mempermudah para elit ekonomi yang ada di desa Simare untuk mendapatkan kekuasaan politik dalam artian membentuk pemerintahan desa.
2. Dalam suatu pemerintahan yang menganut sistem demokrasi, tidak terlepas dari keberadaan elit. Dimana elit akan berperan penting dalam berjalannya demokrasi. Sebagai kelompok yang mempunyai keistimewaan, tentunya elit dapat mempengaruhi masyarakat. Seperti yang diambil dari teori Huky yang mengatakan bahwa elit karena kekayaan menjadi suatu sumber untuk mendapatkan kekuasaan. Dimana elit karena
kekayaan dapat mengontrol masyarakat di sekitarnya. Seperti yang terjadi dalam proses Pemilihan Kepala Desa Simare bahwa elit ekonomi yang ada didesa Simare mendominasi proses Pemilihan Kepala Desa dimana elit ekonomi inilah yang menjadi calon kepala desa Simare. Disamping itu para elit ekonomi yang ada di desa Simare memobilisasi masyarakat untuk memilih calon kepala desa Simare.
3. Proses pemilihan kepala desa Simare yang didominasi oleh elit ekonomi yang mempunyai kekuasaan untuk mengontrol masyarakat dalam membentuk pemerintahan desa. Dimana dengan adanya pemerintahan desa akan mempermudah elit ekonomi untuk mengalihfungsikan lahan yang ada dimana lahan tersebut pada awalnya merupakan lahan tanaman kopi dan pohon kemenyan yang kemudian beralihfungsi menjadi tanaman pohon ekaliptus yang merupakan bahan dasar pembuatan bubur kertas oleh PT. Toba Pulp Lestari. Dalam hal ini elit ekonomi yang ada di desa Simare merupakan mitra kerja dari PT. Toba Pulp Lestari dimana sebagai mitra kerja elit ekonomi ini yang mengerjakan mulai dari penanaman, perawatan sampai pada penebangan pohon ekaliptus tersebut. Hal inilah yang menjadikan hubungan antara elit ekonomi yang ada di Desa Simare dengan PT. Toba Pulp Lestari saling menguntungkan.
4. Dampak positif pemekaran terhadap masyarakat Desa Simare yaitu dengan adanya pemekaran Desa Simare adanya perkembangan infrastruktur yang menunjang perekonomian masyarakat, dan sistem administrasi semakin
lancar dimana hal ini memberi kemudahan bagi lapisan masyarakat Desa Simare. Dimana hal ini merupakan ciri dari keberhasilan pemekaran yang sangat berdampak terhadap masyarakat. Selain berdampak positif, pemekaran juga membawa dampak negatif yang dianalisis dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber masyarakat Desa Simare tentang pemerintahan desa yang dianggap oleh sebagian masyarakat tidak membawa dampak positif bagi masyarakat itu, benar bahwa keberhasilan pemekaran dapat dilihat dari perbaikan infrastruktur yang menjadi kebutuhan utama masyarakat namun dalam hal ini elit ekonomi yang dianggap sebagai pemrakarsa pemekaran yang juga sebagai bagian dari pemerintahan desa ternyata belum merangkul seluruh lapisan masyarakat Desa Simare yang dibuktikan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan desa yang lebih mengutamakan kepentingan elit ekonomi, dimana elit ekonomi tersebut merupakan mitra kerja PT. Toba Pulp Lestari.
4.2SARAN
1. Dalam hal ini di desa Simare diperlukan elit-elit ekonomi yang baru untuk memajukan desa Simare di bidang lain setelah adanya pemekaran.
2. Elit-elit ekonomi yang juga sebagai pemegang pemerintahan yang ada di desa Simare harus lebih memperhatikan pengembangan masyarakat yang bertani.
