• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan

Bab V Proses Perkembangan Nasionalisme di Indonesia

C. Keragaman Ideologi serta Dampaknya terhadap Pergerakan

Pergerakan Nasional Indonesia yang muncul pada dekade pertama abad ke-20 merupakan suatu fenomena baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Dalam hal tertentu, Pergerakan Nasional dapat dianggap sebagai lanjutan perjuangan yang masih bersifat pranasional dalam menentang praktik-praktik kolonialisme dan imperialisme Belanda pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, ada sedikit perbedaan di antara keduanya, yaitu bahwa Pergerakan Nasional Indonesia yang muncul pada permulaan abad ke-20 itu telah mengambil bentuk lain. Pergerakan Nasional pada awal abad ke-20 lebih terorganisasi, mempunyai asas dan tujuan yang jelas, berjangkauan panjang, serta mempunyai ideologi baru, yaitu men- ciptakan masyarakat maju. Suatu ideologi yang kemudian mengalami pen- dewasaan dengan hasrat mendirikan sebuah negara nasional.

1. Ideologi yang Berkembang pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia

Nasionalisme Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada masa lalu bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia. Oleh karena itu, sifat dan corak perkembangannya tampil sesuai dengan sifat dan corak organisasi pergerakan yang mewakilinya. Sifat dan corak nasionalisme pada saat lahirnya Budi Utomo (1908) misalnya, berbeda dengan nasionalisme yang dikembangkan oleh Sarekat Islam dan Indische Partij. Kelahiran Budi Utomo telah dilandasi oleh nasionalisme dalam bentuk yang masih samar-samar, hal itu tampak dari aktivitasnya. Perkumpulan Budi Utomo dengan jelas membatasi gerakannya pada Jawa dan Madura. Sasaran perjuangannya juga tampak belum tegas perjuangan politik atau terbatas pada sosial budaya. Sikap ragu-ragu itu menyebabkan aktivitasnya cenderung hanya di bidang kebudayaan.

Lahirnya Sarekat Islam (1912) memberikan titik terang bagi perkembangan nasionalisme Indonesia. Latar belakang ekonomis perkumpulan ini adalah persaingan dengan pedagang perantara Cina. Akan tetapi, Sarekat Islam lahir tidak semata-mata hanya karena mengadakan perlawanan terhadap pedagang Cina, tetapi membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat pribumi. Keanggotaan Sarekat Islam berhasil sampai pada lapisan masyarakat kelas bawah dengan lingkup yang lebih luas. Akan tetapi, ada ciri-ciri yang dijiwai oleh Islam pada organisasi tersebut telah menutup kemungkinan masuk- nya anggota dari masyarakat non-Islam. Perkembangan nasionalisme Indonesia mengarah pada konsep nasionalisme yang bercorak ekonomi, religius, dan demokratis.

Lebih luas dan tegas dari kedua organisasi di atas adalah konsep nasionalisme yang diperkenalkan oleh Indische Partij. Walaupun belum menggunakan nama Indonesia, organisasi ini telah dengan tegas mencanangkan kemerdekaan Tanah Air dan bangsa Hindia lepas dari Nederland sebagai akhir

dari tujuan perjuangannya. Nasionalisme yang dikembangkan memiliki corak yang tegas, bahkan radikal. Hal itu pula yang telah menempatkan organisasi tersebut sebagai organisasi politik pertama di Indonesia. Meskipun usianya tidak panjang, konsep nasionalisme yang dicanangkan memberikan angin dan corak baru bagi perjuangan pergerakan kebangsaan kaum pribumi.

Organisasi yang memberikan andil sangat besar dalam mempertegas dan mendewasakan konsep nasionalisme Indonesia menjadi konsep nasionalisme yang sesungguhnya adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda yang bernama Perhimpunan Indonesia (PI). Pada mulanya, organisasi itu bernama Indische Vereeniging (1908). Seperti halnya Budi Utomo yang lahir di Indonesia, organisasi itu semula hanyalah perkumpulan sosiokultural. Akan tetapi, sejak 1925 Indische Vereeniging telah berkembang menjadi organisasi politik. Sebagai bagian dari identitas nasional yang baru, Indische Vereeniging memakai nama Perhimpunan Indonesia serta menggunakan nama Indonesia Merdeka pada judul majalahnya. Lewat organisasi Perhimpunan Indonesia itulah, konsep nasionalisme diberi corak yang lebih tegas dan revolusioner. Kecuali tuntutannya yang tegas tentang kemerdekaan Indonesia dengan kekuatan sendiri, Perhimpunan Indonesia juga telah memberikan sum- bangan yang sangat penting bagi perkembangan nasionalisme Indonesia itu sendiri. Sumbangan itu berupa penggunaan nama Indonesia sebagai identitas nasional dan nama bagi bangsa dan negara yang sedang diperjuangkan untuk merdeka.

Kelahiran Partai Nasional Indonesia (PNI) di Indonesia tahun 1927 pada hakikatnya melanjutkan ide-ide yang dikembangkan oleh Perhimpunan Indonesia selain dilandasi oleh nasionalisme yang revolusioner. Dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan bukti bahwa nasionalisme telah melandasi dan dijunjung tinggi dalam aktivitas bangsa Indonesia. Dalam keputusan itu dicantumkan alasan utamanya untuk bersatu adalah kemauan bersama yang akan mengatasi alasan-alasan lainnya dengan tetap menghormati perbedaan-perbedaan yang ada.

