• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.2 Gambaran Karakteristik Informan

5.3.3 Kepercayaan

Kepercayaan terhadap baik buruknya nilai kesehatan didasarkan atas penilaiannya pada kemanfaatan yang dirasakan dari segi emosi/kejiwaan, sosial, ekonomi, dan lain-lain kerugian dan akibat yang dirasakannya akan timbul, serta hambatan-hambatan yang dirasakan (Eko & Hesty, 2009).

Masyarakat di Desa Pangirkiran mengatakan bahwa bayi yang tidak mendapatkan imunisasi sudah menjadi kebiasaan di lingkungan mereka, karena mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini pada anaknya yang belum mengalami sakit. Mereka tidak mengetahui apa dampak nya kedepan bagi kesehatan anaknya, yang mereka tahu saat ini anaknya sehat-sehat saja dan tidak mempengaruhi jika anaknya tidak mendapatkan imunisasi. Dari hasil wawancara terhadap 5 informan, semua informan mengatakan sebagai berikut :

“Memang biasa itu, anak ku pun nggaknya terlalu berpenyakitan kali, nggak ada makanya itu aku malas, demam aja pun gak pernah”.

Informan lain mengatakan:

“Yang pertama itu dapat...ya karena trauma sama yang pertama”.

Informan lain juga mengatakan:

“Nggak...malas aja. Karena dilihat sehatnya kan ya udalah”.

Berdasarkan hasil penelitian Dedi di wilayah kerja puskesmas langsa tahun 2010, bahwa dari 72 ibu, mayoritas mendukung terhadap kepercayaan dalam pemberian imunisasi hepatitis B pada bayi sebanyak 37 ibu ( 51,4%), yang tidak mendukung terhadap kepercayaan sebanyak 35 ibu (48,6%).

Hasil penelitian Suharti di Kelurahan Kenali Besar Wilayah Kerja Puskesmas Kenali Besar Tahun 2012, menunjukan dari 46 responden yang memiliki kepercayaan baik, 39 (84,8%) responden imunisasinya baik dan dari 38 responden yang memiliki kepercayaan kurang baik, 19 (50,0%) responden imunisasinya baik.

Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi (Mirzal, 2008). Setelah imunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan, agak rewel. Itu adalah reaksi yang umum terjadi setelah imunisasi. Umumnya akan hilang dalam 3-4 hari, walaupun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama (Soedjatmiko, 2009).

Menurut Depkes (2009) salah satu penyebab rendahnya pencapaian imunisasi dikarenakan adanya faktor budaya. Hal ini akan mempengaruhi dalam pemberian imunisasi karena ada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia yang mempunyai budaya yang berpengaruh pada pemberian imunisasi sehingga cakupan imunisasi masih belum mencapai target.

Imunisasi merupakan upaya medis untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Dalam agama Islam, imunisasi sah menurut hukum (absah secara syar'i) sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukan imunisasi sepanjang materi atau bahan yang digunakan tidak berupa unsur yang haram (Sholeh, 2009). Orang tua juga harus mengetahui bahwa pemberian imunisasi aman bagi anak, bahkan saat anak sedang sakit ringan, mempunyai cacat fisik/mental atau mengalami malnutrisi (Dinkes. Kota Surabaya, 2007).

Kurangnya pengetahuan masyarakat di Desa Pangirkiran tersebut meliputi persepsi yang salah tentang pentingnya imunisasi dan keparahan suatu penyakit merupakan faktor penting yang menjadi hambatan keberhasilan imunisasi. Persepsi yang salah tentang keparahan suatu penyakit dipengaruhi oleh kepercayaan setempat dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Kepercayaan dan kurangnya pengetahuan ini membuat individu berasumsi bahwa penyakit tidak berbahaya, jarang ada, tidak menular, merupakan hal yang biasa bagi anak atau individu akan resisten dengan sendirinya.

5.4 Peran Bidan

Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan (Depkes RI, 2007).

Peran bidan berfungsi sebagai memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, penanggulangan masalah kesehatan terkait masalah kesehatan ibu dan anak. Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat diwilayah kerja dengan melibatkan masyarakat dan klien. Ruang lingkup pelayanan kebidanan adalah meliputi pelayanan kebidanan kepada ibu dan anak. Pelayanan kepada anak diberikan pada masa bayi baru lahir yang diantara nya adalah pemberian imunisasi (Rianti, 2010). Di Desa Pangirkiran terdapat 1 Bidan Desa yang berinisial AS, 1 Bidan Swasta RF, dan 2 Bidan yang bekerja di Puskesmas Pangirkiran yaitu PR dan WT. Di Desa tersebut masih ada bayi yang tidak diberikan immunisasi Hepatitis B-0 oleh penolong persalinan. Bidan berinisial PR yang berada di desa Pangirkiran mengatakan bayi tersebut tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B-0 dikarenakan bidan tersebut tidak mengetahui kapan mereka melahirkan, termasuk masyarakat yang berada di daerah pegunungan, mereka kebanyakan masih ditolong oleh dukun. Konfirmasi untuk tenaga kesehatan tentang bayi yang lahir juga tidak ada, karena mereka keluar hanya sekali sebulan. Kemudian akses tenaga kesehatan untuk menjangkau tempat mereka sangat susah, sehingga bayi

tersebut tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B-0 setelah lahir. Seperti yang diungkapkan sebagai berikut:

“Kalo dianjurkan seharusnya dikasih...tetapi karena budaya,

kepercayaan, kekhawatiran, terkadang siibunya ini tidak ngasih. Uda gitu lokasi rumahnya itu yang diperbukitan jadi akses untuk kelokasinya jadi susah menjangkau lokasinya. Kayak mana kan, kita nggak tahu kapan lahirnya mereka melahirkan sendiri atau pakai dukun. Kita nggak tahu bidannya atau bidan lain...jadi kalo sama saya atau bidan desa mereka selalu memberikan. Kecuali bidan-bidan swasta yang lain. Kami sudah membuat koordinasi jika ada persalinan harus melapor ke puskesmas dan mengambil vaksin hepatitis B-0 unijeck untuk diimunisasikan pada bayi

baru lahir, sebagian ada yang mengambil dan sebagian lain tidak”.

Hasil penelitian Ritawati menemukan bahwa penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 88,2% yang anaknya diberi imunisasi Hepatitis B-0. Salah satu penyebabnya adalah masih ada masyarakat yang masih ingin melahirkan oleh non-tenaga kesehatan (dukun) sebesar 35,4%, ini disebabkan kepercayaan masyarakat, bayarannya terjangkau dan masih banyak faktor antaranya tingkat pengetahuan ibu, jaraknya jauh dengan pelayanan kesehatan sehingga ibu hanya ingin melahirkan di rumah yang dekat dengan tenaga non kesehatan.

Dari informasi bidan di Desa Pangirkiran bahwa untuk mendapatkan imunisasi Hepatitis B-0 ini tidak dipungut biaya oleh tenaga kesehatan yang bersangkutan, tetapi masyarakat tidak memanfaatkan hal tersebut, bahkan tenaga kesehatan melakukan kunjungan neonatal kerumah-rumah, tapi masih ada yang menolak untuk anaknya diimunisasi, dan tidak berada dirumah saat tenaga kesehatan datang. Seperti yang diungkapkan oleh bidan:

“Kalo imunisasi Hepatitis B-0 unijeck ini nggak pernah bayar, posyandu pun nggak bayar, kalo tentang imunisasi kami menggratiskan kecuali posyandu penimbangan...kalo itu mau tuh mereka dipungut Rp. 2.000 dan

Rp. 3.000 untuk pengganti gizi bayi balita seperti telur bubur itu sebagai honornya kader dipungut Rp. 2.000 itu. Tapi untuk pelayanan imunisasi baik dibidan desa atau puskesmas mereka memberikan pelayanan

imunisasi gratis”

“Kami kerumah bukan ibu yang membawa bayinya kepuskesmas, karena

bayi kan masih kecil dan ibu pun masih dalam masa nifas”.

Menurut penelitian Hadi (2005) menemukan bahwa Ibu saat melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan, bayi cenderung memperoleh imunisasi hepatitis B-0 sebesesar 4,38 kali dibandingkan dengan ibu yang ditolong tenaga non- kesehatan. Hal ini, dimungkinkan karena salah satu penyebabnya hilangnya kesempatan (Missed Opportunity) karena penolong persalinan lupa tidak membawa vaksin uniject FIB, tidak tersedia vaksin (80%), petugas kesehatan belum di latih (66,%) sehingga kawatir terjadi KIPI dan tidak mendapatkan informasi hepatitis B-0 pada bayi (58,8%), masih membayar biaya vaksinasi Hepatitis B (71,3%) dan pendidikan suami yang rendah (95%).

Bayi usia 0-12 bulan diharapkan sudah mendapat imunisasi hepatitis B secara lengkap. Pemberian imunisasi hepatitis B-0 bagi bayi yang lahir di rumah sakit dapat diberikan sedini mungkin. Oleh karena itu tempat dimana bayi dilahirkan juga dapat mempengaruhi kelengkapan imunisasinya. Demikian juga pelayanan imunisasi yang disediakan oleh penolong persalinannya. Untuk meningkatkan cakupan imunisasi hepatitis B-0, hendaknya para petugas kesehatan maupun kader lebih sering memberikan penyuluhan dan sosialisasi agar para ibu di Desa Pangirkiran lebih sadar untuk membawa balitanya ke posyandu ataupun sarana pelayanan kesehatan lainnya untuk diimunisasi.

Dokumen terkait