BAB II
DESKRIPSI LOKASI DAN PROFIL ELIT LOKAL YANG BERPENGARUH DI DESA SIMARE
2.1 Gambaran Umum Desa Simare
Desa Simare merupakan salah satu desa dari 15 desa yang berada di Kecamatan Bor Bor, Kabupaten Toba Samosir. Desa Simare merupakan salah satu desa pemekaran dari desa induknya, yaitu desa Lintong pada tahun 2009. Dan sebagai penjabat sementara kepala desanya adalah Naek Hutapea. Desa Simare terletak di bagian timur Kabupaten Toba Samosir, dengan luas wilayah adalah 1380 ha, dimana 66% berupa daratan tinggi berbukit, dan 34% merupakan wilayah persawahan. Desa Simare terletak di ketinggian 1280 s/d 1290 m diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata harian adalah 250C.
Secara umum, mata pencaharian masyarakat Desa Simare adalah bertani, berkebun dimana hasilnya berupa kopi dan kemenyan, serta bertanam tanaman muda seperti cabai, tomat, jahe, dan ubi. Tingkat kemiringan tanah di Desa Simare adalah 30 sampai dengan 40 derajat. Menurut bentangan wilayahnya, Desa Simare termasuk jenis desa berbukit-bukit dan desa bantaran sungai.33
Terletak di sebelah timur wilayah Kabupaten Toba Samosir, Desa Simare masuk ke dalam wilayah Kecamatan Bor Bor. Desa Simare berbatasan langsung dengan 3 desa yang berbeda kecamatan di Kapubaten Toba Samosir, dan 1 desa
33
yang berada di Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara. Desa Simare mempunyai batas-batas wilayah yang dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1
Batas wilayah Desa Simare
Batas Desa/ Kelurahan Kecamatan
Sebelah Utara Desa Pardomuan Silaen
Sebelah Selatan Desa Sipahutar Sipahutar Sebelah Timur Desa Parsoburan Barat Habinsaran Sebelah Barat Desa Sintong Marnipi Laguboti Sumber Data : Kantor Kepala Simare
Jarak Desa Simare ke Ibukota Kecamatan Bor Bor adalah 35 Km. Lama jarak tempuh dari Desa Simare ke Ibukota Kecamatan Bor Bor adalah 1 jam dengan kendaraan bermotor. Jarak Desa Simare Ibukota Kabupaten Toba Samosir adalah 56 Km. Lama jarak tempuh dari Desa Siamre ke Ibu Kota Kabupaten Toba Samosir adalah 1 jam dengan kendaraan bermotor. Jarak Desa Simare ke Ibukota Provinsi Sumatera Utara adalah 250 Km. Lama jarak tempuh dari Desa Simare ke Ibukota Provinsi Sumatera Utara adalah 6 jam dengan kendaraan bermotor.34
Desa Simare terdiri atas 5 jenis wilayah menurut penggunaannya yaitu, pemukiman, persawahan, perkebunan, kuburan, dan pekarangan. Wilayah Desa Simare berdasarkan luas wilayah menurut penggunaan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut ini.
34
Tabel 2.2
Luas Wilayah Menurut Penggunaan
No Jenis Wilayah Luas
1 Sawah 352 Ha
2 Ladang 266 Ha
3 Permukiman 287 Ha
4 Perkantoran
a. Kantor Kepala Desa b. Polindes
c. Gereja
d. Jalan Umum/Jalan Desa
1 Ha 1Ha 2Ha 3Ha 5 Perkebunan 468 Ha 6 Total Luas 1380 ha
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Simare
Data tabel luas wilayah menurut penggunaan diatas membagi – bagi wilayah menjadi lima bagian dimana wilayah daerah perkebunan memiliki area terluas dengan luas 468 Ha. Wilayah ladang dan perkebunan merupakan wilayah perbukitan sehingga sangat cocok untuk tanaman keras seperti andaliman, kopi, jahe, pohon kemenyan dan cabai.
