C. Media PenyiaranTelevisi
5. Kepentingan publik
Stasiun televisi terkadang memproduksi program untuk memenuhi
kepentingan atau kebutuhan publik ditempat stasiun itu berada. Setiap daerah
memiliki masyarakat dengan situasi dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Tanggung jawab stasiun televisi adalah menyajikan program yang dapat
menjawab atau memenuhi situasi dan kebutuhan yang berbeda-beda itu. Di
negara tertentu, stasiun televisi daerah, misalnya, diwajibkan undang-undang
keamanan, kepentingan, dan kebutuhan publik agar stasiun bersangkutan tetap
dapat mempertahankan izin penyiarannya.
b. Jenis-Jenis Program Televisi
Menurut Morrisan (2011: 215) dari berbagai macam programyang
disajikan stasiun televisi, umumnya jenis-jenis program terbagimenjadi dua
bagian yaitu :
1. Program informasi, adalah segala jenis siaran yang bertujuan untuk
memberitahukan tambahan pengetahuan (informasi) kepada khalayak
audien. Dalam program informasi ini dibedakan lagi menjadi beberapa
jenis program yang lebih spesifik yaitu :
2. Berita keras (Hard News), adalah segala bentuk informasi yang penting dan menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya
yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui oleh khalayak audien
secepatnya.
3. Berita lunak (Soft News), adalah informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun tidak bersifat harus segera ditayangkan.
4. Straight News, adalah suatu berita singkat, kurang mendetail yang hanya menyajikan informasi terpenting saja terhadap suatu peristiwa yang
diberitakan.
6. Infotainment, adalah berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal masyarakat bisa selebriti, atlet, tokoh
politik dan lainnya.
7. Current Affair, adalah program yang menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting yang muncul dan menarik perhatian
masyarakat sebelumnya namun dibuat secara lebih lengkap dan mendalam.
8. Magazine, adalah program yang menampilkan informasi ringan dan mendalam. Magazine menekankan pada aspek menarik suatu informasi ketimbang aspek pentingnya.
9. Dokumenter, adalah program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan dengan lebih menarik.
10.Reality Show, adalah acara televisi yang menggambarkan adegan yang seakan-akan benar-benar berlangsung tanpa skenario, dengan pemain yang
umumnya khalayak umum biasa, bukan pameran Acara dokumenter dan
acara seperti beritadan olahraga tidak termasuk acara realitas.
11.Program Hiburan, adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk
menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan.
Program yang temasuk dalam ketegori hiburan adalah drama, musik, dan
permainan (game).
12.Drama, adalah pertunjukan (show) yang menyajikan cerita mengenai kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang yang diperankan
13.Film, televisi menjadi media paling akhir yang dapat menayangkan film
sebagai salah satu programnya karena pada awalnya tujuan dibuatnya film
untuk layar lebar. Kemudian film itu sendiri didistribusikan menjadi VCD
atau DVD setelah itu film baru dapat ditayangkan di televisi.
14.Permainan atau (game show), adalah suatu bentuk program yang menyajikan suatu permainan yang melibatkan sejumlah orang baik secara
individu atau kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu.
Biasanya berupa hadiah.
15.Musik, Program ini merupakan pertunjukan yang menampilkan
kemampuan seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik di
studio ataupun di luar studio. Program musik di televisi sangat ditentukan
oleh bintang tamu yang dapat menarik audien. Tidak saja dari kualitas
suara namun juga berdasarkan bagaimana mengemas penampilannya
diatas panggung agar menjadi lebih menarik.
c. Konsep Konten
Konten merupakan istilah Bahasa Inggris yang dalam Bahasa
Indonesiabiasa disebut Konten, adalah informasi yang tersedia melalui media
atau produkelektronik.Penyampaian konten dapat dilakukan melalui berbagai
medium sepertiinternet, televisi, CD audio, bahkan acara langsung seperti
konferensi danpertunjukan panggung.Istilah ini digunakan untuk
mengidentifikasi beragamformat dan genre informasi sebagai komponen nilai
Menurut Morrisan (2011:241), konten program dapat dilihat dari dua
halyaitu nama program dan kemasan program.Nama Program. Memilih satu
nama bagi suatu program merupakankegiatan yang paling penting ditinjau dari
segi perspektif promosi karena namaprogram berfungsi menyampaikan atribut
dan makna. Dalam memilih nama suatuprogram, pengelola program harus
memilih nama program yang dapatmenginformasikan konsep program dan
dapat membantu menempatkan ataumemosisikan program di memori otak
audiens. Suatu nama program harus dapatmenyampaikan manfaat yang
diperoleh audien jika mereka menonton ataumendengarkan program
bersangkutan dan pada saat yang sama juga menciptakanimage bagi program
itu.
Kemasan Program. Kemasan (packaging) adalah aspek lain dari strategipemasaran yang perannya dirasa semakin penting dewasa ini. Secara
tradisional,kemasan memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan atau
penyimpanan suatuproduk.Dewasa ini terdapat kecenderungan perubahan
fungsi kemasan yangdisebabkan semakin banyaknya tempat penjualan yang
bersifat swalayan(supermarket atau minimarket) dan juga semakin banyaknya konsumen yangcenderung membuat keputusan untuk membeli suatu produk di
lokasi penjualan.