Dari pertumbuhan dan perkembangan organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, tampaklah bahwa proses pendewasaan dan pematangan konsep nasionalisme Indonesia bergerak dari nasionalisme kultural, berkembang ke sosio-ekonomis dan memuncak menjadi nasionalisme revolusioner.

a. Budi Utomo (20 Mei 1908)

Untuk membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum terpelajar yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan (pemuda) Sutomo mulai meng- gerakkan para pemuda dan pelajar Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerah-daerah untuk mencari dukungan moral dan material dari kaum bangsawan, para pegawai, dan

dermawan agar bersedia secara aktif membantu usaha dalam memperbaiki nasib bangsanya. Dalam ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, dr. Wahidin Sudirohusudo melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang disebut studiefonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh pelajar.

Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib bangsanya. Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo dan kawan-kawannya di ruang kelas Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo (Budi Luhur). Para pelajar yang aktif dalam pembentukan Budi Utomo tersebut adalah M. Suradji, Muhammad Saleh, Mas Suwarno, Muhammad Sulaiman, Gunawan, dan Gumbreg. Pada akhir pidatonya, Sutomo mengatakan, “berhasil dan tidaknya usaha ini bergantung kepada kesungguhan hati kita, bergantung kepada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita.” Ucapan itu disambut dengan tepuk tangan yang amat meriah.

Budi Utomo setelah terbentuk, para pengurus dan anggotanya segera mempropagandakan mengenai maksud dan tujuan pembentukan organisasi tersebut kepada semua masyarakat, terutama kelompok pelajar, pegawai, kaum priayi, dan pedagang kecil. Propaganda itu ternyata mendapat sambutan hangat. Berita tentang pembentukan Budi Utomo akhirnya tersiar juga lewat surat kabar sehingga diketahui oleh pelajar-pelajar di berbagai kota. Akhirnya, para pelajar di kota-kota, seperti Yogyakarta, Magelang, dan Probolinggo ikut mendirikan cabang-cabang Budi Utomo. Nama Sutomo sebagai pendiri dan ketua umum Budi Utomo makin populer sekaligus mengundang risiko besar.

Beberapa staf pengajar dan pemerintah Belanda menuduh Sutomo dan kawan-kawannya sebagai pemberontak. Sutomo diancam akan dipecat dari sekolahnya. Akan tetapi, kawan-kawannya mempunyai solidaritas tinggi. Jika Sutomo dikeluarkan, mereka akan ikut keluar juga. Dalam persidangan di sekolah, Sutomo masih dipertahankan oleh pemimpin umum STOVIA, Dr. H. E. Roll sehingga ia dan kawan-kawannya tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Jelaslah bahwa setiap perjuangan pasti mendapat tantangan, rintangan, bahkan ancaman, tetapi mereka tetap tegar.

Budi Utomo berkembang makin besar sehingga perlu menyelenggarakan kongres. Untuk keperluan itu, mereka mempersiapkan segala sesuatunya atas usaha sendiri.

Dr. Wahidin berkampanye keliling daerah untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari semua pihak. Kongres Budi Utomo yang pertama berhasil diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres dihasilkan beberapa keputusan penting, seperti:

1) merumuskan tujuan utama Budi Utomo, yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa Indonesia;

2) kedudukan pusat perkumpulan berada di Yogyakarta;

3) menyusun kepengurusan dengan Ketua R.T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar (Jawa Tengah);

4) kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan

5) wilayah gerakannya difokuskan di Jawa dan Madura 6) BU tidak ikut mengadakan kegiatan politik.

Penyerahan pimpinan pusat organisasi oleh Sutomo kepada kaum tua tersebut mempunyai tujuan strategis berikut:

1) menghargai kaum tua yang lebih berpengalaman;

2) mengajak kaum tua untuk ikut memikirkan dan memajukan pendidikan rakyat lewat Budi Utomo;

3) Sutomo dan kawan-kawannya masih harus menyelesaikan pendidikannya lebih dahulu di STOVIA, Jakarta.

Pada tahun awal berkembangnya Budi Utomo dapat menjadi tempat pe- nyaluran keinginan rakyat yang ingin maju dan tempat mengabdi tokoh-tokoh terkemuka terhadap bangsanya.

Tokoh-tokoh yang pernah menjabat Ketua Budi Utomo, antara lain R.T. Tirtokusumo (1908–1991), Pangeran Aryo Noto Dirodjo dari Istana Paku Alam (1911–1914), R.Ng. Wedyodipura atau Radjiman Wedyoningrat (1914–1915), dan R.M. Ario Surjo Suparto atau Mangkunegoro VII (1915). Oleh karena pemimpin Budi Utomo umumnya berasal dari kaum bangsawan, banyaklah dana yang disumbangkan untuk kemajuan pengajaran. Dengan demikian, lahirlah badan bantuan pendidikan atau studiefonds yang diberi nama Darma Wara. Hal inilah yang dicita-citakan oleh dr. Wahidin.

Sejak tahun 1908 hingga tahun 1915, Budi Utomo hanya bergerak di bidang sosial dan budaya terutama pada bagian pengajaran. Namun, setelah tahun 1925 itu Budi Utomo ikut terjun ke dunia politik. Perubahan haluan ini terjadi karena adanya pengaruh dari organisasi pergerakan lain yang bercorak politik, seperti Indische Partij dan Sarekat Islam.

Tujuan Budi Utomo berpolitik adalah untuk mendapat bagian dalam peme- rintahan yang akan dipegang oleh golongan pelajar pribumi. Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik, antara lain sebagai berikut.

1) Budi Utomo ikut duduk dalam komite Indie Weerbaar yang dikirim ke Negeri Belanda untuk membahas pertahanan Hindia Belanda pada tahun 1916– 1917.

2) Budi Utomo juga mengusulkan pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) bagi penduduk pribumi, ketika wakilnya dalam Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) berangkat ke Negeri Belanda.

3) Budi Utomo berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota Volksraad.