Pada awalnya Desa Simare merupakan sebuah dusun dari desa Lintong, yang merupakan bagian dari kecamatan Habinsaran. Setelah Toba Samosir menjadi Kabupaten pemekaran dari Tapanuli Utara, maka kecamatan Habinsaran dimekarkan kembali dengan membentuk kecamatan baru yaitu Kecamatan Bor Bor. Bersamaan dengan pemekaran Kecamatan Bor Bor, pemekaran juga ada pada desa wilayah administratif Kecamatan Bor Bor, yaitu pemekaran Desa Simare dari Desa Lintong pada tahun 2009. Kecamatan Habinsaran merupakan wilayah perbukitan dan juga sebagian besar wilayah tanahnya adalah lahan-lahan
tidur, yang dulunya merupakan hutan lindung, serta tanah perkebunan masyarakat sekitar.
Wilayah desa Simare yang juga merupakan wilayah perbukitan, dimana di desa ini sangat mendukung untuk menjadi lahan perkebunan. Hal inilah yang menjadi faktor pendukung utama bagi PT. Toba Pulp Lestari untuk menjadikan desa Simare sebagai salah satu wilayah konsesi untuk wilayah perbukitan tersebut menjadi hutan tanam industri.
PT Toba Pulp Lestari Tbk (Perusahaan) didirikan dalam rangka Undang- Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 jo. Undang-Undang No. 12 tahun 1970 berdasarkan akta No. 329 tanggal 26 April 1983 dari Misahardi Wilamarta, SH, notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. C2-5130.HT01-01 TH.83 tanggal 26 Juli 1983, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 97 tanggal 4 Desember 1984, Tambahan No 117635.
Status Perusahaan selanjutnya berubah menjadi Penanaman Modal Asing dan telah mendapat persetujuan dengan Surat Pemberitahuan Tentang Keputusan Presiden RI No. 07/V/1990 tanggal 11 Mei 1990 dari Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Sehubungan dengan perubahan status tersebut diatas, Anggaran Dasar Perusahaan telah diubah dengan akta No. 113 tanggal 12 Mei 1990 dari Rachmat
35
Santoso, SH., notaris di Jakarta. Disamping itu, nilai nominal saham Perusahaan juga diubah dari Rp 500 ribu per lembar menjadi Rp 1 ribu per lembar. Perubahan tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. C2-2652.HT. 01.04.TH.90 tanggal 20 Mei 1990.
Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan mengenai perubahan nama perusahaan dari PT Inti Indorayon Utama Tbk menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk dan penurunan modal dasar dari Rp 2.000.000.000 menjadi Rp 1.688.307.072 dicatat dalam akta No. 61 tanggal 20 Pebruari 2001 dari Linda Herawati, SH., notaris di Jakarta dan telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. C-06519.HT.01.04.TH.2001 tanggal 23 Agustus 2001. Dan perubahan anggaran dasar perusahaan berdasarkan akta No. 61 tanggal 18 Juli 2003 dari Linda Herawati, SH, notaris di Jakarta, mengenai peningkatan modal ditempatkan dan disetor. Perubahan tersebut kemudian telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Laporan Penerimaan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan No. C-21113.HT.01.04.TH.2003 tanggal 5 September 2003.
Berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa pada tanggal 27 Juni 2008 dengan akta nomor 45 tanggal 14 Juli 2008 pada notaris Linda Herawati SH., seluruh anggaran dasar telah mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan undang-undang nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Peraturan Nomor IX.J.1 Lampiran Keputusan Bapepam LK dan
Lembaga Keuangan Nomor Kep-178/BL/2008 tanggal 14 Mei 2008. Perubahan tersebut kemudian telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. AHU- 50872.AH.01.02.Tahun 2009 tanggal 21 Oktober 2009.
