BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kepustakaan yang Relevan
Tinjauan pustaka merupakan uraian yang harus berisi tentang ungkapan-ungkapan peneliti sebelumnya yang serupa dengan penelitian yang dilakukan.
(Leedy, 1997).
Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil-hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian.Adapun hasil-hasil penelitian yang dijadikan perbandingan tidak terlepas dari topik penelitian yaitu mengenai Tugu. Adapun karya ilmiah yang telah mengkaji tentang Tugu dan memiliki kontribusi terhadap penelitian ini, yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Tono Manihuruk (2014), “Sejarah Berdirinya Tugu Marga di Pulau Samosir” (skripsi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah berdirinya Tugu marga di Pulau Samosir serta perkembangan dan makna pendirian Tugu marga bagi masyarakat di Pulau Samosir.
Adapun Kontribusi penelitian yang dilakukan Tono Manihuruk ini membantu peneliti didalam menjelaskan hasil dari makna yang terdapat pada Tugu pada etnik Toba untuk dijadikan sebagai bahan acuan didalam proses penelitian.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Rohrita Panjaitan (2010), “ Makna Dan Fungsi Pendirian Tugu Leluhur Pada Masyarakat Batak Toba di Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir” (tesis). Penelitian ini mengungkapkan hubungan
pendirian Tugu dengan sistem kepercayaan tradisional etnik Batak Toba yang masih percaya akan eksistensi roh nenek moyang mereka.
Kontribusi penelitian yang dilakukan Rohrita Panjaitan dalam hal ini membantu peneliti didalam menjelaskan Peranan Tugu pada Masyarakat etnik Toba.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fertika Sinaga (2018), “Cerita Tugu Silahisabungan: Kajian Sosiologi Sastra” (skripsi). Dalam penelitian ini, penulis membahas Analisis Sosiologi Sastra cerita sejarah Tugu Silahisabungan. Adapun masalah yang diangkat berupa unsur intrinsik cerita, sejarah Tugu Silahisabungan, dan nilai-nilai sosiologi sastra yang terkandung dalam cerita sejarah Tugu Silahisabungan.
Pada penelitian ini terdapat beberapa pokok masalah yang berbeda namun ada kontribusi yang dapat diambil dari penelitian ini berupa metode penelitian yang dilakukan serta makna dari Tugu pada Etnik Toba.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Tawarikh Tua Sinaga (2015), “Makna Simbol Tugu Toga Sinaga Di Pulau Samosir Sumatera Utara, Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Makna Simbol Tugu Toga Sinaga Di Pulau Samosir Sumatera Utara”, (skripsi). Dalam penelitian ini, penulis membahas simbol Tugu yang merupakan salah satu media komunikasi yang mengandung banyak tanda yang sarat akan makna. Penelitian ini menganalisis Tugu Toga Sinaga dengan menarik kesimpulan berupa makna denotasi, makna konotasi dan makna mitos pada Tugu Toga Sinaga.
Adapun Kontribusi yang dapat diambil di dalam penelitian ini berupa makna denotasi, makna konotasi serta makna mitos yang diteliti pada Tugu Toga Sinaga yang dapat membantu penulis didalam hal reverensi dan membantu di dalam melakukan prosedur penelitian pada Tugu Aritonang yang dapat dijadikan sebagai acuan dan perbandingan didalam menganalisis data.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Rani E.S Sitorus (2015), “Pembangunan Tugu (Tambak) Di Desa Tangga Batu I Kecamatan Porsea (1986-2005)”. (skripsi).
Penelitian ini berisi motivasi dan perkembangan serta pergeseran kebudayaan sebagaimana telah jauh berbeda dengan makna awal dibangunnya tambak leluhur sebagai suatu penghormatan kepada nenek moyang. Penelitian ini mencoba menunjukkan bahwa pergeseran nilai-nilai kebudayaan itu sangat jelas terlihat ketika adat istiadat dijalnkan tidak sesuai dengan tujuan awal yaitu untuk menghormati para leluhur yang di anggap pemberi berkat kepada keturunan yang masih hidup. Tidak menjadi sebuah ajang pertunjukan kehebatan yang dimiliki marga tertentu. Skripsi mengharapkan dapat membuka pemikiran sejarah yang lebih dalam mengenai motif dan perkembangan tambak pada tahun 1986-2005.