Bagi pengelola program penyiaran, kemasan dapat diartikan
segalasesuatu yang perlu dilakukan untuk menarik perhatian audien melalui
misalnya:pembawa acara (presenter), busana yang dikenakan, penampilan latar belakang(background).
d. Dampak Media
Dampak media (media effects) adalah perubahan kesadaran, sikap, emosi,atau tingkah laku yang merupakan hasil dari interaksi dengan
media.Istilah tersebutsering digunakan untuk menjelaskan perubahan individu
atau masyarakat yangdisebabkan oleh terpaan media.Perkembangan pemikiran
dan teori tentang dampak media mempunyai sejarahalamiah karena
dipengaruhi oleh setting waktu, tempat, faktor lingkungan,
perubahanteknologi, peristiwa-peristiwa sejarah, kegiatan
kelompok-kelompok penekan, parapropagandis, kecenderungan opini publik, serta
beragam penemuan-penemuan dankecenderungan yang berkembang dalam
kajian ilmu-ilmu sosial (Mc Quail, 2000: 417).
McQuail (2000: 421) memetakan perkembangan
pengetahuanmengenai riset media ke dalam empat tahap.Tahap pertama, all-power media.Padafase pertama ini, media diyakini mempunyai kekuatan yang sangat berpengaruhdalam menentukan opini dan keyakinan, mengubah
kebiasaan hidup (habits of life)dan menentukan perilaku sebagaimana ditentukan oleh pengontrol pesan atau media.Pandangan-pandangan ini tidak
didasarkan pada investigasi ilmiah, tetapi lebihdidasarkan pada observasi
Penggunaan media oleh para propangandis dalam Perang Dunia I
yangdisponsori negara-negara diktator dan rezim revolusioner yang di Rusia
semakinmenegaskan kuatnya pengaruh media pada saat itu.
Tahap kedua, pengujian teori media powerfull.Transisi ke arah penelitianempiris telah mendorong munculnya tahap kedua yang mulai
memikirkan tentangdampak media.Penelitian semacam ini dimulai oleh riset
literatur yang dilakukan atasPaine Fund Studies di Amerika pada awal tahun
1930-an. Studi ini memfokuskanpada pengaruh film terhadap anak-anak dan
remaja.Studi-studi terpisah lainnyamenyangkut dampak tipe-tipe pesan dan
media yang berbeda, khususnya film atauprogram-program aktivitas
kampanye. Studi-studi pada era ini dikonsentrasikan padakemungkinan
penggunaan film dan media yang lain untuk melakukan aktivitaskomunikasi
persuasif. Penelitian-penelitian sebelumnya terus berlanjut ke dalam
kemungkinandampak buruk media terhadap anak-anak pada era tahun
1950-an. Kesimpulan yangdapat diambil dari perubahan-perubahan penelitian pada
tahapan ini adalah seiringperkembangan metode penelitian, fakta, dan teori
menyarankan adanya sejumlahvariabel-variabel baru yang seharusnya
dipikirkan atau diperhitungkan dalammembahas dampak media.
Para peneliti mulai membedakan kemungkinan-kemungkinan dampak
yang berbeda menurut karakteristik sosial dan psikologis mereka mulai
memperkenalkan sejumlah faktor yang berhubungan dengan
seseorangdalam mengakes media. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa
media massa tidakmempunyai dampak sama sekali terhadap audience.
Tahap ketiga, penemuan kembali kekuatan dampak media.Pada tahap
ini,kesimpulan tahap sebelumnya yang mengatakan bahwa media tidak
mempunyaidampak terhadap audience atau mempunyai dampak minimal telah
mendapatkantantangan. Salah satu faktor yang menjadi penyebab penolakan
mengenai teoridampak minimal adalah munculnya televisi pada era 1950-an
dan 1960-an sebagaisebuah medium yang mempunyai kekuatan atraktif dan
dampak besar dalamkehidupan sosial. Penelitian awal mulai
menggunakansuatu model yang dipinjamdari displin ilmu psikologi yang
berusaha mencari hubungan antara tingkat pajananmedia (media exposure)
dengan ukuran-ukuran perubahan atau variasinya dengansikap, pendapat,
informasi atau perilaku, dan sejumlah variabel pengantara.
Padatahap ini, telah terjadi pergeseran perhatian ke arah
perubahan-perubahan jangkapanjang dan kognisi dibandingkan dengan sikap, dampak,
dan ke arah fenomenakolektif seperti pendapat, struktur keyakinan, ideologi,
pola-pola budaya dan bentuk-bentuk institusional media (McQuail, 2000:
420).Penelitian-penelitian berikutnyamulai menaruh perhatian pada
bagaimana media memproses dan menentukan isipesan sebelum disampaikan
ke audien.
konstruksi sosial.Padadasarnya, pendekatan ini melibatkan pandangan media
yang mempunyai pengaruhsignifikan melalui konstruksi makna. Pendekatan
konstruksi sosial menawarkansuatu pandangan bahwa pengaruh media
terhadap audiens melalui proses negosiasike dalam struktur pemaknaan
personal, yang seringkali ditentukan oleh identifikasikolektif. Makna
dikonstruksi oleh penerima pesan itu sendiri. Proses mediasi inimelibatkan
konteks sosial penerima pesan.