PT Toba Pulp Lestari, Tbk atau yang dahulu dikenal dengan PT Inti Indorayon Utama, Tbk yang merupakan salah satu perusahaan berdomisili di Medan, Sumatera Utara, dengan pabrik yang berlokasi di Desa Sosor Ladang, Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Kantor terdaftar perusahaan beralamat di Uniplaza, East Tower, lantai 7, Jl. Letjen. Haryono MT No. A-1, Medan.
Kegiatan utama perusahaan adalah mendirikan dan menjalankan industri bubur kertas (pulp), dan serat rayon (viscouse rayon), mendirikan, menjalankan, dan mengadakan pembangunan hutan tanaman industri dan industri lainnya untuk mendukung bahan baku dari industri tersebut, serta mendirikan dan memproduksi semua macam barang yang terbuat dari bahan-bahan tersebut. Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada tanggal 1 April 1989. Saat ini perusahaan hanya memproduksi bubur kertas (pulp) dan hasil produksi perusahaan dipasarkan didalam dan diluar negeri (ekspor).
Dalam mendukung setiap pengoperasian perusahaan, maka diperlukan pembangunan hutan tanam industri, dimana diperlukan lahan yang luas dan tidak mengganggu pemukiman penduduk. Areal konsesi PT. Toba Pulp Lestari Tbk
terdiri dari 6 sektor yang masing-masing sektor berada pada wilayah geografis yang terpisah yaitu :
a. Sektor Tele berada pada Kabupaten Samosir yang meliputi Kecamatan H. Boho, Sumbul, Parbuluan, Kerajaan, Sidikalang dan Salak.
b. Sektor Padang Sidempuan berada pada Kabupaten Tapanuli Selatan yang meliputi Kecamatan Padang Bolak, Sosopan, Padang Sidempuan, dan Sipirok.
c. Sektor Aek Nauli berada pada Kabupaten Simalungun yang meliputi Kecamatan Dolok Pangaribuan, Tanah Jawa, Sidamanik dan Jorlang.
d. Sektor Habinsaran berada di Kabupaten Toba Samosir yang meliputi kecamatan Siborong-borong, Sipahutar, Habinsaran, Bor-Bor, Nassau, Silaen dan Laguboti.
e. Sektor Tarutung berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Dolok Sanggul, Sipaholon, Onan Gajang, Parmonangan, Adian Koting, Gaya Baru, Tarutung, Lintong Nihuta dan Sorkam.
f. Sektor Sarulia berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Pahae Julu, Pahae Jae, Lumut, Batang Toru.
Hal ini sesuai dengan peta wilayah hutan tanam industri PT. Toba Pulp Lestari dibawah ini36.
Gambar 2.1
Peta areal hutan tanam PT. Toba Pulp Lestari
Berdasarkan peta diatas, dapat dijelaskan bahwa penanaman pohon ekaliptus membutuhkan wilayah yang luas. Dimana wilayah penanaman pohon ekaliptus yang menjadi hutan tanam industri adalah seperti yang bertanda hijau, dan sampai pada saat ini seperti yang tercantum pada website PT. Toba Pulp Lestari, bahwa luas wilayah yang menjadi lahan penanaman pohon ekaliptus secara keseluruhan adalah seluas 188,055 Ha.
PT. Toba Pulp Lestari dalam menjalankan perusahaannya mendirikan setiap kantor di setiap sektornya. Dimana kantor sektor inilah yang menjadi
perpanjangan tangan dari pusat perusahaan sekaligus pabrik pembuatan kertas yang berlokasi di Desa Sosor Ladang, Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir. Setiap kantor sektor dipimpin oleh seorang manajer. Dan salah kantor sektor dari PT. Toba Pulp Lestari berada di sektor Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir. Dimana Sektor Habinsaran ini meliputi wilayah kecamatan Siborong-borong, Sipahutar, Habinsaran, Bor-Bor, Nassau, Silaen dan Laguboti.
Desa Simare merupakan salah satu wilayah dari sektor Habinsaran. Dimana Desa Simare berada diwilayah Kecamatan Bor - Bor. Di Desa Simare