Kontribusi penelitian ini bagi penulis yaitu terdapat beberapa pembahasan yaitu pergeseran makna yang terdapat pada bangunan tugu atau tambak yang membuat penulis menjadikan skripsi ini sebagai acuan untuk menjadikan sebagai reverensi didalam hal pembahasan mengenai fungsi dan makna yang sebenarnya pada tugu etnik Toba.
6. Buku karya Yasraf Amir Pilliang yang berjudul “Semiotika dan Hipersemiotika Kode, Gaya dan Matinya Makna” (Edisi 4). Buku ini dimulai dari definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan bahwa semiotika “pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta”.
Kontribusi buku ini bagi penulis yaitu terdapat teori hipersemiotika sesuai dengan judul penulis yaitu Hipersemiotika Pada Tugu Aritonang yang dapat membantu penulis di dalam penyelesaian pembahasan.
Penelitian yang dilakukan diatas mempunyai objek yang sama mengenai Tugu untuk diteliti, namun dalam hal pembahasan dan penyelesaian yang berbeda hingga masih bisa dijadikan sebagai tinjauan pustaka yang relevan oleh penulis.
Adapun judul peneliti yaitu Hipersemiotik pada Tugu Aritonang yang belum pernah diteliti oleh peneliti lain. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian pada Tugu Aritonang, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan.
Tugu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah monumen yaitu tugu peringatan. Tugu adalah sebagai tiang besar dan tinggi dibuat dengan batu dimana tugu sebagai tanda peringatan (kenang-kenangan). Tugu dalam arti monumen adalah suatu peringatan, atau suatu memorial yang biasa berbentuk bangunan, menara, tiang, patung dan sebagainya yang didirikan guna memperingati suatu kejadian besar dan penting. Menurut Robinete (1976:14), tugu dalam arti monumen memiliki fungsi simbolik dan religi, sudah memperhatikan segi estetik, harmoni, dan konsep ideal beauty. Sedangkan di
Perkembangan pembangunan tugu mulai berkembang sekitar tahun 1960-an. Hal ini didukung oleh munculnya tokoh etnik Toba kaya dan sukses yang mengadu nasib di perantauan. Mayoritas etnik Toba yang pergi merantau ke kota cenderung kembali ke kampung halamannya hanya untuk berpesta dan untuk acara pemakaman. Makam dan monumen orang meninggal merupakan tanda investasi oleh orang-orang etnik Toba rantau di kampung halaman nenek moyang mereka.Dengan adanya aktivitas adat membangun tugu maka tampaklah bahwa keturunan leluhur yang membangun tugu itu sudah mencapai hagabeon (keturunan yang banyak), hamoraon (kekayaan) dan hasangapon (kehormatan).
Pada etnik Toba terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi pembangunan tugu. Hal yang mendasar yaitu adanya cita-cita hidup dasar etnik Toba yaitu hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan yang banyak), dan hasangapon (kehormatan). Pertama orang Batak Toba yang sukses ingin menunjukkan kekayaan(hamoraon) dan kesuksesan mereka di perantauan. Tugu yang dibangun oleh salah satu marga akan mengundang kecemburuan marga yang lain, sehingga mereka pun akan melakukan hal yang sama. Kedua,Tugudibangun supaya orangtua dihormati (hasangapon). Ketiga adalah Tugu dibangun untuk mempersatukan garis keturunan (hagabeon), (Manihuruk, 2014:1-4).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka defenisi tugu menurut peneliti adalah sebuah bangunan yang memiliki peran penting bagi kehidupan etnik Toba, dimana tugu juga mempunyai fungsi sebagai kekuatan dan pemersatu marga-marga pada etnik Toba.